
Si kuda putih benar-benar ada jodoh dengan Siau hi-ji, segera kuda itu berlari mendekatinya.
"He, Sawi Putih, sekali ini mesti bikin susah padamu," kata Siau hi-ji dengan tertawa. "Ayo bawalah kami, setiba di sana nanti akan kuberi makan enak untukmu."
Dia memondong Thi Sim-lan ke atas kuda, ia sendiri pun mencemplak ke atasnya, meski kuda itu tidak besar, namun tenaganya tidak kecil, sambil meringkik perlahan terus saja membedal ke depan.
Siau hi-ji bergelak tertawa, serunya, "Sampai bertemu lagi, Siau sian-li... Ah, kukira lebih baik jangan bertemu lagi."
Begitulah ia tinggal pergi tanpa menghiraukan Siau sian-li yang menggeletak tak bisa berkutik itu.
Suara tangisan Siau sian-li seperti tak didengarnya sama sekali.
Kedua orang berhimpitan di atas kuda. Thi Sim-lan merasa tubuhnya lemas dan enteng laksana bersandar di gumpalan awan, ia tidak bergerak dan juga tidak berusaha.
Suara tangisan Siau sian-li akhirnya tak terdengar lagi.
Thi Sim-lan menghela napas perlahan, katanya, "Kau benar-benar malaikat maut bagi Thio Cing."
"Kebentur aku, anggap dia yang sial," ujar Siau hi-ji tertawa.
Thi Sim-lan termenung sejenak, katanya kemudian dengan rawan, "Sungguh tak terpikir olehku bahwa waktu berkelahi kau jadi begitu tega, begitu nekat, tidak takut mati..."
"Aku mungkin telur busuk, tapi sekali-kali bukan pengecut!" ujar Siau hi-ji. "Mungkin tidak sulit menyuruh aku berbuat apa saja, tapi jangan harap suruh aku minta ampun."
Si nona tersenyum manis, katanya dengan suara lembut, "Benar, seumpama busuk, tapi busuknya lelaki sejati."
Cahaya bintang dan bulan cukup terang, sehingga bayangan mereka jelas kelihatan di tanah, bayangan mereka berdua yang berhimpitan itu seakan-akan lengket menjadi satu.
Selang sejenak, tiba-tiba Thi Sim-lan berkata, "Apakah kau tahu sebab apa Siau sian-li Thio Cing ingin merebut peta pusakaku itu?"
"Apalagi, dengan sendirinya karena kemaruk pada harta karunnya," ucap Siau hi-ji.
"Kelirulah dugaanmu," kata Thi Sim-lan "Biarpun tindakannya keji, tapi dia sama sekali bukan orang busuk."
"Memangnya dia orang baik?" ujar Siau hi-ji tertawa. "Orang baik hendak membunuhmu, orang busuk berbalik menyelamatkan kau. Sungguh kejadian mahaaneh!"
"Kubicara sungguh-sungguh denganmu," kata Sim-lan. "Dia ingin merebut peta harta karunku adalah karena ibunya mempunyai hubungan erat dengan pemilik harta karun itu."
"O!... Sedemikian galaknya dia, bukankah ibunya terlebih-lebih galak? Kukira ibunya pasti lebih menakutkan seperti hantu."
"Kau salah lagi, ibunya tidak buruk rupa seperti hantu, bahkan di dunia Kangouw dahulu terkenal sebagai wanita mahacantik. Setiap lelaki yang pernah melihatnya pasti akan terpikat olehnya."
"Hah, orang demikian sungguh aku ingin melihatnya," ujar Siau hi-ji dengan tertawa.
"Tapi sayang engkau terlambat lahir belasan tahun, kini dia sudah tua, namun setiap orang Kangouw dari angkatan tua bila mendengar 'Giok niocu' (si wanita kemala) Thio Sam-nio, pasti jantungnya akan berdebar-debar."
"Mengapa tidak kau katakan dia yang terlalu dini dilahirkan belasan tahun, dia tak dapat bertemu dengan aku?" ujar Siau hi-ji dengan mengedipkan mata. "Dan, tokoh macam apa pula ayah Siau sian-li itu?"
"Tentang ini, aku... aku tidak jelas," kata Sim-lan.
Thi Sim-lan ikut tertawa geli, katanya, "Ah, mulutmu memang kotor. Tentang Thio Sam-nio itu walaupun tiada bandingannya, tapi dinginnya juga seperti es, walaupun tidak diketahui betapa banyak lelaki yang menaksir dia, namun yang benar-benar terpandang olehnya cuma ada satu."
"Wah, siapa yang punya rezeki bagus itu?" tanya Siau hi-ji sambil berkedip.
"Yaitu si pemilik harta karun tersebut, namanya Yan Lam-thian!"
"Yan Lam-thian?!" Siau hi-ji menegas dengan hati tergetar.
"Kau pun kenal namanya?" tanya Sim-lan.
"Seperti pernah dengar... tapi sudah tidak jelas lagi."
"Jika kau pernah dengar nama ini, tidak seharusnya kau lupa. Dia adalah pendekar pedang yang paling terkenal di dunia Kangouw dahulu, ilmu pedangnya sampai sekarang belum pernah ada yang sanggup menandinginya."
"O!" Siau hi-ji mendengarkannya dengan terpesona.
"Meski dia tidak cakap, tapi dia adalah lelaki yang paling berjiwa ksatria sejati di dunia Kangouw, sungguh sayang aku pun terlambat lahir belasan tahun dan tidak sempat melihatnya."
"Eh, apakah kau perlu bantuanku untuk mencarinya?" tanya Siau hi-ji dengan tertawa.
"Kau tak dapat menemukannya lagi, siapa pun tak dapat menemukannya" ujar Thi Sim-lan. "Menurut kabar yang tersiar di dunia Kangouw, konon belasan tahun yang lalu, entah sebab apa dia menerobos ke Ok-jin-kok dan sejak itu tak pernah muncul pula. Walaupun ilmu pedangnya tiada tandingannya, tapi dikerubut oleh kawanan durjana sebanyak itu mungkin sukar meloloskan diri baginya."
"Ooo!" Siau hi-ji jadi termangu-mangu mengenang masa lalu.
"Peta harta karunku ini konon adalah tinggalan Yan-tayhiap sebelum pergi ke Ok-jin-kok," tutur Sim-lan pula. "Agaknya beliau menyadari pasti akan sukar keluar lagi dengan selamat, maka sebelumnya dia telah mengumpulkan segenap benda mestikanya serta kitab ajaran ilmu pedangnya yang tiada tandingannya di seluruh jagat, semuanya itu disembunyikan pada suatu tempat yang dirahasiakan. Untuk bisa menemukannya diperlukan petunjuk menurut peta pusaka ini."
Siau hi-ji manggut-manggut, katanya, "Ya, benda mestika tidak cukup menarik, tapi kitab wasiatnya itu sungguh membuat orang mengiler. Siapa yang menemukan kitab pusaka itu, siapa akan menjagoi dunia persilatan, pantas jika petamu diperebutkan orang sebanyak ini."
"Tapi Siau sian-li bukan ingin memiliki kitab pusaka ilmu pedang itu, ia hanya ingin menghibur ibunya..." sampai di sini, sekilas Thi Sim-lan melihat sesuatu di atas tanah, seketika hatinya bergetar dan berseru, "He, li... lihat ini..."
"Sudah sejak tadi kulihat bahwa bayangan di atas tanah sudah bertambah satu," ujar Siau hi-ji dengan tertawa.
Benar juga, bayangan mereka yang berhimpitan itu kini telah bertambah pula sesosok dan tepat berdiri di bokong si kuda putih. Namun kuda putih itu terus berlari ke depan seperti tidak merasakan apa-apa.
Siau hi-ji masih dapat menenangkan diri, tapi Thi Sim-lan menjadi gugup, ia pegang tangan Siau hi-ji dan menarik tali kendali sekuatnya, serentak si kuda putih meringkik keras dan menegak sehingga Thi Sim-lan terperosot jatuh.
"Kau takut apa?" jengek seorang tiba-tiba. "Jika hendak mencabut nyawa kalian, sudah sejak tadi kulakukan!"
"Jika kutakut, sejak tadi aku sudah melompat turun," tukas Siau hi-ji dengan tertawa.
"Hehe, benar juga," orang itu terkekek-kekek. "Kau ini rada-rada aneh, aku jadi ingin berkawan denganmu, makanya aku terus menguntit kemari."
Suaranya terdengar tajam dan nyaring, tapi seperti kekanak-kanakan.
Dengan kaget Thi Sim-lan merangkak bangun, waktu ia menengadah, terlihat seorang berbaju hitam berperawakan kurus kecil berdiri di atas bokong kuda sehingga mirip orang-orangan atau ondel-ondel yang ditempelkan di situ.