Legendary Siblings

Legendary Siblings
81. Arak Beracun



Begitulah berturut-turut tiga hari telah berlalu, Siau hi-ji tidak bilang mau berangkat, si kambing dan si sapi juga tidak tanya dan tidak tegur, pada hakikatnya lebih menurut daripada anaknya.


Tampaknya meski Li Toa-jui sudah lama mengasingkan diri, tapi dalam hati orang-orang itu masih ditakuti.


Nama 'Cap-toa-ok-jin' atau sepuluh top penjahat ternyata tidak boleh dibuat main-main.


Lewat lohor hari ketiga, seorang diri Siau hi-ji putar kayun pula di kota, dilihatnya banyak restoran dan warung makan hampir semuanya ada tamu yang diketahui pasti kaum Kangouw.


Tapi mereka hanya duduk-duduk dan minum iseng belaka, sama sekali tidak banyak bicara dan bergurau, pada hakikatnya bicara sepatah kata dua saja tidak.


Sudah tentu Siau hi-ji tidak tahu nama mereka, apakah orang-orang itu dari Hek-to (kalangan hitam) atau Pek-to (kalangan putih), tokoh-tokoh yang sudah ternama atau kaum keroco yang tak terkenal? Siau-hi-ji sama sekali juga tidak ambil pusing.


Di jalan raya terkadang juga berlalu lalang kaum Tojin (penganut agama To) yang berjubah merah dan berpedang dengan sikap yang angkuh luar biasa seakan-akan tidak memandang sebelah mata kepada orang lain.


Tapi lebih sering pula kaum tojin itu mengawasi orang lain dengan sorot mata yang tajam. Tojin-tojin itu seperti lagi berjalan-jalan iseng di kota, tapi air muka mereka tampaknya sangat prihatin.


Siau hi-ji tahu para Tojin itu pasti anak murid Go-bi-pay. Ilmu pedang Go-bi-pay terkenal lihai, pantas kalau anak muridnya juga sok berlagak, apalagi di sini adalah kaki gunung Go-bi-san, tempat pangkal mereka, dengan sendirinya mereka suka pasang aksi seperti sedang mengawasi gerak-gerik setiap pendatang.


Setelah putar kayun, Siau hi-ji membeli sebuah 'Hiang-tay', yaitu kantongan yang berisi hiosoa (dupa lidi) lilin dan sebagainya untuk sembahyang.


Lalu dia membeli pula satu kati Loh-se-bak (daging masak) yang terkenal lezat di kota ini, habis itu barulah dia pulang ke hotel.


Di kamar hotel sudah tersedia satu meja perjamuan, si kambing dan si sapi tampak duduk menunggu, santapan sudah hampir dingin semuanya, tapi kedua orang itu sama sekali tidak berani mengutik-utik santapan itu.


Dengan tertawa Siau hi-ji berkata kepada mereka, "Selama tiga hari ini kalian ternyata lebih alim daripada gadis pingitan, melangkah keluar kamar saja tidak pernah, padahal di luar sangat ramai, masakah kalian tidak pingin melihatnya?"


"Memangnya siapa yang tidak pingin melihat keramaian?" ujar si sapi dengan menyengir.


"Cuma bagi kami berdua rasanya tidak leluasa bergerak di kaki gunung Go-bi ini, maka lebih baik minum arak saja di dalam rumah."


"Hah, masakah kaum Tosu Go-bi-pay itu sedemikian lihai sehingga kalian takut kepada mereka?" ucap Siau hi-ji.


Si sapi mengangkat cawan arak dan mengajak minum, katanya sambil menghela napas, "Sudahlah, kita tak usah bicara urusan itu, marilah, Siautit (keponakan) menyuguh secawan kepada paman."


Tapi Siau hi-ji lebih dulu membuka bungkusan Loh-se-bak yang dibelinya tadi, katanya dengan tertawa, "Konon Loh-se-bak ini dibuat dengan kuah simpanan tahunan sehingga rasanya empuk dan lezat, lain daripada yang lain, silakan kalian mencobanya dahulu."


"Sudah banyak cucu yang menyediakan santapan sebaik ini, buat apa engkau orang tua mengeluarkan biaya pula?" ucap si sapi.


"Ah, setiap hari makan enak, bosan rasanya, ganti cita rasa kan juga ada baiknya," ujar Siau hi-ji.


"Orang tua menyuguh jangan ditolak," kata si kambing, segera ia mendahului menyumpit sepotong Loh-se-bak terus dilalap sembari tiada hentinya memuji kelezatannya.


Setelah dia habis makan sepotong, dalam pada itu si sapi sudah melalap lima potong.


Siau hi-ji juga habis meneguk dua cawan arak sehingga semakin menambah rasa gembiranya.


Katanya kemudian, "Tampaknya ilmu pedang Go-bi-pay memang hebat, setiap kawan Kangouw yang datang ke sini ternyata bicara sedikit keras saja tidak berani, haha, lambat atau cepat aku harus belajar kenal dengan ilmu pedang mereka."


"Bila engkau orang tua sudah turun tangan, pasti kawanan Tosu Go-bi-pay itu akan lari kalang kabut," demikian si sapi mengumpak.


Si kambing menatap kantongan Hiosoa yang dibawa Siau hi-ji itu, tanyanya, "Apakah engkau orang tua akan naik ke Go-bi-san?"


"Kapankah engkau akan berangkat?" tanya si sapi.


"Besok pagi-pagi," jawab Siau hi-ji.


Tiba-tiba si sapi menghela napas dan berkata, "Cuma sayang rencanamu perlu diubah lagi."


"Mengapa harus diubah?" tanya Siau hi-ji sambil mengernyitkan kening.


Si sapi tidak menjawab melainkan tertawa saja, tertawa yang sangat aneh.


Dengan tertawa terkekeh si kambing lantas menukas, "Hah, masakah kau anak jadah ini belum lagi mengetahui?"


Bahwa dari sebutan 'engkau orang tua' mendadak berubah menjadi 'anak jadah', betapa pun Siau hi-ji terkejut juga.


"Brak", anak muda itu lantas menggebrak meja dan berbangkit mendadak sambil mendamprat, "Kau bandot tua, berani kau..." belum habis ucapannya, dengan lemas ia lantas roboh terkulai.


"Hehe, anak jadah, sekarang tentunya kau tahu persoalan bukan?" kata si kambing.


"A... arak itu beracun!" ucap Siau hi-ji dengan suara lemah.


"Nah, kau baru nyaho sekarang," jengek si sapi.


"Karena khawatir sukar mengakali kau, kami minum bersamamu dari poci arak yang sama, namun sebelumnya kami sudah minum obat penawar."


"Meng ... mengapa kalian berbuat begini?" tanya Siau hi-ji.


"Memangnya kau kira kedatangan kami ke Buyung-san-ceng itu lantaran kami mengincar obat mujarab Buyung? Huh, kalau cuma obat buatan budak-budak keluarga Buyung itu kiranya belum perlu bikin repot Cap-ji-she-shio."


"Bicara terus terang, kedatangan kami ke sana adalah untuk mencari kau," demikian si sapi menyambung.


"Soalnya di dunia ini mungkin hanya kau saja yang mengetahui tempat penyimpanan harta karun Yan Lam-thian itu," kata si kambing pula. "Demi berhasil membekuk dirimu, Coa-lolak (si ular nomor enam, maksudnya Pek-coa-sin-kun) kita telah memasang mata-mata di sekeliling Buyung-san-ceng di samping mengirimkan berita merpati kepada kami. Siapa tahu baru saja kami menyusul ke sana, si budak Buyung Kiu itu ternyata sudah kabur tanpa bekas."


"Tapi jelas kau masih ditinggalkan di dalam perkampungannya," sambung si sapi pula. "Kami lantas masuk ke situ untuk mencarimu, tapi meski kami sudah mencari ubek-ubekan, bayanganmu sama sekali tak ditemukan. Saking mendongkol kami lantas menyalakan api dan membakar perkampungan Buyung itu."


"Setelah rumah-rumah itu menjadi puing barulah kami melihat gudang batu itu," si kambing menyambung pula. "Rupanya kau anak jadah ini berbuat sesuatu sehingga kau dikurung di penjara berair itu."


"Sebenarnya tidak perlu heran," ujar si sapi, "Si budak Buyung Kiu memang suka girang dan marah tidak menentu..."


"Tapi mengapa kemudian tertinggal kalian berdua saja?" tanya Siau hi-ji.


"Sebelumnya kami sudah tahu kau anak jadah ini banyak tipu muslihat," jawab si sapi dengan tertawa. "Kalau kami paksa kau mengaku di mana tempat penyimpanan harta karun itu, bukan mustahil kau akan menjebak kami dengan akal setanmu. Selain itu kalau kau sembarangan menunjukkan sesuatu tempat, bukankah kami akan berputar sia-sia bersamamu, belum lagi kalau di tengah jalan kau sempat lolos, bukankah tambah penasaran?"


"Tapi saudara sapi kita sudah memperhitungkan dengan tepat, apabila kau dapat bergerak, maka tempat yang pertama-tama yang kau tuju pasti tempat penyimpanan harta karun Yan Lam-thian itu," ujar si kambing. "Makanya dia lantas memasang jeratan ini agar kau masuk perangkap."


"He, jadi kau yang mengatur perangkap ini?" tanya Siau hi-ji sambil menatap tajam kepada si sapi.


"Tak terduga olehmu bukan?" jawab si sapi.