Legendary Siblings

Legendary Siblings
57. Manusia Pintar



Thi Sim-lam menunggang kuda, Siau hi-ji yang menuntun kuda sambil berjalan. Thi Sim-lam tidak bicara, anak muda itu pun diam saja, si kuda putih tentu saja tak dapat bicara segala.


Malam sudah larut, suasana sunyi senyap, hawa cukup dingin, menoleh ke belakang masih tampak padang rumput raksasa yang luasnya tak kelihatan ujungnya itu lambat laun ditelan kegelapan.


Akhirnya mereka meninggalkan padang rumput, namun padang rumput yang banyak memberi pengalaman bagi Siau hi-ji itu cukup berkesan dalam benaknya dan takkan terlupakan untuk selamanya.


Namun Siau hi-ji tidak menoleh lagi, tidak memandang pula ke sana. Yang sudah lalu biarkan berlalu. Terkenang? Tidak, pasti tidak!


Wajah Thi Sim-lam tertampak lebih pucat di bawah cahaya bintang yang remang-remang, dia sesungguhnya sangat cantik daripada perempuan yang lain, malahan juga diketahui bahwa Thi Sim-lam sesungguhnya jauh lebih lemah daripada apa yang pernah terbayang olehnya.


Semenjak mendengar berita tentang tiadanya Thi Cian di Ok-jin-kok, sejak itu dia tidak lagi suka bicara, bahkan bergerak pun sungkan, apabila tiada kuda putih ini, pada hakikatnya selangkah pun dia tidak dapat berjalan lagi.


Diam-diam Siau hi-ji menggeleng dan gegetun, "O, perempuan! Betapa pun perempuan memang tidak tahan pukulan batin, baik perempuan cantik maupun perempuan buruk rupa tiada berbeda dalam hal demikian."


Dia menggeleng secara diam-diam dan tidak membuka suara lagi, sungguh ia pun malas untuk bicara lagi.


Tapi mendadak Thi Sim-lam mulai membuka mulut. Bulu matanya yang panjang itu mengerling, kerlingan mata yang sayu, tapi tidak tahan memandang Siau hi-ji melainkan berucap perlahan seperti orang mengigau, "Sudah cukup lama kau tidak berbicara."


"Kau tidak bicara, untuk apa aku bicara?" jawab Siau hi-ji.


"Tapi... apakah tiada sesuatu yang hendak kau tanya padaku?"


"Untuk apa kutanya padamu? Tiada sesuatu yang aku tidak tahu."


"Kau tahu apa?" tanya Sim-lam.


Siau hi-ji tertawa kemalas-malasan, jawabnya kemudian, "Misalnya karena kepepet, lalu timbul keinginan bernaung pada ayahmu, walaupun sebenarnya kau tidak suka padanya, bahkan sejak kecil kau sudah meninggalkan dia. Malahan sudah sejak kecil kau dibuang olehnya. Tapi dia, betapa pun dia tetap ayahmu."


"Ayahku? Siapa ayahku?" mendadak Thi Sim-lam melotot.


"Ong-say Thi Cian!" jawab Siau hi-ji.


"Sia... siapa bilang?" seru Thi Sim-lam.


"Aku!" jawab Siau hi-ji sambil menguap ngantuk, "O, perempuan! Kutahu watak perempuan, biarpun isi hatinya dengan tepat kena kau katai, namun dia tetap tidak mau mengaku. Sebab itu, tidaklah menjadi soal bagiku apakah kau mau mengaku atau tidak."


Terbelalak Thi Sim-lam memandangi Siau hi-ji seolah-olah orang yang baru dikenalnya. Ia merasa anak muda ini pada hakikatnya bukan manusia tapi siluman, atau silumannya manusia.


Setelah termangu-mangu kemudian ia berkata pula, "Apa... apalagi yang kau ketahui?"


"Kutahu pula bahwa namamu bukan Lam lelaki melainkan Lan anggrek, Thi Sim-lan... inilah nama yang sesuai bagimu, betul tidak?"


"Ti... tidak. Ai, memang begitulah, Lan anggrek," akhirnya mengaku juga si nona yang nama aslinya ialah Thi Sim-lan.


"Kutahu pikiranmu sekarang sedang bingung, entah harus ke mana dan entah harus berbuat apa? Sebab itulah aku sengaja tidak berbicara agar kau dapat berpikir secara tenang."


"Sebenarnya berapa umurmu?" tanya Thi Sim-lan dengan tertawa getir. "Sungguh terkadang aku merasa takut, entah engkau ini sebenarnya seorang anak atau... atau..."


"Siluman?" sambung Siau hi-ji.


Thi Sim-lan menghela napas perlahan, katanya, "Terkadang aku memang benar mengira engkau ini makhluk jadi jadian. Kalau tidak, mengapa engkau selalu dapat menerka isi hati orang lain?"


"Bisa jadi memang begitu..." ucap Thi Sim-lan dengan lembut.


"Baiklah, sekarang kau dapat ambil keputusan bukan?"


"Ambil keputusan apa?" tanya si nona.


"Ambil keputusan tentang apa yang harus kau lakukan dan harus pergi ke mana?"


"Aku... aku..." kembali Thi Sim-lan menunduk.


"Kau harus cepat ambil keputusan, aku kan tidak dapat selalu mengiringimu!"


Seketika Thi Sim-lan mengangkat kepalanya, mukanya tampak pucat bagai kertas, serunya tergagap, "Kau... kau tidak dapat..."


"Ya, dengan sendirinya tidak dapat..."


"Tapi ... tapi engkau ...."


"Betul, tadinya kuingin berkawan denganmu dan mengembara ke mana saja, tapi sekarang diketahui kau adalah anak perempuan, maka rencana terpaksa harus berubah, aku tidak lagi menerima kau sebagai murid."


"Tapi ... tapi engkau ... engkau ...."


"Kita bukan sanak kadang, bagaimana jadinya kalau kita lari ke sana kemari? Apalagi masih banyak urusan yang harus kukerjakan, mana boleh kuterhalang oleh seorang perempuan."


Thi Sim-lan merasa seperti kena dicambuk, seketika ia melengak dan gemetar. Entah selang berapa lama, akhirnya ia tersenyum pedih, "Ya, benar, kita bukan sanak bukan saudara, silakan kau pergi saja."


"Dan kau ...."


"Sudah tentu aku mempunyai tempat sendiri, kau tidak perlu tanya," jengek Thi Sim-lan ketus.


"Baiklah, mungkin saat ini kau belum dapat berjalan, kuda ini kuberikan padamu saja."


"Terima kasih," kata Sim-lan sambil menggigit bibir. "Tapi aku pun tidak... tidak memerlukan kuda, aku tidak perlu bantuan apa pun, engkau ...."


Segera ia melompat turun dari kuda dan berpaling ke sana. Maklumlah, betapa pun ia tidak ingin Siau hi-ji melihat air matanya yang sudah bercucuran.


Siau hi-ji berlagak tidak tahu, ia menuntun kuda putih itu dan berkata pula dengan tertawa, "Baik juga kalau kuda ini tidak kau perlukan, aku sendiri juga merasa berat berpisah dengan kuda ini, sungguh aku rada sedih jika harus meninggalkan kuda ini."


"Jadi ... jadi aku ...." dengan suara gemetar sebenarnya Sim-lan hendak berkata apakah dirinya tidak lebih berharga daripada kuda itu sehingga anak muda itu tidak merasa berat sedikit pun untuk berpisah dengan dia? Tapi dia tidak jadi mengeluarkan isi hatinya itu walaupun hatinya remuk redam.


"Baiklah, kuberangkat sekarang, semoga engkau menjaga diri baik-baik," pesan Siau hi-ji.


Thi Sim-lan berpaling lagi, ia dengar anak muda itu telah mencemplak ke atas kuda serta mulai melarikan kudanya ke sana.


Anak muda itu benar-benar pergi begitu saja, akhirnya Thi Sim-lan tidak tahan lagi dan menjerit, "Sudah tentu aku akan menjaga diriku dengan baik, aku tidak memerlukan perhatianmu yang palsu itu, aku lebih suka mati daripada melihat kau lagi."


Akhirnya ia menjatuhkan diri ke tanah dan menangis tergerung-gerung.