
"Adakah orang lain yang mengetahui tempat itu selain dirimu?"
"Kukira Yan Lam-thian sendiri pasti tahu."
Pekcoa sin-kun merasa lega, katanya pula, "Kita sudah sampai di belakang gunung Go-bi-san, sekarang boleh kau menunjukkan jalannya."
Segera pandangan Siau hi-ji terbeliak, kerudung kepalanya telah ditanggalkan, walaupun di tengah malam gelap, tapi rasanya cahaya bintang malam ini jauh lebih terang daripada biasanya dan jauh lebih mempesona bagi anak muda itu.
"Ai, baru sekarang kutahu rasanya jadi orang buta memang tidak enak," ucap Siau hi-ji dengan menghela napas panjang.
Pegunungan Go-bi yang tinggi dan terjal itu kelihatan sangat mengerikan. Lebih-lebih dibagian belakang gunung, terasa berpuluh puncak yang menjulang tinggi itu seakan-akan roboh menindih ke bawah.
Di mana berada sekarang adalah suatu bagian paling terpencil di atas Go-bi-san, tidak lama mereka mendaki segera kabut tebal timbul dari bawah kaki mereka, setiba di pinggang gunung mereka pun sudah terbenam di tengah lautan awan dan kabut tebal.
Meski Siau hi-ji bermaksud menggunakan kegesitan dan kelincahannya untuk melepaskan diri dari cengkeraman Pekcoa sin-kun, terpaksa ia urungkan niatnya mengingat belasan ular hijau kecil masih membelit di tubuhnya.
Satu-dua jam kemudian, napas kedua orang itu pun terengah-engah.
"Sudah sampai belum?" tanya Pekcoa sin-kun sambil tersengal-sengal.
"Memangnya kau merasa kurang cepat?" jawab Siau hi-ji. "Tanpa petunjukku, seumpama kau tahu tempatnya, biarpun kau mencarinya tujuh atau sepuluh hari juga belum tentu dapat menemukannya."
Mendadak Pekcoa sin-kun tertawa dan berkata, "Haha, kau sungguh anak yang pintar dan tangkas, jauh lebih cekatan daripadaku."
"Itu dia, sebelum menemukan harta karun itu memang perlu kau menjilat pantatku," kata Siau hi-ji, "Nanti kalau harta karun sudah ditemukan bolehlah kau menyembelih dan mencincang diriku."
"Jangan khawatir," kata Pekcoa sin-kun dengan suara halus. "Setelah menemukan harta karun itu aku malah takkan membunuh kau, bahkan akan kuberikan kebaikan kepadamu, kau..." mendadak ia berteriak gusar, "Setan cilik, ayo keluar, lekas keluar..."
Kiranya selagi dia mencerocos dan lupa daratan, tahu-tahu Siau hi-ji telah menghilang.
Keruan Pekcoa sin-kun kelabakan hingga keringat dingin merembes memenuhi dahinya, ia berteriak murka pula, "Setan cilik, jika tidak lekas keluar, sekali aku bersuit segera kau bisa mampus! Tiada gunanya biarpun kau lari ke mana pun."
Tapi di tengah malam kelam berkabut tebal itu bayangan Siau hi-ji tetap tidak kelihatan.
Pekcoa sin-kun seperti orang kebakaran jenggot, ia berteriak pula, "Dengarkan setan cilik, ular itu bernama Pek-si-coa (ular benang hijau) dan juga disebut belatung penyusup tulang, tanpa perintahku, selamanya ular-ular itu akan terus menempel di tubuhmu sampai kau menjadi bangkai. Nah, pikirkan sendiri, apakah tindakanmu ini tepat atau tidak?"
Sekonyong-konyong terdengar orang mengikik tawa di sebelahnya, suara Siau hi-ji lagi berkata, "Hihi, aku berada di sini, apa yang kau ributkan?"
Pekcoa sin-kun mengamat-amatinya hingga sekian lama, akhirnya baru dilihatnya di sebelah sana ternyata ada sebuah gua, banyak akar-akaran yang bergelantungan hingga menutupi mulut gua.
Entah sejak kapan Siau hi-ji telah menyusup ke gua itu. "Ayolah kemari, di sinilah jalan masuk ke tempat harta karun itu," seru Siau hi-ji.
Sebenarnya Pekcoa sin-kun sangat gemas, tapi mendengar ucapan anak muda itu, seketika sirap api amarahnya, cepat ia menyusup ke sana, segera pula ia merasa hawa dingin menyambar dari depan, tanpa terasa ia menggigil, katanya dengan gegetun, "Sungguh hebat Yan Lam-thian itu dapat menemukan tempat begini..."
Kalau tempat ini sedemikian rahasia dan tersembunyi, maka betapa besar jumlah harta karun yang terpendam di sini dapatlah dibayangkan.
Teringat akan rezeki nomplok ini, seketika Pekcoa sin-kun kegirangan sehingga tidak merasakan dingin lagi.
Gelap gulita di dalam gua itu sehingga jari sendiri saja tidak kelihatan, Pekcoa sin-kun lantas menyalakan geretan api, tapi mereka lantas menjerit kaget begitu api menyala.
Ternyata didalam gua itu membujur tiga sosok mayat. Ketiga sosok mayat itu sangat perlente, tangan masing-masing memegang pedang yang kemilau, tampaknya bukan sembarangan pedang. Tapi mayat-mayat itu melingkar dengan mengenaskan.
Pekcoa sin-kun membalik ketiga sosok mayat itu dan memeriksa mukanya, seketika air mukanya berubah pucat serupa ketiga mayat itu, tangannya yang memegangi obor juga rada gemetar.
"Kau kenal mereka?" tanya Siau hi-ji.
"Kim... Kim-leng-sam-kiam, tajam pedangnya dapat memotong emas!" ucap Pek-coa-sin-kun dengan tergagap.
"Kiranya mereka juga tokoh ternama," ujar Siau hi-ji.
"Bukan saja ternama, bahkan terhitung jago kelas satu," kata si ular. "Jika tempat penyimpanan harta karun ini tidak diketahui orang lain, mengapa mereka dapat tiba di sini?"
Siau hi-ji juga mengernyitkan kening, katanya, "Ya, ini memang rada-rada aneh."
"Kau hanya heran saja?" bentak si ular dengan bengis.
Siau hi-ji angkat pundak, jawabnya, "Toh ketiga orang ini sudah mati, buat apa kita merecokinya?"
"Meski mereka sudah mati, tapi orang yang membunuh mereka pasti masih berada di dalam gua ini," kata si ular dengan gusar. "Kalau orang ini sekaligus mampu membinasakan Kim-leng-sam-kiam (tiga pendekar pedang dari Kim-leng), bukankah dia terlebih menakutkan pula?"
"Aneh, siapakah gerangannya? Mengapa dia tahu rahasia tempat ini?" kata Siau hi-ji.
"Memangnya kau tidak tahu? Masakah bukan kau yang memberitahukan mereka? Peta harta karun ini tentunya cuma selembar saja dan berada padamu, kecuali kau..."
Belum habis ucapan si ular, sekonyong-konyong padam obor yang dipegangnya.
Tentu saja ia terkejut, tapi ia pun tahu pasti ada orang diam-diam mengerjainya, cepat ia melangkah mundur mepet dinding gua, lalu membentak, "Siapa itu main sembunyi-sembunyi di situ?"
Dalam kegelapan seorang menjawab dengan perlahan, "Dugaanmu memang tidak salah, orang yang membunuh Kim-leng-sam-kiam memang betul masih berada di sini, ialah aku!"
Suara itu tenang dan biasa saja, tiada sesuatu yang menonjol kedengarannya, tapi justru nada yang teramat biasa inilah kedengarannya menjadi rada menakutkan di dalam gua yang seram dan misterius ini, sampai tokoh macam Pekcoa sin-kun juga bergidik.
"Sia ... siapa engkau?" tanya si ular.
"Apakah kau ingin tahu siapakah diriku?" kata suara itu.
Dengan tabahkan diri Pekcoa sin-kun menyalakan obornya lagi, di tengah berkelebatnya cahaya obor, tertampak seorang berbaju kelabu melangkah keluar dari dalam gua.
Wajah orang juga remang-remang kelabu, tidak kelihatan hidung dan matanya, semuanya tidak kelihatan, selembar mukanya sungguh mirip serabi bulukan sehingga jauh lebih seram dan menakutkan daripada muka yang paling jelek di dunia ini.
Walaupun tahu orang ini pasti memakai kedok, namun tidak urung Siau hi-ji juga merasangeri.
Kalau kedoknya menutupi mulut dan hidungnya, kenapa matanya juga dikerudungi? Jika mata terkerudung, mengapa dia dapat berjalan dengan bebas? Padahal tidak enak rasanya menjadi orang buta, Siau hi-ji sendiri sudah merasakannya tadi.
Terlihat dahi Pekcoa sin-kun berkeringat dingin, katanya pula dengan terputus-putus, "Engkau... engkau ini Hwe-pian-hok (si kalong kelabu)?"
"Hehe, jadi kau sudah melihat jelas?" kata si kelabu dengan tertawa hambar.
"Apakah Niau-thau-eng (burung kepala kucing, burung hantu atau kokokbeluk) juga..." belum habis ucapan Pekcoa sin-kun, seketika tubuhnya mematung kaku, serupa patung yang memegang obor, hanya keringat dingin masih mengucur dari keningnya.