
“Dari mana kau tahu aku berada di sini?” tanya Yan Lam-thian bengis.
“Sebenarnya Wanpwe sedang menghadapi jalan.buntu, syukur mendapat petunjuk seorang Locianpwe (tokoh angkatan tua), katanya dalam dua hari ini Yan-tayhiap pasti akan menunggu seseorang di sini, makanya Wanpwe cepat menyusul ke sini.”
“O, rupanya gara-gara si s*tan pemabukan itu,” ujar Yan Lam-thian dengan tersenyum.
Waktu ia berpaling, ia menjadi geli ketika dilihatnya Lui-lotoa berdiri di sana dengan lesu sambil menjinjing sepotong pedang kutung karatan tadi, dengan tertawa ia lantas menegurnya, “Kukira kau pasti penasaran atas kejadian tadi, bukan?”
“Sesungguhnya Wanpwe… pedang itu kubeli...”
Belum habis Lui-lotoa menyatakan rasa penyesalannya, segera Sim Gin-hong membentaknya,
“Lebih baik tutup mulutmu dan jangan bikin malu. Masakah kau tidak tahu bahwa tanpa memegang pedang juga Yan-tayhiap lebih lihai daripada menggunakan pedang karatan itu. Biarpun besi tua atau benda apa pun, asalkan dipegang Yan-tayhiap pasti juga berubah menjadi senjata yang ampuh dan mahatajam.”
“Haha, sedemikian tinggi kau mengumpak diriku, tentu kau ingin minta tolong sesuatu padaku,” ucap Yan Lam-thian dengan tertawa.
“Harap Yan-tayhiap maklum,” jawab Sim Gin-hong dengan hormat, “apa pun juga Yan-tayhiap pasti tahu. Soalnya Wanpwe baru menerima tawaran suatu partai barang yang sukar dinilai harganya, sebenarnya transaksi ini sangat dirahasiakan dan akan kami kawal secara diam-diam. Tapi entah mengapa, tahu-tahu berita ini dapat didengar oleh kawanan Cap-ji-she-shio. Secara blak-blakan mereka mengirim kartu nama dan menyatakan akan merampas barang kawalan kami itu. Tentu saja kami menjadi khawatir, sebab kami cukup tahu diri dan merasa bukan tandingan kawanan bandit Cap-ji-she-shio itu dan dengan sendirinya pula kami tidak berani melanjutkan pengawalan tersebut...”
“Jadi maksudmu hendak minta kubantu Piaukiok (perusahaan pengawalan) kalian, begitu?” tanya Yan Lam-thian.
“Ah, mana kuberani,” jawab Sin Gin-hong takut-takut “Hanya saja Wanpwe mendapat tahu bahwa Yan-tayhiap bakal berada di sini, maka sengaja kujanji bertemu dengan kawanan Cap-ji-she-shio di sekitar sini, asalkan Locianpwe sudi tampil sejenak dan memberi pesan beberapa patah kata, maka Wanpwe yakin biarpun Cap-ji-she-shio mempunyai nyali sebesar gajah juga takkan berani mengusik barang kawalan kami itu.”
“Jika kau tidak mampu mengawal barang orang, mengapa kau terima saja tawaran orang?” tanya Yan Lam-thian.
“Ya, Wanpwe memang pantas m*mpus,” jawab Sim Gin-hong dengan menunduk, “mohon Yan-tayhiap sudi...”
“Kawanan Cap-ji-she-shio sudah lama terkenal jahat, jika jejak mereka tidak tersembunyi tentu sudah lama kutumpas mereka, sebenarnya urusan ini aku tidak ingin ikut campur.“
“Wanpwe berterima kasih lebih dulu,” tukas Sim Gin-hong.
“Jangan terburu berterima kasih dulu,” ujar Yan Lam-thian. “walaupun aku ingin membantumu, namun saat ini aku sendiri ada urusan penting yang perlu kuselesaikan dan waktu sudah mendesak.”
Habis berkata segera ia hendak melangkah pergi.
“Mohon Yan-tayhiap tunggu sejenak,” cepat Sim Gin-hong berseru sambil memberi tanda, segera Ci-loji mengaturkan sebuah peti, ketika peti itu dibuka, isinya ternyata emas murni yang berkemilauan.
Dengan hormat Sim Gin-hong lantas menambahkan pula, “Sudah lama Yan-tayhiap terkenal bertangan terbuka, sebab itu kami mengaturkan...”
“Hahahaha!” Yan Lam-thian terbahak-bahak. Mendadak ia berkata dengan ketus, “Sim Gin-hong, biarpun sekarang kau menumpuk emas murni setinggi gunung di depanku juga takkan menghalangi waktu pertemuanku dengan Kang-jiteku.”
Habis ini ia menepuk bahu Kang Khim dan membentak, “Nah, aku berangkat lebih dulu, kau harus segera menyusul ke sana.”
Lenyap suara ucapannya itu, tahu-tahu orangnya juga sudah melayang jauh ke sana.
Seketika wajah Sim Gin-hong menjadi pucat karena usahanya gagal.
Ci-loji mengomel sendirian, “Orang ini sungguh aneh, beberapa tail perak dia sengaja menipu, tapi ketika disodorkan emas murni satu peti penuh dia justru menolak".
***
Cuaca remang-remang. Di tengah cuaca senja sunyi itu, berkelebatnya bayangan Yan Lam-thian, hampir sukar diikuti oleh pandangan orang awam.
Di jalanan lama yang penuh semak rumput belaka itu sunyi senyap, bulan sabit sudah menongol di ufuk timur, cahaya remang-remang ini semakin menambah suramnya suasana yang lelap ini.
Bayangan Yan Lam-thian masih terus meluncur ke depan dan tiada sesuatu yang dilihatnya, ia bergumam sendiri, “Aneh, Kang-jite sudah dalam perjalanan, mengapa tak terdengar....”
Tampaknya burung walet itu sudah kepayahan, terbangnya rendah dan jelas sukar lolos dari cengkeraman alap-alap itu.
Yan Lam-thian merasa penasaran, bentaknya, “Kurang ajar, kau pun tiada ubahnya seperti manusia jahat yang suka menindas yang kecil...” serentak tubuhnya terus meleset ke depan laksana anak panah cepatnya dan menyampuk alap-alap ganas itu.
Tapi sekali berkelebat, tahu-tahu Yan Lam-thian menubruk tempat kosong, sebaliknya lantas terdengar suara mencuit si burung walet, nyata walet itu telah tercengkeram oleh cakar alap-alap.
“Kurang ajar! Masakah kau mampu lolos dari tanganku lagi!” bentak Yan Lam-thian dengan gusar sambil menubruk maju pula, sekali hantam dari jauh, kontan burung alap-alap yang sudah mulai melayang ke udara itu terjungkal ke bawah oleh angin pukulan yang dahsyat.
Sekali meraup Yan Lam-thian tangkap tubuh alap-alap yang terjungkal ke bawah itu, ia berhasil menyelamatkan burung walet yang kecil itu dari cengkeraman elang alap-alap.
Namun walet itu kecil lagi lemah dan sudah terluka parah sehingga tidak sanggup terbang lagi.
“Walet sayang, kau takkan mati, jangan khawatir,” gumam Yan Lam-thian sambil duduk di tanah rumput, ia memberi obat luka pada burung walet itu. Obat luka dari pendekar besar itu sudah tentu sangat mujarab.
Dengan perlahan Yan Lam-thian mengelus-elus walet itu, sejenak kemudian barulah ia lepaskan burung itu dan terbanglah pergi dengan bebas. Sementara itu burung alap-alap tadi sudah diremas mati oleh Yan Lam-thian.
“Hahaha!” Yan Lam-thian tertawa puas. “Beribu tail emas murni tak dapat menunda waktuku, tapi untuk menolong jiwa seekor walet kecil ternyata dapat menahan perjalananku.”
Setelah tertawa puas, kembali ia melayang ke depan dengan Ginkangnya yang tinggi.
Tidak lama kemudian, sekonyong-konyong terdengar berkumandangnya suara tangisan bayi dari kejauhan.
“He, jangan-jangan Kang-jite sudah mempunyai anak?” gumam Yan Lam-thian dengan girang.
Dia melesat terlebih kencang menuju ke arah suara tangisan bayi itu.
Maka tidak lama kemudian dapatlah dia melihat keadaan yang mengerikan, mayat yang bergelimpangan serta jenazah Kang Hong yang berlumuran darah.
Yan Lam-thian menjerit terus menubruk ke sana, ia mendekap mayat Kang Hong dengan perasaan remuk redam.
***
Seperginya Yan Lam-thian tadi disusul oleh berangkatnya Kang Khim, Sim Gin-hong ternyata, masih berdiri mematung di tempatnya.
Dengan rasa khawatir Ci-loji coba bertanya kepada pemimpinnya itu, “Menurut kartu kawanan Cap-ji-she-shio, bilakah mereka akan menemui Congpiauthau?”
“Senja hari ini,” jawab Sim Gin-hong.
“Jadi petang nanti?” Ci-loji menegas dengan gentar. “Di... di mana?”
“Di jalan depan sana!”
“Berapa.. berapa orang di antara mereka yang akan datang?”
“Yang menandatangani kartu mereka adalah Hek-bian, Su-sin, Hian-ko dan Ging-khek.”
“Jadi... jadi si ayam, b*bi, kera dan anj*ng akan tampil sekaligus?”
.
.