Legendary Siblings

Legendary Siblings
67. Ular Hijau II



"Keji amat dan sungguh berbahaya!" ucap Sim-lan dengan suara gemetar.


Siau hi-ji menggereget, katanya dengan gemas, "Tampaknya orang-orang ini berpuluh kali lebih busuk daripadaku, sampai-sampai orang tua begini juga dibunuhnya."


"Memang... memang sudah kuduga kita sukar meloloskan diri," kata Sim-lan pula.


Pada saat itulah tiba-tiba terdengar kuda meringkik di luar, cepat Siau hi-ji menerobos keluar, dilihatnya seekor ular kecil sedang merambat ke atas melalui kaki kuda.


Dengan sobekan kain lengan baju Siau hi-ji pegang ular itu dan dibanting terus diinjaknya hingga luluh, katanya sambil membelai bulu suri kuda putih, "Jangan takut, Sawi Putih, orang-orang jahat itu takkan mampu mencelakai kita."


Lalu ia menarik Thi Sim-lan ke atas kuda dan berangkatlah mereka dengan cepat. Kuda putih itu pun seperti tahu ada bahaya, larinya terlebih kencang, hanya sekejap saja perkampungan itu sudah dilaluinya.


Sim-lan masih bergetar dan bergumam, "Wah, bahaya! Jika kita makan sesuap nasi itu, tentu takkan hidup sampai sekarang."


"Tapi sekarang kita masih segar bugar!" ucap Siau hi-ji tertawa.


"Cara bagaimana kau bisa mengetahuinya?"


"Waktu kau pegang mangkuk nasi itu, tanganmu kepanasan tak tahan, tapi nenek itu ternyata sanggup membawanya dari dapur tanpa merasakan apa-apa, mustahil kalau nenek itu tidak terlatih sebangsa Tok-soa-cio (tangan pasir beracun) dan sebagainya."


"Ai, urusan apa pun selalu tak dapat mengelabuimu," ucap Sim-lan dengan gegetun.


Sekonyong-konyong di tengah jalan di depan sana ada sebidang tanah rumput menghijau seperti lumut, waktu diamati lebih jelas, rumput hijau itu dapat bergerak-gerak, kiranya beratus-ratus ular kecil warna hijau bergerombol di situ.


Sim-lan menjerit kaget, tapi Siau hi-ji lantas membelokkan kudanya ke suatu jalan simpang di sebelah sana, meski jalan ini lebih sempit, tapi kedua tepi jalan banyak pepohonan yang rindang.


Sepanjang perjalanan ini belum pernah Siau hi-ji melihat jalan sebersih dan seindah ini.


Selagi dia merasa sangsi dan was-was, mendadak seekor ular menggelantung turun dari atas pohon.


Ular itu juga warna hijau, tapi tidak kecil, badan ular yang hijau gilap itu sebesar lengan bayi dan bergelantungan di depan mata Thi Sim-lan.


Keruan si nona menjerit kaget, si kuda putih juga meringkik dan berjingkrak. "Jangan takut, urusan tangkap ular atau pukul anjing adalah keahlianku!" seru Siau-hi-ji.


Berbareng itu secepat kilat ia pegang leher ular, terus disabetkan ke batang pohon. Gerakan Siau-hi-ji ini sangat cepat lagi jitu, ular kontan dibanting hingga mati.


Legalah hati si Thi Sim-lan, katanya, "Untung kau bukan perempuan, umumnya perempuan takut pada ular."


Siau hi-ji tidak menanggapi, katanya, "Mana belatimu?"


Si nona lantas menyodorkan belatinya dan berkata, "Hati-hati, jangan sampai bajumu kena darah ular."


Siau hi-ji hanya mendengus saja, dengan wajah membesi ia iris tangan sendiri dengan belati.


Keruan Thi sim-lan kaget, jeritnya, "He... kau..."


Mendadak ia tak sanggup meneruskan lagi, kerongkongannya seperti tercekik ketika menyaksikan darah yang mengalir dari lengan Siau hi-ji itu berwarna hitam.


"Akhirnya aku tertipu juga!" ucap Siau hi-ji dengan suara parau dan muka pucat. Perlahan ia membuka telapak tangannya, ternyata di situ juga membeku dua titik darah, dua titik berwarna hitam.


Waktu Sim-lan memandang ular tadi, tubuh ular itu tampak lurus menegak, bagian lehernya samar-samar bersinar, serunya, "He, kiranya ular sudah mati dan di dalam tubuhnya tersembunyi pedang yang berbisa, karena kau pencet leher ular, maka pedang melukai tanganmu."


"Sungguh pintar kau, sungguh anak jenius," kata Siau hi-ji.


"Syukur engkau sudah membuang darah yang keracunan, mungkin... mungkin tak berhalangan pula."


Tubuh si nona bergetar dan terperosot jatuh ke bawah, serunya dengan gemetar, "Engkau omong kosong!"


"Racun ini tak tertolong, kalau tidak segera kubuang darah, saat ini mungkin aku sudah menuju ke akhirat, walaupun begitu juga tidak tahan setengah jam lagi."


Sim-lan menubruk ke tubuh Siau-hi-ji, serunya sambil menangis, "Tidak, racun ini pasti dapat ditolong, kau tidak tahu..."


"Sejak kecil aku sudah bergelimang di rumah ahli racun terkenal, kalau aku tidak tahu, siapa lagi yang tahu di dunia ini?" ternyata anak muda itu masih bisa berbangga dan tertawa malah.


"Jika begitu, seharusnya kau dapat meracik obat penawarnya."


"Dengan sendirinya aku dapat."


"Nah, jadi engkau... engkau cuma menakut-nakuti aku saja," seru Sim-lan kegirangan.


"Tapi untuk meracik obat penawarnya diperlukan waktu tiga bulan!" ucap Siau hi-ji perlahan.


Si nona jatuh lemas pula, katanya dengan air mata meleleh, "Kau... kau masih dapat berkelakar dalam keadaan demikian. Wah... lantas bagaimana baiknya?" Tangisnya yang masih terguguk itu kemudian berubah menjadi tergerung-gerung, lalu jeritnya sambil memukul bumi, "Kau sungguh bukan manusia, terhadap mati-hidup sendiri juga dibuat bersenda-gurau dan sama sekali tidak pedulikan perasaan orang lain... aku benci... aku benci!"


Siau hi-ji tidak menggubrisnya, ia mengeluarkan sehelai kertas kulit kambing yang sudah menguning, dikibarkan kertas itu ke udara sambil berseru, "Ini ular busuk, lihatlah! Inilah peta harta karun itu, kau ingin memilikinya tidak?"


Baru saja dia berseru dua kali, benar saja dan pucuk pohon lantas berkumandang suara melengking kecil, basah-basah licin sehingga membuat orang merinding. "Benda itu akhirnya pasti jadi milikku, buat apa terburu-buru," demikian jengek orang itu.


Waktu Thi Sim-lan menengadah, tertampaklah seorang dengan baju hijau ketat bersembunyi di tengah daun pohon yang rimbun itu sehingga sukar ditemukan.


Tubuhnya yang kurus panjang itu seakan-akan melilit pada dahan pohon, sepasang matanya yang kecil itu mirip benar dengan seekor ular, ular berbisa tentunya.


"Apa betul akan menjadi milikmu, kau yakin?" Siau hi-ji malah bergelak tertawa.


"Jika kau serahkan sekarang dengan hormat, boleh jadi jiwamu akan kuampuni," kata Pek coa sin-kun, si malaikat ular hijau.


"Ya, berikan saja padanya," ucap Thi Sim-lan dengan takut. "Kita sendiri kan tidak memerlukannya lagi."


"Tampaknya anak perempuan ini lebih cerdik daripadamu," kata Pek coa sin-kun.


"Hahaha! Benar juga, dia cerdik dan aku teramat gobl*k!" Siau hi-ji terbahak-bahak.


Mendadak ia jejalkan kertas tadi ke mulut terus dikunyahnya seperti orang lagi makan pisang goreng.


Sekonyong-konyong Pekcoa sin-kun memberosot turun, sekaligus dia seret Siau hi-ji dari atas kudanya serta membentaknya dengan suara bengis, "Tumpahkan!"


Dengan mudah Siau hi-ji diseret, tidak melawan juga tidak menghindar, tapi kesempatan itu telah digunakan olehnya untuk menelan gumpalan kertas itu ke dalam perut.


Lalu ia membuka mulut dan berkata dengan tertawa, "Tak dapat tertumpah lagi."


"Kau cari m*mpus!" bentak Pekcoa sin-kun murka.


"Peta ini cuma ada selembar, hanya aku sendiri yang hafal segala isinya, jika kau bunuh aku berarti selama hidupmu takkan menemukan harta karun," kata Siau hi-ji dengan mengikik.


Melenggong juga Pekcoa sin-kun, mau tak mau cengkeramannya dikendurkan.


"Nah, jika aku menjadi dirimu saat ini tentu sudah kukeluarkan obat penawarnya," ucap Siau hi-ji pula dengan sikap adem ayem. "Asalkan aku masih hidup, bisa jadi akan kulukiskan kembali peta pusaka tadi. Tangan orang mati tentunya tak dapat bekerja lagi bukan?"