
“Begitukah?” ucap Lian-sing Kiongcu dengan acuh tak acuh.
“Kuyakin engkau pasti dapat menyelamatkan dia, pasti dapat,” seru Hoa Goat-loh dengan parau.
Lian-sing Kiongcu menghela napas panjang, katanya, “Ya, memang aku dapat menyelamatkan jiwanya....”
Belum habis ucapannya, entah dari mana datangnya, tiba-tiba berkumandang suara seorang, “Kau keliru, tidak mungkin kau dapat menghidupkan dia, di dunia ini tiada seorang pun mampu menyelamatkan dia.”
Suara orang ini sedemikian ringan mengambang tak menentu, nadanya dingin, tanpa emosi dan mengederkan orang, tapi juga begitu halus, lembut menggetarkan sukma. Rasanya tiada seorang pun yang sanggup melukiskan nada suara yang menarik dan menyeramkan ini, tiada seorang pun di dunia ini yang dapat melupakan nada suara ini bilamana sudah mendengarnya.
Jagat raya ini serasa membeku seketika oleh karena nada suara tadi yang penuh mengandung hawa nafsu membunuh itu, senja yang semakin remang itu seketika pun bertambah suram.
Tubuh Kang Hong gemetar laksana daun tertiup angin. Wajah Lian-sing Kiongcu seketika pun pucat bagai mayat. Tanpa menoleh pun mereka tahu siapa gerangan yang datang.
Begitulah sesosok bayangan putih tahu-tahu melayang tiba, entah melayang dari mana dan datang sejak kapan, tahu-tahu sudah berdiri di depan mereka.
Baju pendatang itu putih laksana salju, rambut terurai dengan gaya indah seperti bidadari yang baru turun dari kayangan, betapa cantik wajahnya sungguh sukar untuk dilukiskan, sebab tiada seorang pun yang berani menengadah untuk memandangnya.
Pada tubuhnya seakan-akan berpembawaan semacam daya pengaruh yang tak dapat dilawan sehingga orang pun takut memandangnya.
Kepala Lian-sing Kiongcu juga tertunduk, sambil menggigit bibir ia menyapa, “Cici, engkau... engkau juga datang.”
“Ya, aku pun datang, kau tidak menyangka bukan?” jawab sang kakak, Kiau-goat Kiongcu, putri agung utama dari Ih-hoa-kiong yang termasyhur dan disegani itu.
“Bilakah Cici datang kemari?” jawab Lian-sing Kiongcu pula, kepalanya semakin menunduk.
“Kedatanganku tidak terlalu dini, hanya, hanya sempat mengikuti percakapan orang banyak yang agaknya tidak suka didengar olehku,” ujar Kiau-goat Kiongcu.
Terkilas pikiran dalam benak Kang Hong, dengan suara gemas ia berteriak, “Jadi... jadi sejak tadi kau sudah datang. Kalau begitu si b*bi dan si ayam dari Cap-ji-she-shio yang tadi sudah kabur lalu datang kembali lagi itu jangan-jangan adalah perintahmu? Jadi semua rahasia itu telah kau katakan kepada mereka?”.
“Baru sekarang hal ini terpikir olehmu, bukankah sudah terlambat?” ujar Kiau-goat Kiongcu.
Mata Kang Hong mendelik, dengan beringas ia berteriak, “Mengapa... mengapa kau berbuat demikian? Bertindak sekeji ini?”
“Terhadap orang yang berhati keji, hatiku pasti sepuluh kali lebih keji daripadanya,” jawab Kiau-goat.
“Toa-kiongcu,” jerit Hoa Goat-loh dengan menahan derita, “semuanya adalah salahku, jangan... jangan kau salahkan dia.”
Mendadak nada ucapan Kiau-goat berubah setajam sembilu, katanya sekata demi sekata, “Kau masih berani bicara demikian padaku?”
Hoa Goat-loh ngesot di tanah, katanya dengan terputus-putus, “Hamb... hamba....”
“Baiklah, kau sudah bertemu denganku, kini... kini bolehlah kau mangkat!” ucap Kiau-goat dengan tenang. 'Mangkat' jelas berarti vonis kematian.
Betapa takutnya Hoa Goat-loh dapat digambarkan bahwa menangis saja dia tidak berani, dia hanya memejamkan mata dan menjawab lemah, “Terima kasih Kiongcu.”
“Dia menghendaki kematianmu, mengapa kau malah berterima kasih padanya?” teriak Kang Hong dengan kalap.
Tersungging senyuman pilu pada ujung mulut Hoa Goat-loh, jawabnya perlahan, “Biarlah ku mati lebih dulu sehingga takkan menyaksikan cara bagaimana kematianmu dengan anak-anak kita, dengan demikian dapatlah mengurangi sedikit siksa deritaku. Dan ini adalah... adalah kemurahan hati Kiongcu, kan pantas jika aku berterima kasih kepada beliau.”
Ia membuka matanya, memandang Kang Hong sekejap, lalu memandang pula kedua orok, walau hanya pandangan sekilas saja, namun betapa mendalam kasih sayang seorang ibu kepada anaknya dalam pandangan sekilas itu sungguh tak terlukiskan.
“Kakak Hong, biarlah aku mangkat lebih dulu, akan... akan kutunggu engkau di sana....” lalu terpejamlah matanya dan tidak melek lagi untuk selamanya.
“Tunggu, Goat-loh!” jerit Kang Hong histeris, entah dari mana timbulnya tenaga, mendadak ia menubruk ke atas tubuh sang istri. Tapi baru saja tubuhnya bergerak, kontan ia roboh lagi dihantam oleh angin pukulan yang keras.
“Kukira kau perlu berbaring dengan tenang,” ujar Kiau-goat.
“Selama hidupku tak pernah kumohon sesuatu kepada siapa pun,” kata Kang Hong dengan suara gemetar, “Tapi sekarang... kumohon. . . kumohon engkau sudilah berbuat bajik. Apa pun tidak kuinginkan, yang kuharap hanya dapat mati bersama dengan Goat-loh.”
“Hm, jangan kau harap dapat menyentuh seujung jarinya lagi,” jawab Kiau-goat ketus.
Kang Hong menatapnya dengan sorot mata membara, kalau saja sinar matanya dapat membunuh orang, sejak tadi tentu orang itu sudah dibunuhnya. Umpama api amarahnya juga dapat berkobar, tentu sejak tadi putri itu pun sudah dibakarnya hidup-hidup.
Akan tetapi Kiau-goat Kiongcu masih tetap berdiri tenang saja di situ dengan senyum mengejek.
Mendadak Kang Hong mengakak tawa seperti orang gila, tertawa histeris, tertawanya orang putus asa dan penuh benci, penuh dendam.
“Hm, kau malah tertawa? Apa yang kau tertawakan?” tanya Kiau-goat Kiongcu mendongkol.
“Hahahaha! Kalian anggap diri kalian manusia super, manusia yang lain daripada yang lain? Kalian mengira dengan segala kemampuan kalian dapat menguasai segala kehendakmu. Akan tetapi, hahaha, akan tetapi, bila aku sudah mati, aku akan berkumpul bersama Goat-loh, untuk ini dapatkah kalian merintangi kami?”
Di tengah gelak tertawa kalap itu, mendadak Kang Hong terkapar, suara tertawanya mulai lemah dan akhirnya berhenti untuk selamanya.
Lian-sing Kiongcu menjerit perlahan dan memburu maju, dilihatnya golok kutung tadi telah menancap ke dalam hulu hatinya, tamatlah riwayat sang lelaki mahacakap itu.
Bulan sabit sudah menongol di cakrawala dengan cahayanya yang setengah remang. Lian-sing Kiongcu berlutut mematung, hanya angin meniup mengembus rambutnya yang halus itu, lama dan lama sekali barulah ia bergumam, “Dia... dia sudah mati...akhirnya cita-citanya terkabul juga, tapi… tapi bagaimana dengan engkau?...”
Mendadak ia bangkit dan menghadapi sang kakak, yaitu Kiau-goat Kiongcu dan berteriak, “Ya, bagaimana dengan kita?”
“Tutup mulutmu!” jawab Kiau-goat Kiongcu tak acuh.
“Aku justru ingin bicara!” seru Lian-sing Kiongcu “Apa yang telah kau peroleh dengan tindakanmu ini? engkau hanya membuat mereka semakin cinta-mencintai, membuat mereka semakin benci padamu!”
“Plak”, belum habis ucapannya pipinya telah ditampar sekali oleh sang kakak.
Lian-sing Kiongcu tergetar mundur dua tindak. “Kau... kau....” Ia tergegap sambil meraba pipinya.
“Kau hanya tahu mereka benci padaku, tapi apakah kau pun tahu betapa benciku padanya? Ku benci dia hingga darah menetes dari tubuhku....” Mendadak ia menyingsing lengan bajunya dan berteriak pula, “Lihatlah ini!”
Di bawah sinar bulan yang remang, lengannya yang putih mulus itu ternyata penuh bintik-bintik merah.
Lian-sing Kiongcu melengak, tanyanya, “Ini... ini... sebab apa ini?”
"Inilah bekas tusukan jarum yang kulakukan sendiri,” teriak Kiau-goat Kiongcu dengan penuh emosi.
“Sejak mereka kabur, aku menjadi benci, aku dendam dan menyakiti diriku sendiri dengan tusukan jarum, setiap hari aku menyiksa diriku sendiri untuk mengurangi rasa derita batin. Semuanya ini apakah kau tidak tahu... apakah kau tidak tahu?...” Sampai akhirnya suaranya menjadi gemetar dan setengah terguguk.
.
.