Legendary Siblings

Legendary Siblings
36. Hati Nurani



Toh Sat terdiam sejenak, akhirnya berkata dengan perlahan, “Saat ini kalau aku dikurung di dalam sebuah rumah bersama dia, maka yang bakal keluar dengan hidup pastilah dia.”


“Baiklah kalau begitu,” kata To Kiau-kiau. “Jika Ok-jin-kok juga tidak tahan direcoki dia, apalagi orang lain. Maka kini mungkin sudah saatnya kita suruh dia keluar...”


“Betul, tepat!” cepat Li Toa-jui menyambung. “Sudah cukup dia mengganggu kita, tiba waktunya dia harus mengganggu orang lain. Untuk sekarang kita bergabung masih sanggup mengatasi dia, kalau tidak pada suatu hari kelak bila kita tidak mampu mengendalikan dia, maka bangkrutlah kita.”


“Bila ingin mengantar kepergiannya, makin cepat makin baik,” ujar Im Kiu-yu.


“Betul, hari ini juga!” tukas Toh Sat.


“Aha, kawan-kawan di dunia Kangouw, teman-teman di dunia persilatan, sahabat kalangan mana saja, sudah tiba kini hari-hari naas bagi kalian!” seru Ha ha-ji.


“Begitu si setan cilik itu pergi, selama sebulan aku puasa tidak makan daging manusia,” kata Li Toa-jui sambil mendekap dahi.


**


Menjelang maghrib, perlahan-lahan suasana Ok-jin-kok baru mulai hidup. Pada saat itulah si binal, Siau hi ji, mulai beraksi, dia keliling ke sana dan putar kayun ke sini, akhirnya ia mampir ke tempat Ban Jun-liu.


Tabib itu sedang asyik meneliti ramuan obat-obatan, dia sedang memasukkan beberapa macam obat-obatan ke dalam kuali dan sedang digodok, melihat datangnya Siau hi-ji, ia memandangnya sekejap lalu menunduk mengikuti perubahan cairan obat di dalam kuali, katanya kemudian, “Apa yang kau peroleh hari ini?”


“Sebuah golok, lumayan,” sahut Siau hi-ji tertawa.


“Mana goloknya?” tanya Ban Jun-liu.


“Sudah kuberikan pada si guci cuka Lo Say,” kata Siau hi-ji.


Ban Jun-liu mengaduk cairan obatnya dengan sumpit sehingga uap tebal mengepul, wajah tabib itu tampak mengulum senyuman misterius.


“Di manakah petimu itu?” tanya pula si tabib.


“Ah, sudah lama kubuang, isinya sudah kuberikan semua pada orang”.


“Kau dapat dengan susah payah, mengapa diberikan pada orang?”


“Barang-barang itu untuk main-main sih boleh juga, tapi kalau mau menyimpannya, kukira akan banyak makan pikiran, mana khawatir hilang lagi!” ujar Siau hi-ji dengan tertawa. “Nah, kalau khawatir hilang dan takut dicuri orang, bukankah repot jadinya.”


“Bagus!” puji Ban Jun-liu.


“Tapi kalau kuberikan barang-barang itu kepada orang lain, maka semua kerepotan itu akan menjadi bagian orang itu,” kata Siau hi-ji dengan tertawa. “Konon di dunia ini tidak sedikit orang yang gemar mengumpulkan harta benda dan barang pusaka, tapi sayang pula tidak digunakan secara wajar. Hah, kukira orang-orang ini tentulah orang tol*l.”


“Bila tiada orang-orang tol*l begitu, tentu takkan kelihatan kegembiraan kita,” kata Ban Jun-liu.


Mendadak ia berbangkit dan berkata, “Bawa kuali obat ini dan ikut padaku.”


Mereka menuju ke belakang rumah besar yang penuh bau obat-obatan itu, di situ ada tiga buah kamar yang tertutup rapat. Inilah “klinik” dan juga “laboratorium” tabib itu.


Di dalam klinik tiada sinar lampu sehingga kelam seperti wajah sang tabib, tampaknya menjadi sangat misterius. Pada sebuah dipan di pojok sana duduk bersimpuh seorang, tanpa bergerak, seperti patung, dia inilah si “kaleng obat” yang dikenal orang itu.


Begitu masuk ke dalam kliniknya, segera Ban Jun-liu menutup kembali pintunya dengan rapat, sehingga klinik itu seketika berpisah dengan dunia luar, seakan-akan tiada sangkut-paut lagi dengan segala persoalan Ok-jin-kok.


Sikap Siau hi-ji pun segera berubah, ia pegang tangan Ban Jun-liu dan bertanya dengan suara tertahan, “Apakah penyakit paman Yan ada kemajuan?”


Wajah Ban Jun-liu yang tampaknya dingin dan misterius itu tiba-tiba juga mengunjuk rasa khawatir dan prihatin. Dia menghela napas, lalu menjawab dengan menggeleng murung, “Selama lima tahun ini sedikit pun tiada kemajuan. Sudah kucoba dengan segenap ramuan obat yang kubuat, tapi sia-sia saja. Aku... aku pun menjadi lelah.” Lalu dia duduk di kursinya dengan perasaan berat, seakan-akan tidak ingin berdiri lagi.


Siau hi-ji termangu-mangu lama, tiba-tiba ia berkata, “Tadi kudengar orang menyebut nama paman Yan.”


“O, siapa?” tergerak hati Ban Jun-liu.


“Orang mati, yang omong itu sudah mati,” kata Siau hi-ji.


Serentak Ban Jun-liu pegang pundak Siau hi-ji dan bertanya dengan suara tertahan, “Apakah ada orang mengetahui kau mendengar percakapan mereka?”


“Mana bisa,” ujar Siau hi-ji. “Setelah kudengar ucapannya segera aku mengeluyur ke tempat si guci cuka, di sana aku sengaja menggoda si guci cuka dan memaki dia dengan suara keras, kemudian golok itu kuberikan padanya.”


Perlahan Ban Jun-liu melepaskan pegangannya lalu menunduk diam, gumamnya kemudian, “Tidak mudah, sungguh tidak mudah, meski kecil usiamu, tapi selama lima tahun ini kau dapat menjaga rapat rahasia ini secara ketat, sungguh tidak mudah.” Dia memandang Siau hi-ji sekejap, lalu berkata pula dengan tertawa getir, “Apabila rahasia ini sampai bocor, maka kita bertiga jangan harap bisa hidup lebih lama dalam satu jam, karena itu kau... kau harus hati-hati, jangan menganggap tol*l orang lain.”


“Kutahu,” sahut Siau hi-ji. “Dengan menanggung bahaya paman Ban telah berusaha menolong paman Yan, untuk ini masakah aku tidak... tidak berterima kasih padamu. Andaikan kepalaku dipenggal juga takkan kubocorkan rahasia ini.” Habis berkata, tiba-tiba matanya menjadi merah basah.


“Bicara sejujurnya, tadinya aku tidak percaya padamu,” kata Ban Jun-liu sambil menghela napas. “Tak di sangka, meski kau hidup di lingkungan demikian ini ternyata tidak kehilangan hati nuranimu, kau tetap anak yang baik.”


“Tapi bila Siau hi-ji berbuat busuk, maka busuknya tidak kepalang tanggung,” kata Siau hi-ji dengan tertawa riang. “Cuma, semua perbuatanku juga bergantung kepada siapa sasarannya, pula sejak kutahu hubunganku dengan paman Yan, aku menjadi banyak lebih... lebih alim.”


Ban Jun-liu tersenyum puas, katanya, “Sungguh kagetku setengah mati ketika pada malam itu mendadak kau datang memberitahukan padaku bahwa kau sudah tahu rahasia siapakah gerangan paman si ‘kaleng obat’. Hah, kejadian itu pun sudah lima tahun yang lalu.”


“O, maaf paman,” kata Siau hi-ji sambil menunduk.


Setelah termenung sejenak, kemudian Ban Jun-liu berkata pula dengan berkerut kening, “Coba ingat-ingat kembali, siapakah gerangan orang yang memberitahukan rahasia ini padamu itu?”


Siau hi-ji termenung, katanya kemudian, “Sungguh aku tidak ingat lagi.”


“Coba ceritakan bagaimana wajah dan perawakannya?”


“Aku pun tidak melihat jelas, sungguh!” Setelah berpikir pula sejenak, lalu ia menyambung, “Malam itu kutidur di luar rumah Toh Sat, tengah malam tiba-tiba aku merasakan tubuhku dipondong orang.”


“Kau tidak menjerit waktu itu?”


“Aku tidak mampu menjerit, apalagi waktu itu kukira Toh Sat hendak berbuat sesuatu lagi padaku, pada hakikatnya tak terpikir olehku ada orang lain.”


“Ehm, betul juga,” ujar Ban Jun-liu.