
Dengan gemas Pekcoa sin-kun melototi Siau hi-ji, mukanya yang tirus bagai kulit membungkus tulang itu tiba-tiba menyeringai kejam, katanya, "Memangnya kau sangka aku dapat diperas oleh setan cilik macam dirimu?"
"Memangnya tidak?" ucap Siau hi-ji tetap tertawa.
"Kertas itu tipis lagi ulet, biarpun kau telan juga masih utuh di dalam perutmu, asalkan kubedah perutmu masakah takkan kutemukan kembali?" demikian Pekcoa sin-kun berkata dengan penuh keyakinan.
Walaupun lahirnya masih tetap tertawa, namun dalam batin Siau hi-ji merasa ngeri juga.
Dengan suara parau Thi Sim-lan lantas berteriak, "Jangan, tidak boleh bertindak begitu, kau..."
"Siapa bilang tidak boleh, coba kau lihat!" kata Pekcoa sin-kun. Mendadak ia mengeluarkan sebatang pedang lemas yang tadinya melilit di pinggangnya sebagai sabuk, sekali di sendal, seketika pedang itu mengeras lurus.
Biarpun Siau hi-ji banyak akalnya, kini ia pun kelabakan dan tak berdaya.
Dengan nekat Thi Sim-lan menubruk maju, namun dia habis sakit dan belum sehat benar, hanya sekali tampar saja Pekcoa sin-kun telah membikin nona itu terguling.
Dengan menyeringai ia lantas berkata pula terhadap Siau hi-ji, "Kau bilang tangkap ular dan gebuk anjing adalah keahlianmu, tapi membedah perut dan membuka dada adalah keahlianku. Namun kau pun jangan khawatir, sekali tikam pedangku takkan mematikan kau."
Siau hi-ji sudah mandi keringat, tapi dia tetap tertawa saja dan berkata, "Ya, terima kasih, terima kasih... Cuma kau harus hati-hati cara kerjamu, pagi tadi aku baru makan seekor ular dan pasti belum tercerna, jangan sampai kau melukai moyangmu itu."
"Setan alas, dekat ajalmu masih berani mengoceh!" bentak Pekcoa sin-kun dengan gusar.
Pedangnya terus menusuk, tapi mendadak "trang" sekali, pedangnya tergetar balik.
Kiranya diam-diam Siau hi-ji telah pegang ular tadi, dengan pedang yang terselubung dibangkai ular itulah ia tangkis serangan orang, bahkan ia susulkan suatu tusukan pula.
Cepat Pekcoa sin-kun berkelit, katanya dengan menyeringai, "Sebaiknya kau jangan sembarangan bergerak supaya racun di dalam tubuhmu tidak cepat bekerja dan mati lebih cepat pula."
Sembari bicara pedangnya terus menyerang cepat, Siau hi-ji hanya mampu menangkis empat kali dan sudah terasa lemas, sukar lagi mengangkat bangkai ular berpedang itu.
Sementara itu Thi Sim-lan telah jatuh pingsan, hati Siau hi-ji tambah kacau.
"Nah, setan cilik, kau masih punya permainan apalagi" tanya Pekcoa sin-kun dengan menyeringai ejek.
Ujung pedangnya terus ditempelkan ke dada Siau hi-ji dan ditekan sedikit demi sedikit.
Dada Siau hi-ji sudah berdarah, namun dia masih bergelak tertawa dan berkata, "Hahaha! Bedah perut adalah kesenangan orang hidup, tak tersangka aku Kang Siau-hi tanpa sengaja dapat..."
Belum habis ucapannya, tiba-tiba terdengar "trang-trang-trang" tiga kali, pedang yang dipegang Pekcoa sin-kun entah mengapa mendadak patah menjadi empat bagian dan jatuh ke tanah.
Serentak Pekcoa sin-kun melompat mundur mepet pohon, biji matanya yang kecil itu mengerling tajam sekeliling, tegurnya dengan suara serak, "Siapa itu?"
"Siapa aku masakah kau tidak tahu?" demikian suara seorang perempuan menjawab dengan tertawa merdu. Kedengarannya seperti suara Siau sian-li.
Siau hi-ji sangat girang karena dapat lolos dari renggutan maut, tapi demi mendengar suara itu, seketika ia seperti diguyur air dingin.
Maklumlah, jatuh di tangan Siau sian-li belum tentu lebih baik nasibnya daripada jatuh dalam cengkeraman Pekcoa sin-kun.
Muka Pekcoa sin-kun tampak pucat, katanya, "Engkau... nona..."
"Seumpama kau tidak tahu siapa aku, seharusnya kau tahu jalan ini mengarah ke mana?!" ucap suara perempuan tadi dengan perlahan. "Sungguh besar nyalimu, berani main gila di sini."
Semula Siau hi-ji menjadi lesu karena mengira Siau sian-li telah muncul pula.
Walaupun suaranya rada-rada mirip, tapi cara bicara Siau sian-li cepat menerocos, selama ini belum pernah ia dengar cara bicaranya yang perlahan begitu.
Maka tertampaklah seorang gadis baju hijau dengan menenteng keranjang bunga dan memanggul cangkul kecil muncul dari balik pohon sana, potongannya ramping menggiurkan, jalannya enteng semampai seakan-akan tiupan angin pun dapat mengaburkan dia.
Alisnya kelihatan lentik menegak, matanya besar sayu, meski wajahnya tidak teramat cantik, tapi sangat menawan hati.
Di belakang nona itu nampak ikut seorang pemuda beralis tebal dan bermata besar, tapi wajahnya masih kekanak-kanakan dan tampak mengintil dengan sangat menghormat di belakang si nona seakan-akan angkat kepala saja tidak berani.
Walaupun kedua muda-mudi ini tampaknya lemah gemulai, tapi demi melihat mereka, seketika kuduk Pekcoa sin-kun seperti kena dibacok orang, kepalanya terus menunduk dalam-dalam sambil menyapa dengan tertawa yang dibuat-buat, "O, kiranya Kiukohnio (nona kesembilan)!"
"Bagus, kau ternyata belum lupa padaku," jawab si nona baju hijau dengan acuh tak acuh. "Tapi kau jangan lupa akan tempat apakah ini sehingga kau berani main bedah perut apa segala di sini, nyalimu sungguh teramat kelewat besar."
Sikapnya sebenarnya tidak terlalu dingin, hanya acuh tak acuh dan meremehkan seperti tidak menaruh perhatian terhadap orang lain, walaupun sebenarnya tiada bermaksud buruk apa-apa.
Tokoh besar atau orang penting di dunia ini pun seperti tidak terpandang sama sekali olehnya.
Siau hi-ji tidak dapat menerka latar belakang pribadi si nona, tampaknya dia adalah putri bangsawan, tapi nyatanya berada di daerah hutan belukar.
Dilihatnya kepala Pekcoa sin-kun semakin menunduk dan sedang berkata dengan gemetar, "Hamba mengira tempat ini tidak... tidak termasuk daerah terlarang, maka... maka..."
"Dan sekarang kau sudah tahu bukan?" kata si nona baju hijau.
"Ya, tahu," jawab Pekcoa sin-kun takut.
"Jika sudah tahu, tentunya kau juga tahu cara penyelesaiannya," kata si nona pula.
"Ya, hamba tahu," ucap Pekcoa sin-kun dengan tertawa murung, mendadak sinar pedang berkelebat, dia telah menebas tangan kiri sendiri sebatas pergelangan tangan.
Mau tak mau Siau hi-ji bergetar juga hatinya, tapi si nona baju hijau yang dipanggil 'Kiukohnio' itu tetap acuh tak acuh saja, perlahan ia geraki tangan dan berkata, "Baiklah, sekarang kau boleh pergi!"
Belum habis ucapannya, tanpa pamit lagi Pekcoa sin-kun terus ngacir sipat kuping.
Mendadak Thi Sim-lan berteriak sekuatnya, "Hei, jangan, jangan biarkan dia pergi!" Entah kapan dia telah siuman, kini ia sedang meronta berusaha bangun, tapi terjatuh lagi.
"Sebab apa?" tanya si nona baju hijau sambil melirik Thi Sim-lan sekejap.
"Sebab dia terkena racunnya," seru Sim-lan sambil menuding Siau hi-ji. "Hanya Pekcoa sin-kun saja mempunyai obat penawarnya, kalau tidak, se... sebentar lagi tentu jiwanya akan melayang."
"Dia akan mati atau hidup, peduli apa dengan aku?" ucap si nona baju hijau dengan tak acuh.
Tubuh Thi Sim-lan tergetar juga dan kembali jatuh tersungkur.
Tiba-tiba si pemuda tadi berkata dengan tertawa, "Kiuci (kakak sembilan), marilah kita menolong mereka."
"Jika kau ingin menolong mereka, silakan, aku tak urus," sahut si nona baju hijau. Lalu ia membalik tubuh dan melangkah pergi tanpa menoleh.
Sambil memandangi Thi Sim-lan yang menggeletak di tanah itu, si pemuda berkata dengan lesu, "Maaf..." lalu dengan langkah lebar ia menyusul ke sana.
"No... nona , sudilah engkau..." demikian Thi Sim-lan berseru memohon pertolongan dengan suara terputus-putus.
Mendadak Siau-hi-ji bergelak tertawa, katanya "Haha, marilah kita pun pergi saja, buat apa mohon belas kasihan padanya."