
"Menunggu aku?" Siau hi-ji menegas dengan tertawa. "Tadi kau tidak menggubris diriku, sekarang malah..."
"Tidak perlu banyak omong, serahkan!" bentak pemuda baju putih.
"Serahkan? Serahkan apa?" tanya Siau hi-ji heran.
"Barang hasil tipuanmu itu," kata si pemuda.
Kembali Siau hi-ji tertawa, jawabnya, "O, kiranya maksudmu barang-barang itu. Jika kutahu kau menginginkan barang-barang itu tentu akan kusimpan untukmu. Tapi sekarang... ai, sekarang sudah kubuang seluruhnya."
"Kau buang? Hm, memangnya kau ingin mendustai aku?" teriak pemuda baju putih dengan gusar.
"Untuk apa aku berdusta? Apa gunanya pula barang-barang rongsokan sebanyak itu?" ujar Siau hi.
Setelah mengikik tawa, lalu ia berkata, "He, apakah kau tahu waktu marah wajahmu yang kemerah-merahan ini menjadi sangat cakap, sungguh mirip... mirip anak perempuan... Sungguh aku kenal seorang anak perempuan, waktu marah mukanya kemerah-merahan dan sangat cantik, tampaknya dia dan kau adalah suatu pasangan yang serasi, apakah mau kuperkenalkan kalian?"
Muka si pemuda baju putih bertambah merah, dia ingin memperlihatkan sikap yang lebih garang dan bengis, tapi justru tidak bisa, terpaksa ia hanya mendelik saja, katanya dengan suara keras, "Jika benar kau telah membuang barang-barang itu, maka harus kau ganti."
"Kau minta ganti padaku?" tanya Siau hi-ji.
"Ya, harus ganti!"
"Kedatanganmu ini benar-benar demi mengejar barang-barang itu?"
"Tentu!"
"Ah, kukira belum tentu," ujar Siau hi-ji dengan tertawa. "Mati-hidup orang-orang ini tidak kau pikirkan apalagi cuma sedikit barang yang tertipu, mana lagi semua itu adalah akibat perbuatan mereka sendiri. Kukira kau bukan... bukan mengejar barangnya, tapi... tapi mengejar diriku."
Dengan muka merah si pemuda baju putih membentak, "Benar aku memang mengejarmu. Selagi usiamu masih kecil begini sudah sedemikian busuk perbuatanmu, kalau sudah besar apalagi!"
Siau hi-ji meraba-raba kepalanya yang tidak gatal, tanyanya kemudian dengan tertawa, "Kau ingin membunuh aku?"
"Bunuh kau juga pantas," seru si pemuda. "Cuma... cuma usiamu masih kecil, rasanya masih ada obatnya. Kalau kau mau mengangkat aku sebagai guru, setelah kudidik dengan baik, mungkin kau akan menjadi orang baik-baik."
Siau hi-ji menatapnya sejenak, habis itu mendadak ia tertawa terpingkal-pingkal, katanya, "Hahahaaah! Kau ingin menerimaku sebagai murid!?"
"Memangnya apa yang perlu ditertawakan?" sahut pemuda itu dengan gusar.
"Sebenarnya mempunyai guru muda secakap dirimu ini juga lumayan, cuma, apa yang dapat kau ajarkan padaku? Dalam hal apa kau lebih kuat daripadaku? Huh, kukira lebih tepat bila kau yang menjadi muridku."
"Hm, kau ingin belajar silat tidak?" jengek pemuda baju putih.
"Memangnya kau kira ilmu silatmu lebih tinggi dari pada aku?" jawab Siau hi-ji dengan tertawa.
"Tahukah bahwa aku ini jago nomor satu di wilayah Jwantiong (daerah tengah propinsi Sujwan)?" seru pemuda baju putih dengan gusar.
"Haha, jika benar jagoan kelas tinggi, tentu kau takkan lari ke sini, betul tidak?" ucap Siau hi-ji dengan tenang. "Kedatanganmu ke sini bukan untuk berdagang dan juga tidak melancong, tapi seorang diri berada di daerah terpencil ini pasti kau ingin menghindari pencarian seseorang, betul tidak?"
"Peduli siapa diriku? Kau pun tidak perlu urus kudatang dari mana," jawab Siau hi-ji dengan tertawa. "Kalau kau anggap ilmu silatmu cukup tinggi, boleh juga kau coba-coba dengan aku, yang kalah harus menjadi murid."
"Baik, aku justru ingin tahu dari mana aliran ilmu silatmu," jengek si pemuda baju putih.
"Ingat, kalah harus menjadi murid yang menang, kau sudah sanggup, tidak boleh mungkir janji..." belum habis ucapan Siau hi-ji, mendadak tubuhnya mengapung dari punggung kudanya, kedua kakinya sekaligus menendang, yang diarah adalah kedua mata lawan.
Sama sekali si pemuda baju putih tidak menyangka gerak tubuh Siau hi-ji bisa sedemikian gesit dan cepat, ia benar-benar terkejut. Tapi ilmu silat pemuda ini memang juga tidak lemah, pengalaman tempurnya juga luas, dalam keadaan terkejut ia tidak menjadi gugup.
Sebaliknya ia malah mendesak maju sambil mengegos ke samping, dengan demikian ia sempat memutar ke belakang Siau hi-ji dan tanpa menoleh lagi sebelah tangannya terus menabok.
Serangan ini sangat cepat, gayanya juga indah, Hiat-to yang diarah juga jitu seakan-akan di punggung juga bermata.
Tadinya Siau hi-ji mengira sekali serang akan dapat mendahului musuh, siapa tahu kesempatan menyerang segera direbut oleh lawan. Cepat kedua kakinya memancal, ia berjumpalitan di udara, lalu turun beberapa depa di sebelah sana. Katanya dengan tertawa, "Eh, tunggu, tunggu dulu!"
"Tunggu apa?" terpaksa si pemuda baju putih menghentikan serangannya.
"Apakah betul kau mampu melihat dari mana asal aliran ilmu silatku?" tanya Siau hi-ji.
"Pasti, dalam sepuluh jurus cukup," jengek pemuda baju putih.
"Hah, aku tidak percaya," Siau hi-ji menggeleng dengan tertawa, berbareng kedua kepalan lantas menjotos. Meski tertawa, namun pukulannya cukup keras dan ganas, inilah ajaran yang diperolehnya dari Ha ha-ji, yakni di balik tertawa terus menikam.
Pemuda baju putih ternyata kena dikerjai, walaupun tidak sampai terkena jotosan, tapi kesempatan menyerang dahulu tadi jadi berantakan dan berbalik kena dicecar oleh Siau hi-ji.
"Hihi, kukira kau lebih baik...." belum lanjut ucapan Siau hi-ji, pemuda itu membarengi dengan menghantam dada lawan, ternyata dia menjadi nekat untuk gugur bersama Siau hi-ji.
Sekali ini yang terkejut adalah Siau hi-ji, sudah tentu dia tidak ingin merasakan hantaman lawan, cepat ia menangkis sambil tubuh mendoyong ke belakang terus menggeliat dan menerobos ke samping.
Mana mungkin si pemuda baju putih mau memberi kelonggaran, ia terus membayangi dan mengejar ke sana, kedua kepalan beruntun menghantam pula tanpa kenal ampun.
Terpaksa Siau hi-ji melayani serangan lawan dengan sangat tangkasnya, terkadang dia memakai kepalan, mendadak berubah menjadi telapak tangan, gerak serangannya kadang-kadang keji, tiba-tiba cuma pancingan belaka, suatu saat keras, lain kali lunak dan macam-macam variasi lagi.
Begitulah Siau hi-ji mengeluarkan segenap kemahirannya yang diperoleh dari para paman dan mamak di Ok-jin-kok, yaitu kombinasi kekejian Toh sat, kelicikan Im Kiu-yu, kekerasan Li Toa-jui, kelembutan To Kiau-kiau serta kepalsuan Ha-ha-ji.
Dengan ilmu silatnya itu sebenarnya sudah jarang ada tandingannya di dunia Kangouw, siapa tahu ilmu pukulan pemuda baju putih ini ternyata luar biasa dahsyatnya, serangan membadai dan membikin Siau hi-ji hampir tak sempat bernapas.
Namun diam-diam pemuda baju putih juga terkejut, sungguh tak tersangka olehnya bahwa ilmu silat anak muda ini dapat berubah sebanyak ini sehingga sama sekali ia tak dapat menerka dari mana asal-usulnya.
"Hei, berhenti!" mendadak Siau hi-ji berteriak.
"Baik, berhenti!" kata pemuda baju putih, tapi berbareng dengan ucapannya itu sekaligus ia menyerang pula enam kali.
Siau hi-ji berkelit ke kanan dan mengegos ke kiri, pada kesempatan itu ia pun balas menghantam tiga kali, serunya, "Huh, beginikah caramu berhenti?"
"Hm, sekali ini aku takkan tertipu lagi," jengek pemuda baju putih.