
“Au, dagingku tidak enak dimakan, tidak enak...” Siau hi ji berteriak-teriak.
Toh Sat berdiri di luar pintu sambil berpangku tangan, didengarnya suara gonggong anjing itu semakin keras dan semakin seram, tapi mendadak suara apa pun tak terdengar lagi.
Selang sekian lama, perlahan Toh Sat membuka pintu. Dilihatnya Siau hi ji tetap menggenggam pisau kecil dan sedang merangkak di lantai mirip seekor anjing kecil, sekujur badannya berlumuran darah, seluruh badan anjing tadi juga penuh darah, cuma Siau hi ji masih hidup dan anjing itu sudah menjadi bangkai.
Toh Sat berjongkok dan membangunkan Siau hi ji, tanyanya, “Berapa kali kau menikamnya?”
“Sepuluh... dua puluh kali, mungkin lebih, aku sendiri tidak tahu persis,” jawab Siau hi ji.
“Tadi kau tidak ingin membunuh dia bukan?”
“Ya, tapi dia... dia hendak makan diriku, terpaksa aku...”
“Terpaksa kau membunuhnya, sebab kalau tidak membunuh dia, kau yang akan dimakan olehnya. Dia tidak mati, kau yang mati. Sekarang kau paham tidak aturan ini?”
Siau hi ji mengangguk, jawabnya, “Ehm!”
“Bilamana tadi kau turun tangan lebih dulu, tentu kau takkan terluka separah ini,” ujar Toh Sat. “Nah, mana kala kau tidak boleh tidak harus turun tangan, mengapa kau menunggu dia menyerang lebih dulu? Memangnya kau lebih g*blok daripada anjing?”
“Ya, lain kali... lain kali aku sudah tahu,” kata Siau hi ji.
“Asal tahu saja,” ucap Toh Sat. “Tapi kau perlu ingat pula, setiap manusia di dunia ini sama saja dengan anjing ini, kau mesti turun tangan lebih dulu, jangan sampai didahului orang lain. Nah, paham?”
“Ehm!” kembali Siau hi ji mengangguk.
“Kau takkan lupa?” Toh Sat menegas.
“Selamanya takkan lupa,” jawab Siau hi ji.
Toh Sat menatap tajam anak ini, tersembul senyuman puas pada ujung mulutnya.
Karena lukanya itu, hampir setengah bulan Siau hi ji berbaring di tempat Ban Jun liu, setelah mendapat perawatan tabib itu, akhirnya ia pun dapat berjalan.
Mukanya memang sudah ada codet, bekas luka, kini tubuhnya banyak bertambah lagi bekas luka.
Selang dua hari, kembali Toh Sat membawanya pergi dan mengurungnya di rumah itu. Di dalam rumah ada pula seekor anjing yang jauh lebih besar dari pada anjing sebelumnya.
“Kau membawa pisau itu?” tanya Toh Sat.
Siau hi ji hanya mengangguk saja, mukanya pucat dan tak sanggup bicara.
“Baik, bunuh pula anjing ini!” kata Toh Sat.
“Tapi... tapi anjing ini ter... teramat besar.”
“Kau takut?” tanya Toh Sat.
“Ya, ta... takut,” berulang-ulang Siau hi ji manggut-manggut.
“Hm, percuma!” omel Toh Sat dengan gusar. “Krek”, mendadak ia keluar rumah dan menggembok pintu dari luar.
Beberapa lama kemudian, suara gonggong anjing di dalam rumah semakin keras, tapi selang tak lama suara itu lantas berhenti. Waktu Toh Sat membuka pintu, anjing itu sudah mati dan Siau hi ji masih hidup.
Sekali ini meski sekujur badan anak itu pun berlumuran darah, tapi tidak merangkak lagi melainkan sudah mampu berdiri tegak, walaupun matanya mengembeng air mata, namun bibir tergereget dan berseru dengan lantang, “Sudah kubunuh dia, tujuh belas kali tikaman.”
“Kau masih takut tidak?” tanya Toh Sat.
“Anjing sudah mati, sudah tentu aku tidak takut lagi, tapi tadi...”
“Ya, paham,” sahut Siau hi ji sambil mengangguk.
“Tahukah mengapa kau terluka?”
Siau hi ji menunduk, katanya, “Sebab aku takut, maka tak berani turun tangan lebih dulu.”
“Jika begitu, apakah lain kali kau tetap takut?”
“Tidak, takkan takut lagi,” jawab Siau-hi-ji tegas sambil mengepal.
Kembali tersembul senyuman Toh Sat sambil memandang anak didiknya itu.
Sekali ini luka Siau hi ji dapat sembuh dengan cepat, tapi begitu dia sudah sehat, segera pula Toh Sat memasukkannya ke rumah itu. Anjing yang berada di situ juga semakin buas, dan makin lama makin besar.
Namun luka yang diderita Siau hi ji makin lama justru semakin ringan, sembuhnya juga semakin cepat.
Sampai keenam kalinya, waktu Toh Sat membuka pintu rumah itu, ternyata isinya bukan lagi anjing melainkan seekor serigala kecil.
Karena itu kembali Siau hi ji terbaring di rumah tabib Ban, makan obat, tiada hentinya makan obat. Suatu hari datanglah Ha ha ji menengoknya, Siau hi ji ingin tertawa tapi tak bisa.
“Ternyata betul Siau hi ji berbaring di sini,” kata Ha ha ji dengan tertawa, “Haha, rupanya serigala tidak doyan ikan kecil.”
“Paman tertawa, semoga engkau jangan marah ya?” kata Siau hi ji.
“Marah apa?” tanya Ha ha ji bingung.
“Sesungguhnya aku ingin tertawa, cuma... cuma bila tertawa badanku lantas terasa sakit, terpaksa aku tak dapat tertawa.”
“Hahaha, anak bodoh,” ucap Ha ha ji sambil bergelak. “Kuberitahu, pada waktu pamanmu ini tertawa, terkadang badanku juga terasa sakit, tapi semakin sakit rasa badanku, semakin ngakak pula tertawaku.”
Siau hi ji berkedip-kedip, tanyanya kemudian, “Sebab apa begitu?”
“Kau harus tahu bahwa tertawa bukan saja obat mujarab, tapi juga senjata... senjata yang paling ampuh, selamanya belum pernah kutemukan senjata lain yang lebih ampuh daripada tertawa.”
“Senjata?” Siau hi ji menegas dengan terbelalak.
“Memangnya dengan tertawa saja dapat membunuh serigala?”
“Hahaha, bukan saja dapat membunuh serigala, bahkan juga dapat membunuh manusia!” seru Ha ha ji.
Siau hi ji berpikir sejenak, katanya kemudian sambil menggeleng, “Aneh, aku tidak paham.”
“Coba katakan, apakah kau tahu sebab apa setiap kali kau mengalami luka?”
“Aku tidak tahu, padahal aku sudah ti... tidak takut lagi,” jawab Siau hi ji. “Mungkin disebabkan kungfuku masih rendah, tak dapat sekali tikam membinasakannya.”
“Sebab apa kau tidak dapat membinasakannya dengan sekali tikam?” tanya Ha ha ji pula.
“Yaitu karena kungfuku belum...”
“Bukan lantaran kungfumu, tapi karena kau tidak tertawa,” ujar Ha ha ji dengan bergelak. “Meski binatang itu, anjing maupun serigala, tidak dapat bicara, tapi mereka pun tahu urusan, begitu kau masuk rumah segera mereka tahu kau tak berniat baik pada mereka dan mulai waswas padamu, sebab itulah biarpun kau turun tangan lebih dulu juga tiada gunanya.”
Siau hi ji mendengarkan dengan penuh perhatian dan berulang-ulang mengangguk, katanya, “Ya, tepat sekali.”
.