Legendary Siblings

Legendary Siblings
55. Ternyata perempuan



"Kutahu kau selamanya takkan melupakan diriku, terhadap lelaki pertama yang memukulnya, perempuan itu memang tidak pernah melupakannya. Tapi dapat menjadi orang yang selalu kau pikirkan, betapa pun aku merasa bahagia," lalu Siau hi-ji menyambung pula dengan tertawa, "Sekarang pukulan ketiga. Tadi tamparanmu yang ketiga kalinya sangat ringan, maka aku pun tidak tega membalas dengan terlalu keras. Bagaimana menurut pendapatmu?"


"Kau... kau m*mpus saja!" teriak Siau sian-li dengan murka.


Mata Siau hi-ji tampak berkedip-kedip, katanya kemudian, "Baiklah, begini saja dan anggap lunas, siapa pun tidak utang siapa-siapa lagi." Sambil menatap wajah si nona, perlahan ia menundukkan kepalanya.


Jantung Siau sian-li berdetak keras dan tubuhnya gemetar, serunya dengan terputus-putus, "Kau... kau mau apa?"


"Kau memukul aku dengan tangan, kubalas pukul kau dengan mulut, jadinya kan jauh lebih ringan daripada memukul dengan tangan?" ucap Siau hi-ji.


"Kau... berani? Kau... bangs*t kau...." Siau sian-li berteriak khawatir.


Akan tetapi muka Siau hi-ji sudah dekat, malahan anak muda itu terus mengangkat dagu Siau sian-li hingga mulut berhadapan dengan mulut, lalu dengan perlahan diciumnya mulut yang mungil itu.


Mendadak Siau sian-li tidak berteriak, tapi terkesima seperti patung.


Sebaliknya Siau hi-ji lantas berkata dengan gegetun, "Ai, paling usiamu juga cuma 15-16 tahun, mana bisa kau menjadi bibiku, jadi biniku saja kukira mendingan. Mulutmu yang manis ini biarpun kucium 10 kali sehari juga takkan membosankan."


Mata Siau sian-li mendelik, katanya dengan sekata demi sekata, "Jika kau berani mengusik diriku lagi sekali, kupasti akan membunuhmu, pasti!"


"Jangan khawatir, aku takkan mengusik kau lagi," jawab Siau hi-ji dengan begelak tertawa.


"Perempuan galak macam dirimu ini, diberikan gratis padaku juga aku tidak mau. Kukira lelaki mana kelak yang mengambil macan betina seperti dirimu ini sebagai istri, pasti dia bakal sial dangkalan selama hidup."


Mendadak Siau sian-li berteriak dengan suara serak, "Kau bunuh saja aku! Paling baik kau bunuh aku sekarang, kalau tidak, kelak kau yang akan mati di tanganku. Aku akan membuat kau mati dengan perlahan, mati dengan sedikit demi sedikit."


Siau hi-ji tidak menanggapi lagi, ia terbahak-bahak, lalu melangkah ke sana dan menuntun kudanya.


"Mengapa kau tidak membunuh aku? Mengapa?" teriak Siau sian-li pula. "Sekarang kau tidak membunuh aku, pada suatu hari kelak kau pasti akan menyesal. Aku bersumpah, kau pasti akan menyesal kelak."


Akan tetapi Siau hi-ji tidak mempedulikannya lagi, ia terus melangkah pergi tanpa memandangnya pula.


Menyaksikan kepergian Siau hi-ji itu, akhirnya Siau sian-li tidak dapat menahan perasaannya lagi, ia menangis tergerung.


Dari kejauhan terdengar suara Siau hi-ji sedang bersenandung, "Siau sian-li, sedang sedih, air mata menetes, ingus meleleh, melihat itu, Siau hi-ji berkeplok gembira..."


Begitulah sembari berjalan Siau hi-ji terus bernyanyi secara bebas. Tiba-tiba ia merasa suara sendiri lumayan juga, sedikitnya jauh lebih merdu daripada suara tangisan Siau sian-li.


Sampai suara tangisan Siau sian-li sudah tak terdengar lagi, nyanyian tak bersemangat pula, ia meraba-raba pipi sendiri dan menghela napas, lalu meraba mulut, tak tahan lagi ia tertawa.


Macan betina tadi sungguh galak, tamparannya sungguh tidak ringan, sampai sekarang pipinya masih terasa sakit pedas, Tapi mulutnya juga manis, rasa manis ciumannya itu seakan masih terasa pada bibirnya.


Sekonyong-konyong ia bergelak tertawa terus berlari ke depan, lari punya lari, si kuda putih mulai megap-megap lagi.


Mendadak Siau hi-ji berhenti, lalu menjatuhkan diri di bawah udara terbuka, di tengah padang rumput terbuka, di tengah padang rumput yang luas, ia memang sudah teramat lelah, tanpa terasa akhirnya ia terpulas.


Selagi ia hendak mulai mencium, mendadak Saiu sian-li melompat bangun dan menamparnya... Ah, tidak, memang benar ada orang sedang menampar pipinya. Jangan-jangan Siau sian-li telah menyusul tiba pula?!


Serentak ia terjaga bangun, tapi yang tertampak adalah Thi Sim-lam, yang memukulnya juga Thi Sim-lam. Rupanya air ember yang tumpah tadi ada sebagian muncrat ke muka si nona sehingga dia dapat siuman lebih dulu.


Di bawah cahaya bintang yang remang wajah Thi Sim-lam kelihatan pucat dan penuh rasa gusar, matanya yang jeli itu sedang melototi Siau hi-ji.


"Setan cilik, ada kalanya kau tertidur juga dan suatu saat kau pun jatuh dalam cengkeramanku," demikian ucap Thi Sim-lam dengan menggereget.


Siau hi-ji ingin melompat bangun, tapi celaka, ternyata tak bisa bergerak sama sekali, rupanya Hiat-to penting telah kena ditotok orang. Tapi ia pun tidak kaget dan tidak gusar, juga tidak cemas, ia malah tertawa dan berkata, "He, aku sedang mimpi, kau telah mengganggu dan membuat kuterjaga bangun, kau harus memberi ganti rugi. Tadi aku diharuskan mencium orang seratus kali, maka kau harus pula kucium seratus kali."


Mendadak tubuh Thi Sim-lam tergetar, jeritnya, "Tadi kau telah berbuat apa atas diriku?"


"Haha, tidak berbuat apa-apa," jawab Siau hi-ji dengan tertawa. "Aku cuma menggeledahi tubuhmu dari kaki sampai kepala, secara teliti kugeledah dengan merata, satu tempat pun tidak kelewatan."


Tubuh Sim-lam tambah gemetar, mukanya juga merah padam, tapi dia berdiri mematung tanpa bersuara lagi.


Siau hi-ji mengedip, katanya dengan gegetun, "Ai, mengapa tidak sejak mula kau beritahu padaku bahwa kau ini perempuan? Jika tahu kan tidak sampai kugeledahi tubuhmu. Tapi, ai, kini urusan sudah kadung demikian. Kau harus maklum, biarpun usiaku masih kecil, betapa pun aku ini kan lelaki, mana aku tahan me... melihat...."


"Tutup mulutmu! Segera kubunuh kau jika berani bicara lagi!" teriak Thi Sim-lam.


"Apa pun juga kan sudah kulakukan, bicara dan tidak apa bedanya?" sahut Siau hi-ji dengan tertawa.


Sampai berkeriut gigi Thi Sim-lam saking geregetan, air mata pun berlinang-linang.


"Hah, tampaknya tiada jalan lain kecuali kau jadi biniku saja," ujar Siau hi-ji pula dengan muka membadut. "Terpaksa aku, pun mengambil istri yang lebih tua daripadaku. Ai, kalau aku berumur 30-an, rasanya kau pun sudah hampir menjadi nenek-nenek."


Mendadak Thi Sim-lam mencabut belatinya, ancamnya dengan suara terputus-putus, "Kau... kau hendak meninggalkan pesan apalagi, lekas katakan!"


Mata Siau hi-ji terbelalak lebar, serunya, "He, kau hendak membunuh aku? Seum... seumpama kau ingin kawin dengan orang lain kan bukan soal bagiku, kujamin pasti kusetujui dan mengapa kau mesti membunuhku?"


"Jika tiada pesan apa-apalagi, segera kubunuh kau!" ucap Thi Sim-lam dengan menggereget, tiba-tiba ia berpaling ke arah lain dan menambahkan, dengan suara haru, "Tapi kau pun jangan... jangan khawatir, aku pasti tidak akan kawin lagi dengan orang lain."


Hampir ngakak geli Siau hi-ji mendengar ucapan si nona, tapi terasa sukar juga untuk tertawa, bahkan tak dapat tertawa, sebaliknya malah hampir menangis, si nona ternyata percaya penuh bualannya tadi. Ai, dasar perempuan! O, perempuan.... Sebenarnya kau pintar atau bodoh?


Kemudian Siau hi-ji berkata dengan menyengir, "Kuharap engkau suka kawin lagi dengan orang lain, siapa yang kau sukai boleh kau kawini dan tidak soal bagiku, asalkan tidak mengawini aku saja."


"Ini... inikah perkataanmu yang terakhir? Baik..." ucap Thi Sim-lam dengan suara serak, segera ia angkat belatinya terus menikam ke hulu hati Siau hi-ji.


"He, nanti dulu, nanti dulu!" teriak Siau hi-ji. "Masih ada sesuatu ingin kukatakan."


"Lekas, lekas bicara!" desak Thi Sim-lam.