Legendary Siblings

Legendary Siblings
24. Murka Yan-tayhiap II



“Hm,” Yan Lam-thian hanya mendengus saja.


“Cayhe (hamba) ‘Joan-jong-kiam’ Suma Yan,” kata pula si baju hitam.


Meski Yan Lam-thian sudah mengambil keputusan akan bersabar dan bersikap tenang, kini tidak urung terguncang juga perasaannya dan berseru tanpa kuasa, “Kiranya kau! Jadi kamu sudah di sini?!”


Suma Yan terkekek licik, katanya, “Sebelum Yan-tayhiap tiba, lebih dulu Cayhe sudah sampai di sini. Kabar tentang Yan-tayhiap akhir-akhir ini sudah kudengar, sebab itulah, begitu Yan-tayhiap datang, orang-orang di sini juga lantas tahu.”


Mendelik mata Yan Lam-thian, tapi tetap diam saja.


“Yan-tayhiap tidak perlu melotot padaku, kukira engkau takkan membunuh aku,” ujar Suma Yan, dengan tertawa licik.


“Berdasar apa kau kira aku tak berani membunuhmu? Sungguh aneh, coba katakan!” bentak Yan Lam-thian bengis.


“Sederhana, di antara dua negeri yang berperang, tidak mungkin membunuh duta dari salah satu pihak,” kata Suma Yan dengan tertawa.


“Duta? Kamu ini duta? Duta dari mana?” Yan Lam-thian menegas.


“Cayhe datang atas perintah untuk menanyai sesuatu pada Yan-tayhiap,” jawab Suma Yan.


“Apakah urusan mengenai anak itu?” tergerak juga hati Yan Lam-thian.


“Benar!” jawab Suma Yan dengan tertawa.


Segera Yan Lam-thian mencengkeram baju orang itu, bentaknya dengan suara parau, “Di mana anak itu?”


Suma Yan tidak menjawab, dengan mengulum senyum ia pandang tangan Yan Lam-thian.


Yan Lam-thian menggreget, tapi akhirnya ia kendurkan tangannya.


Dengan tertawa-barulah Suma Yan menjelaskan, “Cayhe disuruh menanyai Yan-tayhiap, apabila mereka menyerahkan kembali anak itu padamu, lalu bagaimana urusannya?”


Tergetar hati Yan Lam-thian, sahutnya, “Untuk ini….”


“Apakah Yan-tayhiap akan terus berangkat pergi dan untuk selamanya takkan datang lagi ke sini?” Suma Yan menegas.


Kembali Yan Lam-thian menggreget, jawabnya dengan parau, “Demi anak itu, baik kuterima.”


“Sekali sudah berjanji...”


“Apa yang pernah kukatakan selamanya takkan berubah!” bentak Yan Lam-thian dengan gusar.


“Baik, silakan Yan-tayhiap ikut padaku!” kata Suma Yan dengan tertawa.


Berturut-turut mereka lantas keluar dari rumah itu.


Suasana malam yang tenang meliputi Ok-jin-kok, di bawah cahaya bulan yang remang-remang Ok-jin-kok tampaknya bertambah aman dan tenteram.


Suma Yan melangkah di jalanan batu yang licin itu, tindakannya enteng tanpa bersuara sedikit pun, tanpa berhenti ia terus menuju ke sebuah rumah dengan pintu setengah tertutup dan kelihatan cahaya terang menembus keluar.


“Di dalam rumah inilah anak itu berada,” kata Suma Yan setiba di depan pintu. “Diharap setelah Yan-tayhiap memondong anak itu keluar, hendaklah segera mundur kembali ke jalan engkau datang semula. Kereta yang dibawa Yan-tayhiap itu pun sudah siap di mulut lembah sana.”


Yan Lam-thian tidak sabar lagi, tanpa menunggu habis ucapan orang itu, segera ia menerobos ke dalam rumah.


Di tengah rumah kelihatan ada sebuah meja bulat, anak itu memang betul tertaruh di atas meja.


Darah Yan Lam-thian bergolak, sekali lompat maju segera ia pondong anak itu sambil berkata dengan pilu, “O, anak yang malang!”


Tapi belum habis ucapannya, mendadak anak itu dibantingnya ke lantai sambil mengerang murka,


“B*ngsat keparat!”


Namun sudah terlambat, seluruh rumah berjangkit suara mendenging, beratus-ratus bintik perak memancar ke arahnya bagai hujan.


Suara mendesing senjata rahasia itu tajam lagi cepat serta kuat pula, jelas beratus-ratus senjata rahasia itu seluruhnya tersambit dari tangan kaum ahli dan bertekad harus membinasakan Yan Lam-thian.


Segenap pelosok rumah itu adalah sasaran berbagai macam senjata rahasia sehingga Yan Lam-thian benar-benar tidak diberi peluang untuk berkelit dan menghindar.


Mana tahu mendadak Yan Lam-thian bersuit nyaring, tubuh terus mengapung ke atas, terdengarlah suara gemuruh, ia telah membobol wuwungan rumah dan melayang keluar.


Di bawah terdengar suara nyaring riuh ramai, beratus-ratus senjata rahasia berserakan memenuhi lantai.


Di balik bayang-bayang gelap sekeliling rumah segera terdengar jerit kaget berulang-ulang, belasan bayangan orang segera berlari simpang siur.


Kembali Yan Lam-thian bersuit panjang, laksana naga turun dari langit, mendadak ia menubruk dari atas.


Terdengarlah suara gedebak-gedebuk disertai jeritan beberapa kali, seorang ditumbuknya hingga mencelat ke tepi jalan, seorang dilemparkannya jauh ke tengah jalan, seorang lagi disodok hingga menerobos genting rumah.


Semuanya kepala pecah dan otak berantakan. Namun sisanya masih sempat kabur, hanya sekejap saja lantas lenyap.


Berdiri di tengah jalan raya itu Yan Lam-thian berteriak dengan suara murka, “Main sergap, tapi bisakah kalian menjatuhkan diriku? Kalau ingin jiwa orang she Yan, ayolah keluar bertanding!”


Suara raungan murka Yan Lam-thian itu menggema di angkasa dan tak hentinya menimbulkan kumandang dari jauh suara tantangan itu.


Dengan langkahnya yang tegap kuat Yan Lam-thian menyusuri jalan sambil mencaci-maki dan menantang.


Namun Ok-jin-kok itu seakan-akan tak berpenghuni lagi, tiada seorang pun yang berani menongol.


Meski seorang diri, namun Yan Lam-thian telah membuat seluruh penjahat yang menghuni Ok-jin-kok itu mengkeret semua, sungguh gagah perkasa dan berwibawa.


Namun sedikit pun hati Yan Lam-thian tidak merasa bangga dan puas, sebaliknya ia merasa cemas, pedih dan murka.


Meski langkahnya enteng gesit, namun perasaannya amat berat.


Sekonyong-konyong, entah sejak kapan, seluruh sinar lampu di Ok jin-kok itu padam semua.


Walaupun ada cahaya rembulan dan bintang, namun lembah maut itu tetap gelap gulita dan menggetar sukma.


Mendadak selarik sinar mengkilat menyambar dari balik pintu rumah sebelah, sebuah golok membacok sekuatnya.


Serangan itu jelas berasal dari seorang jago silat terkenal, baik waktunya yang tepat, arahnya yang jitu, semuanya dilakukan dengan kena tepat dan berkeyakinan kepala Yan Lam-thian pasti akan terbelah menjadi dua.


Di luar dugaan, Yan Lam-thian yang tampaknya sama sekali tidak tahu akan serangan itu, entah cara bagaimana, sekonyong-konyong tubuhnya dapat menyurut mundur sehingga golok itu menyambar lewat di depan hidungnya tanpa melukai seujung rambut pun.


“Trang”, saking kerasnya tenaga serangan itu hingga golok membacok tanah dan memercikkan lelatu api.


Secepat kilat tangan Yan Lam-thian terus membalik dan tepat mencengkeram pergelangan tangan penyergap itu sambil membentak bengis, “Keluar! Ingin kutanya padamu.”


Di luar dugaan. mendadak pegangan Yan Lam-thian terasa enteng, meski tangan orang itu kena ditariknya keluar, tapi melulu sebuah tangan berlumuran darah tanpa pemiliknya.


Kiranya orang itu telah menabas mentah-mentah lengan kanan sendiri.


Keji amat dan tega benar hati orang itu. Bahkan suara mendengus saja tak terdengar sama sekali.


Kejut, cemas, gusar dan gemas pula Yan Lam-thian, ia ambil goloknya dan buang lengan buntung itu, menyusul golok itu terus membacok, sebuah daun pintu kontan jebol.


Namun di balik pintu tiada nampak bayangan seorang pun.


.