
“Hahaha! Tahulah aku sekarang,” sela Ha-ha-ji. “Siapalagi kalau bukan Im-lokiu!”
“Im-lokiu memang cukup keji, cukup kejam dan cukup tega hati,” ujar To Kiau-kiau. “Tapi segala kejahatannya itu sudah terpampang di mukanya, sekali pandang saja setiap orang akan tahu dia adalah orang jahat dan lebih dulu akan waspada terhadapnya.”
“Jika demikian, haha, jadi dia juga belum masuk hitungan,” seru Ha-ha-ji.
“Dengan sendirinya belum masuk hitungan,” kata To Kiau-kiau dengan tertawa. “Taraf dasar saja dia belum, misalnya kemahiran di balik tertawa tersembunyi belati, di samping memuji dan mengumpak, berbareng terus menikam ....”
“Di balik tertawa tersembunyi belati, hahaha, rupanya To cilik maksudkan diriku!” kata Ha-ha-ji.
“Benar," jawab To Kiau-kiau. “Saudara tukang tertawa kita ini berpotongan seperti Mi-lik-hud (Budha gemuk) sehingga siapa pun takkan menyangka dia adalah orang jahat. Seumpama orang itu dijual olehnya, mungkin orang itu masih belum tahu telah dijual oleh siapa.”
“Hahahaha! Bagus, bagus!” seru Ha-ha-ji dengan tertawa senang. “Jika betul aku ini orang paling kejam dan paling buas di dunia ini, betapa pun harus dibuat girang. Cuma sayang, asalkan nampak Toh-lotoa hatiku lantas takut, maka kukira dia jauh lebih jahat dari padaku.”
“Kecuali mahir membunuh orang, apa pula kemahirannya?” jengek Im Kiu-yu tiba-tiba.
“Memang betul juga,” ujar To Kiau-kiau dengan tertawa. “Lihatlah kita semua berkumpul di sini dengan baik-baik, tapi Toh-lotoa sendiri terluka dan berbaring di sana. Kalau dia orang paling jahat, maka yang terluka tentunya bukan dia melainkan kita ini.”
Ha-ha-ji memandang Suma Yan sekejap, lalu berkata, “Aha, bukankah masih ada Suma-heng. Haha, pedang berbisa penembus usus, korbannya luluh seperti gilasan kacang, pemeo ini sudah lama terkenal di dunia Kangouw.”
“Ah, meski namaku juga terkenal jahat di dunia Kangouw, tapi kalau dibandingkan ‘Cap-toa-ok-jin’ (sepuluh top jahat), diriku ini boleh diibaratkan semut berbanding gajah,” jawab Suma Yan dengan tersenyum.
“Oya, di antara ‘Cap-toa-ok-jin’ kita kan masih ada lima orang lagi?” kata To Kiau-kiau.
Suma Yan menanggapi dengan tertawa, “Tetapi menurut pandanganku, kelima Ok-jin yang masih berada di sana belum tentu dapat dibandingkan dengan kelima Ok-jin yang berada di sini. Terutama si ‘Singa Gila’ Thi Cian, kalau mau bicara secara tegas, pada hakikatnya dia belum terhitung satu di antara ‘Cap-toa-ok-jin’.”
“Sekali si Singa Gila sudah gila, dia benar-benar tidak kenal siapa-siapalagi, setiap orang dilabraknya, sampai anaknya sendiri juga dipaksanya berkelahi,” kata To Kiau-kiau. “Tapi orang-orang yang benar-benar pernah dibunuh olehnya setahuku belum ada, apalagi, lebih sering dia dalam keadaan tidak gila.”
“Hahaha, kalau Singa Gila juga tak masuk hitungan, lalu bagaimana dengan Siau-mi-mi, si ‘pemikat orang tak ganti nyawa’. Kukira siapa pun bila terpikat olehnya, mungkin bapak biangnya juga tega dijualnya.”
“Si tukang pikat itu memang mahir memikat, tapi sasarannya yang empuk adalah anak muda belasan sampai likuran tahun, jika bertemu jagoan macam Li Toa-jui, jangankan memikat, mungkin si tukang pikat itu yang akan dicaplok ke dalam perutnya,” ujar To Kiau-kiau.
“Ya, dan manusia bukan lelaki bukan perempuan seperti dirimu sudah tentu takkan terpikat olehnya,” tangkis Li Toa-jui mendongkol.
“Ini tidak, itu bukan, habis siapa sebenarnya orang paling buas dan paling jahat di dunia ini? Apakah barangkali Hwesio tua di biara itu?” omel Ha-ha-ji.
Dengan tertawa To Kiau-kiau berkata, “Kita ini, bicara tentang kejamnya, buasnya, kejinya, dan segala kejahatannya, boleh dikatakan tidak banyak berselisih, jadi tiada seorang pun lebih unggul daripada yang lain. Sebab itulah dapat dikatakan bahwa sampai saat ini di dunia ini belum ada seorang pun yang dapat dianggap paling jahat.”
“Hm, bicara kian kemari sejak tadi ternyata cuma omong kosong belaka,” jengek Li Toa-jui.
To Kiau-kiau tidak pedulikan omelan itu, ia menyambung pula, “Walaupun saat ini belum ada, tapi selekasnya akan ada.”
Ucapannya ini sangat menarik sehingga setiap orang sama bertanya, “Siapa yang kau maksudkan?”
Akhirnya Li Toa-jui bergelak tertawa dan berkata, “Hahaha, kau bilang anak itu adalah orang paling jahat di dunia ini?... Hahaha, hihihi, hehehe, hohoho... Fui!” Akhirnya ia menyemprot.
Tapi To Kiau-kiau tetap tidak menggubris, sambungnya pula, “Saat ini terang anak itu tidak tahu apa-apa, apa yang kita katakan padanya tentu dia akan menurut. Kalau kita bilang burung gagak itu putih, tentu dia takkan menyangkal bahwa gagak bukan putih melainkan hitam, betul tidak?”
“Hm, kembali omong kosong!” jengek Li Toa-jui.
To Kiau-kiau tetap tidak ambil pusing dan melanjutkan pula, “Sejak kecil dia ikut kita, apa yang dilihatnya adalah apa yang kita kerjakan, apa yang didengarnya adalah apa yang kita bicarakan. Nah, kelak kalau dia sudah besar akan menjadi manusia macam apa?”
“Sudah tentu seorang busuk!” tanpa terasa Li Toa-jui menyambung.
“Ya, bukan saja busuk, bahkan adalah telur busuk paling besar di dunia ini,” kata To Kiau-kiau dengan tertawa. “Coba pikirkan, bila setiap perbuatan jahat penghuni Ok-jin-kok ini telah dipahami olehnya, lantas siapa lagi di dunia ini yang dapat menandingi dia dengan lebih busuk, lebih keji, lebih buas, pendek kata, apa bisa lebih jahat dari pada dia?”
“Wah, orang macam begitu mungkin setan pun takut bertemu dengan dia, haha!” ujar Ha-ha-ji tertawa.
“Ya, begitulah,” kata To Kiau-kiau. “Setan saja takut padanya, jika orang demikian itu berkecimpung di dunia Kangouw, lalu apa jadinya?”
“Hahaha, mustahil kalau dunia ini tidak diaduknya hingga kacau-balau,” jawab Ha-ha-ji sambil berkeplok gembira.
“Itulah tujuan kita,” tutur To Kiau-kiau dengan perlahan, “kita justru ingin mengaduk hingga dunia ini kacau-balau. Kita didesak orang hingga terasing ke sini, siapakah di antara kita ini tidak mendongkol dan sakit hati? Dan anak ini dikirim ke sini berkat kemurahan hati Thian, dia disuruh kemari untuk melampiaskan dendam bagi kita.”
Sampai di sini, bahkan si setengah manusia separo setan Im Kiu-yu, yang biasanya tanpa memperlihatkan perasaan sedikit pun, tanpa terasa tersembul juga sekilas senyum pada wajahnya, ia berkata sambil mengangguk, “Ehm, gagasan yang bagus!”
Ha-ha-ji juga tertawa terpingkal-pingkal, serunya sambil keplok tangan, “Hahaha! Sungguh luar biasa Selain To kecil kita, siapalagi yang mampu mencetuskan gagasan bagus begini?”
Li Toa-jui merasa penasaran, ia melenggong agak lama, akhirnya ia berkata, “Tidak, gagasan ini kurang baik.”
“Apanya yang kurang baik?” tanya To Kiau-kiau.
“Dengan gagasanmu itu memang cukup membuatnya jahat, tapi masih kurang sempurna, dia harus dibuat aneh juga, untuk itu paling baik sekarang juga kita potong sebelah kakinya agar selama hidupnya nanti takkan bahagia, biarkan dia senantiasa dendam dan marah, dengan demikian dia pasti akan menjadikan orang lain sebagai sasaran pelampiasan dendamnya,” demikian usul Li Toa-jui.
“Haha, boleh juga gagasan ini,” seru Ha-ha-ji.
“Gagasan apa? Gagasan kentut anjing!” To Kiau-kiau menyangga sambil mengikik. “Itu kan cuma alasan Li Toa-jui agar bisa mendapatkan sepotong paha mulus si anak itu untuk memenuhi seleranya.”
Seketika Li Toa-jui berjingkrak murka, dampratnya, “Kamu setan belang bukan lelaki bukan perempuan, kamu memang suka mengolok-olok dan memusuhi aku. Segala macam manusia pernah kumakan, hanya makhluk banci macammu ini belum pernah kurasakan. Pada suatu hari harus kubekuk batang lehermu dan akan kusembelih, sebagian akan kubikin Ang-sio-bak dan sebagian lain akan kumasak kuah bening.”
“Hihi, kau ingin makan diriku? Kamu tidak takut mati keracunan?” sahut To Kiau-kiau dengan tersenyum genit.
.
.