Legendary Siblings

Legendary Siblings
42. Juragan Muda



"Kudamu ini harganya tidak sampai delapan puluh tahil perak, mutiara ini..."


"Paling tinggi sepuluh tahil," sambung Siau hi-ji.


Tho-hoa jadi melengak malah, tanyanya, "Jadi kau... kau pun tahu?"


"Orang pintar seperti diriku ini masakah tidak tahu," jawab Siau hi-ji dengan tertawa.


"Sudah tahu mengapa kau kena tipu?"


"Tertipu terkadang berarti menarik keuntungan," ujar Siau hi-ji sambil memicingkan mata.


Tho-hoa memandang Siau hi-ji dengan mata melotot laksana sedang memandang sesuatu makhluk yang aneh dan ajaib. Sungguh selama hidupnya belum pernah melihat bocah seaneh ini.


Bunga mutiara imitasi yang baru dibelinya itu lantas ditancapkannya pada ikal rambut si Tho-hoa, lalu Siau hi-ji berkata, "Cici yang baik, jangan marah ya! Lihatlah betapa cantiknya engkau memakai bunga mutiara ini, sungguh mirip seorang putri. Cuma sayang, di sini tidak ada pangeran yang cocok bagi sang putri."


"Bukankah kau ini sang pangeran bodoh!" demikian Tho-hoa berseloroh.


Siau hi-ji berkedip-kedip pula, katanya, "Kau bilang aku bodoh, sebentar lagi tentu kau akan tahu bahwa aku tidaklah bodoh. Sebentar lagi orang yang menipu aku tadi pasti akan lebih konyol tertipu olehku."


"Mereka akan tertipu olehmu?" tanya Tho-hoa heran.


Siau hi-ji hanya tertawa tanpa menjawab. Ia tepuk leher kuda putih yang baru dibelinya dan berkata, "Kuda yang baik, lekas keluar dan berdiri di sana agar orang-orang itu datang kemari dan masuk perangkapku."


Kuda itu meringkik perlahan, seperti tahu kehendak tuannya, benar juga lantas menerobos keluar kemah, tapi Siau hi-ji tetap memegangi ekornya agar tidak jauh meninggalkan perkemahan.


Dengan gegetun Tho-hoa berkata, "Ai, kau benar-benar anak ajaib, apa yang kau katakan selalu tidak dipahami orang dan apa yang kau lakukan tentu sukar ditebak."


Belum lagi Siau-hi-ji menjawab, tiba-tiba terdengar suara ribut di luar kemah. Seorang bersuara serak sedang berteriak, "He, tuan muda yang membeli kuda tadi apakah berada di dalam kemah?"


Siau hi-ji berkerut hidung terhadap Tho-hoa, katanya dengan tertawa, "Itu dia orang yang mau masuk perangkapku telah datang sendiri!" Mendadak ia dorong Tho-hoa ke dalam selimut, katanya, "Baik-baik berbaring di sini, sayang, jangan bersuara."


Tentu saja Tho-hoa merasa bingung dan ingin bicara, namun sebelum membuka mulut, tahu-tahu Siau hi-ji sudah menyelubungi kepalanya dengan selimut sambil berseru, "Aku berada di sini, silakan masuk!"


Yang masuk sedikitnya ada belasan orang, dipimpin oleh si jangkung penjual kuda tadi.


Belasan orang itu sama membawa bungkusan besar kecil masing-masing, bungkusan yang dibawa si buntak yang menjual bunga mutiara itu adalah terbesar sehingga dia seakan-akan menjadi satu gumpalan bersama bungkusannya itu.


Siau hi-ji sengaja berkerut kening dan menegur, "He, apa-apaan kalian? Barang sebanyak ini..."


Si jangkung munduk-munduk dan menjawab dengan menyeringai, "Hehe, kata peribahasa, barang baik harus dijual pada yang mengerti. Ketika kawan-kawan ini mendengar tuan muda adalah seorang ahli membeli barang, berbondong-bondong mereka pun ingin memperlihatkan barang dagangan baik mereka kepadamu."


"Hihi, kalian tidak menipu aku, bukan?" Siau hi-ji berolok dengan tertawa.


Cepat si jangkung menanggapi, "Ah, mana bisa jadi, mana bisa jadi... Ayolah, lekas membuka bungkusan kalian dan perlihatkan kepada tuan muda kita."


Belum habis ucapannya, serentak bungkusan besar kecil itu sudah dijereng di depan Siau-hi-ji.


Barang baik dalam bungkusan-bungkusan ini memang tidak sedikit, ada mutiara mestika, ada perhiasan tulen, ada kulit binatang yang mahal, ada Siahio (bibit wewangian dari kelenjar binatang sebangsa serigala) dan macam-macam lagi, pada hakikatnya barang-barang ini baru saja mereka beli dari orang-orang Tibet tadi.


"Ehm, barang-barang ini tidak jelek, aku ingin beli semuanya," kata Siau hi-ji dengan tertawa.


Belasan orang sama tertawa gembira hingga mulut mereka seakan-akan sukar terkatup kembali, serentak mereka berseru, "Alangkah baiknya tuan muda beli seluruhnya."


Beramai-ramai belasan orang itu lantas meringkasi belasan bungkusan kecil itu menjadi satu sehingga bungkusannya sekarang lebih besar dari pada Siau hi-ji, mungkin sekali sukar diangkat oleh orang biasa.


Habis itu, belasan orang itu lantas berdiri tegak dan menunggu pembayarannya. Namun Siau hi-ji seperti tidak ambil pusing, ia bersiul-siul kecil sendirian seperti tak pernah terjadi apa-apa.


Akhirnya si buntak tidak tahan, katanya, "Tuan muda, harga... harga barang..."


"O, kau minta pembayaran? Apa susahnya? Berapa, katakan saja sesuka kalian!" ujar Siau hi-ji dengan tertawa.


Beramai-ramai belasan orang itu lantas menyebut harga barang bawaannya masing-masing, sudah tentu harga yang mereka sebut sedikitnya tujuh atau delapan kali lipat daripada nilai yang sebenarnya.


Tho-hoa tidak tahan lagi mendengar harga-harga yang disebut itu, dia ingin melompat keluar, tapi kepalanya ditahan oleh tangan Siau-hi-ji sehingga tak dapat berkutik.


Didengarnya Siau hi-ji lagi berkata dengan tertawa, "Dan total jenderal menjadi berapa?"


Rupanya si jangkung memang ahli hitung cepat, dalam sekejap saja ia dapat menjumlah seluruhnya dan berseru, "Total seluruhnya menjadi enam ribu enam ratus tahil perak."


"Ah, harga ini tidak betul," tiba-tiba Siau hi-ji menggeleng.


Si buntak dan si jangkung sudah pernah mendengar kalimat ini, mereka tahu sang juragan muda mempunyai kebiasaan menambah satu kali lipat dari harga yang disebut, sudah barang tentu orang lain juga sudah mendengar akan sifat baik dan kebiasaan baik sang juragan muda kita. Maka mereka sama menjawab dengan mengiring tawa, "Ya, ya, harga tersebut tidak betul, terserah saja kepada juragan muda."


"Terserah padaku?" Siau hi-ji menegas. "Tapi jangan-jangan kalian..."


"Kami pasti setuju," cepat beberapa orang memotong.


"Jika begitu..." Siau hi-ji sambil merogoh bungkusan di pinggangnya, "baiklah, menurut perhitunganku, harga barang-barang kalian total jenderal kubayar..." pandangan semua orang sama terbelalak mengikuti gerak jari Siau hi-ji, terlihat dua jarinya menjepit sepotong kecil daun emas, lalu menyambung pula dengan tertawa, "kubayar seluruhnya satu tahil emas kepada kalian."


Baru sekarang belasan orang itu melenggong, dengan menyeringai dan tergagap-gagap si jangkung berkata, "Tuan... tuan muda janganlah bercanda."


Tiba-tiba Siau hi-ji menarik muka, katanya, "Kan pernah kukatakan bahwa emas tidak suka bercanda. Kalian sendiri bilang terserah padaku, bahkan menyatakan pasti setuju. Sekarang sudah terlambat biarpun kalian merasa menyesal."


Ia lemparkan potongan kecil emas itu ke tanah, bungkusan besar tadi terus diangkatnya dan hendak melangkah pergi.


Padahal bungkusan itu jauh lebih besar daripada tubuhnya, namun sedikit pun ia tidak buang tenaga untuk mengangkatnya.


Sekarang Tho-hoa baru tertawa geli, diam-diam ia menongolkan kepalanya, dilihatnya belasan orang itu sama terkesima. Tapi segera mereka membentak gusar dan mengejar keluar.


"Penipu kecil, kembalikan barang kami!" demikian orang-orang itu sama berteriak.


Lalu terdengar Siau hi-ji menjawab, "Siapa penipu? Kalian sendirilah penipu."


Menyusul lantas terdengar serentetan suara orang menjerit kesakitan dan teriakan minta tolong, berbareng terdengar pula suara gedebukan seperti jatuhnya benda berat.


Tho-hoa bersabar sejenak, akhirnya ia tidak tahan dan segera melompat bangun dan berlari keluar, terlihatlah belasan orang tadi tiada satu pun yang berdiri, semuanya roboh terguling.


Belasan laki-laki kekar itu telah dihajar Siau hi-ji hingga babak-belur, ada yang mukanya bengkak, ada yang hidungnya keluar kecap, ada yang patah tulang kakinya, semuanya menggeletak di tanah dan tidak sanggup bangun.


Mau tak mau Tho-hoa melongo kaget juga, ia tahu kaum musafir yang berani berdagang ke daerah terpencil ini rata-rata bertenaga besar dan mahir beberapa jurus.


Sungguh sama sekali tak pernah terpikir olehnya bahwa si anak aneh itu ternyata memiliki kepandaian setinggi itu, belasan lelaki kuat itu dapat dirobohkan sekaligus.


Sekian lamanya Tho-hoa termangu-mangu, ketika kemudian ia berpaling, cahaya sang surya cerlang-cemerlang menyinari padang rumput, namun si anak ajaib dengan kuda putih yang baru dibelinya itu sudah tak kelihatan lagi.