Legendary Siblings

Legendary Siblings
50. Serba Merah



Sudah sering Siau hi-ji menyaksikan Li Toa-jui makan daging manusia, tapi cara makannya terasa jauh lebih "beradab", bahkan mengutamakan cara mengolahnya apakah lebih enak dimasak tim kuah, diang-sio atau digoreng, waktu makan juga sopan santun dan tidak menakutkan orang.


Tapi cara makan Mo Mo-diong sekarang ini sungguh tak pernah dilihat Siau hi-ji, pada hakikatnya menjijikkan, terasa biadab dan rakus, tidak paham cara orang menikmati santapan enak. Seumpama ingin makan manusia, minimal juga harus belajar cara makan seperti Li Toa-jui itu.


Namun besarnya tenaga Mo Sing-sing, kegesitan Mo Kong-keh serta kecepatan tangan Mo Mo-diong ini, semuanya membuat orang terkejut pula. Untuk hal ini Siau-hi-ji harus mengakui kelihaian mereka.


Lebih-lebih Mo Mo-diong hanya sekali merogoh saja dapat mengorek keluar hati manusia yang menjadi sasarannya, baik kecepatannya, terutama ketepatan tempatnya yang harus dirogoh ternyata tidak meleset sedikit pun, apa pun juga Siau hi-ji merasa kagum sekali.


Karena itu ia sengaja berdiam diri dan ingin menonton lebih lanjut. Dilihatnya dalam sekejap Mo Mo-diong sudah makan habis hati manusia tadi, bahkan darah yang meleleh di ujung mulutnya juga terjilat bersih, lalu ia menepuk perut sendiri dan berkata dengan tertawa, "Sudah dekat musim rontok, obat kuat harus dimakan tepat pada waktunya. Lihatlah kalian, baru habis makan kan semangatku lantas bertambah!"


Benar juga, seketika Mo Mo-diong tampak bersemangat, bukan saja suaranya tambah lantang, bahkan sorot matanya juga tambah terang, mukanya juga bersemu merah.


"Hm, apakah kalian sengaja pamer kekuatan padaku?" Thi Sim-lam menjengek.


"Eh, jangan lupa, dalam tubuhmu juga terdapat sebuah begini," ujar Mo Mo-diong dengan tertawa. "Jika kau sayang bakpaumu kumakan, hendaklah lekas serahkan barang itu agar aku tidak perlu membuang tenaga untuk bergebrak, kalau mengeluarkan tenaga aku lantas kepingin makan bakpau lagi."


"Hm, jangan kau harap!" bentak Thi Sim-lam, mendadak ia melompat mundur. Rupanya ia pikir jalan paling selamat adalah kabur.


Di luar dugaan, tahu-tahu Mo Sing-sing sudah mengadang di depannya, kedua lengannya yang panjang itu terpentang, betapa pun Thi Sim-lam hendak menerobos pasti akan kena bekuk.


"Haha, kepala yang indah begitu, sayang kalau kuhancurkan," kata Mo Sing-sing dengan tertawa.


Hanya dua kalimat saja Mo Sing-sing berbicara, lambat lagi ucapannya, tapi sekaligus Thi Sim-lam sudah memberondong lawannya dengan belasan kali pukulan dan tepat mengenai sasarannya, terdengar suara "blak-bluk" berulang-ulang, dada, perut dan bahu Mo Sing-sing benar-benar tergenjot dengan keras.


Tapi Mo Sing-sing menganggapnya seperti tidak kena saja, tubuhnya bergeming, bahkan mulutnya tetap mengeluarkan ucapannya tadi, pukulan itu malah seperti menambahkan semangatnya.


Habis memukul 14 kali muka Thi Sim-lam sampai pucat dan musuh tetap diam saja, ia tidak mampu melontarkan pukulan ke-15 lagi, ia berdiri terkesima.


"Sudah habis?" tanya Mo Sing-sing sambil melonggarkan napas.


"Habis," jawab Thi Sim-lam dengan menggereget.


"Baik, sekarang giliranku!" kata Mo Sing-sing. "Wuuutt!" mendadak sebelah tangannya menghantam.


Mana bisa Thi Sim-lam menahan pukulan dahsyat itu, cepat ia mendadak kebawah dan menerobos lewat di bawah ketiak orang, berbareng sebelah kakinya menjegal dan ditambahi pula dengan sedikit pukulan.


Thi Sim-lam tidak berani memandang cara jatuh orang yang serba konyol itu, tapi ia terus melompat ke depan. Mendadak di depan menyembul keluar sebuah benda, ternyata sebuah kepala yang menyerupai kepala ayam jantan.


Waktu ia menoleh, dilihatnya Mo Sing-sing sudah melejit bangun dan sedang tertawa lebar. Sedangkan dari sebelah kiri tiba-tiba terjulur sebuah tangan kecil berbulu seperti tangan kera dan berkata, "Serahkan barangnya!"


Dari gerakan ketiga orang itu, sejak tadi Siau hi-ji sudah tahu Thi Sim-lam pasti tidak mampu lolos, berkelahi jelas juga bukan tandingan mereka.


Diam ia menghela napas dan membatin, "Tampaknya aku harus ikut campur tangan, walaupun sang guru juga belum tentu mampu menyelamatkan si murid, tapi barang yang dibawa muridnya sekali-kali tidak boleh direbut orang."


Dilihatnya Thi Sim-lam sudah terkepung di tengah. Sambil menggosok-gosok kepalan segera Siau hi-ji hendak menerjang keluar. Tapi pada saat itulah tiba-tiba terdengar kumandang suara keleningan kuda dari kejauhan.


Menyusul lantas terlihat sesosok bayangan merah, seperti gumpalan api.


Gumpalan api itu ternyata terdiri dari seorang bersama kudanya, pakaiannya merah, kudanya juga merah. Semula hanya kelihatan titik merah, tapi dalam sekejap saja sudah dekat.


Terdengar suara nyaring merdu membentak, "Seluruhnya ada 19, siapa pun dilarang bergerak!"


Menyusul cambuk yang juga berwarna merah berputar dan menyabet secepat kilat, dalam sekejap saja para Li bersaudara sama terguling dan meringis kesakitan, cambuk orang menyambar tiba, tapi para Li bersaudara itu tidak berani lari dan juga tidak berani menangkis, ingin menjerit saja tampaknya juga tidak berani, terpaksa mereka hanya menggereget menahan rasa sakit.


Penunggang dan kudanya yang berwarna merah itu terus mengitar satu kali, para Li bersaudara seluruhnya terkapar.


Diam-diam Siau hi-ji bersorak memuji permainan cambuk orang itu, ia pun bersyukur bahwa Thi Sim-lam mempunyai seorang kawan selihai itu sehingga dirinya tidak perlu lagi turun tangan menolongnya.


Siau hi-ji tidak tahu bahwa air muka yang berubah paling pucat bukan lain daripada Thi Sim-lam sendiri.


Maklumlah, Siau hi-ji benar-benar terpesona oleh pendatang yang hebat sehingga tidak sempat mengamati orang lain.


Kalau ketiga Mo bersaudara terlalu buruk rupa, maka pendatang ini sungguh teramat cantik, pada hakikatnya serupa bidadari yang baru turun dari kayangan.


Bajunya merah laksana bara, wajahnya juga bergincu merah bercahaya, kalau cambuknya serupa ular berbisa dari neraka, maka matanya bersinar laksana bintang di langit. Cambuknya berputar, matanya mengerling.


Diam-diam Siau hi-ji gegetun, batinnya, "Asalkan dapat memandang sekejap dua saja olehnya, biarpun dicambuk dua-tiga kali juga bukan soal. Namun sabetan cambuknya sungguh teramat keji. Rupanya pameo yang mengatakan wanita yang kelewat cantik, hatinya juga semakin keji, tampaknya memang tidak salah."


Sementara itu para Li bersaudara yang terguling dan merangkak di tanah karena cambukan nona baju merah, tadi mereka masih mampu merintih, tapi kemudian merintih saja tidak sanggup, apalagi bergerak.


Namun cambuk si nona baju merah tidak pernah berhenti menyabet, matanya mendelik, wajahnya bersungut, dinginnya sungguh menakutkan orang yang berani memandangnya.


Sekonyong-konyong Thi Sim-lam berteriak, "Ada permusuhan apa antara mereka denganmu, mengapa kau menghajar mereka sekeji itu?"


"Hm, setiap orang jahat di dunia ini adalah musuhku yang tak dapat kuampuni," jengek si nona baju merah.


"Kau ber... berhenti!" seru Thi Sim-lam pula dengan serak.


"Kau minta aku berhenti, aku justru ingin menghajar terus!" jawab si nona baju merah.


Berturut-turut ia menyabet lagi belasan kali, habis itu mendadak berhenti. Ia memutar kudanya, dihadapinya ketiga Mo bersaudara, matanya menatap tajam, jengeknya, "Bagus, kalian tidak angkat kaki, cukup cerdik, tapi aku pun tidak melupakan kalian."


"Nona suruh kami jangan pergi, dengan sendirinya kami menurut," jawab Mo Mo-diong sambil tertawa.


"Tahukah kau mengapa cambukku belum kugunakan terhadap kalian?" tanya pula si nona baju merah.


"Tidak tahu," sahut Mo Mo-diong.


"Orang yang merasakan cambukanku boleh hidup, yang tidak merasakan cambukanku harus mati," kata si nona pula.


"Tapi apakah nona tahu sebab apa kami tidak pergi?" Mo Mo-diong balas tanya.


"Memangnya kau berani pergi?" ujar si nona.


"Hah, sebabnya kami tidak pergi adalah karena orang lain takut padamu, tapi kami bersaudara tidak takut," kata Mo Mo-diong dengan tertawa aneh.