Legendary Siblings

Legendary Siblings
17. Perjalanan yang berat dan panjang



Lelaki itu menengadah dan menghela napas panjang, dengan pandangan sayu dia menatap anak bayi itu dengan perasaan pedih dan duka yang tak terlukiskan serta kasih sayang yang tak terkatakan.


Anak itu seakan-akan memang dilahirkan dengan nasib malang. Baru dilahirkan sudah mengalami bunuh membunuh dan kematian, agaknya nasib kehidupannya nanti seakan-akan ditakdirkan penuh malapetaka.


Sungguh kasihan, anak sekecil itu sudah tentu tidak tahu apa-apa, kini wajahnya yang kecil mungil itu malahan sedang tersenyum penuh bahagia.


***


Kun-lun-san, barisan pegunungan terpanjang dan terbesar di Tiongkok, terbagi tiga cabang: utara, tengah dan selatan. Tiga cabang bukit barisan ini berpangkal dari dataran tinggi Pamir di pegunungan Himalaya dan membentang ke timur hingga hampir meratai seluruh negeri Tiongkok.


Kun-lun-San atau pegunungan Kun-lun yang dimaksudkan di sini adalah pegunungan sumber aliran ilmu silat yang termasyhur yang terletak di hulu sungai Yalung, di propinsi Cinghay.


Di antara puncak gunung yang berderet-deret itu berdiri tegak Giok-liong-hong, puncak naga kemala.


Meski sekarang masih musim panas, namun di kaki Giok-liong-hong sudah terasa seperti di musim dingin, angin meniup keras dan kabut tebal membungkus pegunungan yang lembab itu.


Akhirnya Yan Lam-thian tiba juga di kaki Giok-liong-hong itu, orangnya kelihatan pucat kurus, kudanya juga kelelahan, bahkan roda keretanya seakan-akan juga sukar menggelinding lagi.


Bayangan raksasa pegunungan dengan berat menindihi kereta kuda itu. Tangan kiri Yan Lam-thian memegang tali kendali dan tangan kanan memondong bayi, bau harum menusuk hidung yang tersiar dari dalam kereta membuatnya hampir muntah.


Tapi bayi itu sedang tidur dengan lelapnya, anak sekecil itu rupanya sudah terbiasa oleh siksa derita dalam pengembaraan.


Dengan penuh kasih sayang tak terbatas Yan Lam-thian memandangi wajah kecil itu, tiba-tiba ia mengulum senyum dan bergumam, “Nak, sepanjang jalan ini tidak sedikit kau meneteki susu orang. Dari Tionggoan sampai di sini kau disusui orang secara berganti-ganti, di dunia ini selain dirimu rasanya tiada anak lain yang...” sampai di sini mendadak ucapannya terhenti, tubuhnya juga mendadak mengapung ke atas.


Pada detik tubuhnya mengapung ke udara itulah segera terdengar pula suara “tek-tak-tok” belasan kali, belasan jenis senjata rahasia dari berbagai ukuran sama menancap di tempat yang didudukinya tadi.


Sungguh berbahaya. Apabila dia terlambat mengapung sedetik saja, tentu tubuhnya sudah bertambah belasan lubang.


Setelah berjumpalitan di udara, tangan kirinya, meraih pelana kuda, segera orangnya menyusup ke bawah perut kuda, ia tidak takut dirinya sendiri terluka, tapi menguatirkan keselamatan bayi dalam pelukannya itu.


Gerakannya itu sungguh cepat dan gesit luar biasa, mau-tak-mau membuat si penyergap berseru memuji, “Kepandaian hebat!”


“Main sergap, terhitung jago macam apa itu?” bentak Yan Lam-thian.


Belum lenyap suaranya, kembali kuda tadi meringkik kaget dan berdiri menegak, badan kuda segera menyemburkan belasan pancuran darah segar.


Tanpa pikir lagi telapak tangan Yan Lam-thian lantas menghantam, “blang-blang”, kayu kereta yang mengapit kuda patah dan kuda yang terluka itu meloncat ke depan.


Menyusul Yan Lam-thian menghantam pula sekerasnya, “blang”, dinding kereta berlubang besar, selagi kuda tadi meringkik panjang, bayi di tangan kirinya itu telah dimasukkan ke dalam kereta melalui lubang yang dibobolnya tadi. Sementara itu berpuluh bintik-bintik perak telah menghujani pula.


Secepat kilat Yan Lam-thian menjulang tinggi lagi ke atas, terdengar suara mendenging menyambar lewat di bawah kakinya. Dalam keadaan gawat begitu, kalau sedikit lena saja, sekalipun Yan-Lam-thian sendiri selamat, bayi dalam pondongannya pasti akan menjadi korban. Andaikan bayinya tidak tewas, tentu kereta itu juga akan ditarik kuda yang terluka itu dan menggilasnya.


Begitulah selagi tubuh Yan Lam-thian masih terapung di udara, tiba-tiba ia sudah dikerubut oleh beberapa jalur sinar pedang. Begitu ketat jaringan pedang itu mengurungnya, tampaknya sukar baginya untuk mengelakkan diri, andaikan dapat menghindarkan serangan pedang ini tentu juga tak terluput oleh tebasan pedang yang lain.


Terdengar suara “trang-tring” yang ramai, serangan beberapa pedang itu tak sempat menahan diri sehingga saling bentur sendiri. Tapi sekali saling gebrak, lalu berhenti, tujuh atau delapan orang sama melompat mundur.


Di bawah cuaca remang-remang tertampak di antara mereka itu ada empat orang berdandan sebagai Tojin (pendeta agama To).


Sementara itu Yan Lam-thian sempat menancapkan kakinya di atas kereta, habis itu secepat kilat ia meluncur ke depan, kedua telapak tangan terus menghantam batok kepala seorang Tojin berjubah biru paling depan.


Karena merasa dirinya diserang secara keji, maka serangan balasannya sekarang juga tanpa kenal ampun. Betapa hebat pukulan Yan Lam-thian ini sungguh luar biasa.


Tentu saja si jubah biru terkejut oleh sambaran angin pukulan yang mahadahsyat itu, ia tergetar mundur dan sebisanya pedang terus menabas.


Tojin ini bukan sembarangan Tojin, jurus pedangnya ini hasil latihan berpuluh tahun lamanya, ia yakin seumpama pedangnya tidak dapat melukai musuh, sedikitnya cukup untuk membela diri.


Tak terduga, belum habis sama sekali pedangnya ditebaskan, tahu-tahu pergelangan tangannya terasa kencang, pedang sudah berpindah ke tangan lawan.


Sungguh Tojin yang hebat, menghadapi bahaya ia tidak menjadi bingung dan sempat menyelinap lewat di bawah angin pukulan Yan Lam-thian.


Melihat ketangkasan lawan, tanpa terasa Yan Lam-thian juga berseru memuji, “Bagus!” Berbareng dengan seruannya itu, pedang rampasannya lantas menyabet lawan yang berada di sampingnya.


Yan Lam-thian berjuluk “Si Pedang Sakti Nomor Satu di Dunia”, maka dapat dibayangkan betapa lihai serangannya.


Di tengah guncangan angin senjata, sayup-sayup membawa serta suara gemuruh. Orang itu bermaksud menangkis dengan pedang, tapi tiba-tiba pikirannya tergerak, air mukanya berubah pucat, cepat ia mendoyong ke belakang dan tak berani menangkis, sebisanya ia melompat mundur.


Namun sinar pedang Yan Lam-thian seakan-akan tidak terputus-putus dan terus membayangi lawannya. Keruan nyali orang itu serasa rontok, terpaksa ia menangkis sekuatnya dengan pedang.


“Trang”, kedua pedang beradu. Kedua batang pedang itu sebenarnya berasal dari gemblengan pandai besi yang sama ahli, tapi entah mengapa pedang orang itu ternyata kena ditebas menjadi dua. Untuk menghindari renggutan maut, cepat orang itu menjatuhkan diri dan menggelinding ke sana.


Tiba-tiba Yan Lam-thian bersuit panjang, laksana sinar kilat pedangnya menyambar pula. Betapa lihai serangan ini sungguh menggetar bumi dan mengguncang langit.


Di tengah bertebarnya sinar pedang, sekonyong-konyong terdengar suara, “creng” yang nyaring memekak telinga.


Tertampak tiga Tojin jubah biru dengan sebelah kaki bertekuk-lutut di tanah, pedang mereka bersilang menangkis ke atas untuk menahan serangan pedang Yan Lam-thian yang mahalihai itu. Sedangkan orang tadi hampir saja kelengar saking kagetnya.


Dengan berdiri tegak berwibawa menekan pedangnya ke bawah, Yan Lam-thian bertanya dengan kereng, “Yang menangkis pedangku ini Su-ciu (empat rajawali) atau Sam-eng (tiga elang)?”


“Su-ciu!” sahut salah seorang Tojin itu. “Dari mana kau tahu?”


“Di jaman ini, kecuali Kun-lun-jit-kiam (tujuh ahli pedang Kun-lun), siapa lagi yang mampu menangkis tebasan pedangku ini?” ujar Yan Lam-thian.


“Di dunia ini, selain Yan Lam-thian, Yan-tayhiap, mungkin tiada orang lain lagi mampu membuat kami bertiga terpaksa harus menangkis suatu serangan bersama!” kata Tojin itu.