
Thi Sim-lam menghela napas panjang. Memang, selain menghela napas, apa yang dapat diperbuatnya atas perlakuan Siau hi-ji?
"Berapa umurmu tahun ini?" tanya Siau hi-ji.
"Sedikitnya lebih dua tahun dari padamu."
"Seumpamanya benar kau lebih tua dua tahun, tapi ilmu tidak membedakan tua atau muda, yang lebih mahir adalah guru, ini..."
Sampai di sini, tiba-tiba dari kejauhan terdengar teriakan orang, "Siau hi-ji! Kang Hi! Kau jangan pergi! Tidak boleh pergi!"
Seekor kuda secepat terbang berlari tiba, pakaian penunggangnya masih gemerlap, kuncirnya yang kecil-kecil bergoyang-goyang, sesudah dekat penunggangnya terus memberosot turun dan tidak main jumpalitan lagi. Mukanya kini tidak menyerupai bunga Tho pula, tapi pucat seperti mayat, matanya masih bersinar, namun sinar yang penuh rasa khawatir dan takut. Siapalagi dia kalau bukan si Tho-hoa.
Begitu berhadapan Tho-hoa terus merangkul Siau hi-ji dan berkata dengan tersendat,
"Syukurlah Alhamdulillah... Dia... dia masih berada di sini."
"Ada apalagi kau menguber diriku?" tanya Siau hi-ji.
"Tolong, kumohon, janganlah engkau marah," ucap Tho-hoa. "Engkau boleh memaki dan memukul diriku, tapi engkau harus... harus ikut kembali ke sana bersamaku." Habis berkata air matanya pun bercucuran.
"Ai, tambah lagi seorang tukang menangis, sialan!" ucap Siau hi-ji sambil mengusapkan air mata Tho-hoa dengan lengan bajunya. "Sudahlah, jangan menangis, kalau matamu bendul lantaran menangis jangan-jangan nanti kau harus ganti nama menjadi bunga jambu dan bukan bunga Tho lagi."
Mendadak Tho-hoa mengikik tawa geli.
"Ya menangis ya tertawa, anak kucing meang-meong...." Siau hi-ji berseloroh.
Tapi Tho-hoa lantas menangis lagi, lengan baju Siau hi-ji ditariknya untuk mengusap ingusnya, lalu berkata, "Tadi setelah kutinggalkan pulang, dari tempat kejauhan kulihat perkemahan kami banyak dikerumuni orang, terdengar suara cambuk yang menggelegar disertai suara orang sedang membentak, 'Ayo, dilarang bergerak, berbaris di sana, awas kusembelih kalian...' Aku tidak jadi mendekat dan cepat melompat turun dari kuda, aku merunduk ke dekat kemah di semak rumput yang lebat. Sesudah dekat, kulihat perkemahan kami telah dikelilingi satu gerombolan orang, semuanya bersenjata golok dan cambuk, garang dan buas sekali orang-orang itu seperti kawanan bandit."
"Aha, ada bandit menarik juga," kata Siau hi-ji.
"Kawanan bandit itu telah mengurung saudagar-saudagar Han dan suku bangsa kami, kulihat mereka mencambuki suku bangsaku, sungguh ngeri, dan hancur hatiku menyaksikan kekejaman mereka."
"O, kiranya bandit di padang rumput sedemikian buas," kata Siau hi-ji.
"Meski di padang rumput ini juga ada bandit, tapi bukan orang-orang macam begitu," tutur Tho-hoa.
"Dari mana kau tahu? Apakah kau kenal kawanan bandit di padang rumput sini?" kata Siau hi-ji dengan tertawa.
"Walaupun bandit padang rumput juga bangsa Han, tapi supaya leluasa beraksi, mereka suka mengenakan pakaian kaum penggembala, sedangkan dandanan kawanan bandit tadi sekali pandang saja kutahu mereka datang dari Kwanlwe (dalam benteng tembok besar), kuda tunggangan mereka juga bukan kuda Tibet melainkan kuda Sujwan, kaki kuda Tibet panjang, kaki kuda Sujwan pendek, sekali lihat saja dapat membedakannya."
Siau hi-ji tak berolok-olok pula, ia mengernyitkan dahi dan berkata, "Jadi orang-orang itu jauh-jauh datang dari Kwanlwe, dengan sendirinya tujuan mereka bukan untuk merampas harta benda kalian, tapi..."
"Benar, mereka tidak merampas harta benda melainkan mencari orang," sela Tho-hoa.
"Mencari orang? Mereka hendak menculik? Kau akan diculik?" tanya Siau hi-ji dengan terbelalak.
"Mereka mencari seorang lelaki bangsa Han, konon orang itu telah diuber hingga lari ke tempat kami ini, ada seorang pengintai mereka menyaksikan orang itu berada di perkemahan kami, sebab itulah mereka memaksa kawan-kawan kami menyerahkan orang yang dicari mereka itu."
"Dan sudahkah orang itu diserahkan?" tanya Siau hi-ji.
"Kau salah," kata Siau hi-ji, "manusia terkadang lebih buas dari pada harimau."
"Tapi engkau harus kembali ke sana untuk menolong mereka, harus... harus..."
Siau hi-ji berpikir sejenak, lalu bertanya, "Tahukah kau siapa yang dicari mereka?"
"Tadinya ku kira yang dicari mereka adalah dirimu, tapi dari percakapan mereka kemudian kutahu yang dicari adalah seorang 'bocah she Thi'. Apakah... apakah kau tahu siapa dia?"
"She Thi?" Siau hi-ji menegas sambil mengerling binal, "O, aku... aku tidak tahu...."
Sejak tadi Thi Sim-lam mengikuti pembicaraan mereka dengan melotot, kini mendadak ia berteriak, "Aku inilah she Thi, aku inilah yang mereka cari!"
Tho-hoa terkejut, ia menatap Thi Sim-lam dengan terbelalak heran.
"Tol*l, mengapa kau mengaku," ujar Siau hi-ji sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.
Tapi Thi Sim-lam tidak menggubrisnya, teriaknya pula, "Adakah orang perempuan di antara kawanan bandit itu?"
"Ti... tidak ada," sahut Tho-hoa ragu-ragu.
Sungguh tak terpikir olehnya bahwa orang yang dicari kawanan bandit itu adalah anak muda yang cakap dan lembut ini. Seketika ia melenggong dan tidak menangis lagi.
Segera Thi Sim-lam berteriak pula, "Baik, mereka mencari diriku, biarlah ku ikut ke sana!"
"Kau akan ke sana? Ah, jangan, jangan!" kata Tho-hoa.
"Hanya dengan kepergianku ke sana baru dapat menyelamatkan suku bangsamu, mengapa jangan?" kata Thi Sim-lam.
Tho-hoa menunduk, katanya dengan perlahan, "Orang seperti engkau, kalau ke sana kan sama saja seperti domba masuk mulut harimau? Mana ku tega membiarkan kau mati konyol? Kukira lebih baik... lebih baik kau lari saja."
"Hm, memangnya kau kira aku takut pada mereka?" jengek Thi Sim-lam. "Huh, orang-orang geblek macam mereka itu biarpun seratus orang bergabung menjadi satu juga tak dapat menandingi sebuah jariku."
"Jika kau tidak takut pada mereka, mengapa jauh-jauh kau kabur ke sini?" ujar Tho-hoa.
"Aku... aku..." Thi Sim-lam jadi gelagapan dan tak dapat menjawab.
"Ah, jangan-jangan yang kau takutkan hanya seorang perempuan, sebab itulah demi mendengar mereka itu lelaki semua, lalu kau tidak takut lagi," kata Tho-hoa tiba-tiba.
Muka Thi Sim-lam menjadi merah, serunya, "Kau tidak perlu urus!"
"Aha, kiranya kau tidak takut pada lelaki melainkan cuma takut pada perempuan," seru Siau hi-ji sambil berkeplok. "Hah, penyakitmu ini ternyata hampir sama dengan diriku, sungguh aku pun kepala pusing bila melihat perempuan."
"Biarlah aku ke... ke sana!" teriak Thi Sim-lam.
"Eh, kalau kau mati nanti, maka aku pun akan kehilangan murid," kata Siau hi-ji.