
Kang Hong, setiap orang yang bertelinga di dunia Kangouw (kelana) niscaya pernah mendengar nama “si mahacakap” ini, begitu pula nama Yan Lam-thian, si jago pedang nomor satu di dunia persilatan.
Setiap insan persilatan yang bermata tentu juga berhasrat melihat wajah Kang Hong yang mahacakap serta ingin menyaksikan ilmu pedang Yan Lam-thian yang tiada bandingannya di kolong langit ini.
Setiap orang pun tahu bahwa tiada seorang gadis di dunia ini yang sanggup menahan senyuman Kang Hong dan juga tiada jago silat yang mampu melawan pedang sakti Yan Lam-thian.
Semua orang percaya bahwa pedang Yan Lam-thian sanggup mencabut nyawa seorang panglima di tengah-tengah pasukannya dan dapat membelah seutas rambut menjadi dua, sedangkan senyuman Kang Hong mampu menghancurluluhkan hati setiap orang perempuan.
Akan tetapi pada saat itulah lelaki yang paling cakap di dunia ini justru sedang lari terbirit-birit demi seorang perempuan.
Dengan pakaian yang sederhana dan kumal Kang Hong sedang mengendarai sebuah kereta kuda rongsokan dan menyusuri sebuah jalan yang sudah lama telantar dan tidak terinjak kaki manusia.
Dalam keadaan demikian, siapa pun takkan percaya bahwa dia inilah Kang Hong, si mahacakap, si rupawan yang romantis dan menggiurkan hati setiap gadis itu.
Panas terik sinar sang surya dalam bulan tujuh menyengat kulit. Waktu itu sudah dekat senja, namun manusia dan kudanya masih kegerahan oleh hawa yang panas itu.
Kang Hong ternyata tidak menghiraukan badannya yang sudah basah kuyup air keringat, ia masih terus mencambuki kudanya agar berlari terlebih kencang.
Suasana sunyi senyap, hanya terdengar berdetaknya kuda lari dan gemertuk roda kereta diseling menggeletarnya cambuk.
Tiba-tiba suara ayam berkokok memecah kesepian. Sungguh aneh, dari mana datangnya ayam berkokok di jalan telantar menjelang senja ini? Berubah air muka Kang Hong, sorot matanya yang tajam memancar jauh ke depan sana, terlihat seekor ayam jantan besar menongkrong di atas dahan pohon reyot di tepi jalan tanpa bergerak sedikit pun.
Jenggernya yang merah indah kereng serta bulunya yang beraneka warna itu tampak berkilau-kilau. Mata ayam jantan itu pun seakan-akan memancarkan sinar yang jahat dan mengerikan.
Muka Kang Hong bertambah pucat, mendadak ia menarik tali kendalinya. Kuda itu meringkik panjang dan kereta pun berhenti.
“Ada apa?” tanya sebuah suara lembut dan manis dari dalam kereta.
Kang Hong ragu-ragu sejenak, jawabnya kemudian dengan menyeringai, “Ah, tidak apa-apa, tampaknya kita kesasar.” Segera ia memutar balik keretanya dan dikaburkan ke arah datangnya tadi.
Terdengar ayam jantan berkokok pula seakan-akan lagi mengejeknya.
Dengan gelisah Kang Hong mencambuk kudanya sehingga berlari lebih cepat. Akan tetapi, belum lagi seberapa jauh, sekonyong-konyong ia menghentikan keretanya, sebab di tengah jalan melintang sesosok tubuh gemuk besar.
Bukan tubuh manusia melainkan tubuh b*bi raksasa. Sungguh aneh, dari mana datangnya b*bi sebesar ini di jalan telantar dan lama tak terinjak manusia ini? Padahal baru saja keretanya lalu di sini tanpa kelihatan secuil daging b*bi, tapi sekarang seekor b*bi besar, benar-benar seekor bulat, melintang di situ.
“Engkau kesasar lagi bukan?” terdengar pula suara lembut tadi dari dalam kereta yang jendelanya dan pintunya tertutup rapat itu.
“Aku ... aku ....” Kang Hong tergegap dengan butiran keringat memenuhi dahinya.
“Untuk apa kau dustaiku?” ujar suara lembut manis itu dengan menghela napas perlahan. “Sudah sejak tadi kutahu.”
“Kau tahu?” Kang Hong menegas dengan tersipu-sipu.
“Ketika mendengar kokok ayam tadi, sudah kuduga pasti orang ‘Cap-ji-she-shio’ hendak merecoki kita. Supaya aku tidak khawatir, maka kau dustai aku, betul tidak?”
“Sungguh aneh,” kata Kang Hong dengan gegetun. “Padahal perjalanan kita ini sedemikian rahasia, mengapa mereka bisa tahu? ... Tapi ... tapi engkau jangan khawatir, urusan apa pun akan kuhadapi.”
“Kau salah lagi,” kata orang di dalam kereta dengan suara halus, “sejak hari itu aku sudah ... sudah bertekad sehidup semati denganmu, bahaya apa pun yang akan terjadi juga harus kita hadapi bersama.”
“Tapi keadaanmu sekarang ....”
“Tidak menjadi soal, aku merasa baik-baik saja.”
“Baiklah, dapatkah engkau turun dan berjalan? Kedua arah jalan ini sudah diberi tanda peringatan, tampaknya terpaksa kita harus meninggalkan kereta dan menyusuri ladang belukar ....”
“Mengapa kita harus meninggalkan kereta ini?” ujar orang dalam kereta. “Kalau mereka sudah berhasil membayangi kita dan sulit meloloskan diri, biarlah kita tunggu saja di sini. Meski nama Cap-ji-she-shio terkenal kejam, kita juga tidak perlu gentar terhadap mereka.”
“Aku hanya khawatir ... khawatirkan engkau ….” Kang Hong ragu-ragu.
Ia tahu kemampuan sang kekasih, tapi ia pun tahu siapa 'Cap-ji-she-shio', yakni ke-12 lambang kelahiran yang digunakan sebagai nama julukan oleh 12 gembong penjahat yang akhir-akhir ini terkenal sangat kejam dan ganas di dunia Kangouw.
Dari ke-12 lambang kelahiran itu (tikus, kerbau, harimau, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, kera, ayam jago, anj*ng dan b*bi) tampaknya yang baru muncul adalah si ayam jago dan b*bi.
Tiba-tiba wajah Kang Hong juga menampilkan senyuman mesra, katanya perlahan, “Dapat bertemu dengan dirimu, sungguh sangat beruntung bagiku.”
“Yang benar-benar beruntung adalah diriku,” ujar orang dalam kereta dengan tertawa merdu.
“Kutahu, di dunia Kangouw ini entah betapa banyak anak perempuan yang mengagumi diriku bahkan iri padaku, sebab mereka ….”
Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong kuda meringkik dan berjingkrak. Angin senja meniup silir-semilir, tapi binatang ini merasakan sesuatu alamat yang tidak enak.
B*bi yang menggeletak di tengah jalan tadi mendadak membalik tubuh, kokok ayam terdengar pula di kejauhan, cuaca senja berubah menjadi suram seakan-akan tercekam oleh suasana yang sunyi dan rawan.
Air muka Kang Hong berubah pula, katanya, “Tampaknya mereka sudah datang!”
“Hahahaha! Memang benar, kami sudah datang!” mendadak terdengar orang bergelak tertawa di balik kereta sana.
Suara tertawa itu pun seperti ayam berkotek, tajam, bising, menusuk telinga.
Selama hidup Kang Hong belum pernah mendengar suara tertawa yang begitu aneh.
Dengan terkejut ia berpaling dan membentak tertahan, “Siapa itu?”
Begitu lenyap suara tertawa bagai ayam berkotek itu, dari belakang kereta lantas muncul enam-tujuh orang.
Orang pertama bertubuh kurus kering, tingginya lebih lima kaki, bajunya berwarna merah membara sehingga tampak sangat mencolok, tidak serasi dan agak gaib. Orang kedua bertubuh jangkung, tingginya lebih dua meter, baju kuning dan kopiah kuning, muka penuh benjolan daging lebih dan tanpa emosi.
Menyusul adalah empat orang dengan dandanan yang lebih aneh, pakaian mereka terbuat dari potongan-potongan kain yang berwarna-warni sehingga mirip baju pengemis kaya di panggung sandiwara.
Wajah dan perawakan keempat orang ini tidak sama, tapi tampak bengis dan tangkas, gerak-gerik pun seragam mirip orang berbaris.
Rada jauh di belakang sana mengikut pula seorang gemuk, begitu gemuk sehingga kulit daging bagian pipi dan perut seakan-akan kedodoran bergelantungan, berat badan keenam orang di depannya digabung seluruhnya mungkin juga tidak lebih berat daripada bobot si gemuk.
Saking gemuknya sehingga jalannya kepayahan, kakinya seperti tidak sanggup menahan tubuh sendiri yang gede dan tambun itu, setiap langkah membuatnya terengah-engah.
“Wah, panasnya, bisa mamp*s aku!” demikian tiada hentinya si gemuk mengeluh dengan megap-megap dan bermandi keringat.
Kang Hong melompat turun dari keretanya, sebisanya ia bersikap tenang dan menegur, “Apakah yang datang ini Su-sin-khek (si tamu penjaga subuh) dan Hek-bian-kun (tuan muka hitam) dari Cap-ji-she-shio adanya?”
Si baju merah tadi terkekeh-kekeh, jawabnya, “Tajam juga pandangan Kang-kongcu. Cuma kami ini sesungguhnya hanya seekor ayam dan seekor b*bi saja, sebutan Su-sin-khek dan Hek-bian-kun yang sedap ini adalah hadiah teman-teman Kangouw, kami sendiri mana berani menerimanya.”
Dengan sorot mata tajam Kang Hong berkata, “O, tentunya saudara ini ialah ….”
“Yang merah adalah jengger, yang kuning adalah dada dan yang belorok adalah ekor,” potong si baju merah dengan tertawa.
“Mengenai kawan paling belakang itu, silakan kau menilai sendiri. Bentuknya mirip apa, maka itulah dia.”
“Entah ada petunjuk apakah dari kalian?” tanya Kang Hong.
“Konon Kang-kongcu mendapatkan pacar baru, kami bersaudara jadi ingin tahu macam apakah si dara cantik yang dapat memikat hati pangeran kita mahacakap ini,” jawab si baju merah alias jengger jago.
“Selain itu kami bersaudara juga ingin memohon sesuatu benda padamu.”
“Benda apakah yang kalian kehendaki?” tanya Kang Hong.
Si jengger ayam bergelak tertawa, jawabnya, “Benda yang dapat menarik perhatian saudara gemuk kami sehingga dia memburu ke sini tanpa menghiraukan panas terik matahari, kukira pastilah bukan benda sembarang benda.”
Tepat pada saat itu si gemuk tadi alias Hek-bian-kun sudah mendekat dengan napas terengah-engah dan menyambung dengan cengar-cengir, “Benar, kalau bukan benda bagus, kan lebih enak kucari angin dan tidur di rumah saja.”
.
.
.