Legendary Siblings

Legendary Siblings
51. Delima



Seperti sudah janji sebelumnya, ketiga Mo bersaudara itu serentak menubruk maju. Kepala Mo Kong-keh yang runcing itu menumbuk ke pinggang si nona, kepalan Mo Sing-sing juga lantas menjotos kepala kuda, sepasang cakar kera Mo Mo-diong terus mencolok mata lawan secepat kilat.


Melihat serangan cepat lagi berbahaya itu sungguh Siau hi-ji tidak berani membayangkan cara bagaimana si nona akan menangkisnya. Serangan ketiga orang itu mengarah bagian atas, tengah dan bawah, andaikan si nona dapat menyelamatkan kedua matanya tentu juga tak dapat mengelakkan serangan yang menuju pinggangnya, umpama pinggang juga dapat terhindar, tentu kepala kudanya akan remuk.


Tak tahunya hanya terdengar si nona membentak, "Cari m*mpus ya!" Berbareng itu ia bersiul perlahan, mendadak kuda merah tunggangannya itu berdiri menegak, kedua kaki depan kuda itu terus menggepruk kepala si Kingkong.


Sekalipun Mo Sing-sing tahan pukul kepalan manusia, ternyata tidak sanggup menahan injakan kaki kuda, sebisanya ia berusaha mengelak, namun tidak urung pundaknya tetap terinjak sehingga jatuh terguling.


Saking kagumnya hampir saja Siau hi-ji bersorak gembira, walaupun sudah diduganya bahwa ilmu silat si nona baju merah pasti sangat lihai, tapi tak terpikir olehnya bahwa kuda tunggangannya juga lain dari pada yang lain.


Waktu ia berpaling ke sana, terlihat Mo Mo-diong dan Mo Kong-keh juga menggeletak semua, kedua tangan Mo Mo-diong patah sebatas pergelangan tangan, sedang kepala Mo Kong-keh pecah terpisah menjadi dua.


Biarpun tajam pandangan Siau hi-ji, namun ia cuma mempunyai sepasang mata, sempat melihat sebelah sini, sukar lagi memandang sebelah sana pada saat yang sama, sama sekali ia tidak tahu cara bagaimana si nona baju merah membereskan kedua lawan yang lain.


Tanpa turun dari kudanya, hanya sekejap saja nona cantik itu sudah membereskan ketiga makhluk aneh itu, sungguh sukar dibayangkan betapa tinggi kepandaiannya.


Namun Thi Sim-lam cukup kenal kepandaian si nona baju merah, rupanya ia pun sudah tahu apa yang bakal menimpa diri ketiga orang aneh itu, makanya sama sekali ia tidak mengunjuk rasa kaget, ia tetap berdiri di tempatnya tanpa bergerak.


Si nona baju merah tidak menggubris Thi Sim-lam, dia mengendarai kudanya memutar satu lingkaran, cambuknya tetap menyabet ke sana ke sini, setiap tubuh yang sudah menggeletak itu dicambuknya untuk mengetahui apakah orang masih dapat bergerak atau tidak. Tapi tiada seorang pun dapat bergerak lagi, 19 sosok mayat sudah menggeletak dengan babak belur, ada yang kehilangan kaki atau tangan, ada pula yang kepalanya pecah.


Sementara itu sang surya sudah mulai terbenam di ufuk barat, senja telah tiba, si nona baju merah yang cantik itu perlahan mengelilingi mayat yang bergelimpangan itu. Thi Sim-lam tetap berdiri di sana tanpa ada maksud ingin melarikan diri, ia hanya melotot memandang si nona baju merah, namun air mukanya yang pucat tidak berbeda banyak dengan tubuh-tubuh yang menggeletak di tanah itu.


Akhirnya si nona baju merah memutar kudanya ke depan Thi Sim-lam. Walaupun tempat sembunyi Siau hi-ji berada di belakang si nona sehingga tidak dapat melihat mukanya, tapi ia menduga si nona tentu sedang tertawa. Tanpa tertawa saja sudah demikian cantiknya, waktu tertawa entah berapa kali terlebih menggiurkan. Diam-diam Siau hi-ji menyesal tak dapat melihat wajah si nona. Ia menduga si nona mungkin menaruh hati kepada Thi Sim-lam, makanya dia membereskan semua orang yang memusuhi Thi Sim-lam.


Tak terduga lantas terdengar nona cilik itu mendengus, "Hm, bagus Thi Sim-lam, kau memang hebat sehingga mampu lari sampai di sini. Orang yang dapat kabur sejauh ini dari tanganku, selain dirimu tiada keduanya lagi."


Thi Sim-lam tetap mendelik saja tanpa menanggapi.


Si nona baju merah berkata pula, "Tapi sekarang kau tak mungkin dapat kabur lagi."


"Sebab itulah aku tidak kabur," jawab Thi Sim lam tiba-tiba.


"Ehm, sangat cerdik, jauh lebih pintar dari pada orang ini," kata si nona baju merah. "Tapi kalau kau benar cerdik, maka lekas serahkan barangmu itu agar aku tidak perlu buang tenaga lagi."


Mendengar percakapan mereka itu semakin kaku, baru sekarang Siau hi-ji tahu bahwa maksud tujuan kedatangan si nona baju merah tenyata tidak untuk menolong Thi Sim-lam melainkan serupa dengan orang yang dibinasakannya itu. Tiba-tiba tergerak hati Siau hi-ji, ia merogoh keluar semacam benda, lalu merunduk ke sana.


Angin meniup santer sehingga rumput panjang berkeresekan oleh desiran angin dan kebetulan dapat menutupi suara gerak-gerik Siau-hi-ji.


"Kau mau menyerahkan atau tidak?" demikian terdengar si nona baju merah mendesak.


Si nona baju merah menjadi gusar, bentaknya, "Selamanya belum pernah kubicara sehalus ini dengan orang, tapi kau malah... malah berlagak pilon." Mendadak cambuknya berputar, "tarrr", kontan ia menyabet.


Walaupun tubuh Thi Sim-lam terkena sabetan cambuk, namun sabetan itu tidak terlalu keras, Thi Sim-lam tetap berdiri tegak, katanya dengan hambar, "Biarpun kau bunuh aku juga tidak tahu barang apa yang kau maksud."


"Baik, kau yang memaksa aku bertindak, kau tentu sudah kenal sifatku," si nona baju merah mengumbar marahnya dan cambuknya terus menyabet.


Dalam keadaan gusar, nona itu tidak tahu Siau hi-ji telah merunduk ke belakang kudanya, mendadak tampak lelatu api meletik, ekor kuda lantas tersulut api dan membakar pantat.


Betapa pun tangkas dan pintarnya kuda merah itu tetap binatang juga, mana ada binatang di dunia ini yang tidak takut pada api. Keruan kuda itu meringkik kaget dan membedal ke depan.


Belum lagi habis ucapan si nona baju merah tadi, tahu-tahu ia sudah dilarikan kudanya hingga belasan meter jauhnya. Andaikan dia mau melompat turun, betapa pun Siau hi-ji dan Thi Sim-lam tetap sukar lolos.


Namun si nona teramat sayang pada kudanya, ia merasa berat untuk meninggalkannya dan sedapatnya ingin menjinakkan kuda itu. Hal ini rupanya sudah dalam perhitungan Siau hi-ji, kalau tidak tentu perbuatan itu tak dilakukannya.


Nyatanya api yang membakar ekor dan pantat kuda itu tambah ganas sehingga kuda itu ketakutan dan membedal sejadi-jadinya seperti gila.


"Berhenti! Delima, berhenti, jangan takut! Ber... berhenti, Delima!" demikian si nona baju merah berteriak kaget dan berusaha menjinakkan kudanya yang bernama "Delima" itu.


Namun si Delima ternyata sukar lagi dikendalikan, bahkan kabur secepat terbang ke depan sana, hanya sekejap saja sudah menghilang dari pandangan.


Kesempatan itu dengan sendirinya digunakan Siau hi-ji untuk menarik Thi Sim-lam dan lari ke jurusan berlawanan. Kuda putih ternyata masih mengenal Siau hi-ji, ia pun ikut lari dari jauh.


Entah sudah berapa jauhnya mereka berlari tanpa berhenti, wajah kedua anak muda itu sudah lesu dan bermandi keringat.


Cuaca mulai gelap, agaknya cukup jauh mereka berlari. Jangankan Siau hi-ji, mungkin selama hidup Thi Sim-lam juga tidak pernah lari sejauh itu sekaligus tanpa berhenti.


Lari punya lari, akhirnya tertampak di depan sana ada sebuah rumah gubuk bobrok, tanpa pedulikan rumah itu ada penghuninya atau tidak, terus saja mereka menerjang ke dalam. Dan begitu berada di dalam gubuk itu, kedua orang terus berbaring dengan napas ngos-ngosan seperti kerbau, kepala Siau hi-ji berbantalkan perut Thi Sim-lam dan terdengar jantungnya berdetak keras seakan-akan meloncat keluar.


Untung gubuk itu tiada penghuninya, terlihat sawang di sana-sini, jelas gubuk ini sudah lama ditinggalkan penghuninya. Maka waktu mereka menerobos ke dalam, dengan sendirinya kepala mereka pun berlepotan sawang labah-labah.


Baru saja Siau hi-ji bermaksud membersihkan kotoran sawang itu, mendadak Thi Sim-lam mendorongnya dengan keras sehingga dia terguling jauh ke sana.


Keruan Siau hi-ji melotot, katanya, "Sudah kuselamatkan jiwamu, apakah begini caramu berterima kasih padaku?"


"O, ma... maaf! Ya, terima kasih!" kata Thi Sim-lam dengan tergegap dan wajah merah.