Legendary Siblings

Legendary Siblings
54. Pembalasan



Cara bicara Siau hi-ji yang mengedipkan matanya yang besar itu ternyata menarik perhatian Siau sian-li, rasanya suka mendengarkan terus.


Sambil memandangi wajahnya, ia merasa anak muda ini sungguh aneh.


Tanpa terasa tercetus pertanyaannya, "Apakah benar aku sangat cantik?"


Baru berkata demikian, tiba-tiba ia merasa sikapnya itu terlalu lunak, segera ia menggampar pula sambil mendelik dan membentak, "Seumpama aku memang cantik juga tidak perlu pujianmu."


Diam-diam Siau hi-ji merasa geli, ia merasa tamparan ini sudah jauh lebih enteng daripada tadi, namun ia pura-pura kesakitan dan berkata dengan bersungut, "Ya, ya, walaupun bibi cantik, terpaksa aku tidak omong lagi."


"Kau setan cilik ini mengapa datang ke sini?" tanya Siau sian-li.


"Kuikut beberapa paman berdagang ke sini, tadi paman membeli seekor kuda dan suruh aku menunggangnya berpesiar, tak terduga kuda itu sangat binal, mendadak ia lari kesetanan dan sukar dikendalikan, di luar kehendakku tahu-tahu aku dibawa ke sini, aku pun tidak tahu tempat apakah ini."


Cara bicara Siau hi-ji dilontarkan tanpa pikir dan lancar sehingga membuat orang mau tak mau harus percaya pada bualannya itu.


"Ya, betapa pun jinaknya kuda, kalau sudah kesetanan, siapa pun sukar mengendalikannya, apalagi anak kecil macam kau," kata Siau sian-li.


Sudah tentu ucapannya itu berdasarkan pengalamannya, makanya dia bersimpatik pada pengalaman si "setan cilik" ini. Ia tidak tahu bahwa yang mengerjai kudanya tadi justru bukan lain daripada "setan cilik" ini.


Keruan Siau hi-ji geli setengah mati, tapi di mulut ia tetap menjawab, "Betul, aku telah disiksa seharian oleh kuda gila ini, kulihat ada sumur dan baru saja hendak menimba air untuk minum, tiba-tiba kulihat pemalas ini lagi molor di sini."


Siau sian-li memandang sekejap ke arah Thi Sim-lam, lalu menjengek, "Hm, apakah kau kira dia sedang tidur?"


"Tidak tidur ? Memangnya sudah mati?!" seru Siau hi-ji.


"Bukan tidur juga tidak mati," ucap Siau sian-li, "dia cuma terkena obat bius orang. Eh, aneh, mengapa dia sampai kena dikerjai orang? Aha, kebetulan juga dapat kugeledah barangnya itu."


Ia tidak menaruh curiga lagi pada Siau hi-ji, maka ucapannya itu setengah bergumam sendiri.


Diam-diam Siau hi-ji juga gelisah menyaksikan orang menggerayangi tubuh Thi Sim-lam, tapi tak dapat berbuat apa-apa.


Di luar dugaan, meski Siau sian-li sudah merabai seluruh badan Thi Sim-lam, ternyata tidak ditemui sesuatu. Siau-hi-ji sangat heran, tak tersangka olehnya bahwa "barang" yang dimaksud itu memang tidak berada pada Thi Sim-lam. Jika begitu, tadi waktu ia mengancam akan menggeledahnya mengapa Thi Sim-lam menjadi khawatir dan kelabakan?


Tiba-tiba terdengar Siau sian-li berkata, "Wah, celaka, jangan-jangan barang itu telah diambil lebih dahulu oleh orang yang membiusnya itu? Lantas siapakah gerangannya?.... Eh, setan cilik, ambilkan seember air, siram dia supaya mendusin, aku ingin menanyai dia."


"Baik, baik," jawab Siau hi-ji cepat sambil nyengir.


"Jangankan satu ember, sepuluh ember juga kusanggup."


Akan tetapi, ketika menimba air ia berlagak seperti tidak kuat mengangkatnya, akhirnya satu ember penuh dapat ditariknya ke atas dengan napas tersengal. Sambil menjinjing ember air itu dengan langkah terhuyung ia mengomel lagi, "Kep*rat, mengapa ember ini begini berat, aku..." Mendadak ia keserimpet dan jatuh terjerembab, ember pun mencelat dan airnya muncrat membasahi badan Siau sian-li.


Keruan Siau sian-li marah dan mendamprat, "He, kau b*bi gobl*k, kau... kau cari m*mpus?!"


"Huh, tampangmu saja manusia, tapi ulahmu melebihi b*bi gobl*k," omel Siau sian-li. "Jika kau tidak membersihkan air di tubuhku ini, mustahil tidak kusembelih kau."


Sambil mengomel Siau sian-li terus mengentak kaki dan mengebas baju, sedangkan Siau hi-ji dengan lagak kelabakan berusaha mengelap air yang membasahi si nona sambil berlutut.


Semakin mengomel semakin naik darah Siau sian-li, sungguh sekali tendang ia ingin enyahkan si "b*bi gobl*k" ini.


Tapi belum lagi kakinya terangkat, tiba-tiba "Im leng hiat" di bagian dengkulnya terasa kesemutan, seketika setengah badan terasa kaku tak bisa bergerak. Keruan ia terkejut dan membentak, "Setan cilik, kau..."


"O, maaf, aku tidak sengaja, maaf... maaf..." mulut Siau hi-ji tidak hentinya minta maaf, tapi tangan tidak pernah menganggur, sekaligus ia tutuk Hiat-to di kaki orang, tentu saja Siau sian-li mati kutu dan jatuh terkulai.


Biarpun masih muda belia, namun pengalaman Siau sian-li cukup luas, tidak sedikit tokoh lihai yang pernah dihadapinya, di antaranya juga ada telur busuk yang terkenal. Tapi mimpi pun tidak menyangka si "setan cilik" atau "b*bi gobl*k" ini ternyata jauh lebih busuk daripada yang pernah dihadapinya, karena itulah dia menjadi lengah dan terjebak.


Saking gemasnya sekujur tubuhnya sampai gemetar, tapi apa daya?


Begitulah Siau hi-ji lantas berbangkit dengan tertawa, malahan ia sengaja melotot dan bertanya, "Ai, apakah kau jatuh sakit, masuk angin? Atau kumat penyakit ayanmu? Mengapa kau jatuh mendadak? Ai, sungguh tidak nyana kau begini lemah, baru keciprat sedikit air saja lantas jatuh sakit."


Saking gemasnya mata Siau sian-li merah membara, teriaknya dengan tersendat-sendat, "Bagus... bagus, ternyata aku kena dikibuli kau."


"O, maaf," jawab Siau hi-ji dengan tertawa. "Sungguh aku tidak sengaja, sebenarnya seember air ini hendak kuberikan minum pada kudamu, soalnya aku telah membakar pantatnya, hatiku merasa tidak enak. Cuma sayang mungkin kau telah mengirim kudamu itu untuk berobat, terpaksa kutitipkan air seember ini melalui kau."


"Kurang ajar!... jadi kau... kau setan cilik inilah yang membakar ekor si Delima?!" teriak Siau sian-li dengan suara serak.


"Hehehe, api membakar Delima, air membenam bidadari, b*bi gobl*k seperti aku ini tidak terlalu gobl*k bukan?" kata Siau hi-ji dengan tertawa. "Ingin kunasihatimu, janganlah kau selalu memandang orang lain teramat gobl*k dan juga jangan selalu ingin menarik keuntungan atas kerugian orang lain, misalnya suruh orang memanggil bibi padamu. Anak kecil jika sok berlagak orang tua dan suka menang-menangan akibatnya pasti akan ketiban sial sendiri."


Tanpa peduli Siau sian-li yang murka itu, dengan tertawa Siau-hi-ji lantas mengangkat tubuh Thi Sim-lam dan ditaruh di atas punggung si kuda putih, agaknya terus hendak berangkat.


Sedapatnya Siau sian-li menahan perasaannya walaupun dengan geregetan, ia cukup cerdik, ia tahu jika tidak mudah menerima penghinaan sekarang, nasibnya pasti akan lebih runyam lagi.


Tapi sebelum dia mengucap sesuatu, mendadak Siau hi-ji mendekatinya pula dan berkata dengan tertawa, "Ada lagi tadi kau menampar aku tiga kali, utang harus bayar. Tapi mengingat kau adalah orang perempuan, aku tidak menambahi rentenya."


"Kau... berani?!" teriak Siau sian-li khawatir.


"O, tidak, tidak berani!" ucap Siau hi-ji sambil tertawa, berbareng tangannya terus menampar sehingga pipi Siau sian-li menjadi merah.


Selama hidup Siau sian-li mana pernah dipukul orang cara demikian, ia berteriak dengan suara parau, "Kau... awas kau, ingat perbuatanmu ini!"


"Jangan khawatir, apa pun selalu kuingat dengan baik," kata Siau hi-ji dengan tertawa. "Tamparanmu yang pertama tadi cukup keras, maka aku pun tidak boleh bayar kurang, cuma pukulan kedua kalinya akan kuringankan sedikit."


Ketika Siau hi-ji menampar lagi untuk kedua kalinya, meski Siau sian-li bertahan sebisanya, tidak urung air matanya lantas menetes. Sejak ia dilahirkan hingga sekarang belum pernah orang mencubitnya, apalagi memukulnya seperti sekarang.


Sambil mencucurkan air mata, ia melototi Siau hi-ji, katanya, "Baik, selamanya aku takkan melupakan kau. Selamanya, ya, selamanya!"