
Selain pakaiannya hitam ketat gemerlapan, mukanya ternyata juga memakai topeng hitam, hanya sepasang biji matanya yang jelas kelihatan, matanya tampak berkedip-kedip dalam kegelapan menambah misteriusnya.
Serentak Thi Sim-lan ingat seseorang, serunya, "He, engkau inikah Oh ti-tu (si labah-labah hitam)?!"
"Hah, benar, kau juga kenal aku?" si baju hitam tertawa aneh.
"Meng ... mengapa engkau berada di sini?"
"Sebenarnya kaulah sasaranku," jawab Oh ti-tu. "Tapi demi nampak anak muda ini, rasanya jadi tertarik, jauh lebih menarik daripada pusaka yang kau bawa itu. Karena ingin mengikat persahabatan dengan dia, terpaksa kukesampingkan urusan peta pusaka."
"Hahaha, sungguh tidak nyana ada orang menganggap diriku lebih berharga daripada peta pusaka harta karun, sahabat demikian aku pun ingin kenal," demikian seru Siau hi-ji dengan tertawa. "Cuma... Oh ti-tu nama apaan itu?"
"Nama Oh ti-tu saja kau tidak kenal, pengetahuanmu sungguh amat dangkal. Di jaman ini, orang yang tidak tahu namaku masakah mampu berkecimpung di dunia Kangouw?" kata Oh-ti-tu.
"Mulai kapan kau menguntit diriku?" tanya Siau hi-ji.
"Waktu kau melumuri kuda putihmu menjadi kuda belang, perbuatanmu sudah kulihat," tutur Oh ti-tu atau si labah-labah hitam.
"Aneh, aku sendiri ternyata tidak tahu," ujar Siau hi-ji.
"Hm, jika aku sudah bertekad akan menguntit seseorang, sekalipun kukuntit selama hidupnya juga orang itu takkan tahu," demikian jengek si labah-labah hitam. "Tapi kalau aku tidak ingin dilihat orang, di dunia ini juga tiada seorang pun yang dapat melihat bayanganku."
"Usiamu meski kecil, tapi nadamu ternyata tidak kecil," ujar Siau hi-ji sambil melompat turun.
"Siapa bilang usiaku kecil?!" kata Oh ti-tu dengan gusar.
"Dari suaramu masakah aku tak dapat membedakannya?" jawab Siau hi-ji.
Oh ti-tu berkedip-kedip dan menatap anak muda itu sekian lama, lalu berkata pula dengan mengekek tawa, "Hehe, walaupun usiaku kecil, sedikitnya cocok untuk menjadi pamanmu, cuma aku ingin bersahabat dengan kau maka bolehlah kau panggil Toako (kakak) saja padaku."
"Panggil Toako padamu?" Siau hi-ji menegas. "Perawakanmu lebih kecil daripadaku, kau yang harus panggil Toako padaku."
Oh ti-tu melotot, katanya dengan gusar, "Tidak sedikit orang Kangouw kepingin memanggil Toako (kakak) padaku, tapi semuanya kutolak. Kini kusuruh kau memanggil demikian padaku, kau malah tidak mau?"
Sementara itu Thi Sim-lan sudah berbangkit dan terus-menerus memberi isyarat kepada Siau hi-ji.
Namun Siau hi-ji anggap tidak tahu saja, ia tetap berolok-olok dengan tertawa, "Baiklah. Eh, Oh-laute (adik hitam), boleh juga kepandaianmu ya?"
"Kau panggil apa padaku?" Oh ti-tu menjadi gusar.
"Oh-laute, marilah kita pergi minum barang dua cawan, mau?" kata Siau hi-ji pula.
Oh ti-tu tertawa terkekeh-kekeh, katanya, "Tahukah kau bahwa kau bakal tertimpa bencana maut, selain diriku tiada lagi yang mampu menolong kau. Jika kau mau panggil Toako padaku, entah betapa besar manfaatnya bagimu."
Thi Sim-lan jadi kelabakan, sungguh kalau bisa dia ingin mencekik leher Siau hi-ji dan memaksa dia memanggil "Toako", tapi anak muda itu masih tetap cengar-cengir saja, katanya pula, "Eh, Oh-laute, ada bencana apa yang akan menimpaku, coba katakan."
Sejenak Oh ti-tu melototi Siau hi-ji, mendadak ia menjengek, "Baik, sebenarnya aku ingin membantumu, tapi kau sok berlagak tua di hadapanku, maka aku pun tidak perlu ambil pusing akan urusanmu."
Habis berkata, mendadak tangannya terangkat, di bawah cahaya bulan tampak sejalur benang perak menyelinap keluar dari lengan bajunya terus menyambar lurus ke depan.
Habis itu orangnya lantas lenyap, benang tadi pun tidak terlihat lagi.
Mau tak mau Siau hi-ji terkesiap, katanya, "Pantas suaranya besar, Ginkangnya memang lumayan juga."
"Masakah hanya lumayan," ucap Thi Sim-lan dengan gegetun. "Ginkang yang menjadi kepandaiannya yang khas itu disebut 'Sin-tu-leng-khong' (si labah-labah melayang di udara), pada hakikatnya di dunia Kangouw tiada orang kedua yang mampu menandinginya."
"Memangnya di mana letak kehebatan kungfunya?" tanya Siau hi-ji.
"Yang tersembunyi di lengan bajunya itu konon adalah benang sarang labah-labah berumur ribuan tahun yang ditemukannya di lautan selatan, benang labah-labah itu keras dan ulet, tidak mempan oleh senjata tajam apa pun. Dia mengikal dan menyimpan benang labah-labah itu di dalam bumbung yang berpegas, jika tangannya bergerak, seketika benang labah-labah itu menjulur ke depan, konon panjangnya dapat mencapai puluhan depa, sedangkan jarum perak yang terikat pada ujung benang dapat menancap pada benda apa pun, maka dengan enteng tubuhnya dapat ikut melayang ke mana pun sehingga serupa terbang dan cepat bagai hantu."
"Selain aneh orangnya kepandaian yang dilatihnya juga aneh dan menarik," kata Siau hi-ji dengan tertawa. "Tapi entah umurnya, sudah tua atau masih muda? Mengapa dia sok berlagak tua?"
"Belum ada seorang pun yang tahu umurnya, hanya diketahui dia paling benci pada orang yang bilang dia kecil, siapa yang melanggar pantangannya ini tentu celaka."
"Mengapa aku tidak celaka?" tanya Siau hi-ji.
"Ya, sungguh aneh, tampaknya dia memang ada jodoh dengan kau," ujar Thi Sim-lan dengan tertawa. "Janganlah mengolok-olok dia, seperti panggilanmu sebagai adik padanya tadi, biasanya dia pasti sudah marah dan mungkin lidahmu sudah dipotong olehnya."
Setelah tertawa, tiba-tiba nona itu menghela napas panjang dan menambahkan pula, "Namun orang itu pun tidak pernah omong kosong, kalau dia bilang kita bakal tertimpa bencana, mungkin... mungkin ada alasannya."
"Mana ada bencana segala, jangan percaya pada obrolannya," ujar Siau hi-ji.
Tapi suaranya makin lama makin lirih sehingga kata terakhir hampir tak terdengar, sedangkan matanya menatap tajam ke arah bokong kuda, entah apa yang dilihatnya.
Baru saja Thi Sim-lan mengetahui sikap aneh anak muda itu dan bermaksud memandang ke sana, cepat Siau hi-ji telah menyeretnya ke atas kuda dan berkata, "Ayolah lekas berangkat!"
"Ap... apa yang kau lihat?" tanya Sim-lan.
"Ah, tidak apa-apa... Haha, memangnya ada apa?" Siau hi-ji sengaja ngakak.
Sim-lan menunduk, setelah termenung sejenak, kemudian berkata dengan khawatir, "Kutahu bila engkau tertawa ngakak, maka apa yang kau ucapkan pasti tidak benar."
Siau hi-ji melengak, lalu katanya, "Hah, agaknya penyakitku ini ketularan sejak kecil dari seseorang dan hingga kini sukar diperbaiki."
Sudah tentu Thi Sim-lan tidak tahu orang yang menularkan penyakit ngakak kepada Siau hi-ji itu adalah si Ha ha-ji yang selamanya tidak pernah bicara benar.
Tapi ia pun tidak ingin tanya, ia berkata pula dengan khawatir, "Jika begitu, sesungguhnya apa yang dilihat olehmu?"
"Ah, toh bukan sesuatu yang luar biasa, kau tidak perlu melihatnya," ucap Siau hi-ji.
"Kutahu kau khawatir bila diperlihatkan padaku tentu akan membuatku cemas," ujar Thi Sim-lan dengan tertawa. "Tapi kalau aku tidak melihatnya rasanya akan lebih gelisah..."
"Ai, dasar perempuan... Baiklah, kau ingin lihat, silakan lihat ini," kata Siau hi-ji sambil menggeleng kepala.
Waktu Thi Sim-lan memandang ke tempat yang ditunjuk, ternyata di bokong kuda putih itu entah sejak kapan telah bertambah sebuah cap ular kecil berwarna hijau.