
Dengan menggreget Pah Siok tong menjawab, “Budak itu memang cantik, tapi kejinya, ganasnya, biarpun si tangan darah Toh Sat di masa lampau juga belum tentu dapat melebihi dia.”
“Oya, begitu hebat dia?” tanya Siau hi ji.
Pah Siok tong semakin geregetan, katanya, “Enam saudaraku telah dibunuh olehnya dalam waktu semalam saja. ‘Hou-lim-jit-thayswe’ (tujuh datuk dari rimba harimau) kini tersisa aku sendiri.”
“Wah, orang macam begitu sungguh kuingin melihatnya,” ujar Siau hi ji sambil tertawa.
“Tapi bila kau melihat dia, tentu kau akan menyesal,” kata Pah Siok tong.
“Coba ceritakan pula, cara bagaimana kau menyalahi mereka?”
“Mengapa kau tanya sebanyak ini?” jawab Pah Siok tong mendongkol.
“Ini aturan,” kata Siau hi ji dengan tertawa.
Sampai sekian lama Pah Siok tong mendelik, tapi akhirnya ia tertawa dan berkata, “Baik, akan kuceritakan. Soalnya kami bersaudara telah memperkosa janda dan adik perempuan Sim Gin hong, Congpiauthau dari Sam-wan-piaukiok yang termasyhur itu.”
“Apakah perbuatan itu terhitung busuk?” tanya Siau hi ji sambil memandang sekejap pada si hidung betet. “Huh, kebusukan begitu pada hakikatnya cuma dilakukan oleh orang kasar sebangsa kusir dan kuli saja.”
Pah Siok tong menjadi gusar, katanya, “Ya, hal itu memang belum seberapa, tapi Sim Gin hong telah lenyap sejak kehilangan barang kawalannya, maka kawan Kangouw cukup menghormati janda dan adik perempuannya, sebab itu...”
“Apa katamu, yang pasti kalau cuma berbuat hal busuk semacam itu saja, kau masih belum memenuhi syarat untuk masuk ‘Ok-jin-kok’, kecuali….”
“Seb... sebab apa?” tanya Pah Siok tong.
“Ini adalah aturan,” kata Siau hi ji.
Sungguh mati, betapa pun Pah Siok tong tidak berani melanggar aturan “Ok-jin-kok”, terpaksa ia menyambung dengan tertawa, “Kecuali apa?”
“Kecuali kau mengaturkan satu-dua macam benda aneh kepadaku.”
“Kudatang ke sini dengan tergesa-gesa, mana sempat membawa barang aneh atau berharga segala.”
“Kalau tidak punya barang, kau harus memperlihatkan sejurus-dua kepandaianmu.”
Merah padam muka Pah Siok tong saking dongkolnya, setelah melenggong sejenak, akhirnya ia berkata, “Baik!” waktu tangannya meraih, tahu-tahu dari pinggangnya terlolos sebilah golok emas. “Sret-sret-sret,” sekaligus ia menyabet tiga kali dengan cara yang menakjubkan.
Ini termasuk kepandaian andalannya yang disebut 'tiga jurus pembunuh harimau'. Gerakannya ganas, cepat dan tepat pula.
Tapi Siau hi ji menggeleng, katanya dengan tertawa, “Masakah permainan begini juga termasuk kepandaian khas? Huh, pada hakikatnya serupa perbuatanmu, sama-sama tidak boleh diperlihatkan pada orang. Kukira kau harus mencari jalan lain jika ingin masuk Ok-jin-kok.”
“Adakah... adakah jalan lain?” tanya Pah Siok tong.
Siau hi ji berkedip-kedip, katanya dengan tertawa, “Ada, asalkan kau menyembah dan memanggil tiga kali ‘Siau coh cong’ (kakek cilik) padaku, habis itu dengan hormat kau persembahkan golokmu itu untukku.”
“Apakah ini pun termasuk aturan?”
“Benar, ini pun aturan!”
“Siapa bilang ini aturan Ok-jin-kok?” ucap Siau hi ji.
Kembali Pah Siok tong melenggong, katanya, “Habis, atu... aturan...”
“Ini aturanku sendiri!” sambung Siau hi ji dengan mengikik.
Saking gemasnya tubuh Pah Siok tong sampai gemetar, mendadak ia berteriak, “Baik, terimalah!” Berbareng goloknya terus membacok.
Sungguh sukar dibayangkan, anak muda yang kelihatan malas bergerak tadi, kini licinnya seperti ikan, hanya sedikit bergerak tahu-tahu orangnya sudah memberosot pergi.
Bacokan Pah Siok tong itu sungguh secepat kilat, tapi tetap mengenai tempat kosong.
“Krak”, bangku bambu itu menjadi korban dan terpotong menjadi dua. Keruan si hidung betet terkejut.
Pada saat itulah di belakangnya ada orang tertawa dan berkata, “Hihi, aku berada di sini, apakah kau tidak melihat?”
Mendadak Pah Siok tong membalik, golok terus menabas. Tapi di belakangnya kosong melompong tiada sesuatu bayangan, sedangkan suara tertawa tadi tahu-tahu berkumandang dari atas emper rumah, katanya dengan haha-hihi, “Jangan tergesa-gesa, kalem saja, aku berada di sini!”
Hampir gila Pah Siok tong saking gusarnya. Selagi dia hendak menubruk maju pula, tiba-tiba terdengar seorang berseru, “He, apakah di sana itu Pah-jite?!”
Tertampaklah seorang berlari tiba dengan langkah lebar, usia pendatang ini sebaya dengan Pah Siok tong, empat puluh lebih, lima puluh kurang, tapi gerak tubuhnya jauh lebih lincah dan gesit dari pada Pah Siok tong.
Perawakan orang ini tinggi kurus, ujung mulutnya melengkung ke bawah, wajahnya kelihatan bengis, jahat, tapi lengan baju sebelah kanan tampak kosong dan terselip di ikat pinggang, lengan kanannya ternyata buntung.
Setelah mengawasi sekejap, dengan girang Pah Siok tong lantas berseru, “He, Bun lui to (si golok geledek mejan) Song samko! Engkau ternyata benar berada di sini, kedatanganku ini justru ingin.. ingin minta tolong padamu.”
“He, kiranya kalian adalah teman,” ucap Siau hi ji dengan tertawa.
Pah Siok tong memandang Siau hi ji sekejap, katanya dengan gemas, “Song samko, setan cilik ini...”
Belum habis ucapannya dia lantas diseret Song Sam ke samping sana, kata Song Sam, “Pah-jite sudah datang, marilah kubawamu menemui...”
“Nanti dulu, nanti dulu!” seru Siau hi ji dengan tertawa. “Boleh juga jika kau hendak membawanya pergi, tapi suruh dia ganti rugi dulu bangkuku ini.”
Pah Siok tong menjadi marah, jawabnya, “Kau....”
Tapi belum lanjut ucapannya kembali ia dicegah Song Sam sambil berkata, “Tentu, kerusakan bangkumu tentu akan diganti, cuma entah bagaimana caranya memberi ganti rugi?”
“Mengingat jasa baikmu, boleh suruh dia berikan goloknya saja,” kata Siau hi ji dengan tertawa.
Kembali Pah Siok tong gusar, bentaknya, “Bangku bambu rongsokan begini juga minta ganti rugi dengan golok pusakaku...”
Belum habis perkataannya, tahu-tahu golok yang dipegangnya sudah dirampas oleh Song Sam terus diserahkan kepada Siau hi ji.
Pah Siok tong bermaksud bicara lagi, tapi segera Song Sam menyeretnya lari meninggalkan Siau hi ji.
Sesudah jauh meninggalkan Siau hi ji barulah Song Sam menghela napas lega dan berkata, “Ai, mengapa baru datang Pah-jite, lantas kenapa menyalahi iblis kecil itu?”