Legendary Siblings

Legendary Siblings
49. Tiga Mo bersaudara



Merinding rasanya Thi Sim-lam menyaksikan wajah buruk itu meski di tengah hari bolong.


Orang aneh itu pun sedang memandang Thi Sim-lam, katanya sambil mengekek, "Pernahkah kau dengar nama 'makan hati kunyah jantung' Mo Mo-diong? Nah, itulah diriku sendiri. Paling baik jangan kau pandang padaku, jika pandang agak lama mungkin perutmu bisa sakit."


Memang memuakkan juga orang ini, Thi Sim-lam tidak ingin mendengar ucapannya, tapi justru tak bisa tidak harus mendengarnya, habis mendengar rasanya ingin muntah. Maka cepat ia pandang orang kedua.


Bentuk orang kedua pun tidak lebih "cakap" daripada Mo Mo-diong atau si ulat berbulu, tubuhnya paling tidak lebih besar satu kali lipat, malahan lehernya paling sedikit tiga kali lipat lebih panjang, leher yang kecil panjang itu justru menyangga sebuah kepala yang kecil dan meruncing ke atas, kepala dan leher hampir sama besarnya, rambutnya kaku berdiri laksana landak, tapi mulutnya merongos, dagu bawah menonjol keluar dan hampir dapat dibuat gantungan botol.


Sebisanya Thi Sim-lam menahan perasaannya, tegurnya, "Dan kau inikah Mo Kong-keh (si ayam jantan she Mo)?"


Orang itu tertawa lebar sehingga kelihatan barisan giginya yang mirip gergaji, jawabnya, "Kau jangan menggreget, sudah biasa, barang siapa melihat aku pasti geregetan."


Sungguh Thi Sim-lam ingin mendekap telinganya, sebab suara orang ini pada hakikatnya bukanlah manusia sedang bicara melainkan lebih mirip ayam berkotek pada waktu akan disembelih.


Kalau bentuk tampang kedua orang ini sedemikian jelek, maka Thi Sim-lam benar-benar tidak ingin memandang lagi orang ketiga. Namun mau tak mau dia memandang juga. Ia pikir orang ketiga ini mungkin lebih enak dipandang, ia tidak percaya ada manusia lain yang lebih buruk rupa daripada kedua orang tadi.


Mendingan jika tidak dilihatnya, sekali pandang, ya Allah! Kalau kedua orang tadi masih ada sedikit bentuk manusia, orang ketiga ini sungguh sedikit pun tiada berbentuk manusia, tapi lebih tepat disebut Kingkong, itu raksasanya orang hutan.


Jika tubuh Mo Kong-keh lebih besar satu kali lipat daripada Mo Mo-diong, maka tubuh si "Kingkong" ini paling sedikit empat kali lipat lebih gede daripada Mo Mo-diong.


Kalau leher Mo Kong-keh panjang dan kecil, si "Kingkong" ini ternyata sama sekali tidak punya leher, buah kepalanya itu pada hakikatnya tumbuh langsung dari pundaknya.


Mo Mo-diong berbulu putih dan halus, adapun bulu si "Kingkong" ini tebal, kasar dan hitam, bahkan mulut dan hidung pun tak kelihatan, hanya sepasang matanya yang bersinar buas.


Di tempat sembunyinya, Siau hi-ji juga dapat melihat dengan jelas bentuk ketiga orang ini, sungguh ia ingin tertawa geli. Ia tidak habis pikir cara bagaimana ketiga orang itu dicetak dan dilahirkan oleh ibunya.


Jika anak-anaknya berbentuk demikian, maka wajah bapak biangnya sungguh sukar untuk dibayangkan.


Sudah tentu ia tidak tahu bahwa ketiga bersaudara she Mo ini adalah tokoh kalangan hitam yang terkenal kejam dan keji selama belasan tahun terakhir ini. Siapa yang kepergok mereka, jangankan tertawa, ingin menangis saja tak dapat menangis.


Sudah sejak tadi Siau hi-ji mengikuti jejak mereka secara diam-diam, ia lihat beberapa Li bersaudara mengejar Thi Sim-lam, dilihatnya pula Mo bersaudara ini pun mengintil di belakang Li bersaudara.


Kuda tunggangan bersama ketiga Mo bersaudara itu sungguh tinggi besar, tapi langkahnya enteng dan cepat sehingga sepanjang jalan tak diketahui oleh Li bersaudara.


Tentu saja sekarang Li bersaudara itu sudah tahu, lelaki kekar yang tadi kelihatan kereng itu kini jadi mengkeret demi nampak ketiga makhluk aneh ini, tanpa terasa tubuh mereka gemetar.


Diam-diam Siau hi-ji heran. Jelas sasaran ketiga makhluk aneh itu bukankah pihak Li bersaudara, mengapa mereka jadi ketakutan? Apakah ketiga makhluk aneh itu mungkin keji dan suka membunuh siapa pun tanpa kenal ampun.


Dilihatnya badan Li bersaudara itu gemetar dan bermaksud mengeluyur pergi. Belasan saudara keluarga Li itu memang cekatan dalam hal menunggang kuda, tanpa tanda apa pun kuda mereka tampak mundur perlahan.


Tiba-tiba Mo Mo-diong bergelak tertawa dan berkata, "Hahaha! Sungguh aneh, bocah she Thi ini belum lagi kabur, tapi orang she Li sudah ingin mengeluyur pergi lebih dulu."


Satu di antara belasan Li bersaudara itu cepat memberi hormat dan menyeringai, "Kami bersaudara tidak berani berebut jasa dengan para Cianpwe (senior), benda yang berada pada orang she Thi ini kami pun tidak ingin menerima bagiannya, sebab itu biarlah kami berangkat lebih dulu."


Mo Kong-keh tertawa terkekeh, katanya, "Baru melihat kami segera kalian hendak pergi, apakah barangkali kalian merasa jijik melihat rupa kami ini?"


Orang she Li tadi menjadi pucat dan tambah gemetar, jawabnya, "Ah, mana... mana kami... be... berani."


"Ah, inilah engkau yang keliru, saudaraku," ujar Mo Mo-diong tertawa. "Kaki kuda bukan tumbuh di tubuh mereka, kaki mereka sendiri kan tak bergerak, yang bergerak adalah kaki kuda."


"O, jika begitu bukanlah salah mereka melainkan kuda mereka yang tidak tahu aturan," kata Mo Kong-keh.


Cepat orang she Li tadi menyambung, "Ben... benar, ku... kuda kami...."


"Pantas m*mpus kuda-kuda itu," ujar Mo Kong-keh.


Baru habis ucapannya, mendadak Mo Sing-sing, si Kingkong, melompat turun dari kudanya.


Meski tubuhnya besar, namun kedua lengannya terlebih panjang dan besar sehingga hampir menyentuh tanah. Tubuh segede itu ternyata tidak mengurangi kegesitan gerak-geriknya.


Sekali lompat tahu-tahu sudah berada di depan kuda pertama para Li bersaudara, sekali menjotos, tanpa bersuara sedikit pun kontan kuda itu roboh terkulai, kepalanya hancur luluh kena jotosan itu.


Mau tak mau Siau hi-ji terperanjat menyaksikan itu, diam-diam ia mengakui betapa hebat tenaga orang.


Dalam pada itu tiga ekor kuda lain sudah roboh pula, semua kepala terpukul hancur. Kuda lain sama meringkik takut, tapi Mo Sing-sing terus memburu maju, setiap ekor diberi tonjokan satu kali laksana menggepuk semangka saja, dalam sekejap belasan ekor kuda itu sudah roboh binasa tanpa kepala.


Para Li bersaudara itu sama terperosot jatuh, semuanya pucat lesi bagai mayat. Seorang di antaranya mendadak menjerit terus berlari ke sana, tampaknya ia menjadi gila karena ketakutan.


"Eh, ada lagi yang tidak menurut," kata Mo Kong-keh.


Sekonyong-konyong ia melayang ke sana dengan kepala di depan dan kaki di belakang laksana anak panah pesatnya. "Blang" kepalanya yang menyerupai kepala jago itu tepat menumbuk punggung orang yang lari itu.


Orang itu tidak sempat menoleh, tahu-tahu tertumbuk dan tulang punggungnya patah terus terkulai. Tapi sebelum roboh Mo Kong-keh keburu menangkap bahunya terus dilemparkan ke belakang sambil berseru, "Untukmu saudaraku, inilah, santapan kegemaranmu!"


"Haha, ada bakpau masih hangat-hangat," seru Mo Mo-diong sambil tertawa.


Sementara itu tubuh lelaki yang dilemparkan Mo Kong-keh itu telah melayang lewat di atas kepala orang banyak, ketika tepat di atas kepala Mo Mo-diong, mendadak tangannya yang kecil terus merogoh ke dada lelaki itu, ia hanya merogoh secara perlahan saja, tubuh orang itu masih terus melayang ke sana, darah tampak memancur keluar, lalu terbanting jatuh di tanah dengan berlumuran darah, dadanya ternyata sudah berlubang.


Dalam pada itu tangan Mo Mo-diong sudah memegang satu buah hati manusia yang merah berdarah, bahkan jelas kelihatan masih berdenyut.


"Hehe, apakah di antara hadirin ada yang pingin makan bakpau? Masih hangat-hangat, harum dan sedap," demikian kata Mo Mo-diong dengan tertawa.


Keruan wajah Li bersaudara pucat bagai mayat. Air muka Thi Sim-lam juga berubah.


"Tampaknya kalian tak berminat makan enak, untung bagiku," kata Mo Mo-diong pula dengan tertawa.


Menyusul hati manusia yang dipegangnya terus digigitnya separo, lalu dikunyahnya dengan berkeriat-keriut seperti orang makan kacang goreng, darah pun merembes keluar dari mulutnya.


Badan para Li bersaudara serasa lemas lunglai dan tak sanggup berdiri lagi, tanpa terasa Thi Sim-lam menutupi mulut sendiri, hampir saja ia muntah.


Bahkan Siau-hi-ji juga merasa muak menyaksikan adegan luar biasa itu.