
“He, mengapa Song-samko sedemikian takut padanya?” tanya Pah Siok-tong heran dan kejut.
“Bukan cuma aku saja yang takut padanya, setiap penghuni lembah ini siapa yang tidak gentar padanya?” ujar Song Sam sambil menyeringai.
“Selama beberapa tahun si iblis kecil ini benar-benar telah membuat kepala pusing setiap orang di sini, siapa yang menyalahi dia, tidak sampai tiga hari pasti akan celaka.”
“He, masakah setan cilik itu begitu lihai?” Pah Siok-tong menegas dengan melenggong.
“Pah-jite, kukatakan bahwa sedikit pun kau tidak perlu penasaran karena kena dikerjai setan cilik ini. Coba kau pikir, adakah sesuatu yang baik di Ok-jin-kok ini? Bocah seusia dia mampu malang-melintang di sarang penjahat, maka dapat dibayangkan orang macam apa dan betapa lihainya?”
“Sungguh sukar dipercaya... sukar dipercaya...” gumam Pah Siok-tong. Mendadak ia menyentuh lengan baju Song Sam yang kosong tak berisi, segera ia tanya, “Samko, apakah ini... ini juga?"
“Walaupun bukan perbuatannya, tapi juga ada sangkut-pautnya dengan dia,” jawab Song Sam sambil menyengir. Ia menghela napas panjang dan memandang lengannya yang buntung itu, lalu menyambung, “Buntungnya tepat pada hari kedatangannya, empat belas tahun yang lalu. Sungguh lihai amat Yan Lam-thian itu, kalau aku tidak bertindak tegas pada saat itu mungkin jiwaku sudah melayang sejak dahulu.”
“Yan Lam-thian?” Pah Siok-tong menegas dengan kaget. “Jadi setan cilik itu...” belum selesai ucapannya, mendadak ia menjerit ngeri dan roboh terjungkal, punggungnya sudah bertambah suatu lubang dan darah segar mengucur seperti mata air.
Dengan kaget Song Sam berpaling, terlihat seorang sudah berdiri di belakangnya seperti setan iblis, pakaiannya kelabu pucat melambai-lambai tertiup angin, matanya celong dan mukanya kaku menyeramkan.
Dengan suara gemetar Song Sam berseru, “Engkau Im... Im....”
“Hm, barangkali kau lupa bahwa di lembah ini siapa pun dilarang menyinggung urusan Siau hi ji dengan orang she Yan itu,” kata Im Kiu-yu dengan menyeringai.
“Ya, belum... belum sempat kukatakan padanya,” jawab Song Sam takut.
“Belum sempat kau katakan, namun dia sudah kubinasakan, kau tidak terima?” tanya Im Kiu-yu.
“Aku... aku...” Song Sam gelagapan sambil menyurut mundur.
Mendadak ia melompat tinggi ke atas, lalu terbanting dengan keras, tubuhnya tiada tanda terluka, namun tak bisa bergerak lagi.
Di tempat berdiri mereka tadi kini sudah bertambah pula seorang nenek bertongkat dan bertubuh rada bungkuk.
“Hihi, mengapa Im kiu-yu menjadi berhati welas asih?” kata nenek itu dengan terkikik-kikik.
“Ketika keparat ini mengucapkan kalimat pertama tadi seharusnya sudah kau binasakan dia, mengapa sampai saat ini masih dibiarkan saja?”
“Justru kutahan untukmu,” kata Im Kiu-yu.
“Untukku?” nenek itu tertawa. “Sudah lama aku tidak membunuh orang, memangnya kau kira tanganku sudah gatal?”
“Ingin kulihat apakah kau punya Siau-hun-ciang (pukulan penggetar sukma) ada kemajuan atau tidak?”
“Kalau ada kemajuan memangnya kau mau apa Sukmamu juga ingin tergetar?” kata nenek itu, suaranya yang serak tua itu mendadak berubah menjadi lembut menggiurkan. Jelas itulah suara To Kiau-kiau.
“Kalau kau ingin menggetar sukmaku mestinya kau bersolek lebih cantik,” ujar Im Kiu-yu dengan tersenyum dingin.
“Ah, sudah lanjut usia, betapa pun menyamar juga tak dapat menyerupai lagi nona cilik yang cantik,” kata To Kiau-kiau dengan tertawa. “Eh, di mana setan cilik itu, apakah tadi dia mendengar percakapan kedua orang ini?”
“Kau tidak tahu, dari mana kutahu?” jawab Im Kiu-yu.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara Siau hi ji sedang berseru di kejauhan, “Hai, guci cuka, hidung kerut, berbini muda, beranak….”
“Hihi, si guci cuka Lo Say bisa konyol disatroni setan cilik lagi,” ucap Kiau-kiau dengan tertawa.
“Kalau setan cilik berada di sana, tentu percakapan kedua orang tadi tak didengarnya,” ujar Im Kiu-yu.
Tanpa menoleh juga To Kiau-kiau tahu siapa yang bicara, dengan tertawa ia menanggapi, “Li Toa-jui, di sini ada dua orang mati, apakah tidak cukup untuk menyumbat mulutmu?”
“Orang yang mati di tangan kalian berdua tidak cocok dengan seleraku,” kata Li Toa-jui sambil tertawa.
“Apakah kau pun hendak pergi ke tempat saudara Toh sat?” tanya Im Kiu-yu.
“Ya, mendadak Ha ha ji mengumpulkan kita, entah mau apa?”
Begitulah mereka bertiga lantas menuju ke tempat tinggal Toh Sat. Tapi mereka berjalan terpisah agak jauh, satu sama lain tidak mau berdekatan.
Toh Sat tetap duduk di sudut rumahnya tanpa bergerak seperti biasa. Semua orang sudah hadir komplet.
Ha ha ji lantas berkata, “Haha, sudah lama kita tidak ramai-ramai berkumpul begini.”
“Aku paling benci keramaian,” ucap Im Kiu-yu. “Kau mengundang aku ke sini, kalau tiada yang perlu dibicarakan, aku...”
Cepat Ha ha ji memotong, “Eh, jangan menakuti aku, nyaliku kecil.”
“Kau mengumpulkan kami, apakah karena Siau hi ji?” tanya To Kiau-kiau.
“Haha, betapa pun memang To kecil kita lebih pintar,” seru Ha ha ji.
“Karena setan cilik itu?” tukas Im Kiu yu.
“Memangnya mau bicara apa tentang setan cilik itu Kalian sudah cukup mendidiknya, yang satu mengajar dia mengganggu orang, yang lain mengajar dia menangis dan yang lain lagi mengajar dia tertawa... Nah, bukankah sekarang dia mahir seluruhnya, makanya kuundang kalian ke sini,” kata Ha ha ji.
“Sebab apa?” tanya Li Toa-jui.
“Soalnya aku tidak tahan lagi,” tutur Ha ha-ji sambil menghela napas.
“Sampai Ha ha-ji juga menghela napas, tampaknya dia benar-benar tidak tahan lagi,” ujar To Kiau-kiau dengan tertawa.
“Tuan muda kita ini sekarang pergi datang dengan sesukanya, ingin makan lantas makan, mau minum lantas minum, siapa saja tak berani merecoki dia, jika merecoki dia, maka pasti celaka. Ok-jin-kok benar-benar sudah kenyang merasakan gangguannya, selama beberapa bulan ini setidaknya ada tiga puluh orang yang mengeluh, setiap orang itu sedikitnya mengeluh padaku delapan kali,” demikian tutur Ha ha-ji.
“Ya, setan cilik itu sungguh makin lama semakin lihai, kalau dia bicara dengan aku sekarang sedikitnya aku harus berpikir setengah jam baru berani menjawabnya, kalau tidak pasti akan terjebak,” Suma Yan ikut bicara.
“Mendingan cuma begitu, pada hakikatnya aku menjadi takut melihat dia,” sambung Li Toa-jui sambil menyengir. “Apabila suatu hari dia tidak mencari aku, maka hari itu adalah hari mujur bagiku, aku dapat tidur nyenyak sepanjang hari, kalau tidak, wah, tidur saja aku mesti waspada terhadap tingkah polahnya.”
“Kita mengganggu orang, sedikit banyak tentu ada tujuan, tapi setan cilik itu mengganggu orang hanya untuk main-main saja, demi hobi,” kata Ha ha-ji.
“Bukankah kita memang berharap dia berbuat begitu?” ujar To Kiau-kiau.
“Tapi yang kita harapkan supaya dia mengganggu orang lain, celakanya setan cilik itu tidak mau tahu kawan atau lawan, keluarga atau bukan, siapa yang dijumpai lantas diganggu olehnya,” ucap Ha ha-ji.
“Dalam hal ini kukira To cilik kita yang paling enak.”
“Aku enak? Enak kentut!” jawab To Kiau-kiau. “Beberapa jurus permainanku itu pada hakikatnya sudah dikuras seluruhnya olehnya, malahan dia sudah jauh melebihi aku dan kini aku sendiri pun kepala pusing”.
“Dan bagaimana dengan Toh-lotoa?” tanya Ha ha-ji.
“Ehm!” dengus Toh Sat.
“Apa artinya ‘ehm’?” tanya To Kiau-kiau dengan tertawa.