
Dengan mendongkol si kambing merampas botol kecil itu dari tangan si sapi, sisa obat lantas diminumnya semua, habis itu mereka memandang Siau hi-ji, dalam hati mereka berpikir, 'Haram jadah kecil, sekarang coba kau akan lari ke mana.'
Siau hi-ji juga sedang memandang mereka, katanya, "Sekarang coba kalian meraba tempat tadi, apakah masih kemeng atau tidak."
Tanpa terasa kedua orang lantas meraba iga masing-masing dan benar juga rasa sakit kemeng tadi sudah lenyap.
"Mujarab benar obat penawarmu ini," ujar si kambing dengan tertawa.
"Dan sekarang coba kau..."
Belum habis ucapan si sapi, tiba-tiba Siau hi-ji bergelak tertawa dan berkata pula, "Tadi waktu meraba bagian iga, di situ kebetulan adalah tempat pertemuan aliran darah di tubuh kalian, biarpun diraba perlahan juga akan terasa sakit dan kemeng, kini aliran darah itu sudah lewat ke tempat lain, dengan sendirinya tidak terasa sakit lagi"
Keterangan ini membuat pula si sapi dan si kambing gemas setengah mati sehingga dada mereka seakan-akan meledak.
"Haram jadah kecil, kiranya kau menipu kami," teriak si kambing dengan suara serak.
"Benar, aku memang sengaja menipu kau si haram jadah tua ini," jawab Siau hi-ji dengan tertawa.
"Mengapa kalian tidak berpikir, kan Loh-se-bak itu bukan buatanku, cara bagaimana aku dapat menaruh racun di situ? Apalagi kalau kutaruh racun, mengapa kalian tidak mampus keracunan?"
"Hahahaha!" mendadak si sapi bergelak tertawa. "Ya, anggaplah kau memang pintar dan cerdik, tapi kami juga tidak gobl*k. Ketahuilah bahwa bius itu meski sudah punah, tapi dalam setengah jam kau tetap belum mampu mengerahkan tenaga dan dengan mudah saja dapat kucabut nyawamu."
"O, betul begitukah?" ucap Siau hi-ji.
"Tidak betul, masakah kusampai hati menyembelih kau, aku cuma mau memotong hidungmu, sebelah telingamu, sebelah tanganmu, dan sebelah kakimu," kata si sapi dengan menyeringai.
"Aduh, celaka, aku menjadi ketakutan!" ujar Siau hi-ji sambil berlagak ngeri.
"Jangan takut, aku bukan Li Toa-jui, takkan makan kau, hanya akan memotong dagingmu untuk umpan anjing," kata si sapi sembari mendekati anak muda itu.
Akan tetapi Siau hi-ji tidak ambil pusing padanya, bahkan memandangnya saja tidak, mulutnya bergumam perlahan, "Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh..." Baru saja menghitung sampai tujuh, saat itu tangan si sapi pun menghantam tiba.
Namun Siau hi-ji tetap diam saja dan sama sekali tidak menggubrisnya.
Aneh juga, entah mengapa, baru saja pukulan si sapi dilontarkan, belum lagi mencapai sasarannya, tahu-tahu tubuh sendiri jadi gemetar, air mukanya berubah, mendadak ia jatuh terjungkal.
Tertampak kedua matanya mendelik dan mulut berbusa laksana orang sakit ayan.
"He, ken... kenapa jadi begini?" teriak si kambing kaget.
"Ah, tidak apa-apa, Loh-se-bak yang dimakannya tak beracun, tapi obat penawarnya yang beracun," kata Siau hi-ji dengan tertawa.
"Lantaran dia suka main serobot dan ingin makan lebih banyak, dengan sendirinya ia pun roboh terlebih dahulu dan lebih cepat."
Si kambing menggerung gusar terus menubruk maju, tapi baru saja badan terapung ke atas, laksana balok saja terus terjungkal ke bawah sehingga batok kepalanya membentur lantai dan benjut.
"Hahaha, sekali ini kau benar-benar jadi kambing bertanduk..." Siau hi-ji berkeplok tertawa.
Belum lenyap suaranya, sekonyong-konyong seorang membentak di luar, "Huh, sudah tua begitu kena dipermainkan anak kecil, kalian si kambing dan si sapi ini masakah ada muka buat berkecimpung pula di dunia Kangouw?"
Tertampak jendela terbuka sedikit, seorang manusia ular terus memberosot masuk, tubuhnya menghijau gilap dan licin.
Siapa lagi dia kalau bukan Pek-coa-sin-kun, si ular dari Cap-ji-she-shio.
Berputar biji mata Siau hi-ji, segera ia menegur dengan tertawa, "Eh, sudah lama tak bersua, baik-baikkah engkau? Silakan duduk dan minum-minum dulu."
Pek-coa-sin-kun menyeringai, katanya dengan dingin, "Supaya kau tahu, obat bius yang mereka taruh di dalam arak itu adalah buatanku yang khas, terhadap khasiat obat bius itu rasanya akulah yang paling tahu, biarpun kau membual untuk mengulur waktu juga tiada gunanya, seumpama kau mengoceh lagi setengah hari juga tetap sukar bagimu untuk mengerahkan tenaga."
"Wah, jika begitu tampaknya hari ini aku memang lagi apes dan sukar lolos dari maut," ucap Siau hi-ji.
"Betul, memang begitulah?" ujar Pek-coa-sin-kun.
Dalam pada itu terdengar si kambing dan si sapi sedang merintih, mata mereka masih dapat memandang, sekujur badan terasa kaku, kaki dan tangan tak bisa bergerak, ingin bicara juga sukar, obat bius ini ternyata berpuluh kali lebih lihai daripada obat bius buatan Pek-coa-sin-kun.
Keruan mau tak mau Pek-coa-sin-kun terkesiap juga melihat kedua temannya itu, tanpa terasa ia berseru, "He, 'Kiang-si-san' (puyer mayat hidup) si setengah manusia separo setan Im Kiu-yu!"
"Hah, tampaknya pandanganmu juga cukup tajam," ucap Siau hi-ji dengan tertawa, "tadi mereka berebut minum obat, kukira setengah jam lagi mereka akan berubah menjadi mumi (mayat yang kaku). Meski tidak lantas mampus, tapi selanjutnya mereka hanya dapat berjalan jalan dengan berlompat-lompat. Haha, bakal ada kambing dan sapi berkeluyuran sepanjang jalan, kukira pasti sangat menarik."
Mendengar ucapan anak muda itu, keringat dingin sama merembes keluar sebesar kedelai di jidat si kambing dan si sapi, suara rintihan mereka pun bertambah keras.
Pek-coa-sin-kun memandang mereka sekejap, katanya, "Apakah kedua saudara ingin kutolong kalian lebih dulu?"
Sekuatnya si sapi dan si kambing berusaha mengangguk, namun kepala mereka hanya dapat bergerak sedikit saja.
"Hehehe!" Pek-coa-sin-kun menyeringai. "Rezeki kalau terbagi menjadi tiga, rasanya terlalu sedikit jumlahnya, apalagi kalian sudah berjanji akan meninggalkan tanda sepanjang jalan agar aku dapat menyusul kemari, tapi mana itu tanda-tanda? Untung sebelumnya Siaute sudah tahu kepribadian kalian dan diam-diam menugaskan orang bercampur baur di antara anak cucu yang membuntuti kalian, kalau tidak mungkin saat ini sukar bagiku untuk menemukan kalian di sini."
Keringat dingin semakin menderas di dahi si sapi dan si kambing, sorot mata mereka mengunjuk rasa takut.
Berkedip-kedip sinar mata Pek-coa-sin-kun, katanya pula dengan terkekeh, "Biasanya kalian memang suka bermain setan-setanan, kalau sekarang kalian benar-benar berubah menjadi mumi, bukankah sangat menarik juga."
Habis itu mendadak tertawanya berhenti terus melangkah ke arah Siau hi-ji.
"Eh, kalau kau hendak menutuk Hiat-toku, kuharap jangan terlalu keras," kata Siau hi-ji dengan tertawa.
"Soalnya saat ini aku tak dapat mengerahkan tenaga, jika kumati tertotok, tamatlah segalanya."
"Jika begitu aku takkan menotok Hiat-tomu," kata Pek-coa-sin-kun dengan menyeringai,
"Cukup kusuruh 'Pek-si' menggigit perlahan sekali, kau takkan merasa sakit, bahkan terasa rada-rada gatal dan nikmat, rasanya jauh lebih enak daripada memeluk perempuan."
Di tengah ucapannya itu, tiba-tiba tertampak seekor ular kecil warna hijau gilap menyusup keluar dari lengan bajunya, ular itu hanya sebesar cacing, tapi lidahnya yang merah itu tampak mulur mengkeret dan merayap dengan gesit sekali, sungguh mengerikan dan menakutkan.
Betapa pun tabahnya Siau hi-ji, tidak urung berubah juga air mukanya sekarang.
Anehnya lengan baju Pek-coa-sin-kun itu seolah-olah ada sarang ularnya, hanya sekejap saja belasan ular hijau sebesar cacing dan sepanjang sumpit sama merayap ke kuduknya, ada pula yang menyusup ke leher bajunya.
Belasan ekor ular kecil yang dingin dan licin itu merayap-rayap di seantero tubuh, rasanya dapatlah dibayangkan.