
“Yan Lam-thian, Yan-tayhiap! Si Pedang Sakti,” jawab Ci-loji.
“Haha, jika kawan benar-benar berlatih pedang, tentu kau akan tunduk mendengar nama ini.”
Tak terduga lelaki rudin itu hanya berkedip-kedip saja seperti orang tidak tahu apa-apa, tanyanya dengan menyengir, “Yan Lam-thian?”
“Hahahaha!” Ci-loji tertawa terpingkal-pingkal. “Nama Yan-tayhiap saja tak pernah kau dengar, masakah kau mengaku mahir ilmu pedang?”
“Jika demikian, agaknya kau kenal orang she Yan itu?” tanya si lelaki miskin dengan tertawa.
Ci-loji berbalik melengak, tertawanya pun berhenti, jawabnya, “Ini, hehe, ini.. hahaha...”
“Bagaimana macamnya orang she Yan itu?” tanya pula lelaki itu dengan tertawa, “dan bagaimana dengan pedangnya itu...”
Agaknya Lui-lotoa tidak tahan lagi, ia memburu maju dan menggebrak meja sambil berteriak, “Biarpun kami tidak kenal dia, tapi kami yakin dia pasti lebih gagah dan tampan daripada macammu ini. Apalagi pedangnya, tentu beribu kali lebih bagus daripada pedang rongsokan milikmu ini.”
“Hahaha!” lelaki itu tertawa, “tampaknya kau ini orang cerdik pandai, mengapa pandanganmu begini picik. Biarpun diriku tidak cakap, namun pedangku ini justru...”
“Hah, memangnya pedangmu ini juga pedang sakti?” sela Lui-lotoa sambil mengakak geli.
“Pedangku ini justru senjata mahatajam, sanggup memotong besi seperti merajang sayur.”
Belum habis lelaki itu bicara, serentak orang banyak sudah tertawa gemuruh, malahan Lui-lotoa sampai terpingkal-pingkal memegangi perutnya yang mules, katanya, “Jika pedangmu ini betul dapat memotong besi seperti merajang sayur, maka kami akan traktir kau makan minum sepuasmu, bahkan...”
“Baik,” tiba-tiba lelaki rudin itu berdiri, “Coba lolos pedangmu!”
Selagi duduk tidaklah menarik perhatian, begitu lelaki itu berdiri, perawakannya yang tinggi besar sungguh mengejutkan.
Tubuh Lui-lotoa sudah terhitung tegap, badan Ci-loji juga terhitung gemuk, tapi kalau dibandingkan perawakan orang yang kekar itu rasanya menjadi tak berarti sama sekali.
Dalam pada itu diam-diam kedai arak itu kedatangan seorang pemuda berwajah pucat berbaju hijau dan berkopiah, sambil bersandar di depan meja kasir, ia mengikuti apa yang terjadi dengan tertawa.
Sementara itu Lui-lotoa telah melolos pedangnya, katanya sambil membusungkan dada, “Baik, ayo boleh kita coba!”
“Nah, silakan kau bacok sekuatnya,” kata lelaki miskin itu.
“Baik, awas ya, kalau terluka jangan salahkan aku!” ujar Lui-lotoa sambil menyeringai.
Sekali angkat, kontan pedangnya yang terbuat dari baja itu terus menabas dari atas ke bawah. Tapi lelaki rudin itu tenang-tenang saja, tangan kiri memegang cawan arak dan tangan kanan angkat pedang karatannya menangkis ke atas.
Terdengar 'trang' sekali, Lui-lotoa tergetar mundur dan pedang sendiri tahu-tahu patah menjadi dua. Seketika semua orang melenggong kaget dan hampir-hampir tidak percaya pada matanya sendiri.
“Hahahaha! Apa abamu sekarang?” Lelaki rudin itu terbahak-bahak sambil mengelus, pedangnya yang karatan itu.
Tentu saja Lui-lotoa ternganga, katanya dengan tergegap, “Hebat, sungguh... sungguh pedang hebat!”
“Tapi sayang pedang sehebat ini berada di tangan orang rudin macam diriku ini,” ujar lelaki miskin itu dengan gegetun.
Mendadak sorot mata Lui-lotoa menjadi terang, katanya, “He, apakah sahabat mau menjual pedangmu ini?”
“Sebenarnya juga ada maksudku untuk menjualnya, namun belum mendapatkan pembelinya.”
“Eh, bagaimana kalau dijual padaku saja?” tanya Lui-lotoa dengan bersemangat.
“Ah, ini mudah... mudah dirundingkan...”
Lui-lotoa kegirangan dan segera mengumpulkan kawan-kawannya untuk berunding, mereka berempat tampak merogoh saku dan coba menghitung-hitung bekal masing-masing.
Lelaki miskin tadi tetap duduk di tempatnya dan minum arak tanpa ambil pusing akan tingkah laku Lui-lotoa dan kawan-kawannya itu.
Selang sejenak barulah Lui-lotoa mendekati lelaki itu dan berkata dengan ragu-ragu, “Sobat, bagaimana kalau lima ratus tail...”
“Berapa?!” orang itu menegas dengan setengah mendelik.
Lekas-lekas Lui-lotoa berganti haluan, jawabnya, “O, bagaimana kalau... kalau seribu tail perak. Bicara terus terang, kami berempat sudah... sudah menguras seluruh isi saku kami dan cuma dapat terkumpul sekian.”
Lelaki itu tampak termenung sejenak, katanya kemudian, “Sebenarnya pedangku ini adalah pusaka yang sukar dinilai. Cuma kata peribahasa, bedak halus dihadiahkan kepada si cantik dan pedang kudu diberikan kepada ksatria... Baiklah, jadi, seribu tail perak kujual padamu.”
Khawatir orang menarik kembali keputusannya, cepat Lui-lotoa mengumpulkan seluruh isi saku teman-temannya, lalu disodorkan ke depan lelaki rudin itu sambil berkata, “Ini, seribu tail perak kontan, silakan hitung.”
Tanpa hitung-hitung lelaki itu terus mengemasi seribu tail perak itu dengan sebuah kantong butut, katanya dengan tertawa, “Sudahlah, tak perlu dihitung, kupercaya penuh padamu. Nah, inilah pedangnya, silakan diterima. Senjata mestika hanya cocok bagi pemiliknya yang bijaksana, selanjutnya kau harus hati-hati menggunakannya, kalau tidak, senjata mestika juga akan berubah menjadi besi tua yang tak berguna...”
Berulang-ulang Lui-lotoa mengiakan sambil menerima penyerahan pedang tadi, girangnya tidak kepalang seperti orang dapat lotre.
“Trang”, lelaki itu menjatuhkan sepotong perak di atas meja dan berseru kepada pelayan, “Ini rekening para sahabat ini semuanya diperhitungkan padaku, sisanya buat kau!”
Lalu tanpa menoleh lagi ia terus meninggalkan kedai arak itu.
Hanya si pemuda berwajah pucat tadi yang senantiasa mengikuti gerak-gerik lelaki rudin itu, ia tertawa memandangi Lui-lotoa dan kawan-kawannya, lalu ikut meninggalkan kedai itu.
Tampaknya Lui-lotoa kegirangan hingga lupa daratan karena menganggap berhasil membeli benda pusaka dengan harga murah.
Kawannya, yaitu Ci-loji, dengan tertawa mengumpaknya.
“Wah, dengan pedang pusaka, selanjutnya Lui-lotoa benar-benar seperti harimau tumbuh sayap dan dapat malang melintang di dunia Kangouw.”
“Haha, Ci-loji memang suka memuji,” ujar Lui-lotoa sambil mengakak senang. “Kukira ini pun berkat doa restu saudara-saudara... Haha, mungkin ini sudah saatnya bintangku mulai terang, kalau tidak masakah secara kebetulan begini aku mendapatkan benda pusaka ini.”
“Dengan pedang pusaka ini, mungkin Yan Lam-thian juga akan keder terhadap Lui-lotoa kita, bahkan Congpiauthau kita juga pasti akan memberi penghargaan lain,” ujar Ci-loji.
Muka Lui-lotoa yang berseri-seri membuat lubang buriknya seakan-akan tambah mekar.
Sambil memegang 'pedang pusaka' yang baru dibelinya itu dia mondar-mandir kian kemari, duduk tidak tenang, berdiri pun tidak tenteram.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar seorang menegur, “He, urusan apa yang membuat kalian bergembira ria begini?”
Tertampak seorang pendek kecil dengan jubah bersulam melangkah masuk kedai arak itu.
Meski tubuhnya kecil, tapi sorot matanya tajam, gerak-geriknya tangkas dan berwibawa sehingga sekali pandang orang akan segera merasakan bahwa orang itu sehari-harinya pasti biasa memimpin dan memberi perintah.
“Congpiauthau….” demikian beramai-ramai Ci-loji dan lain-lain memberi hormat kepada orang pendek kecil itu, lalu mereka pun menceritakan apa yang baru saja terjadi tentang jual beli pedang pusaka itu.
.