
Walaupun tak dapat bergerak, tapi mata pemuda baju putih melotot dengan geregetan, matanya merah membara, tapi mulut sukar berucap.
"Nah, dengarkan, di dunia ini pada hakikatnya tidak ada pukulan berbisa 'tujuh langkah' segala dan dengan sendirinya aku pun tidak menguasai ilmu demikian itu. Namun di dunia ini memang benar ada semacam ilmu gaib yang disebut 'Tiam hiat cat meh' (menotok simpul darah memotong nadi)."
Bicara sampai di sini, Siau hi-ji berlari ke sana dan menyeret kembali si kuda putih yang menyingkir pergi karena ketakutan tadi. Mata si pemuda baju putih terpentang lebih lebar seperti tidak sabar lagi, ingin mendengar lebih lanjut keterangan Siau hi-ji.
Dengan perlahan baru Siau hi-ji berkata pula, "Tiam-hiat yang ku maksudkan lain dari pada Tiam-hiat yang dikenal umum. 'Hiat' yang kumaksud adalah darah dan bukan Hiat titik urat nadi. Tiam-hiat yang satu itu gayanya mati, sedangkan Tiam-hiat (totok darah) yang ku maksud adalah hidup."
Sembari bicara ia terus totok pula dua Hiat-to di tubuh pemuda itu, lalu menyambung, "Dan inilah Tiam-hiat menurut pengertianmu. Hiat-to yang ku tutuk selalu berada di sini dan takkan berubah dan tak bisa bergeser, makanya ku bilang Tiam-hiat adalah mati."
Habis itu Siau hi-ji menepuk dua kali pula di bawah iga pemuda itu dan berkata lagi, "Sedangkan menotok darah adalah memotong nadi darahmu, kalau aliran darah tidak lancar, dengan sendirinya tubuhmu tak dapat bergerak. Karena darahmu senantiasa mengalir tanpa berhenti, maka totok darah harus tepat menotok sedetik sebelum aliran darahmu tiba, dengan demikian barulah bisa tepat memotong jalan darahmu. Lantaran darah senantiasa mengalir, sebab itu Tiam-hiat yang aku maksudkan adalah hidup, sekarang kau paham tidak?"
Pemuda baju putih seperti terkesima mendengarkan kuliah Siau hi-ji dan tanpa terasa menjawab, "Ya, paham."
"Tapi Tiam-hiat untuk memotong jalan darah ini tidak boleh berlangsung terlalu lama, kalau lama orang yang tertotok bisa mati," kata Siau hi-ji dengan tertawa. "Sebab itu barusan sudah kubuka jalan darahmu yang terhenti tadi, makanya sekarang kau dapat bicara lagi."
Walaupun marah, tapi ingin tahu juga pemuda itu, ia bertanya, "Jadi tadi kau memandangi bayangan di tanah adalah untuk menghitung waktu yang tepat mengenai aliran darahku? Lalu kau suruh aku menekan bagian tubuhku dengan sekuatnya."
"Bagus!" Siau hi-ji berkeplok. "Diberitahu satu segera paham tiga, kau memang anak cerdik."
Pemuda itu mendongkol, tapi katanya, "Meski kau mahir sedikit ilmu Tiam-hiat segala, tapi yang kau pahami tidaklah banyak, pada hakikatnya kau tidak mampu menotok diriku, makanya kau sengaja menipu aku agar menotok diriku sendiri."
"Betul, sedikit pun tidak salah," sahut Siau hi-ji dengan tertawa. "Soalnya orang yang mengajarkan ilmu Tiam-hiat padaku itu silatnya juga sangat rendah, tapi ilmu pertabibannya sangat tinggi, pengertiannya terhadap setiap bagian tubuh manusia boleh dikatakan sejelas dia memandang telapak tangan sendiri, dia dapat menghitung waktu-waktu tertentu serta garis aliran darah di tubuh manusia, tapi tidak tahu cara bagaimana menotoknya. Makanya aku pun terpaksa minta pertolonganmu."
"Huh, akal bulus, terhitung apa?" jengek si pemuda baju putih dengan gemas.
"Akal bulus, katamu? Hm, apakah kau tahu untuk bisa menggunakan akal bulus begitu diperlukan betapa besar ilmu pengetahuan? Pertama aku membikin kau selalu waspada terhadap diriku, dengan demikian selalu mengumpulkan tenaga murni pada tangan dan jarimu. Kedua, aku sengaja mengarang nama 'pukulan berbisa tujuh langkah' yang menakutkan itu agar kau menjadi bimbang."
Mau tak mau si pemuda baju putih menghela napas gegetun, katanya, "Cukuplah dengan kedua akalmu itu."
"Tidak cukup," seru Siau hi-ji. "Paling sedikit aku pun harus paham dasar ilmu Tiam-hiat dan harus dapat menghitung dengan tepat saat aliran darahmu berdekatan dengan Hiat-to yang bersangkutan sehingga kau sama sekali tidak berjaga-jaga."
Sampai di sini Siau hi-ji lantas membusungkan dada dan berseru, "Nah, kepandaianku ini pada hakikatnya adalah paduan antara ilmu silat dan kecerdasan. Kalau ilmu silatku tidak tinggi, cara bagaimana dapat membuat kau waswas, bila kecerdasanku tidak cukup, mana lagi dapat membuat kau bimbang. Dari semua ini jelas dalam segala hal kau tidak dapat mengungguli aku, kalau kau mengangkat guru padaku rasanya juga tidak penasaran bagimu."
"Mengangkat guru padamu? Hm, kau... kau mimpi!" bentak pemuda itu dengan gusar.
"Lho, sebelum bergebrak tadi kan sudah ada janji, mengapa kau menjilat ludah sendiri?" tanya Siau hi-ji.
Wajah pemuda itu menjadi merah, jawabnya, "Kau bunuh aku saja!"
"Untuk apa kubunuh kau? Jika kau sengaja mungkir janji, biarlah kupotong hidungmu, kucungkil biji matamu, kuiris lidahmu dan..."
"Mati saja aku tidak takut, masakah kutakut hal-hal begitu?" teriak pemuda itu.
"Benar kau tidak takut?" tanya Siau hi-ji.
Tiba-tiba Siau hi-ji mendapat akal, katanya dengan tertawa, "Baik, karena kau tidak takut, biarlah kuganti cara lain."
"Cara apa pun tetap aku tidak takut!" teriak si pemuda baju putih.
"Kalau ku gantung kau di atas pohon, kucopot celanamu dan kupukul pant*tmu, kau takut tidak?" tanya Siau hi-ji. Ia tahu ada sementara orang yang tidak takut mati, tapi kalau dibilang akan dilepas celana dan memukul pantatnya, maka hal ini akan membuatnya mati kutu.
Benar juga, air muka pemuda baju putih mendadak berubah, sebentar merah sebentar pucat. Kalau merah sampai merah padam, kalau pucat sampai pucat menghijau.
"Haha, akhirnya kau takut juga bukan? Nah, lekas panggil Suhu padaku," kata Siau hi-ji dengan tertawa.
Sampai gemetar tubuh pemuda itu karena menahan perasaannya yang bergolak, teriaknya dengan serak, "Kau... kau iblis..."
"He, kau tidak panggil Suhu malah panggil iblis padaku... Baik," mendadak Siau hi-ji berjongkok dan segera hendak menarik celana orang.
Tanpa disuruh lagi mendadak pemuda itu berteriak, "Suhu! Suhu..."
Baru panggil dua kali, air matanya sudah lantas bercucuran.
Siau hi-ji mengusapkan air mata orang, lalu berkata dengan suara halus, "Menangisi apa? Mempunyai guru macam aku apakah kurang baik? Apalagi kau sudah memanggil Suhu, menangis juga tidak ada gunanya... He, kau menangis lagi, apa kau minta dipukul pantatmu?"
Sedapatnya pemuda itu menggigit bibir dan menahan air matanya.
"Nah, mesti begitu," kata Siau hi-ji dengan tertawa. "Oya, kau harus memberitahukan padaku, siapa namamu?"
"Thi... Thi Sim-lam!" jawab pemuda itu.
"Lam (lelaki) atau Lan (anggrek)?" tanya Siau hi-ji sambil memicingkan mata.
"Sudah tentu Lam lelaki."
"Thi Sim-lam, lelaki berhati baja, bagus, nama yang bagus, hati kaum lelaki seharusnya keras seperti baja, tapi bentukmu serupa anak perempuan, sebaliknya namamu sedemikian keras."
"Dan engkau?" tiba-tiba pemuda baju putih atau Thi Sim-lam, menatap Siau hi-ji dan bertanya.
"Meski aku terlebih keras dari padamu, tapi namaku tidak sekeras dirimu, namaku Kang Hi... apakah kau tahu ikan, ikan di sungai itu. Nah, orang bilang ikan sungai sangat enak dimakan, pernahkah kau memakannya?"
"Aku... aku sangat ingin memakannya?" jawab Thi Sim-lam dengan menggereget.
Siau hi-ji memandangnya dengan tertawa, mendadak ia mengulur sebelah tangannya ke depan mulut Thi Sim-lam dan berkata, "Kau ingin memakannya, nah, silakan!"
"Kau... kau..." Thi Sim-lam melengak malah.
"Bukankah kau sangat ingin memakan dagingku?" kata Siau-hi-ji dengan tertawa. "Terus terang, apa pun yang terpikir dalam benakmu nanti tak bisa mengelabui aku, sekali ku terka saja lantas kena."