Legendary Siblings

Legendary Siblings
93. Cemburu?



Dengan menggigit bibir dan menunduk Sim-lan berkata, "Kutahu engkau pasti banyak mengalami kesusahan di Buyung san-ceng itu, makanya engkau meninggalkan diriku begitu saja, aku tidak menyalahkanmu, cuma engkau..."


"Cuma apa? Umpama kau menyalahkan aku, lalu mau apa?" kata Siau hi ji dengan ketus.


Mendadak Thi Sim-lan mengangkat kepalanya, "Meng... mengapa kau bicara demikian?"


"Cara kubicara memang begini, jika tidak suka janganlah kau mendengarkan. Hm, cara bicara orang lain lebih enak didengar, boleh kau mendengarkan ocehannya saja."


Mata si nona menjadi merah dan berkaca-kaca, setelah terdiam sejenak, kemudian ia memaksakan tertawa dan bertanya, "Bilakah engkau datang ke Gobi-san sini?"


"Hmk!" dengus Siau hi ji.


"Mengapa tubuhmu terdapat ular sebanyak ini?" tanya Sim-lan dengan suara lembut.


"Hmk!" kembali Siau hi ji menjengek.


Thi Sim-lan menjadi dongkol, ia membanting kaki dan duduk di atas batu itu. Maka kedua orang kini duduk menempel punggung dan sama-sama tidak bicara.


Entah berapa lamanya, akhirnya Siau hi ji tidak tahan, tiba-tiba ia mengomel, "Huh, lagaknya bocah itu!"


Tapi Thi Sim-lan seperti tidak mendengar sama sekali dan tidak menanggapinya.


Siau hi ji menjadi kikuk, akhirnya tidak tahan pula, ia senggol si nona dengan punggungnya dan berseru, "He, orang tuli, kau dengar tidak perkataanku?"


"Hmk!" Thi Sim-lan mendengus menirukan suara Siau hi ji, "Orang tuli mana bisa mendengar perkataan orang."


Siau hi ji melenggong, tapi segera ia berseru, "Tapi... tapi bukankah kau sudah mendengar? Kalau tidak mendengar, kenapa kau dapat menjawab? Kau... kau..." bicara ke sana ke sini, akhirnya ia sendiri menjadi geli dan bergelak tertawa.


Diam-diam Thi Sim-lan memang sedang tertawa geli, kini tanpa terasa ia pun terkikik-kikik.


Di tengah suara tertawa mereka, tanpa terasa kedua muda-mudi itu telah duduk berjajar, entah Thi Sim-lan yang menggeser kemari lebih dulu atau Siau hi ji yang menggeser duluan.


Sesudah sama-sama tertawa sejenak, mendadak Siau hi ji berkata, "Hm, bocah itu benar-benar banyak lagaknya!"


"Sebenarnya juga bukannya dia berlagak, tapi orang lain yang menjunjung tinggi lagaknya," ujar Thi Sim-lan dengan lembut.


"Hm, jangan kau mengira dia tidak berlagak, sikapnya itu hanya bikinan belaka agar orang memuji dia sopan santun, padahal... Hm, kentut anjing!" jengek Siau hi ji pula.


"Maklumlah, Ih hoa-kiong boleh dikatakan tempat suci yang diagungkan dunia persilatan sekarang, sebagai satu-satunya ahli waris Ih hoa-kiong, adalah pantas juga jika dia sok berlagak," ujar Sim-lan dengan tertawa.


"Hmk... Hmk-hmk... hmk-hmk-hmk," demikian berulang-ulang Siau hi-ji mendengus.


Thi Sim-lan tertawa geli, perlahan ia meraba tangan anak muda itu, tapi cepat dia tarik kembali tangannya demi nampak ular yang melilit di pergelangan tangan Siau hi ji.


Katanya kemudian dengan tertawa, "Eh, apakah kau tahu bahwa alis matanya sungguh sangat mirip dirimu, pada hakikatnya dia serupa denganmu, orang yang tidak kenal tentu mengira kalian adalah saudara sekandung."


"Jika aku pun berbentuk banci seperti dia, rasanya lebih baik kumati saja," kata Siau hi ji.


Thi Sim-lan hanya meliriknya dengan mengulum senyum dan tidak menanggapi lagi.


Tiba-tiba Siau-hi-ji mendengus pula, "Anehnya, manusia yang suka berlagak dan bicara seperti banci justru ada orang menyukainya."


"O... siapakah yang menyukai dia?" tanya Sim-lan.


"Kau!" jawab Siau hi ji.


"Kau bilang aku menyukai dia? Hah, gila!"


"Jika kau tidak menyukai dia, mengapa kau memandang dia hingga terkesima? Dan bila kau tidak suka padanya, mengapa dalam segala hal kau suka bicara membelanya?"


Muka Thi Sim-lan menjadi merah saking gemasnya, katanya kemudian dengan gregetan, "Baik, anggaplah aku menyukai dia. Ya, aku menyukai dia setengah mati. Toh kau bukan sanak kadangku, kau tidak perlu urus." Mendadak ia membanting kaki dan duduk membalik tubuh pula.


Siau hi-ji sengaja memberosot duduk di tanah sambil mengomel, "Hm, lagaknya seperti kakek kecil, manusia demikian paling menjemukan."


Tanpa menoleh Thi Sim-lan menanggapi, "Tadi kau bilang dia seperti banci, mengapa sekarang kau katakan dia seperti kakek-kakek."


"Kumaksudkan dia seperti... seperti nenek cilik," jawab Siau hi-ji dengan mengada-ada.


Mendadak Thi Sim-lan mengikik tawa.


Siau hi-ji mendelik, semprotnya, "Apa yang kau tertawai?"


"Hihi," Sim-lan mengikik pula, lalu menjawab dengan sekata demi sekata, "Tahulah aku sekarang, kiranya kau cemburu!"


"Aku cemburu?" Siau hi-ji melonjak bangun. "Hm, mustahil!" Mendadak ia duduk dan bergumam dengan gegetun, "Ya, rasanya sekarang aku memang rada-rada cemburu."


Sambil tertawa menggiurkan Thi Sim-lan menjatuhkan diri ke pangkuan anak muda itu. Tapi segera ia melompat bangun pula dan berseru dengan suara terputus-putus, "He, ular... ular-ular ini mengapa tidak kau enyahkan saja."


"Jika kudapat mengenyahkan mereka, maka bahagialah aku!" ucap Siau hi-ji dengan bersungut.


"Kau ... kau tidak sanggup mengenyahkan mereka?" kaget juga Thi Sim-lan.


Siau hi-ji menghela napas, jawabnya, "Setelah Pekcoa sin-kun mati, kini mungkin tiada yang sanggup mengenyahkan mereka, siapa saja bila ingin menyentuh mereka, maka akulah yang akan dipagut paling dulu."


"Wah, lantas bagaimana... bagaimana baiknya?Memangnya selamanya kau akan membawa serta mereka?"


Dengan murung Siau hi-ji termangu-mangu, sejenak kemudian tiba-tiba ia berseru dengan lagak jenaka, "Begini juga ada baiknya, tubuhku penuh ular, tentu tiada anak perempuan yang berani mendekati aku."


"Orang bicara dengan sungguh, kau justru sengaja bercanda," omel Thi Sim-lan dengan mendongkol sambil berpaling pula ke arah lain. Tapi segera ia menoleh dan berkata dengan tertawa, "He, aku ada akal."


"Bagus, bagaimana akalmu?" tanya Siau hi-ji dengan girang.


"Ular-ular ini jangan kau beri makan, bila mereka mati kelaparan, dengan sendirinya mereka akan rontok semuanya."


Siau hi-ji seperti lagi berpikir, jawabnya sambil manggut-manggut, "Benar, benar, akalmu ini sungguh amat bagus!"


"Terima kasih," ucap Thi Sim-lan dengan tertawa manis.


"Tapi kau melupakan sesuatu," tiba-tiba Siau hi-ji menambahkan pula.


"Sesuatu apa?"


"Ular-ular ini meski gundul, tapi mereka bukan Hwesio."


"Artinya?" Thi Sim-lan melengak bingung.


"Kalau bukan Hwesio, tentu tidak pantang makan," ucap Siau hi-ji dengan tertawa.


Thi Sim-lan melenggong bingung, mendadak ia melonjak bangun dan berseru, "He, maksudmu jika... jika mereka lapar, maka dagingmu dan darahmu juga akan dimakannya?"