Legendary Siblings

Legendary Siblings
86. Fitnah Keji



Kiranya dari belakang Hwe pian-hok itu tiba-tiba muncul seorang.


Tampaknya orang ini juga tiada sesuatu yang istimewa, tapi matanya melotot dan besarnya luar biasa serta bercahaya.


Dengan tertawa si baju kelabu lantas berkata, "Kalau Hwe pian-hok berada di sini, dengan sendirinya Niau thau-eng takkan berada jauh. Lain kali kalau kau bicara dengan orang yang berdiri di depan, janganlah lupa memperhatikan belakangnya."


Sepasang mata Niau thau-eng tampak melotot kepada Siau hi-ji, katanya dengan terkekeh-kekeh, "Hehehe, sungguh aku ingin tanya kalian, cara bagaimana kalian dapat menemukan tempat ini?"


Kalau dia tidak bicara memang tidak menarik, sekali dia membuka suara, benarlah namanya sesuai dengan julukannya, suaranya memang mirip burung hantu.


Siau hi-ji berkedip-kedip, jawabnya, "Pakai tanya lagi, bukankah kau yang memberi tahu padaku?"


Niau thau-eng, si kokokbeluk, melengak, "Aku yang memberitahukan padamu?"


"Memangnya siapa lagi kalau bukan kau?" ucap Siau hi-ji. "Peta harta karun tinggalan Yan Lam-thian hanya satu helai, kalau bukan kau yang memberitahukan kami, cara bagaimana kami dapat menemukan tempat ini? Malahan kau minta bantuan kami untuk membinasakan Hwe pian-hok supaya kau dapat mencaplok sendiri harta karun ini, mengapa sekarang kau ingkar janji dan pura-pura tidak tahu? Apa barangkali kau sudah mendapatkan bala bantuan yang lain lagi?"


Anak muda itu bicara dengan mendelik sambil bertolak pinggang, lagaknya seperti bersungguh-sungguh dan tak bisa dibantah.


Keruan tidak kepalang gusar si kokokbeluk, dampratnya, "Kau setan alas, sekecil ini usiamu, tapi sudah pandai memfitnah, kalau sudah besar bukankah akan jauh lebih jahat daripada gurumu?"


"Betul, sebaiknya lekas kau membunuh aku agar tiada saksi dan tiada bukti lagi," ucap Siau hi-ji.


"Aku justru ingin membinasakan kau keparat jahanam ini!" teriak Niau thau-eng dengan murka, berbareng kedua tangannya dengan jari-jarinya yang tajam terus mencakar ke dada dan tenggorokan Siau hi-ji.


Tapi sedikit pun Siau hi-ji tidak bergerak, maklumlah kalau sembarangan bergerak, ia khawatir kawanan si 'cantik' yang merayapi tubuhnya itu akan menggigit dan itu berarti akan tamatlah riwayatnya.


Syukurlah pada detik berbahaya itu, tiba-tiba sesosok bayangan menyelinap maju dan menghadang di depannya, kiranya si kalong yang bertindak membelanya sambil membentak, "Mengapa kau turun tangan sekeji ini kepada seorang anak kecil?"


Terpaksa Niau thau-eng menarik mentah-mentah serangannya, teriaknya dengan gemas, "Mengapa kau merintangi aku? Jangan-jangan kau percaya pada ocehan setan cilik ini?"


"Aku cuma rada heran, jelas peta wasiat ini hanya ada satu lembar dan cuma kita berdua saja yang tahu, mengapa orang-orang ini dapat datang pula ke sini?" kata Hwe pian-hok dengan hambar.


"Kita sudah bersahabat karib selama lebih dua puluh tahun, masakah kau tidak percaya padaku?" teriak Niau thau-eng dengan parau.


"Sudah biasa orang buta diakali orang melek, mau tak mau rasa curiganya juga besar," ucap Hwe pian-hok.


"Bagus, tampaknya kau sendiri yang ingin mencaplok harta karun ini, makanya mencari alasan untuk menumpas kawan sendiri," kata Niau thau-eng dengan gemas. "Hm, sebenarnya sudah lama kudengar si kalong buta sukar dipercaya, sayangnya aku tidak percaya kepada nasihat orang, sekarang ternyata..." belum habis ucapannya, mendadak Hwe pian-hok memukul dari jauh sehingga obor padam seketika.


Agar tidak ketiban pulung, cepat Siau hi-ji melompat mundur.


Pada saat itulah mendadak terdengar Niau thau-eng menjerit kaget, "Bagus, bagus, kau benar-benar turun tangan keji!" Menyusul lantas terdengar pula serentetan angin pukulan dahsyat.


Diam-diam Siau hi-ji menduga si kokokbeluk pasti celaka, ia tahu si kalong itu buta, dalam keadaan gelap tentu mempunyai kepandaian yang istimewa, biarpun si burung hantu juga dapat melihat dalam kegelapan, tapi seketika pasti akan kecundang lebih dulu.


Benar saja, segera terdengar suara 'krak-krek' beberapa kali, suara tulang patah.


Menyusul lantas terdengar jerit ngeri Niau thau-eng, "Kejam amat kau... suatu... suatu hari pasti kau akan... akan menyesal."


Kemudian mulai terdengarlah gema suara Hwe pian-hok, si kalong kelabu, ucapnya sekata demi sekata, "Di manakah kau anak kecil?"


Siau hi-ji menahan napas, tapi di dalam gua yang seram ini, saking tegangnya dari tubuhnya keluar hawa panas yang cukup menjadi petunjuk bagi si kalong untuk mendekatinya.


Maklumlah pada umumnya orang buta tentu indera pendengarannya dan penciumannya jauh lebih tajam daripada orang biasa.


Terdengar suara langkah si kalong semakin mendekat, dahi Siau hi-ji sudah penuh keringat, bajunya yang mepet dinding gua juga sudah basah kuyup.


"Kiranya kau berada di sini," kata si kalong dengan suara halus. "Eh, mengapa kau tidak lekas lari?"


Tapi Siau hi-ji tetap diam saja sambil menggigit bibir, keringat berketes-ketes melalui batang hidungnya ke mulut, ia merasa risi dan gatal, ingin sekali untuk mengusap dan menggaruknya, tapi ia tidak berani bergerak sama sekali, selama hidupnya belum pernah merasa ketakutan seperti sekarang ini.


Terasa tangan si kalong mulai terjulur ke arahnya, sekujur badan Siau hi-ji serasa menegang, tapi masih tetap tidak bergerak.


Perlahan tangan si kalong meraba ke lehernya, katanya, "Jangan khawatir, takkan kubikin kau menderita, akan kupencet dengan pelahan saja dan kau akan mati dengan enak, jangan kau salahkan aku, rezeki kalau dibagi dua rasanya terlampau sedikit..."


Pada saat itulah mendadak ia menjerit kaget dan segera melompat mundur, serunya dengan suara gemetar, "Le... lehermu..."


Kiranya jarinya yang meraba ke leher Siau hi-ji itu mendadak kena dipagut oleh ular hijau yang ngendon di situ.


Seharusnya orang dapat melihat ular kecil yang melilit di leher Siau hi-ji itu, namun Hwe pian-hok buta, mana dia menduga akan leher Siau hi-ji berkalungkan ular berbisa begitu?


"Nah, baru sekarang kau tahu rasanya ular sakti pelindung badanku ya?" ucap Siau hi-ji dengan bergelak tertawa. "Hahaha! Orang buta macam kau juga ingin membunuhku? Haha, masakah begitu mudah?"


"Ular... ular berbisa..." Hwe pian-hok berteriak serak.


Di tengah teriakan ketakutan itu ia terus menerjang keluar.


Tapi belum seberapa jauhnya dia berlari, terdengar suara gedebukan keras, ia roboh terjungkal.


Kaget dan girang Siau hi-ji, girangnya karena musuh sudah mati, kagetnya karena ular piaraan Pek coa sin-kun itu ternyata lihai benar-benar.


Ia menghela napas lega dan bergumam, "Wahai Hwe pian-hok, apabila kau tidak begitu keji, tidak menyerang tenggorokanku, tentu jiwaku sudah melayang sejak tadi. Tapi kutahu tempat yang kau serang pasti tempat mematikan, padahal bagian-bagian tubuhku yang penting itu sama dililit oleh ular berbisa. Ai, ular yang dimaksudkan membunuhku kini berbalik telah menyelamatkan jiwaku, setiap kejadian di dunia ini terkadang memang aneh dan sukar dibayangkan."


Lemah lunglai tubuh Siau hi-ji seperti kehabisan tenaga, maklumlah, tadi jiwanya memang ibarat telur berada di ujung tanduk, sesungguhnya dia telah menggunakan jiwa sendiri untuk bertaruh dengan Hwe pian-hok.


Di dunia ini kecuali Siau hi-ji siapa pula yang berani bertaruh secara demikian?


Begitulah ia termenung sejenak, ia bermaksud meraba geretan api milik Pek coa sin-kun, tapi tak berani pula sembarang bergerak, kelihaian ular-ular kecil itu sudah disaksikannya tadi.


Tanpa terasa ia menghela napas gegetun pula, "Ai, belatung menempel tulang! Benar-benar belatung nempel tulang, kalau tak dapat membersihkan mereka, sungguh lebih baik mati saja."


Pada saat itulah, tiba-tiba ada cahaya api berkelebat di kejauhan, seorang lelaki kekar berewok berjubah sulam dengan membawa obor tampak memasuki gua, meski gua ini lembab dan seram, namun orang itu tampaknya tak gentar apa pun juga.