
Ular itu distempel dengan fosfor hijau sehingga tampak gemerlapan di bawah cahaya rembulan, ular itu pun seakan-akan lagi bergerak, kepalanya yang segitiga juga seolah-olah siap memagut.
Walaupun tahu ular itu hanya cap belaka, tapi entah mengapa, semakin dipandang semakin mual rasa Siau hi-ji, sekujur badan terasa merinding.
Thi Sim-lan lantas berseru juga dengan muka pucat, "He, ular, Pek-lin-coa (ular fosfor hijau)... si datuk dari Jinghay, Sip lok sin-kun!"
"Apa katamu?" tanya Siau hi-ji sambil berkedip heran.
"Engkau tidak paham... engkau tidak tahu!..." ucap Sim-lan dengan muka pucat.
"He, cuma sebuah cap ular saja, kan bukan ular hidup, kenapa kau ketakutan?"
"Ular hidup tidak menakutkan, yang tiruan inilah yang menakutkan!"
"Aneh, tidak takut pada yang tulen, tapi takut pada yang tiruan, mengapa bisa begitu?!"
Thi Sim-lan menarik napas panjang, lalu bertutur, "Pek-lin-coa ini ialah simbul Si Datuk dari Jinghay, Sip-lok-sin-kun (malaikat pemakan rusa). Di mana simbol muncul, di situlah orangnya berada. Kalau orangnya sudah akan datang, maka bencana segera akan tiba pula."
"Lalu Sip-lok-sin-kun ini permainan apalagi?" tanya Siau hi-ji.
"Pernahkah kau dengar nama 'Cap-ji-she-shio'!?" tanya Sim-lan.
"Ehm, seperti pernah tapi juga seperti belum pernah," jawab Siau hi-ji sambil berkedip.
"Cap-ji-she-shio ini adalah sekawanan bandit yang paling kejam dan jahat selama tiga puluh tahun terakhir ini. Biasanya mereka jarang turun tangan, tapi kalau mereka sudah mengincar sesuatu, maka orang yang menjadi sasaran mereka itu jangan harap akan dapat lolos. Selama 30 tahun ini konon mereka cuma pernah gagal satu kali."
"Dan ular hijau tentunya salah satu dari Cap ji she shio itu?"
"Benar," jawab Sim-lan. "Sip-lok-sin-kun ini adalah salah seorang yang paling culas dan keji di antara Cap-ji-she-shio itu. Sarangnya di Jinghay. Ai, seharusnya sebelumnya sudah kuduga akan dia."
"Kenapa harus kau duga sebelumnya?" tanya Siau hi-ji.
"Konon gagalnya usaha Cap-ji-she-shio satu kali itu justru terjungkal di tangan Yan Lam-thian, Yan-tayhiap. Kalau mereka mengetahui Yan-tayhiap meninggalkan harta karun dan kitab pusaka, mustahil mereka mau tinggal diam?"
"Sungguh tidak nyana, sekecil ini usiamu, tapi tidaklah sedikit urusan yang kau ketahui," kata Siau hi-ji dengan tertawa.
"Sejak kecil aku sudah berkecimpung di dunia Kangouw, dengan sendirinya pengetahuanku tentang dunia Kangouw juga lebih banyak dibandingkan orang lain. Kelak engkau akan tahu sendiri jika sudah banyak bergerak di dunia Kangouw."
"Semakin banyak yang kau ketahui, semakin banyak pula yang kau takuti," ujar Siau hi-ji. "Maka ada lebih baik tidak tahu segalanya, ketemu siapa pun tidak peduli, kalau perlu labrak saja dan urusan belakang."
"Tapi sekarang kita sudah tahu, lalu bagaimana baiknya?" tanya Thi Sim-lan.
"Kalau kita tak dapat melawannya, paling selamat adalah lari?"
"Lari? ... Apakah dapat lolos?" gumam si nona.
Begitulah dua orang bersatu kuda segera dilarikan secepatnya hingga mereka menanggalkan kedok yang dipakainya, sedangkan mulut si kuda putih pun sudah berbusa.
Siau hi-ji mengusap leher kuda itu, katanya perlahan, "Kau tentu lelah, Sawi Putih, sungguh aku menyesal."
Thi Sim-lan memandang anak muda itu dengan tertawa geli, katanya, "Sungguh aneh, mengapa kau lebih baik terhadap kuda daripada manusia?"
Sim-lan menghela napas, katanya, "Siapa tidak baik padamu? Aku..."
"Kau baik padaku? Umpamanya waktu aku tak dapat berjalan, dapatkah kau menggendong aku berlari berpuluh li jauhnya? Bila hatiku masygul, dapatkah kau tutup mulut tanpa bicara? Sebab itulah aku pun tidak lebih baik daripada kuda, jika kau baik terhadap kuda ini, maka dia pun takkan meninggalkan dirimu, lebih-lebih takkan mengeluarkan ucapan yang menyakitkan hatimu."
Gemas sekali Thi Sim-lan mendengarkan olok-olok itu, karena geregetannya sungguh kalau bisa ia ingin menggigit anak muda itu sekeras-kerasnya.
Tidak lama kemudian, tertampaklah di depan sana ada sebuah kampung kecil, meski fajar baru mulai menyingsing, namun atap rumah penduduk di kampung itu sudah sama mengepulkan asap dapur.
Asap yang hijau kekelabu-kelabuan itu berpencaran di udara yang remang putih laksana sebuah lukisan yang indah.
"Lihatlah betapa permainya..." ujar Sim-lan dengan tertawa.
"Hitam kotor begitu, apanya yang permai?" jawab Siau hi-ji. "Satu-satunya kebaikan bagiku itu adalah asap yang mengepul itu menandakan kita bakal dapat makan nasi."
Daerah in sudah dekat perbatasan Jinghay dan Sujwan, bangsa Han sudah banyak di wilayah ini.
Maka tertampaklah seorang kakek dengan pakaian tebal sedang berdiri di depan rumah sambil mengisap tembakau dari cangklong yang panjang, sembari memandang cuaca kakek itu bergumam, "Tampaknya pagi ini kembali cerah, sebentar aku harus menjemur bantal dan selimut."
Siau hi-ji melompat turun dari kudanya, ia mendekati si kakek dan memberi hormat, katanya dengan tersenyum, "Apakah Lotiang (bapak) ada tersedia makanan atau minuman, sudilah memberi sedikit kepada kami kakak beradik ini."
Kakek ini memandangnya sejenak, lalu memandang pula Thi Sim-lan yang berada di atas kuda, kemudian ia tertawa dan berkata, "Haha, tamu cilik, jangan sungkan-sungkan, asalkan kalian sudi pada makanan kasar, silakan masuk, lekas!"
Siau hi-ji mengucapkan terima kasih dan menurunkan Thi Sim-lan, dengan suara tertahan ia membisiki si nona, "Sungguh tidak nyana orang kampung di sini ternyata sangat simpatik."
Thi Sim-lan tersenyum manis, dan berendeng mereka lantas masuk ke rumah, terlihat si kakek sudah membersihkan meja dan menyiapkan mangkuk dan sumpit, katanya beriring tawa, "Silakan duduk, coba kutengok apakah bini tua sudah selesai menanak nasi atau belum."
Sejenak setelah si kakek masuk, lalu terenduslah bau nasi yang baru saja diangkat dari dandang. Perut Siau hi-ji tambah berkeruyukan, matanya melotot ke arah pintu dapur, terdengar suara klentang-klenting mangkuk bergesek dengan centong.
Akhirnya keluarlah seorang nenek ubanan dengan membawa dua mangkuk nasi yang mengepul, masih hangat-hangat. Malah di atas nasi ada sepotong dendeng dan beberapa iris sayur asin.
Dengan jalan terbungkuk-bungkuk si nenek mengantar nasi itu ke meja, katanya dengan tertawa, "Silakan makan dulu, dua tamu cilik, jangan sungkan, mumpung masih hangat, kalau dingin nasinya tidak enak dimakan."
"Jika demikian, maaf kalau kami tidak sungkan lagi," ucap Siau hi-ji. Tanpa menunggu komando lagi segera ia angkat mangkuk dan pegang sumpit terus hendak mengorek nasi ke mulut.
Tapi mendadak terdengar "trang" sekali, mangkuk yang baru diangkat Thi Sim-lan mendadak ditaruh kembali ke meja, katanya dengan tertawa, "Wah, panas sekali!"
Sekilas pandang mendadak Siau hi-ji turun tangan secepat kilat, sumpitnya mengetuk perlahan punggung tangan Thi Sim-lan sehingga sumpit si nona terlepas. Tentu saja Sim-lan melotot kaget, tegurnya, "He, apa-apaan engkau?"
Siau hi-ji tidak menjawab, ia terus menuang nasi yang akan dimakannya itu ke atas meja, sekejap kemudian dari dalam gumpalan nasi itu berkeloget merayap keluar seekor ular kecil warna hijau.
"He, ular... Cap-ji-she-shio!" jerit Sim-lan kaget.
Siau-hi-ji terus lari ke dapur. Cepat Thi Sim-lan ikut menerjang ke sana. Tertampaklah sikakek tadi telentang di lantai, mukanya hitam membiru.
Ada lagi seorang nenek menggeletak di samping tungku, mukanya juga matang biru, tapi rambutnya hitam, jelas bukan si nenek ubanan yang mengantar nasi tadi.
Sedangkan nenek ubanan sendiri tidak nampak
bayangannya.