
“Bagus!” sambut Yan Lam-thian dengan tertawa keras. Ia pun angkat kedua tangan dan balas menghantam kedua telapak tangan lawan yang merah itu.
Diam-diam Toh Sat bergirang. Maklumlah, ia disegani karena tangan berbisanya yang merahberdarah itu, sebab dia memakai sarung tangan berduri yang telah direndam dengan cairan beratus macam racun.
Asalkan badan kulit orang tergores sedikit saja, maka tidak sampai setengah jam kemudian orang itu pasti akan binasa. Racun itu boleh dikatakan “kena darah lantas tutup napas”, ganasnya luar biasa.
Tapi sekarang Yan Lam-thian berani memapak tangannya yang berbisa itu dengan tangan telanjang, bukankah ini sama dengan mengantarkan nyawa?
Maka terdengarlah suara gertakan berbaur dengan suara jeritan, menyusul lantas berbunyi “krek” satu kali.
Sudah jelas Yan Lam-thian memapak serangan tangan berdarah lawan dengan pukulan pula, tapi sampai di tengah jalan, entah bagaimana mendadak gerak serangannya itu berubah.
Sekonyong-konyong Toh Sat merasakan serangannya tak mencapai sasarannya, perasaannya mirip orang berjalan yang mendadak sebelah kaki menginjak tempat kosong. Keruan ia terkejut, gugup dan bingung pula.
Pada saat itulah kedua pergelangan tangannya sudah kena dipegang Yan Lam-thian, baru saja dia menjerit kaget dan cemas, “krek”, pergelangan tangan kanannya telah dipatahkan mentah-mentah oleh lawan.
Sebelum tubuh lawan roboh, Yan Lam-thian sempat mencengkeram pula baju dadanya dan membentak dengan bengis, “Di sini ada orang bernama Kang Khim tidak?”
Rasa sakit Toh Sat tak terkatakan, namun ia mengertak gigi dan bertahan sekuatnya, sahutnya dengan parau, “Kalau memang tidak ada ya tetap tidak ada!”
“Dan di mana anak bayi itu?” bentak Yan Lam-thian pula.
“Ti... tidak tahu! Kau bunuh saja diriku!”
“Mengingat keperkasaanmu, jiwamu kuampuni!” kata Yan Lam-thian, mendadak tangannya mengebas, Toh Sat terlempar jauh.
Hebat juga Toh Sat dan tidak malu sebagai tokoh Bu-lim yang disegani, dalam keadaan demikian dia masih sanggup menguasai diri, dia berjumpalitan satu kali di udara, lalu tancapkan kakinya dengan enteng di atas tanah tanpa sempoyongan dan terjatuh.
Jubahnya yang putih mulus sudah berlepotan darah, dengan tangan kiri memegangi tangan kanan sendiri, ia berseru dengan suara serak, “Sekarang kamu mengampuni aku, sebentar lagi kamu takkan kuampuni!”
“Hahaha! Bilakah Yan Lam-thian pernah minta diampuni orang?” jawab Yan Lam-thian sambil tertawa.
“Baik!” kata Toh Sat sambil melangkah pergi.
“Kembalikan anak itu, kalau tidak, lembah ini pasti kuhancurleburkan!” bentak Yan Lam thian dengan kereng. Suaranya menggelegar, namun segalanya sunyi senyap.
Yan Lam-thian menjadi gusar, “blang”, sebuah meja ditendangnya hingga mencelat. “Brek”, sekali hantam dinding lantas berlubang.
Begitulah ia terus mengamuk, segala isi rumah itu diobrak-abriknya hingga berantakan.
Namun penghuni Ok jin-kok seakan-akan sudah ****** seluruhnya, tiada seorang pun berani menongol.
“Baik, ingin kulihat kalian akan sembunyi sampai kapan!” bentak Yan Lam-thian dengan murka sambil mengamuk sepanjang jalan.
Tiba-tiba ia menerjang masuk sebuah rumah, “blang”, ia depak daun pintu rumah itu hingga sempal sebelah, di dalam rumah ada dua orang, mereka menjadi kaget melihat Yan Lam-thian menerjang masuk bagai orang gila, segera mereka hendak kabur.
“Lari ke mana?” bentak Yan Lam-thian. Seperti kucing menerkam tikus, dengan cepat ia melompat maju, sekali meraih, punggung salah seorang itu kena dicengkeramnya.
Di tengah gertakan Yan Lam-thian, sekali dorong, kontan kepala orang itu pecah berantakan menumbuk dinding.
Keruan orang yang lain ketakutan setengah mati, kaki pun terasa lemas dan tidak sanggup lari lagi. “Bluk”, ia jatuh mendeprok di tanah.
Segera Yan Lam-thian mencomot kuduk orang itu sambil membentak, “B*ngsat! Pergilah menyusul kawanmu!”
“Nanti dulu, dengarkan perkataanku!” mendadak orang itu berteriak.
“Apa yang hendak kau katakan?” tanya Yan Lam-thian, ia mengira orang akan memberitahukan di mana beradanya bayi yang hilang, sebab itulah ia menghentikan aksinya.
Tak tahunya orang itu lantas bertanya malah, “Ada permusuhan dan dendam apa antara engkau dan aku, mengapa engkau berbuat sekeji ini?”
“Penghuni Ok jin-kok adalah kawanan b*ngsat yang mahajahat, biarpun kubunuh habis juga takkan keliru!” bentak Lam-thian gusar.
“Benar!” seru orang itu. “Aku Ban Jun-liu dahulu memang betul orang jahat, tapi sudah lama aku memperbaiki diriku, mengapa kau ingin membunuhku pula? Ber... berdasarkan apa engkau membunuhku?”
Sejenak Yan Lam-thian melengak, gumamnya kemudian, 'berdasar apa aku membunuhnya? Mengapa aku tidak memberi kesempatan kepada orang lain untuk memperbaiki kelakuannya dan memperbaharui hidupnya?'
Setelah termenung sejenak, tiba-tiba ia lepaskan pegangannya dan membentak perlahan, “Pergilah!”
Cepat orang itu meronta bangun, tanpa menoleh lagi terus berlari pergi dengan langkah terhuyung.
Sambil menyaksikan kepergian orang itu, Yan Lam-thian menghela napas panjang dan bergumam pula, 'Apa gunanya membunuh orang yang tak bersalah? Wahai, Yan Lam-thian, Kang-jitemu hanya meninggalkan yatim piatu ini, jika kamu tidak bertindak dengan tenang dan menggunakan akal sehat, bisa jadi keturunan saudara angkatmu itu akan lenyap, biarpun kau bunuh habis segenap penghuni Ok-jin-kok ini juga tiada gunanya lag.'
Berpikir demikian, seketika api amarahnya padam. Segera ia pun menemukan berbagai keanehan di tempat ini. Ia lihat rumah ini sangat besar, sebuah ruangan yang penuh tertimbun macam-macam bahan obat-obatan.
Selain itu ada belasan anglo dengan apinya yang sedang membara, setiap anglo itu ada perkakas masak sebangsa wajan, ceret serta alat lain yang berbentuk aneh dan tak diketahui namanya. Di dalam setiap perkakas masak itu teruar bau harum obat yang menusuk hidung.
Yan Lam-thian sudah kenyang asam garam dunia Kangouw, pengalamannya banyak, pengetahuannya luas, terhadap ilmu pertabiban dan pengobatan juga tidak asing, pada waktu menganggur dia sering mencari bahan obat-obatan di lereng gunung dan pernah pula membuat beberapa macam obat luka menurut resepnya sendiri.
Tapi sekarang bahan obat-obatan yang tertimbun di rumah ini, baik yang tertumpuk di pojok ruangan maupun yang sedang dimasak, paling-paling Yan Lam-thian hanya kenal dua-tiga jenis di antaranya, selebihnya hampir tak pernah dilihatnya.
Baru sekarang ia terkejut, pikirnya, 'Kiranya begini tinggi ilmu pertabiban Ban Jun-liu tadi, syukur aku tidak jadi membunuhnya. Jika dia tidak pernah menyesal pada kejahatannya yang dahulu dan tidak ingin memperbaikinya, tentu dia takkan susah payah mempelajari ilmu pengobatan yang bermanfaat bagi orang lain ini.”
Bau harum obat yang dimasak itu semakin keras hingga akhirnya rumah itu penuh kabut asap dan menambah gaibnya rumah itu.
Tiba-tiba sesosok bayangan orang berbaju hitam tampak melangkah datang menembus kabut asap itu. Langkah orang itu sedemikian ringan, begitu gesit, sepasang matanya juga mengerling lincah dan terang.
Yan Lam-thian menahan perasaannya dan menatap orang tanpa bicara.
Orang berbaju hitam itu langsung mendekati Yan Lam-thian dan berdiri di depannya. Di antara sorot matanya yang licik itu terkulum juga senyuman licin pada mulutnya.
“Selamat, Yan-tayhiap!” tiba-tiba orang itu menyapa dengan tertawa sambil angkat tangan memberi hormat.
.