
“Wah, coba dengar, betapa besar nada perkataanmu ini,” kata To Kiau-kiau. “Awas kalau kau dicaplok Li Toa-jui.”
“Apakah kedatanganmu ini hanya untuk bercanda dengan Siau hi-ji?” tegur Ban Jun-liu dengan ketus.
“Ai, tampaknya tabib kita menjadi marah,” kata To Kiau-kiau.
“Ya, sebenarnya ada urusan apa bibi To mencari diriku?” tanya Siau hi-ji.
“Ingin kusampaikan sesuatu berita baik bagimu,” kata To Kiau-kiau sambil tertawa.
“Berita baik apa?” tanya Siau hi-ji.
“Paman tertawa telah menyiapkan beberapa jenis santapan lezat, Li Toa-jui mengadakan satu guci arak dan aku... aku memasakkan satu panci Ang-sio-bak, malam ini kami hendak menjamu kau.”
Mata Siau hi-ji berkedip, tanyanya, “Sebab apa?”
“Setelah makan tentu kau akan tahu,” jawab To Kiau-kiau.
Siau-hi-ji menggeleng, katanya dengan tertawa, “Kalau bibi To tidak menjelaskan sebab-musababnya, maka jamuan itu tak berani kumakan, sebab bisa jadi jamuan itu akan membuat perutku mules dan tiga hari tidak sanggup turun dari tempat tidur.”
“Setan cilik, mengapa begitu besar rasa curigamu?” omel To Kiau-kiau.
“Ini kan aku belajar dari bibi sendiri,” sahut Siau hi-ji dengan tertawa.
“Baik, kuberitahukan, sebabnya kami menjamu dirimu adalah untuk memberi selamat jalan padamu.”
Siau hi-ji terperanjat. “Memberi selamat jalan padaku?” tanpa terasa ia menegas.
“Hihi, setan cilik, sekali ini tidak pernah terpikir olehmu bukan?”
“Sebab apa memberi selamat... selamat jalan padaku?”
“Sebab malam ini juga kau harus berangkat!”
Mulut Siau hi-ji ternganga dan mata terbelalak, katanya kemudian, “Malam ini juga aku harus berangkat? Ke... ke mana?”
“Ke luar sana! Dunia luar sana sedemikian luas, masakah kau tidak ingin pergi melihatnya?” ujar To Kiau-kiau.
“Aku... aku...” Siau-hi-ji meraba-raba kepalanya sendiri yang tidak gatal.
“Apalagi usiamu juga sudah cukup, perlu juga kau pergi mencari seorang bini....” kata To Kiau-kiau pula sambil mengikik. “Ai, setan cilik seperti dirimu, di luar sana entah betapa banyak anak perempuan akan tergila-gila padamu,” Ia tarik tangan Siau hi-ji lalu berucap pula dengan tertawa, “Eh, tabib Ban,” apakah kau takkan ikut memberi selamat jalan pada Siau hi-ji?”
Ban Jun-liu berdiri mematung dan bungkam sekian lama, akhirnya ia berkata dengan dingin, “Maaf, waktuku yang berharga takkan kubuang untuk urusan *****-bengek begitu... Silakan kalian pergi saja.” Lalu ia membalik tubuh dan masuk ke rumah.
“Huh, otak orang ini cuma berkecamuk di dunianya mengenai akar-akaran busuk, lebih dari itu dia tidak mau tahu sama sekali, seumpama bapaknya mau pergi juga dia takkan memberi selamat jalan,” demikian omel To Kiau-kiau.
“Jangan pedulikan dia, marilah kita pergi makan minum, sudah lama aku tidak minum arak,” kata Siau hi-ji.
“Sudah berapa lama?” kata To Kiau-kiau.
“Lama sekali, sedikitnya hampir setengah hari,” sahut Siau hi-ji dengan tertawa.
Di sana perjamuan memang sudah disiapkan. Dua guci arak dalam waktu singkat sudah habis.
Adapun To Kiau-kiau semakin banyak minum semakin mirip perempuan.
Hanya Siau hi-ji saja secawan demi secawan masih terus minum, air mukanya tidak berubah sedikit pun.
“Haha, kekuatan minum arak Siau hi-ji sungguh hebat, minum arak dianggapnya seperti minum air saja,” kata Ha ha-ji.
“Kalau minum air aku takkan minum sebanyak ini,” sahut Siau hi-ji
“Hm, minum arak juga bukan sesuatu yang baik, tiada harganya untuk dipuji,” jengek Im Kiu-yu.
“Setan tentu saja tidak minum arak, tapi manusia, setiap manusia kudu bisa minum satu-dua cawan...” ujar To Kiau-kiau dengan tertawa. “Wahai, Siau-hi-ji, apakah kau tahu, kecuali suatu hal, perbuatan busuk lainnya boleh dikatakan kau sudah paham seluruhnya.”
“Perbuatan busuk apa?!” seru Li Toa-jui gusar. “Lebih tepat dikatakan perbuatan baik! Orang hidup di dunia ini kalau tidak belajar perbuatan-perbuatan baik ini boleh dikatakan hidup secara sia-sia saja.”
Sementara itu Siau hi-ji lagi berkedip dan berpikir, tanyanya kemudian, “Hal apa yang belum kupahami, bibi To?”
To Kiau-kiau terkikik-kikik, katanya, “Hal ini, hihihi... Selang satu atau setengah tahun lagi, tanpa diajar juga kau akan mahir dengan sendirinya... Hihi, melihat tampangmu ini, untuk belajar hal ini tentu jauh lebih cepat dari pada orang lain.”
“Sesungguhnya urusan apakah ini?” tanya Siau hi-ji.
“Setan cilik, kau benar-benar tidak paham atau pura-pura tidak paham?” tanya To Kiau-kiau.
“Pura-pura,” sahut Siau hi-ji dengan tertawa.
Li Toa-jui terbahak-bahak, katanya, “Hahaha! Jika kau pura-pura tidak paham, maka kau perlu tahu bahwa hal ini harus dilakukan dua orang bersama, tapi bagi bibi To cukup tutup pintu kamar dan dapatlah dia lakukan sendirian.”
Habis berkata, dengan gembira ia angkat cawan araknya hendak menenggak pula. Mendadak “tring”, cawannya pecah berantakan, Im Kiu-yu mendengus, “Araknya tidak boleh diminum lagi!”
“Sebab apa?” teriak Li Toa-jui dengan gusar. “Berdasarkan apa kau hancurkan cawan arakku?”
“Kalau kita minum lagi, keberangkatan Siau hi-ji akan gagal,” ujar Im Kiu-yu.
Mata Li Toa-jui mendelik, setelah melotot sekian lamanya, mendadak sebelah kakinya mendepak, kontan sebuah guci kosong mencelat dan jatuh hancur, dengan menggreget ia berkata, “Pada suatu hari kelak pasti akan kucekoki kamu beberapa guci arak agar kau menjadi setan pemabukan.”
Siau hi-ji memandang para paman dan mamak itu dengan tertawa, tiba-tiba ia bertanya, “Para paman buru-buru hendak mengusirku pergi, sebenarnya apa sebabnya?”
“Setan cilik, suka curiga, memangnya siapa yang buru-buru ingin mengusirmu?” sahut To Kiau-kiau.
“Ah, kalian tidak omong juga aku tahu,” kata Siau hi-ji dengan tertawa.
“Kau tahu? Kau tahu apa? Coba katakan,” ucap To Kiau-kiau.
“Soalnya Siau hi-ji makin lama makin menjadi busuk dan binal, sedemikian binal sehingga membikin pusing para paman. Sebab itulah kalian buru-buru ingin memberangkatkan diriku agar aku dapat mencelakai orang lain.”
“Hihi, apa pun juga, yang pasti ucapanmu terakhir itu memang tepat,” ujar To Kiau-kiau dengan tertawa.
“Baiklah, kalian ingin kupergi, boleh. Kalian ingin aku celakai orang lain juga oke. Tapi semua ini adalah untuk kalian, bagiku apa manfaatnya? Betapa pun kalian juga mesti memberikan sedikit kebaikan padaku.”
“Haha, permintaan yang bagus, permintaan yang tepat!” seru Ha ha-ji. “Kau sanggup omong begitu, tidak percumalah kami mengajarmu selama ini... Memang, kalau tiada manfaatnya, biarpun ayahku sendiri menyuruh aku juga takkan kulakukan, apalagi para paman dan mamak.”