Legendary Siblings

Legendary Siblings
96. Perintah Membunuh



"Aku ... aku ...." Thi Sim-lan menunduk ragu, berulang-ulang ia melirik ke arah Siau-hi-ji.


"Lelaki begitu, untuk apa menggubrisnya, marilah ikut kami pergi saja," kata si muka bulat dengan gemas.


"Kongcu kami juga ingin bercakap-cakap dengan engkau," ujar Ho-loh dengan tersenyum.


"Ya, pergi, lekas pergi bersama mereka," teriak Siau hi-ji, "Walaupun sekarang aku sial, tapi masih mendingan, bila kau tetap mengintil diriku, mungkin aku akan tambah sial."


Thi Sim-lan semakin menunduk, air matanya tampak berlinang-linang.


Segera si nona muka bulat menarik Sim-lan dan berkata, "Jangan gubris dia, ayolah kita pergi!"


Hoa Bu-koat memberi hormat dengan tersenyum simpul, lalu ia pun membalik tubuh untuk melangkah pergi.


Dilihatnya Buyung Kiu yang dipondong Ho-loh itu mendadak bergerak, mulutnya bergumam seperti mengigau, "Siau hi-ji, Kang Hi, Kang Siau hi, lepaskan.. lepaskan diriku!"


Air muka Hoa Bu-koat tampak berubah hebat, sekonyong-konyong ia berpaling dan menatap tajam Siau hi-ji.


"Kau inikah Kang Hi, Kang Siau-hi alias Siau hi-ji?" tanyanya dengan sekata demi sekata.


Melengak juga Siau hi-ji, jawabnya kemudian, "Benar, Apakah namaku ini sangat terkenal?"


Kembali Hoa Bu-koat menatapnya dengan termenung sejenak, lalu menghela napas perlahan, katanya, "Sungguh menyesal...."


"Menyesal? Mcngapa kau menyesal?" tanya Siau hi-ji dengan terbelalak.


"Sebab aku hendak membunuhmu!" jawab Hoa Bu-koat dengan perlahan.


Ucapan ini membuat semua orang terperanjat.


"He, apakah otakmu menjadi kurang waras? Mengapa mendadak hendak membunuhku?" tanya Siau hi-ji.


"Sebab kau inilah Kang Hi, makanya akan kubunuh," tutur Bu-koat. "Di dunia seluas ini hanya seorang saja yang harus kubunuh, ialah kau, Kang Hi, Kang Siau hi alias Siau hi-ji."


Siau hi-ji termenung sejenak, katanya kemudian, "Ya, pahamlah aku, tentunya ada orang menyuruh kau membunuhku."


"Ya, atas perintah guruku!" jawab Bu-koat.


Mendadak Thi Sim-lan berteriak histeris, "Mengapa gurumu menyuruhmu membunuh dia ? Mengapa ... mengapa ...." dia ingin menerjang maju, tapi dirangkul kencang-kencang oleh si gadis baju putih.


Siau hi-ji dan Hoa Bu-koat sedang muka berhadapan muka, maka tiada seorang pun yang memandang ke sana.


Selang sejenak, mendadak Siau hi-ji bergelak tertawa, katanya, "Bagus, memangnya aku pun ingin membunuhmu, soalnya sekarang aku memang bukan tandinganmu, makanya aku bersabar, namun kini..." sekonyong-konyong ia angkat kedua tangannya terus menubruk ke arah Hoa Bu-koat.


Sesungguhnya ilmu silat Siau hi-ji sama sekali bukan tandingan Hoa Bu-koat, tapi asalkan dapat menyentuh Hoa Bu-koat, maka ular berbisa di tubuhnya itu pasti akan menyerangnya.


Ular kan tidak kenal siapa pun juga. Jadi jiwa Hoa Bu-koat pasti melayang, namun jiwa Siau hi-ji sendiri juga sukar diramalkan.


Di luar dugaan, baru saja tangannya bergerak mendadak pergelangan kedua tangannya lantas kaku kesemutan, belum lagi tubuhnya mendekati lawan, tahu-tahu pandangannya menjadi gelap dan jatuh tersungkur...


***


Waktu Siau hi-ji siuman, yang pertama dilihatnya adalah sebuah anglo yang sedang mengepulkan asap dupa. Bau dupa yang terendus itu terasa bukan gaharu dan juga bukan adas, tapi semacam bau harum yang sukar disebutkan, seperti bau harum bunga, juga seperti bau obat, jika dicium lebih teliti, rasanya juga seperti bau pupur anak perempuan.


Lalu ia melihat pula sebilah pisau. Gagang pisau itu bertatahkan batu permata dan tergantung di ujung pembaringannya, sarung pisau seperti terbuat dari kulit ikan hiu sehingga kelihatan sangat menarik, pisau dengan sarungnya itu seakan-akan khusus untuk hiasan belaka.


Tapi ruangan ini hanya terdapat sebuah hiasan ini, selebihnya sangat sederhana, cuma terawat dengan baik dan resik, rasanya nyaman.


Siau hi-ji tak dapat menerka tempat apakah ini, ia menduga bisa jadi rumah gubuk yang dibangun Hoa Bu-koat sebagai tempat tinggal darurat karena harus berdiam di Gobi-san.


Tapi cara bagaimana dia berada di tempat Hoa Bu-koat? Bukankah dirinya tadi tergigit ular berbisa yang tak mungkin tertolong? Apakah Hoa Bu-koat mau menolongnya? Bukankah Hoa Bu-koat tegas menyatakan ingin membunuhnya? Tapi begitu berpaling, segera dilihatnya pemuda she Hoa itu.


Cahaya sang surya menyinari jendela yang sederhana terbuat dari bambu. Di bawah sinar matahari Hoa Bu-koat sedang duduk, alis matanya, wajahnya, sikapnya yang tenang, pakaiannya juga putih bersih, betapa pun Siau hi-ji sendiri mau tak mau juga harus mengakui seterunya itu adalah pemuda cakap yang jarang ada bandingannya di dunia ini.


Tampaknya Hoa Bu-koat sudah duduk cukup lama di situ, tapi kelihatan adem ayem saja, sedikit pun tidak gelisah, tetap sabar, tampaknya dia masih sanggup duduk lebih lama lagi di situ.


Dalam hal ini pun Siau hi-ji merasa kagum, jika Siau hi-ji, pada hakikatnya sedetik saja dia tidak sabar duduk. Diam-diam ia mengerahkan tenaga, terasa sehat-sehat saja tanpa kurang sesuatu apa pun.


Waktu ia memeriksa tubuh sendiri, ternyata ular-ular sialan itu sudah lenyap, tiada nampak seekor pun.


Diam-diam ia heran dan merasa lega. "He, apakah kau yang menolong aku?" serunya kepada Hoa Bu-koat.


"Benar," sahut Bu-koat acuh tak acuh.


"Racun ular selihai itu kau pun mampu menolongku?" tanya Siau hi-ji.


"Dupa Siancu hiang (dupa dewi) dan Soh litan (pil gadis suci) yang sudah kau minum itu dapat menawar segala macam racun."


"Tadi bukankah engkau ingin membunuhku?"


"Sekarang pun tetap ingin kubunuhmu!"


"Jika begitu, untuk apa kau menawarkan racunku dengan obat mujarab yang tak ternilai itu?"


"Soalnya kuharus membunuhmu dengan tanganku sendiri, takkan kubiarkan kau mati disebabkan urusan lain."


Siau hi-ji berkedip heran, tanyanya, "Mengapa kau harus membunuhku dengan tanganmu sendiri?"


"Karena begitulah perintah yang kuterima."


Sejenak Siau hi-ji terdiam, katanya kemudian, "Kau diperintahkan untuk membunuhku dengan tanganmu sendiri? Aku tidak boleh mati di tangan orang lain dan urusan lain, apakah... apakah kau tidak merasa heran? Kau... kau tidak menanyakan apa sebabnya?"


"Aku tidak perlu tanya," sahut Bu-koat.


"Ehm, tampaknya kau sangat penurut."


"Perintah Ih hoa-kiong kami sangat keras dan tiada yang berani membangkang."


"Tampaknya kau pun sangat jujur, apa yang kutanya selalu kau jawab dengan tulus."


"Siapa pun yang tanya padaku tentu akan kujawab dengan sejujurnya, sekalipun aku harus membunuhmu, tapi tiada sangkut-pautnya dengan persoalan tanya jawab."


"Jadi sudah pasti kau ingin membunuhku dengan tanganmu sendiri?"