Legendary Siblings

Legendary Siblings
89. Peti Mati



Muka Tio Coan-hay menjadi pucat, ia pandang si kakek jubah biru dan memandang pula ular yang memenuhi tubuh Siau hi-ji, akhirnya dia berkata dengan suara tertahan, "Tuan inilah It ho kay-san (sekali bersuara menggugurkan gunung) Siau-hun Kisu yang terkenal dengan Khikangnya, dia adalah sahabat karib Ui-keh Taysu, boleh dikatakan sehidup semati persahabatan antara mereka berdua."


"Jika sahabat sehidup semati, mengapa dia tidak turun tangan membantu si Hwesio ayam kuning itu?" ujar Siau hi-ji.


Tio Coan-hay berbisik pula terlebih lirih, "Dengan sendirinya Ong It-jiau juga tidak datang sendirian, kedua orang yang berdiri di belakangnya itu, yang seorang adalah tokoh Thian lam kiam-pay dan terkenal dengan ilmu pukulan serta ilmu pedangnya, seorang lagi adalah Khu Jing-po, Khujiya yang mengepalai keluarga Khu dari Ciatkang dengan ilmu tombaknya yang terkenal. Keluarga Khu dan keluarga Ong adalah sahabat turun temurun, dengan sendirinya mereka pun siap membela Ong It-jiau, cuma... cuma Ui-keh Taysu dan Ong It-jiau tentu juga jaga gengsi dan tidak suka dibantu."


"Gengsi kentut anjing," jengek Siau hi-ji, "Kalau Ong It-jiau datang sendirian, mustahil kalau si tua Siau-hun tidak mengerubutnya..." habis ini mendadak ia melangkah maju dan memberi salam kepada Khu Jing-po serta menegur, "He, apakah Khu-jite (adik kedua) selama ini baik-baik saja?"


Wajah Khu Jing-po itu putih bersih, dia sedang mengawasi pertarungan temannya dengan prihatin.


Tapi demi nampak bentuk Siau hi-ji yang aneh ini, mau tak mau ia pun melengak, jawabnya, "Jite siapa? Dari mana kau kenal diriku dan cara bagaimana kau pun datang ke sini?"


"Haha, kau tidak kenal aku, tapi kukenal kau," kata Siau hi-ji dengan tertawa. "Sekali ini kubawa serta Tio Coan-hay, Pang Thian-ih dan nona Liu, si golok bunga salju, justru kami hendak membantumu, silakan kau dan saudara dari Thian lam kiam-pay itu turun tangan terhadap si tua Siau-hun, kutanggung mengantar si Hwesio ayam kuning pergi ke langit barat (artinya mati)."


Kejut dan heran pula Khu Jing-po, selagi bingung, tampak air muka Siau-hun Kisu berubah hebat, mendadak ia bersuit panjang nyaring sehingga api obor sampai tergoyang-goyang.


Dengan sendirinya perhatian Ong It-jiau dan Ui-keh Taysu juga terpengaruh oleh suara suitan keras itu, empat tangan yang tadinya saling menempel itu bergetar lepas seketika.


Kelima orang itu adalah tokoh-tokoh yang sudah berpengalaman luas dan berkepandaian tinggi, dengan sendirinya reaksi mereka pun sangat cepat.


Serentak senjata mereka sudah


tergenggam di tangan, Ui-keh Taysu melompat bangun sehingga mirip gumpalan awan kuning yang mengambang di udara.


Terdengar Siau-hun Kisu membentak, "Dengan nama kebesaran keluarga Ong dan Khu, apakah kalian juga ingin main kerubut?"


Tiba-tiba Siau hi-ji bergelak tertawa dan menimbrung, "Katanya kalian berlima adalah tokoh-tokoh luar biasa, padahal kalian juga tiada bedanya dengan kawanan bandit, kedua pihak sama-sama tidak dapat mempercayai pihak lain, masing-masing sama bermaksud busuk."


Dengan murka Siau-hun Kisu membentak, "Siapa kau, sebenarnya apa kehendakmu?"


"Jangan khawatir," jawab Siau hi-ji, "Aku takkan membela pihak mana pun, aku cuma tidak tega melihat kalian saling bunuh sebelum menemukan harta karunnya, bukankah kalian akan mati konyol dan sia-sia belaka?"


"Sesungguhnya siapa kau?" tegur Ong It-jiau dengan sorot mata tajam.


"Kau tidak kenal aku?" jawab Siau hi-ji dengan tertawa. "Tanyakan saja padanya."


Dia menuding Tio Coan-hay, maka lima pasang mata serentak menatap tajam ke arah orang she Tio itu.


Keder juga Tio Coan-hay, dengan menunduk ia berkata dengan gelagapan, "Inilah Giok... Giok locianpwe, si raja diraja, yang dipertuan dari segenap ilmu pedang, yang diagungkan oleh semua ular, mengguncang bumi dan menggetar langit tanpa tandingan, Giok ong-cu, Giok-locianpwe..."


"Hehe, walaupun kelompatan beberapa kalimat, tapi boleh juga," ucap Siau hi-ji sambil manggut-manggut. "Nah, kalau kalian tidak pernah dengar namaku ini, maka berarti kalian yang cetek pengalaman dan cupet pendengaran."


"Hm, bocah ingusan juga pakai serentetan nama begitu?" damprat Ong It-jiau.


"Tapi... tapi Lwekang Giok-locianpwe ini sudah mencapai puncaknya," tutur Tio Coan-hay.


"Kiam leng sam-kiam, Hwe pian-hok, Niau thau-eng dan Pek coa sin-kun, semuanya binasa di tangan Giok-locianpwe ini."


Dengan sorot mata tajam Siau-hun Kisu membentak Tio Coan-hay, "Orang-orang itu mati di tangannya, dari mana kau tahu? Apakah kau menyaksikan sendiri?"


"Aku... aku, sudah tentu kusaksikan sendiri, mayat mereka saat ini pun masih menggeletak di luar sana," jawab Tio Coan-hay.


Meski dia tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, tapi dalam hati dia sudah percaya penuh.


Apalagi dalam keadaan demikian, ibarat orang sudah menunggang harimau dan sukar lagi turun, terpaksa ia harus menyatakannya secara tegas.


Seketika Ong It-jiau dan Khu Jing-po berlima saling pandang memandang, bila kemudian mereka berpaling ke arah Siau hi-ji, maka sorot mata dan sikap mereka sudah jauh berbeda daripada tadi.


Maklumlah, meski kelima orang ini tidak memandang sebelah mata akan ilmu silat Tio Coan-hay, tapi terhadap keterangan orang she Tio itu mereka tak berani meremehkannya. Nama Congpiauthau gabungan tujuh belas perusahaan pengawalan dari propinsi Holam dan Hopak betapa pun juga berbobot, kalau dibawa ke rumah gadai sedikitnya laku berapa tahil perak.


Dengan berseri-seri Siau hi-ji mengerling semua orang, lalu berkata pula dengan tersenyum, "Harta karun ini ada beberapa buah peta, apakah kalian tidak merasa heran atas kejadian ini dan tidak ingin mencari tahu sebab musababnya?"


Jika uraian Siau hi-ji ini diucapkan tadi mungkin takkan diperhatikan dan direnungkan oleh orang-orang itu, kini kedudukannya sudah lain dalam pandangan mereka, dengan sendirinya bobot perkataannya juga sudah berbeda.


Segera pikiran Ong It-jiau dan lain-lain bekerja cepat, mereka pun merasa urusan ini rada ganjil dan mencurigakan.


Waktu Siau hi-ji menengadah, terlihat di atas gua ada sebuah lubang angin, kelihatan bintang-bintang di langit, bahkan cahaya bulan juga menembus masuk dari situ.


"Sudah tiba saatnya!" serentak orang-orang itu berseru.


Siau-hun Kisu bersuit, Ong It-jiau terus ayun tangannya, api obor segera padam, hanya sinar bulan saja yang tepat menyoroti sebuah tonggak batu.


Rupanya tempat yang tersorot cahaya bulan itulah tepat jalan masuk ke tempat penyimpanan harta karun.


Ong It-jiau lantas mendahului melompat ke tonggak batu itu, sudah tentu yang lain tidak mau ketinggalan, beramai-ramai mereka memburu maju.


Tonggak batu itu memang benar dapat digeser, ketika obor dinyalakan pula, tertampaklah mulut lorong di bawah tanah yang penuh rahasia ini, belasan undak-undakan batu tampak menjurus ke bawah.


Segera Ong It-jiau mendahului turun ke situ, disusul oleh Ui-keh Taysu, Khu Jing-po dan lain-lain, satu mengawasi yang lain, khawatir ketinggalan rezeki.


Semuanya dengan perasaan tegang sehingga napas pun sama tersengal seakan-akan menghadapi musuh di medan perang.


Siau hi-ji berada paling belakang, wajahnya masih tersenyum simpul, namun perasaannya rada tegang dan juga bersemangat, betapa pun rahasia di tempat ini belum jelas baginya.


Sekonyong-konyong terdengar Ong It jui bersuara "he", menyusul Ui-keh Taysu juga bersuara sama. Kedua orang ini terhitung tokoh suatu aliran tersendiri, kalau tidak melihat sesuatu yang aneh luar biasa, rasanya tidak mungkin mengeluarkan suara keheranan begitu.


Dengan sendirinya orang-orang yang mengintil di belakang mereka pun memburu ke sana, maka sejenak kemudian Sun Thiam-lan, Tio Coan-hay dan lain-lain juga sama bersuara heran, semuanya berdiri terkesima dan tak dapat bersuara pula.


Kiranya di ujung lorong sana tiada terdapat harta karun apa segala, yang ada cuma beberapa buah peti mati. Peti mati bercat hitam, di dalam gua yang remang-remang oleh cahaya obor tampaknya menjadi sangat seram dan misterius.


Di depan setiap peti mati itu ada tempat sembahyang, yaitu meja kecil dengan papan tanda pengenal dihiasi kelambu kuning.


Angin yang meniup masuk melalui lorong itu membuat kelambu kuning itu berkibar sehingga menambah seram suasananya.