
"Mengapa aku harus menuruti kehendakmu?" ucap Siau sian-li.
"Tadi dengan mati-matian kau berusaha membunuh dia, sekarang berbalik menolong dia, jangan-jangan... jangan-jangan kau dan dia..."
Muka Siau sian-li menjadi merah, ia pun menjawab dengan suara keras, "Tadi kau pun berusaha menolongnya dengan mati-matian, sekarang kau pun berbalik ingin membunuhnya, jangan-jangan karena... karena dia dan kau..."
"Kau ngaco-belo!" bentak Buyung Kiu-moay, mukanya yang pucat berubah menjadi merah.
"Kau sendiri yang mengaco-belo!" Siau sian-li balas membentak.
Serentak kedua orang sama menyerang, "trang" senjata kedua orang kebentur dan tangan keduanya sama-sama terasa kemeng dan tergetar mundur.
Tapi mendadak pula kedua orang sama-sama berteriak kaget, Siau hi-ji sudah tak kelihatan lagi.
"Gara-garamu..." omel Siau sian-li dengan membanting kaki.
"Gara-garamu..." Buyung Kiu-moay juga menyemprot.
Kedua orang buka mulut berbareng dan tutup mulut bersama, yang terucapkan juga sama dan akhirnya wajah keduanya sama-sama merah jengah.
Setelah saling pandang memandang sekejap, kemudian Buyung Kiu-moay menunduk, Siau sian-li juga menunduk.
"Kukira dia takkan lari jauh!" ucap Siau sian-li tiba-tiba.
"Benar, ayolah kita kejar dia!" jawab Buyung Kiu.
Begitulah kedua orang saling pandang pula, ingin tertawa, tapi urung.
"Kalau tertangkap, sekali ini kita binasakan dia bersama!" ucap Siau sian-li sambil menggigit bibir.
Betapa pun Siau hi-ji menyadari kemampuan sendiri, ia tahu baik mengenai Ginkang maupun soal tenaga jelas tidak mampu lolos dari pencarian kedua nona itu, sebab itulah dia tidak kabur ke mana-mana melainkan terus lari balik malah, lari kembali menuju ke Buyung san-ceng, perkampungan keluarga Buyung.
Setiba di tempat tujuan, langsung dia menuju ke kamar batu berpintu tembaga itu, ia membuka kunci dengan kawat wasiatnya dan dengan mudah dapatlah ia masuk ke situ.
Kemudian dia mengunci kedua pintu itu dari bagian dalam, lalu berbaring di lorong bawah tanah penuh timbunan balok es itu dengan rasa nyaman, teringat kepada kedua nona yang ditinggalkan bertengkar sendiri itu, tanpa terasa ia tertawa geli.
Kedua nona dalam pandangan orang lain adalah pendekar perempuan, gadis cendikia, tapi bagi pandangan Siau hi-ji mereka tak lebih hanya perempuan biasa, dalam pandangan anak muda itu, lelaki di dunia ini mungkin ada seratus delapan puluh macam, tapi perempuan hanya ada satu macam saja.
Namun tubuhnya terasa semakin panas, mulut kering dan bibir pecah, saking tak tahan ia terus bergulingan di atas balok-balok es itu, ia ketok pula sepotong es batu terus dimamah hingga berkeriat-keriut, setelah mengertak beberapa potongan es, badan terasa lebih segar dan sangat nyaman, segera ia berbaring lagi di atas balok es dan akhirnya tertidur pulas.
Dalam keadaan demikian dan di tempat begini dia dapat tidur nyenyak, kepandaian ini sungguh harus dipuji.
Di tengah mimpinya tiba-tiba terdengar suara "krek" sekali, pintu tembaga telah dibuka orang.
Jantung Siau hi-ji juga berdebar keras, ia tidak berani bergerak sedikit pun dan sebisanya menahan napas.
Terdengar suara Siau sian-li sedang berkata, "Wah, dingin amat!"
Lalu Buyung Kiu-moay lagi menjawab, "Waktu ibu membangun gudang es ini dahulu tujuannya untuk menyimpan es batu agar setiap saat dapat membuat es jeruk peras di musim panas bagi ayahku, siapa tahu kemudian gudang es ini telah dimanfaatkan untuk keperluan lain."
"Keperluan apa?" tanya Siau sian-li.
Buyung Kiu tidak menjawab, ia terdiam sejenak, akhirnya berkata perlahan dengan gegetun, "Tapi sekarang tidak diperlukan lagi."
Merinding Siau hi-ji mendengar ucapan itu, ia tahu nona Buyung benar-benar teramat benci padanya, kalau dirinya sampai ditutup di dalam gudang es ini, maka jangan harap dapat lolos.
"Memangnya kau khawatir setan cilik itu lari dan sembunyi di sini?" demikian Siau sian-li lagi berkata.
"Ehm," terdengar Buyung Kiu mengiakan.
"Ah, kau terlalu banyak khawatir, masakah setan cilik itu berani lari balik ke sini?" ujar Siau sian-li dengan tertawa.
"Sungguh aku tidak mengerti ke mana dia telah lari?" kata Buyung Kiu.
"Bangs*t cilik itu memang licin seperti setan, banyak pula tipu muslihatnya," kata Siau sian-li dengan gegetun. "Maka lain kali bila ketemu dia, tanpa bicara pasti kubunuh dia, ingin kulihat dia mampu main gila apalagi?"
Suara percakapan mereka semakin menjauh dan "klik", kembali pintu telah terkunci dari luar.
Diam-diam Siau hi-ji bersyukur karena kedua nona itu telah pergi.
Pikirnya dengan geli, 'Untung perempuan lebih teliti dalam hal-hal kecil dan teledor dalam hal-hal besar. Ingin memeriksa ruangan ini, tapi toh tidak memeriksanya dengan teliti, kalau tidak pasti celakalah diriku.'
Dengan tenteram ia berbaring hingga lama sekali di situ, akhirnya badan mulai terasa dingin dan barulah ia melompat bangun.
Apabila dia terus mengatur pernapasan dan menjalankan tenaga dalam, menghimpun khasiat obat yang dimakannya tadi ke pusat sehingga pasti akan banyak menambahkan kekuatanya, tapi sayang, begitu mendusin segera dia melompat bangun sehingga kesempatan yang bagus itu telah disia-siakannya secara percuma.
Dengan hati-hati dan menahan napas ia mendekati pintu sana, ia coba mengintip keluar melalui lubang kunci, segera dilihatnya Siau sian-li dan Buyung Kiu masih berada di ruangan bagian luar.
Siau sian-li tampak bersandar pada dinding seperti sedang memikirkan sesuatu, adapun Buyung Kiu-moay tampak berdiri tegak dengan wajah pucat menakutkan.
Thi Sim-lan juga berada di situ, nona itu duduk di depan bejana obat dan sedang menyortir obat, sebiji demi sebiji dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam kaleng obat yang berbeda-beda.
Air matanya tampak berlinang-linang, setiap kali memilih satu biji obat, setiap kali pula air mata menetes.
Diam-diam Siau hi-ji berkerut kening dan tersenyum geli, pikirnya, 'Maksudku semula ingin membikin susah Buyung Kiu, tak tahunya yang kena getahnya adalah Sim-lan. Mungkin Buyung Kiu teramat benci padaku, maka Sim-lan dijadikannya sebagai alat pelampias dan dijadikan kuli.'
Dan ke manakah Koh Jin-giok? Mungkin dia sama sekali dilarang masuk ke ruangan ini.
Setelah termangu-mangu sekian lama, mendadak Siau sian-li mendekati Thi Sim-lan. Karena kaget, secomot pil di tangan Thi Sim-lan sampai jatuh berserakan di lantai.
Terdengar suara Siau sian-li berkata, "Jangan takut, aku takkan membikin susah padamu. Kita... kita sama-sama menjadi korban penipu setan cilik itu, jadi kita senasib dan harus saling solider."
Thi Sim-lan menunduk, air matanya bercucuran.
Siau sian-li tertawa dan berseru, "Marilah lekas kita pungut pil ini, kubantu kau, kalau tidak kerja keras nona Buyung takkan memberi makan pada kita."
Buyung Kiu memandang mereka dengan dingin tanpa mengunjuk sesuatu perasaan apa pun.
Diam-diam Siau hi-ji gegetun, pikirnya, 'Lahirnya Siau sian-li kelihatan galak, tapi hatinya sebenarnya tidak jahat... padahal kebanyakan perempuan memang begitu, betapa pun galaknya, cukup beberapa patah kata manis saja sudah dapat membuat mereka bertekuk lutut.'
Selang sejenak tiba-tiba Siau sian-li berkata pula, "Tentang peta itu... apakah benar ditipu dan diambil setan cilik itu?"
Thi Sim-lan tidak lantas menjawab, ia diam sejenak, kemudian berkata dengan suara lirih, "Dia tidak menipu, aku sendiri yang memberikannya."
"Diberikan padanya?" Siau sian-li menegas. "Mengapa kau berikan padanya?"