
Dia mulai menyesal dan memaki dirinya sendiri, tiada hentinya dia bergerundelan dan mengomel. "Ah, tampaknya menjadi orang baik memang sukar, kalau saja kubunuh Siau sian-li dan Buyung Kiu, tentu takkan terjadi seperti sekarang ini..."
Lalu dia menyesali Ban Jun-liu pula. Kalau tiada bimbingan baik tabib sakti itu, betapa pun dirinya akan tetap menjadi orang jahat, dan biarpun orang jahat selalu dibenci dan dimaki orang, tapi sedikitnya akan lebih panjang umur, akan hidup lebih lama daripada orang baik.
Begitulah sekujur badan mulai menggigil karena kedinginan, lapar membuatnya kepala pusing dan perut nyeri, ia bergumam sendiri, "Ai, mau mati bolehlah mati, setiap manusia akhirnya toh harus mati, sesudah mati sedikitnya juga ada sesuatu kebaikan, yakni takkan mendengar lagi kejudesan perempuan."
Mendadak, ia merasa tidak kedinginan lagi. Bukan saja tidak dingin, sebaliknya malah merasa kegerahan.
Ia terkejut dan heran pula, ia coba pentang mata lebar-lebar dan segera dilihatnya sesuatu keanehan, balok es yang besar itu sepotong demi sepotong mulai cair.
Ia coba meraba dinding, ternyata dinding juga panas sekali.
"He, apa-apaan ini?" Siau hi-ji melonjak kaget. "Apakah si budak Buyung Kiu itu belum puas membikin aku mati beku dan sekarang hendak memanggang diriku?Tapi... ah, tidak mungkin, beberapa kamar kakaknya itu dirawatnya sebaik itu, mana bisa dia malah membakarnya?"
Ia coba mengelilingi ruangan itu, dinding sekeliling terasa panas, seperti dibakar, hanya bagian yang membelakangi bukit saja masih hangat-hangat.
Tiba-tiba terpikir olehnya, "Ah, tahulah aku, tentunya keluarga Buyung ini kedatangan musuh, selain membunuh, rumah ini juga dibakarnya. Tetapi... sungguh keparat, orang-orang tol*l itu tentunya tidak tahu bahwa kalau rumah keluarga Buyung ini dimusnahkan, maka orang paling pintar di dunia ini juga akan ikut menjadi korban!" Sambil mengomel, segera ia mencak-mencak sendiri dan mencaci maki.
Tidak lama kemudian, balok-balok es itu sudah cair semua, Siau hi-ji sudah terendam di dalam air, hendak mencak-mencak juga tiada tempat berpijak pula.
Air itu mula-mula belum begitu panas sehingga tidak begitu tersiksa terendam di situ, bahkan karena tidak berdaya, Siau hi-ji sekalian mandi dan berenang sepuasnya.
Dasar sifatnya binal dan bengal, kalau belum melihat peti mati tidak mungkin mengucurkan air mata, sebelum menghadapi jalan buntu sungguh-sungguh tak akan dia bergelisah atau takut. Tapi kini dia benar-benar sudah menghadapi jalan buntu.
Air sudah mulai panas dan bukan mustahil sebentar lagi akan mendidih. Siau hi-ji mulai kelabakan di dalam air, mirip seekor ikan yang dilemparkan ke dalam wajan yang berisi air panas, dia mulai menggelepar dan kebingungan.
Yang dia harap semoga api dapat membakar hancur dinding ruangan itu, tapi dinding keparat itu justru kukuh luar biasa, bukan saja tidak rusak, bahkan retak pun tidak.
Sampai akhirnya ia pun kehabisan tenaga dan mulai tenggelam, hidungnya terasa pepet, "krok-krok", mulutnya tercekok beberapa teguk air.
Siau hi-ji meringis dan membatin, "Wah, sungguh sayang hanya aku sendiri yang menikmati kuah ikan masak jamur ini..."
Pada saat itulah tiba-tiba ada suara nyaring orang menggedor pintu tembaga. Seketika semangat Siau hi-ji terbangkit, pikirnya, "Bagus, bakal ada orang yang akan menemani aku minum kuah ikan ini."
Sudah terpikir olehnya meski pintu tembaga tak dapat rusak terbakar, tapi timah yang menyumbat lubang kunci tentu akan cair, per kunci tentu juga akan lunak setelah terbakar, maka cukup orang menyongkelnya dari luar dengan alat sebangsa obeng dan sebagainya tentu pintu akan mudah terbuka.
Belum lagi habis terpikir, benar juga pintu itu mendadak terpentang, air bah terus saja membanjir keluar, Siau hi-ji juga diam saja membiarkan dirinya terhanyut oleh air bah.
Sudah tentu dua orang yang sedang kutak-kutek di luar itu sama sekali tidak menyangka dari balik pintu akan membanjir air sedahsyat itu. Keruan mereka terkejut dan basah kuyup.
Bahkan mimpi pun mereka tidak menduga di tengah air banjir itu terdapat pula satu orang.
Cukup jauh juga Siau hi-ji terhanyut air bah itu, ia terus rebah tak bisa bergerak di lantai, maklumlah, memangnya dia sudah lapar setengah mati dan juga megap-megap karena sekian lamanya terendam.
Dengan setengah memicingkan matanya ia coba mencuri lihat keadaan di situ, terlihat api sudah padam, apa yang tertampak di luar rumah sana hanya puing belaka dan sebagian masih mengepulkan asap.
Melihat manusia begini, hati Siau hi-ji menjadi lega.
Menurut jalan pikirannya, manusia yang anggota badannya berkembang lebih besar daripada orang kebanyakan, otaknya tentu terhimpit oleh daging lebih hingga mengecil, maka dengan sedikit tipu akal saja ia percaya akan dapat mengerjai serta menundukkan orang demikian.
Tapi seorang lagi baginya terasa rada ngeri. Orang ini berbaju putih, bungkuk, muka lebar bagian atas dan sempit bagian bawah, pada dagunya yang kecil itu berjenggot seperti kambing, seumpama dicampurkan dengan anak kambing mungkin juga sukar diketahui dia ini manusia.
Memangnya tubuhnya kurus kecil, ditambah bungkuk lagi, tingginya tiada sebatas dada kawannya yang kekar itu, tampaknya dia berpuluh kali lebih menakutkan daripada kawannya.
Dari bentuk kedua orang itu, segera Siau hi-ji tahu mereka ini pasti anggota Cap-ji-she-shio, itu kawanan bandit dengan dua belas lambang kelahiran.
Kedua orang ini tentulah si kambing dan si sapi.
Sungguh ia merasa anggota Cap-ji-she-shio itu tidak satu pun memper manusia, tapi lebih mirip binatang yang diwakili mereka.
Sukar diketahui dari manakah kedua belas orang itu bisa muncul dan bergabung menjadi satu sehingga terbentuk kedua belas lambang kelahiran, yaitu tikus, sapi, harimau, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, kera, ayam jago, anjing dan babi.
Tentu saja kedua orang itu kaget demi kemudian melihat Siau hi-ji ikut hanyut keluar oleh air bah, mereka sama melenggong kesima.
"Nah, apa kataku tadi? Jika mau menurut kataku, tentu dapat rezeki," demikian terdengar si 'kambing' berkata.
"Hah, rezeki apa? Basah kuyup begini kau anggap mendapat rezeki?" jengek si sapi. "Kau bilang di dalam sini pasti banyak harta mestika, sekarang coba lihat, mana harta mestika yang kau maksudkan itu?"
"Bocah inilah mestikanya," kata si kambing sambil memandang Siau hi-ji.
"Kulit daging bocah ini memang cukup halus, kalau saja Li-toako berada di sini tentu beliau akan membuat Ang-sio-bak dan dahar enak, tapi kau hanya kambing yang suka makan rumput, memangnya akan kau apakan dia?"
Siau hi-ji sebenarnya lagi sedih melihat kambing putih itu, demi mendengar ucapan si sapi, seketika semangatnya terbangkit dan hilanglah segala rasa khawatirnya.
Mendadak ia tertawa dan menyapa, "He, bandot tua dan sapi gede, maukah kalian masuk kemari?"
Tampak si sapi melenggong heran, katanya, "Eh, bocah ini kenal kita."
Dengan tertawa Siau hi-ji berkata pula, "Di waktu iseng sering kudengar cerita Li-toako, Li Toa-jui, katanya di antara 'Cap-ji-she-shio' hanya si sapi paling perkasa dan si kambing paling cerdik, tak terduga sekarang dapat kujumpai kalian di sini."
"Hahahaha! Terima kasih atas pujianmu..." kata si sapi dengan terbahak-bahak, tapi mendadak ia berhenti tertawa dan menegur dengan mata mendelik, "Dar... dari mana kau kenal... kenal Li Toako kita?"
Biji mata Siau hi-ji berputar dan seperti berpikir sesuatu, katanya, "Menurut kakak Toa-jui, katanya si sapi dari Cap-ji-she-shio adalah angkatan mudanya jika diurut menurut tingkatan keluarga, kini kau menyebutnya sebagai Toako, apakah mungkin kau ini paman atau mamak si sapi dalam Cap-ji-she-shio?"
Muka si sapi tampak merah, jawabnya, "Aku sendiri inilah si sapi."
"Jika begitu, biarpun di belakang sepantasnya kau menyebut kakak Toa-jui sebagai paman, kau sembarangan memanggilnya, kalau diketahuinya tentu kau akan dimarahi," kata Siau hi-ji.
"Ya, ya, ya, aku ... caihe ...." si sapi tergagap.