
"Kutanggung pasti kembali ke sini," seru Thi Sim-lam.
Dengan memiringkan kepala Siau hi-ji berlagak berpikir, lalu berkata dengan tertawa, "Coba lihat, ksatria sejati bukan muridku ini, Tho-hoa?"
Tapi Tho-hoa memandang Thi Sim-lam dengan terkesima, katanya kemudian dengan berdoa, "Semoga Allah memberkati engkau."
"Haha, ksatria menolong si cantik, kisah indah harus kusambut dengan baik. Baiklah, berangkatlah engkau!" habis berkata, Siau hi-ji menepuk perlahan dua kali di punggung Thi Sim-lam dan segera pemuda itu melompat bangun.
"Dan engkau?..." tanya Tho-hoa.
"Sudah ada seorang ksatria masakah belum cukup?" ujar Siau hi-ji dengan tertawa. "Biarlah kutunggu saja di sini."
"Orang yang tidak suka menolong sesamanya, kelak tentu juga tiada orang yang menolong engkau," omel Tho-hoa. Tanpa memandang lagi pada Siau hi-ji, segera ia mencemplak ke atas kuda dan berseru, "Thi ... ayolah engkau juga naik kudaku!"
Thi Sim-lam memandang sekejap ke arah Siau hi-ji dengan ragu, tapi akhirnya ia mencemplak juga terus dilarikan secepat terbang.
Sambil mengikuti kabut debu yang mengepul makin jauh itu, Siau hi-ji bergumam dengan tertawa, "Nona yang suka pacaran, cintanya pasti tidak teguh. Sekali Thi Sim-lam tergoda olehnya, entah kapan baru dia dapat melepaskan diri." Perlahan ia tepuk leher kuda putihnya, lalu berkata pula, "Kudaku sayang, marilah kita pun pergi menonton keramaian. Tapi bila melihat kuda betina cantik janganlah kau mendekatinya, usia kita masih kecil, bila tergoda oleh perempuan, maka tenggelamlah selama hidupmu."
Dalam pada itu Tho-hoa sedang melarikan kudanya secepat terbang, rambutnya yang panjang melambai tertiup angin dan mengusap muka Thi Sim-lam, tapi Thi Sim-lam seperti tidak merasakan sesuatu dan tanpa bergerak.
Tho-hoa merasakan hawa hangat napas Thi Sim-lam mengembus ke kuduknya hingga membuatnya kerih, namun sedapatnya dia pegang tali kendali dengan kencang, katanya sambil melirik ke belakang, "Apakah dudukmu cukup kukuh?"
"Ehm," sahut Thi Sim-lam.
"Jika dudukmu tidak enak, sebaiknya kau rangkul aku agar tidak terperosot," kata Tho-hoa pula.
"Ehm," kembali Thi Sim-lam menjawab singkat dan tanpa rikuh ia benar lantas merangkulnya.
Seluruh badan Tho-hoa merasa lemas semua, mendadak ia berkata, "Asalkan kau dapat menyelamatkan suku bangsaku, apa pun... apa pun akan kuberikan padamu."
"Ehm," lagi-lagi Thi Sim-lam hanya mendengus saja.
Tho-hoa mencambuk kudanya lebih keras. Perjalanan ini sebenarnya tidak dekat, tapi Tho-hoa merasa hanya sebentar saja sudah sampai.
Mereka sudah dapat melihat tanda warna kuning di kejauhan dan dapat mendengar suara jerit takut orang banyak.
"Apakah kita terjang masuk begini saja?" tanya Tho-hoa sesudah dekat.
Mendadak sesosok bayangan putih melayang dari belakang, Thi Sim-lam yang duduk di belakangnya itu tahu-tahu sudah berdiri di depan sana. Tho-hoa terkejut dan bergirang, cepat ia menahan kudanya.
Segera Thi Sim-lam membentak ke arah perkemahan, "Ini Thi Sim-lam berada di sini! Siapa yang mencari aku?"
Jerit takut dan mencaci maki di dalam kemah seketika sirap. Terdengar suara angin mendesir, baju Thi Sim-lam berkibar terembus angin.
Mendadak seorang bergelak tertawa di dalam kemah dan berteriak, "Bagus, bocah she Thi, kau memang pemberani, tidak sia-sia juga saudara keluarga Li kami menunggu di sini."
"Hm, memang sudah kuduga pasti kalian," jengek Thi Sim-lam. "Jika yang kalian kehendaki adalah diriku, nah, tunggu apalagi? Ayolah keluar ikut padaku!"
Berbareng ia terus putar tubuh dan melangkah ke sana dengan perlahan.
Namun Thi Sim-lam masih tetap berjalan dengan perlahan, bahkan berkedip saja tidak.
Menyaksikan itu dari jauh diam-diam Tho-hoa khawatir dan girang. Girangnya karena pemuda she Thi memang ksatria sejati dan gagah berani.
Khawatirnya karena bentuk Thi Sim-lam yang lemah lembut itu mungkin bukan tandingan kawanan bandit itu.
Begitulah belasan penunggang kuda dalam sekejap saja telah mengepung Thi Sim-lam di tengah. Tapi Thi Sim-lam tetap tidak menggubris, walaupun kawanan bandit itu sama bersenjata, namun tiada seorang pun berani turun tangan.
Setelah berjalan agak jauh barulah Thi Sim-lam berhenti, lalu menjengek, "Baiklah, sekarang katakan, untuk apa kalian mencari diriku?"
Seorang lelaki berewok dan bermata satu paling depan segera berteriak dengan bengis, "Kami ingin tanya kau dulu, benda itu berada padamu bukan?"
"Betul, berada padaku," jengek Thi Sim-lam. "Tapi melulu beberapa orang macam kalian ini tidak sesuai untuk mengincarnya. Jika kalian mengira kedatanganku ke sini adalah untuk menghindari pencarian kalian, maka salahlah kalian."
"K*parat?" teriak si mata satu dengan murka, mendadak ia tarik tali kendalinya, kudanya berjingkrak, lalu menerjang maju, cambuknya menggeletar terus menyabet laksana lilitan ular.
"Turun!" bentak Thi Sim-lam nyaring, sekali tangannya bergerak, entah cara bagaimana tahu-tahu ujung cambuk sudah dipegangnya terus disendal, kontan tubuh si mata satu yang besar itu mencelat dan jatuh terguling jauh di sana.
Ketika Thi Sim-lam memutar cambuknya, kuda lawan sama meringkik kaget dan berjingkrak mundur.
Mendadak sinar golok berkelebat, dua penunggang kuda menyergap dari belakang, golok besar terus menabas kuduk Thi Sim-lam.
Tanpa menoleh Thi Sim-lam sedikit mendak ke bawah, kedua golok musuh menyambar lewat di atas kepalanya, sebelum lawan sempat berbuat lain, cambuk Thi Sim-lam sudah menyambar, ujung cambuk menutul perlahan bagian iga kedua musuh itu dan kontan terguling dari kuda mereka.
Seorang bahkan ketambahan disepak oleh kaki kuda sendiri sehingga terpental, golok yang dipegang pun menabas sebagian pipi sendiri sehingga darah bercucuran.
Seorang lagi sebelah kakinya masih tersangkut pada injakan pelana dan sukar terlepas, akibatnya dia terseret oleh kudanya yang lari ketakutan.
Begitulah dalam sekejap saja Thi Sim-lam berhasil membereskan tiga lawan dengan mudah, keruan sisa musuhnya menjadi takut.
"Hehe, kiranya cuma begini saja kepandaian keluarga Li, tapi berani mengincar barangku?" jengek Thi Sim-lam.
"Kalau saudara keluarga Li tidak sesuai mengincar barangmu, bagaimana kalau saudara keluarga Mo?" demikian tiba-tiba seorang menanggapi dengan suara dingin, ketus suara itu, perlahan seperti mengambang terbawa angin dan membuat telinga si pendengarnya merasa risi.
Seketika air muka Thi Sim-lam berubah pucat, tanpa terasa ia bergumam, "Tiga utas bulu dari Gobi-san..."
"Hehe, kiranya kau pun kenal nama kami!" kembali suara seorang menanggapi, suaranya tajam seperti ayam berkotek yang lehernya tercekik.
Perlahan Thi Sim-lam membalik tubuh, terlihatlah seekor kuda tinggi besar berdiri di belakangnya, di atas pelana ukuran besar yang di buat secara khusus duduk berjajar tiga orang.
Orang pertama sekilas pandang mirip anak kecil berumur lima-enam tahun, tapi kalau diteliti barulah jelas kelihatan bahwa "bocah" ini sudah berjenggot. Jenggotnya yang putih halus itu mirip bulu kera.
Bukan saja bagian mulutnya berbulu, bahkan di atas matanya, bagian dahi, kuduknya, telapak tangan... setiap bagian tubuh yang dapat terlihat, semuanya berbulu.
Anggota badannya tidak cacat atau kurang, cuma tempatnya yang keliru, mata kiri lebih tinggi dari pada mata kanan, mulut merot hingga ujung bawah dekat dengan tenggorokan, hidungnya hampir terbalik menjungkit ke atas. Bentuknya itu pada hakikatnya tidak memper manusia, atau manusia yang kurang sempurna karena salah cetak.