
Waktu melihat kedua orang ini, kelima orang yang datang lebih dulu sama melotot. Sedang kedua pendatang belakang itu bermaksud mengkeret keluar lagi demi melihat rombongan yang duluan, namun terlambat karena sudah telanjur dilihat orang.
Siau hi-ji merasa tertarik, ia sengaja mengintip dari luar untuk mengetahui apa yang bakal terjadi. Ia pikir kedua rombongan ini mungkin adalah musuh dan bukan mustahil segera terjadi pertarungan.
Tak terduga kedua rombongan orang itu ternyata tiada niat saling labrak, mereka hanya saling melotot saja seperti jago aduan.
Di antara kelima orang yang datang duluan itu adalah seorang yang bopeng mukanya, mukanya bengkak hingga lubang-lubang burik di mukanya hampir tak jelas lagi.
Mendadak orang ini tertawa dan mengejek "Hehehe, para pengawal dari perusahaan An-se biasanya tidak pernah kehilangan barang, mengapa sekarang daun telinga sendiri juga hilang, sungguh kejadian maha aneh."
Karena tertawa, mukanya yang bengkak itu menjadi kesakitan sehingga lucu tampaknya, entah sedang tertawa atau lagi menangis, mungkin lebih tepat dikatakan sedang meringis.
Kedua orang yang datang belakangan itu jadi gusar karena diolok-olok, seorang yang mukanya ada bekas luka lantas balas menyindir, "Huh, kalau muka sudah bengkak ditempeleng orang, sebaiknya jangan tertawa, kalau tertawa kan bisa kesakitan."
"Kau bilang apa?" bentak si burik tadi sambil gebrak meja.
"Hahaha, kutu busuk tidak perlu mengejek walang sangit, kan sama-sama bau?" jawab si muka codet.
Si burik lantas melompat bangun dan bermaksud ke sana, si muka codet juga siap tempur dengan menyeringai.
Diam-diam Siau hi-ji merasa senang karena kedua orang itu bakal saling labrak.
Tak tahunya sebelum kedua orang itu berbaku hantam, mereka cepat dicegah lebih dulu oleh kawannya masing-masing.
Yang menarik tangan si burik adalah seorang tua berjenggot, usianya mungkin paling tua, namun mukanya paling ringan bengkaknya dibandingkan keempat kawannya.
Dengan tertawa ia berusaha melerai, katanya dengan tertawa meringis, "An-se Piaukiok(perusahaan) dan Ting-wan Piaukiok sama-sama usaha pengawalan, adalah wajar jika biasanya suka bersaing dan berebut langganan, soalnya kan dagang, layak. Tapi apa pun juga kita sesama orang dari daerah Tionggoan, sebisanya jangan sampai kita bergebrak di sini sehingga mengurangi persaudaraan kita sebagai sesama bangsa."
Lelaki jangkung yang mencegah kawannya si codet itu juga meringis dan menjawab, "Ucapan tuan Auyang memang tidak salah, kita dikirim oleh kantor pusat ke tempat miskin begini, betapa pun kita sudah sial dan sama-sama kecewa, mengapa kita harus saling ejek dan bertengkar!?".
"Apalagi sekarang kita sama-sama terjungkal di tangan orang yang sama pula, seharusnya kita bersatu menghadapi musuh, mana boleh saling sindir, kan dijadikan buah tertawaan orang lain saja?" kata orang she Auyang itu.
"O, jadi kalian juga kena dikerjai dia..." seru si jangkung melengak.
"Siapalagi kalau bukan dia (perempuan)?" ucap si tua sambil menyengir. "Selain dia, siapalagi yang mampu mengerjai kita secara membingungkan ini? Ai, hari ini kita benar-benar terjungkal habis-habisan."
Setelah berkata demikian, ketujuh orang itu sama menghela napas, lalu duduk semua.
Karena mukanya bengkak sehingga tidak jelas lagi terlihat bagaimanakah perasaan orang-orang itu, namun mata mereka yang melotot itu penuh mengandung rasa benci dan dendam.
Tiba-tiba si muka burik menggebrak meja pula dan berseru dengan gemas, "Jika ada sebabnya kita rela dianiaya oleh budak itu, konyolnya tanpa sebab musabab budak itu terus melabrak kita."
"Ai, sudahlah," ujar si tua she Auyang, "di dunia Kangouw ini memang biasa terjadi kakap makan teri, yang lemah menjadi mangsa yang kuat. Bukanlah kusengaja memuji orang lain dan merendahkan kita sendiri, sesungguhnya kepandaian kita memang tiada sepersepuluh bagian orang, biarpun teraniaya, terpaksa kita terima nasib."
"Hehe, melihat bentuk anak itu, tampaknya dia sendiri juga mengalami gangguan orang di tempat lain," kata si jangkung tiba-tiba dengan tertawa. "Kelihatan matanya merah seperti habis menangis, bahkan kuda kesayangannya pun tidak kelihatan. Ya, kita sendirilah yang sial sehingga kebetulan kepergok dia selagi dia sendiri sedang gusar, maka kita yang dijadikan pelampiasan dongkolnya."
Beberapa orang itu lantas terbahak-bahak walaupun tertawanya meringis, karena muka sakit, namun mereka benar-benar tertawa gembira seakan dengan begitu sudah terlampias rasa dendam mereka.
Sampai di sini Siau hi-ji sudah dapat menebak bahwa "anak" yang dimaksud mereka itu pastilah Siau sian-li Thio Cing.
Keahlian Siau sian-li dalam hal menempeleng sudah dirasakan sendiri oleh Siau hi-ji. Akan tetapi caranya Siau sian-li menghajar orang-orang ini jelas terlebih keras daripada waktu menampar Siau hi-ji tempo hari.
Dapat diduganya si nona pasti menderita semalam suntuk di pinggir sumur itu, maka rasa dongkolnya lantas dilampiaskan seluruhnya terhadap beberapa orang yang sial ini.
Makin dipikir makin geli Siau hi-ji. Akan tetapi mendadak suara tertawa ketujuh orang itu sama berhenti, yang meringis tetap meringis, yang pentang mulut tetap terpentang, bentuk wajah mereka yang aneh itu seketika membeku seperti terkena ilmu sihir.
Sorot mata mereka sama menatap keluar pintu, bahkan butiran keringat lantas timbul di dahi mereka.
Ternyata "Siau sian-li" Thio Cing sudah berdiri di luar dengan bertolak pinggang, katanya dengan sekata demi sekata, "Kusuruh kalian mencari orang, siapa yang suruh kalian minum arak di sini?"
Jantung Siau hi-ji serasa mau meloncat keluar dari rongga dadanya, namun sedapatnya ia menenangkan diri sambil mundur selangkah demi selangkah. Sudah tentu ia tahu orang yang hendak dicari Siau sian-li seperti apa yang dikatakannya itu adalah dia sendiri.
Syukur waktu itu sudah malam, di dalam rumah ada sinar lampu, tapi di luar sangat gelap. Ia terus mundur menyusuri pojok tembok sana sehingga tiba di kandang kuda. Bukan cuma orangnya saja, tidak boleh terlihat oleh Siau sian-li, bahkan kudanya juga tidak boleh dilihatnya. Celakanya kudanya ini kuda putih, putih mulus mencolok.
Tanah di pinggir kandang itu basah becek, cepat Siau hi-ji meraup dua genggam lumpur terus dilumurkan pada kuda putih. Kuda itu bermaksud meringkik, cepat ia menjejalkan secomot rumput ke mulutnya sambil menepuk kepalanya dan berkata perlahan, "Sawi Putih, janganlah bersuara. Habis siapakah yang suruh kau dilahirkan seputih ini, hakikatnya jauh lebih putih daripada Thi Sim-lan."
Sembari berucap tangannya terus, bekerja, hanya sekejap saja kuda putih sudah berubah menjadi kuda belang. Siau hi-ji merasa geli melihat hasil karyanya itu. Sisa lumpur pada tangannya itu segera digosokkan pada ekor kuda, lalu ia menyelinap kembali ke kamarnya.
Kamarnya belum ada penerangan, namun Thi Sim-lan sudah mendusin, kedua biji matanya terbelalak laksana lentera, begitu nampak Siau hi-ji masuk, mendadak ia cengkeram pundak anak muda itu dan bertanya dengan suara serak, "Mana sepatuku?"
"Sepatu?" Siau hi-ji menegas. "Maksudmu sepatu kulit itu?"
"Ya," jawab Thi Sim-lan dengan tidak sabar.
"Sepatu itu sudah bolong, sudah kubuang ke selokan," ucap Siau hi-ji.
Thi Sim-lan tergetar, serunya dengan suara terputus-putus, "Kau... kau membuangnya?"
"Ya, sepatu butut begitu, diberikan kepada pengemis juga belum tentu dia mau, kenapa harus kau sayangi? Jangan khawatir, sudah kubelikan sepasang sepatu baru, sedikitnya sepuluh kali lebih bagus daripada sepatu bututmu itu."
Thi Sim-lan meronta turun dari tempat tidur dan berseru, "Kau buang ke mana? Ayo lekas kita mencarinya kembali!"
"Sudahlah, buat apa dicarinya lagi?" kata Siau hi-ji sambil menarik tangan si nona.
"Ai, kau ini sungguh pantas m*mpus!" teriak Sim-lan dengan membanting kaki. "Tahukah kau di dalam sepatuku itu ter... tersimpan..."
"Tersimpan apa?" tanya Siau hi-ji sambil berkedip-kedip.
"Ialah barang... barang yang diperebutkan itu... Jiwaku hampir melayang lantaran mempertahankan barang itu, tapi kau malah membuangnya begitu saja, lebih baik... O, lebih baik aku mati saja."