
Selamanya kedua pelayan itu tak pernah melihat sang nona bicara seketus itu, mereka tidak berani banyak bicara lagi, setelah mengiakan mereka terus berlari pergi.
Dengan dingin Buyung Kiu-moay berkata pula, "Jika Koh-siauya tidak ada urusan, silakan tinggal di sini mengawasi mereka, kalau tidak, bila engkau mau pergi juga boleh."
"O, tidak, aku tidak ... tidak ada urusan, tidak ada urusan," kata Koh Jin-giok dengan tergagap.
Buyung Kiu-moay lantas melangkah pergi tanpa berpaling.
Siau hi-ji mengedipi Thi Sim-lan, mereka ikut keluar.
Koh Jin-giok mengintil di belakang Buyung Kiu-moay dan memandangi bayangan si nona seperti orang linglung.
Thi Sim-lan juga memandang Siau hi-ji dengan terkesima.
Tanpa terasa Koh Jin-giok menghela napas, tanpa terasa Thi Sim-lan juga menghela napas dan berkata, "Kau sungguh baik sekali terhadap dia, mungkin terlalu baik." Meski dia bicara mengenai persoalan Koh Jin-giok, tapi yang terpikir olehnya justru adalah urusan Siau hi-ji, kalau Koh Jin-giok demikian baik terhadap Buyung Kiu, mengapa Siau hi-ji tidak...
Begitulah makin dipikir makin luluh perasaannya sehingga dia tidak memperhatikan apa yang dikatakan Koh Jin-giok.
Selang sejenak barulah dia berkata pula dengan rasa hampa, "Bukankah engkau sangat menyukai nona Buyung?"
"Aku... aku sendiri tidak tahu," ucap Jin-giok dengan bingung.
"Kau tidak tahu?" Thi Sim-lan menegas dengan tertawa.
"Ya, orang lain menganggap aku harus suka padanya, aku sendiri pun merasa pantas menyukai dia, tapi ... tapi apakah aku memang suka padanya, aku sendiri pun tidak tahu, aku cuma tahu rada-rada takut padanya."
"Kau sungguh orang yang baik," ujar Thi Sim-lan dengan tersenyum.
Koh Jin-giok memandangnya sekejap, jawabnya sambil menunduk, "Engkau... engkau pun orang baik."
Sementara itu Buyung Kiu-moay sudah berjalan sampai di tengah taman, mendadak ia berpaling dan menegur dengan ketus, "Untuk apa kau ikut kemari?"
"Sebenarnya aku tidak ingin ikut ke sini," jawab Siau hi-ji dengan tertawa, "Tapi kalau aku tidak ikut dan kesempatan itu digunakan oleh Siau sian-li untuk membunuhku, soal mati atau hidup bagiku tidak penting, tapi kau yang akan kehilangan muka."
Buyung Kiu-moay melototinya sejenak, tanpa bicara lalu melangkah pula ke depan sana.
Dengan langkah terhuyung-huyung Siau hi-ji ikut di belakang si nona dengan napas terengah-engah, akhirnya ia berkata dengan suara lembut, "Aku tidak sanggup berjalan lagi, maukah kau memegangi tanganku?"
Buyung Kiu-moay tidak pedulikan ucapan itu, bahkan melangkah terlebih cepat.
"Baiklah, biar kumati kepayahan saja," ucap Siau hi-ji.
"Sesudah mati boleh kau serahkan jenazahku kepada Siau sian-li dan selanjutnya dia pasti takkan merecoki kau lagi."
Sampai di sini, walau tidak menoleh, namun langkah Buyung Kiu-moay sudah mulai diperlambat.
Siau hi-ji berkata pula, "Ada sementara anak perempuan yang tampaknya serba lebih hebat
daripada lelaki, tapi kalau benar-benar bertemu dengan lelaki lantas kelihatan kelemahannya. He, pernahkah kau lihat lelaki yang tidak berani memegang tangan perempuan?"
Tampaknya Buyung Kiu-moay tidak tahan oleh olok-olok itu, jengeknya, "Hm, memangnya kau kira aku tidak berani? Aku cuma tidak..."
Dengan mendongkol mendadak Buyung Kiu-moay membalik tangannya, dia pegang tangan Siau hi-ji terus diseretnya ke depan dengan terus berlari.
Tanpa kuasa Siau hi-ji ikut lari bersama si nona, tapi mulutnya masih terus bercanda, "Hah, kecil benar tanganmu, tiada setengahnya tanganku..." Mulutnya tiada hentinya bicara, matanya juga tiada hentinya berputar, dilihatnya di samping taman sana ada sebuah serambi panjang yang berbelok menurun mengikuti tanah bukit.
Di sebelah serambi panjang itu ada sebuah rumah yang indah, setiap ruangan dibangun dengan bentuk yang berbeda-beda, warna setiap pintu dan jendelanya juga berlainan.
Setelah dihitung Siau hi-ji, jumlah ruangan rumah itu ada sembilan buah, agaknya inilah kamar pribadi kesembilan kakak beradik keluarga Buyung.
Warna daun pintu kamar pertama adalah kuning muda, Buyung Kiu mendorong pintu dan masuk ke situ, ternyata kain jendela, taplak meja, selimut dan sprei, semuanya juga berwarna kuning muda. Meski cuma beberapa macam benda sederhana itu, namun menimbulkan semacam rasa tenang dan indah.
Buyung Kiu memeriksa setiap benda itu dengan teliti, tapi Siau hi ji justru memandangi si nona, katanya, "Inikah kamar pribadi Tacimu (kakak pertamamu)? Apakah Tacimu segera akan pulang?"
"Kalau tidak pulang apa lantas dibiarkan kotor tak terurus?" jawab Buyung Kiu-moay dengan ketus.
"Betul, biarpun penghuninya tidak pulang juga semua perabotnya harus dirawat sebaik-baiknya," jawab Siau hi-ji dengan tertawa. "Tampaknya antara kakak beradik kalian mempunyai hubungan yang erat dan penuh kasih sayang."
Tiba-tiba si anak muda tidak mengucapkan kata-kata yang berolok-olok lagi, seketika Buyung Kiu-moay menjadi bingung karena tidak dapat meraba maksud tujuannya. Maka ia hanya mendengus saja tanpa menanggapi.
Siau hi-ji lantas berkata pula, "Tacimu tentu seorang perempuan yang cantik dan berbudi halus, suka pada ketenangan dan mendambakan keindahan. Ai, di dunia ini sungguh tidak banyak lagi perempuan yang bersifat demikian, tapi entah bagaimana dengan suaminya, apakah cocok baginya atau tidak?"
Akhirnya Buyung Kiu berpaling dan memandang sekejap pada anak muda itu, katanya, "Di dunia ini dengan sendirinya tiada lelaki yang cocok bagi Taciku kecuali seorang saja, yaitu Toacihu (kakak ipar pertama, suami kakak)."
"Dan bagaimana ilmu silatnya?"
"Tentunya kau tahu nama Bi-giok-kiam-khek (si pendekar pedang berwajah cakap)," jawab si nona dengan dingin.
Sebenarnya dia sudah bertekad tidak sudi bicara lagi dengan 'setan cilik' yang menjengkelkan dan menjemukan ini, tapi kini tanpa terasa ia menanggapi ucapannya. Soalnya apa yang diucapkan setan cilik ini adalah persoalan yang paling suka dibicarakannya.
Hanya dengan dua-tiga patah kata saja si setan cilik sudah dapat membuat rasa dongkolnya terlampiaskan.
Ruangan kedua berwarna serba merah, merah jambu. Dindingnya, busur yang tergantung di dinding dan sebatang pedang pendek dengan sarungnya, semuanya berwarna merah muda.
Dengan tertawa Siau hi-ji memberi komentar pula, "Perangai Jicimu (kakak keduamu) tentunya berbeda dengan Tacimu. Dia pasti seorang yang polos dan suka terus terang, meski terkadang tabiatnya agak keras, tapi pada dasarnya dia berhati baik, bahkan suka memikirkan kepentingan orang lain."
Buyung Kiu terdiam sejenak, akhirnya tak tahan dan bertanya, "Dari mana kau tahu?"
"Kehebatan Amgi (senjata rahasia) keluarga Buyung terkenal di seluruh jagat, namun Jicimu justru tidak mau memakai senjata yang kecil itu, tapi lebih suka menggunakan busur dan panah yang besar, ini menandakan sifatnya pasti gagah dan suka cepat menyelesaikan setiap urusan, dengan sendirinya ia pun tidak suka pada permainan yang kecil-kecil itu."
"Ehm, apalagi?" tanya Buyung Kiu-moay.
"Pedang panjang kuat, pedang pendek bahaya, pedang yang disukai Jicimu pendek bagai belati, ini menandakan bila ia sedang marah, dia pasti maju terus tak gentar apa pun juga."
Mau tak mau Buyung Kiu manggut-manggut, katanya, "Ilmu pedang Jiciku memang terkenal keras dan berbahaya, boleh dikatakan nomor satu di daerah selatan sini."
"Namun ilmu silat Jicihumu justru tidak tinggi, betul tidak?" tiba-tiba Siau hi-ji menambahkan dengan tertawa.
Melengak juga Buyung Kiu-moay mendengar ucapan itu, ia pandang anak muda itu dengan keheranan, sampai sekian lama barulah ia mengangguk dan berkata, "Ya, Jicihu adalah putra tunggal keluarga bangsawan Lamkiong. Meski ilmu silat keluarga Lamkiong sangat tinggi, namun sejak kecil Jicihu suka sakit-sakitan, oleh karena itu... Ai..."