Legendary Siblings

Legendary Siblings
53. Obat Bius



Ia melirik sekejap ke dalam rumah, di dalam cukup gelap. Selang sejenak tampak Thi Sim-lam keluar dengan membawa dua mangkuk air.


"Sudah kucicipi, air ini terasa manis," kata Thi Sim-lam dengan berseri.


"Kita minum, bagaimana kudanya, dia sudah lelah berlari, biar dia minum semangkuk dulu," kata Siau hi-ji.


"Jangan, jangan!" kata Thi Sim-lam cepat. "Hanya... hanya dua mangkuk ini kucuci bersih. Biarkan kuda minum dengan ember saja." Ia menaruh sebuah mangkuk di tepi sumur dan mangkuk lain diserahkan pada Siau hi-ji, lalu ia lari masuk lagi ke rumah.


Sungguh cepat lari Thi Sim-lam, ketika dia keluar lagi Siau hi-ji masih tetap berdiri di tempatnya tanpa bergeser, Thi Sim-lam berkedip-kedip, katanya dengan tertawa, "Ayolah minum, sungguh air itu manis!"


"Jangan, air sumur ini beracun," kata Siau hi-ji dengan tertawa.


"Ti... tidak mungkin, kalau beracun tentu aku sudah mati keracunan," kata Thi Sim-lam dengan mengikik. "Tadi aku sudah minum satu mangkuk, sekarang biar kuminum lagi semangkuk." Segera ia angkat mangkuk yang terletak di tepian sumur tadi terus ditenggaknya hingga habis.


"Kau sudah minum lebih dulu, legalah hatiku," kata Siau hi-ji tertawa. Lalu ia pun minum semangkuk air.


Sementara itu malam sudah tiba, bintang bertebaran di langit. Mendadak air muka Siau hi-ji berubah hebat, serunya dengan terputus-putus, "Wah, cel... celaka! Mengapa ... mengapa kepalaku menjadi pusing."


Thi Sim-lam menatapnya dengan tajam, katanya, "Jangan khawatir, tidak apa-apa, duduklah sebentar tentu baik."


"Ah, tidak benar ini, tidak beres, mengapa badanku terasa lemas," kata Siau hi-ji pula. Baru habis ucapannya, "bluk", ia benar-benar roboh terguling sambil berteriak, "Racun, di... didalam air ada racun!"


Mendadak Thi Sim-lam mundur dua tindak, lalu menjengek, "Hm, jangan khawatir, air itu tidak beracun, hanya diberi obat bius saja, silakan tidur semalam di sini, besok pagi kau dapat berjalan lagi."


Siau hi-ji mengeluh, katanya dengan tak lancar, "Meng ... mengapa kau menaruh... menaruh obat bius di dalam air?"


"Soalnya aku harus pergi ke suatu tempat dan tidak boleh terhalang olehmu," jawab Thi Sim-lam.


"Kau... kau ...." makin lama makin tak jelas ucapan Siau hi-ji.


Thi Sim-lam tertawa, katanya, "Kau ini terhitung bocah pintar juga, cuma..." sembari berkata dia terus melangkah pergi, tapi baru saja berucap sampai di sini, tiba-tiba kakinya terasa lemas dan hampir jatuh tersungkur. Seketika air mukanya berubah pucat, ia melangkah lagi sekuatnya, tapi baru dua tindak ia lantas jatuh benar dan menggeletak di samping ember kayu, bahkan tenaga untuk merangkak saja tidak ada, dengan suara gemetar ia bertanya, "Ba... bagaimana bisa terjadi begini?"


"He, jangan jangan kau pun menaruh obat bius pada mangkukmu sendiri," ujar Siau hi-ji.


"Ti... tidak mungkin, jelas... jelas aku..."


Mendadak Siau hi-ji bergelak tertawa terus melompat bangun.


Keruan Thi Sim-lam terperanjat, serunya, "Kau... kau..."


"Hehe, kamu ini terhitung juga bocah pintar, tapi kalau dibandingkan diriku selisihnya masih terlalu jauh," ucap Siau hi-ji dengan keplok tertawa.


"Diam-diam kau menaruh obat di dalam mangkuk, kau kira aku tidak tahu. Terus terang, mataku ini sejak kecil dicuci dengan air obat, sekalipun di tengah malam gelap juga sanggup kutemukan jarum yang jatuh di tanah."


"Kiranya kau telah... telah menukar mangkukku," kata Thi Sim-lam dengan muka pucat.


Mata Thi Sim-lam serasa melengket dan sukar terpentang lagi, tapi sebisanya ia berteriak, "Engkau... engkau ingin meng... mengapakan diriku?"


"Aku pun tidak bermaksud apa-apa padamu, cuma ucapanmu tak dapat kupercayai, makanya akan kugeledah tubuhmu dari ujung kaki sampai ubun-ubun kepala, ingin kulihat apakah benar kau tidak membawa sesuatu barang."


Belum habis ucapan Siau hi-ji, muka Thi Sim-lam yang tadinya pucat seketika berubah merah, katanya dengan gemetar, "O, jang... jangan, kumohon dengan.. dengan sangat, jangan... jangan..." tidak hanya suaranya yang gemetar, kedua tangannya memegang kencang baju sendiri, tampaknya khawatir kalau dibelejeti. Tapi suara rintihan, "Kumohon... jangan... jangan..." menjadi lemah dan semakin lirih dan akhirnya tak terdengar lagi, tangan pun kendur melepaskan baju yang dipegangnya.


Siau hi-ji hanya berdiri saja dan memandang orang dengan tertawa. Ia tunggu orang sudah tidak bisa bergerak lagi barulah berjongkok di sampingnya, ia pegang tangan Thi Sim-lam, semakin pemuda itu memohon jangan, Siau hi-ji semakin berlagak hendak menggeledahnya.


Pada saat itulah tiba-tiba angin meniup santer, sesosok bayangan orang tahu-tahu sudah berdiri di belakang Siau hi-ji, datangnya bayangan sedikit pun tidak menimbulkan suara seakan-akan datang terbawa oleh desiran angin tadi.


Di bawah cahaya bintang yang remang, samar-samar terlihat pakaian orang itu berwarna merah. Tapi Siau hi-ji seperti tidak tahu sama sekali.


Dalam keadaan remang-remang potongan tubuh bayangan orang itu tampaknya ramping menggiurkan. Perlahan tangan bayangan orang itu terangkat, gerakannya sedemikian lembut dan indah seperti gaya bidadari yang sedang memberkati kegembiraan dan kebahagiaan bagi manusia di dunia ini.


Akan tetapi sesungguhnya tangan itu tidak membawakan kebahagiaan, tapi mendatangkan kematian. Dalam sekejap saja tangan itu akan merenggut nyawa Siau hi-ji.


Namun anak muda itu masih tetap tidak tahu apa pun, tiba-tiba ia bergumam malah, "Sungguh aneh orang ini, mengapa tertidur di sini, dipanggil juga tidak mau mendusin. He, hei! Toako (kakak) yang tidur di sini, bangunlah, mengapa tidur di sini, kau bisa masuk angin!"


Tangan yang sudah terangkat dan hampir digablokkan tadi mendadak berhenti tanpa bergerak lagi. Dan Siau hi-ji bergumam pula, "Wah, bagaimana ini?.. Jika sudah kulihat, betapa pun tidak boleh kutinggalkan pergi. Ah, sialan, maksudku ingin mencari air, siapa tahu kepergok orang tidur seperti b*bi ****** begini."


"Kau tidak kenal orang ini?" tiba-tiba bayangan baju merah tadi bertanya.


Seperti pantat dicocok jarum, serentak Siau hi-ji berjingkat kaget, cepat ia membalik tubuh dan memandang orang dengan melotot, badan pun menggigil ketakutan seperti melihat setan.


Padahal, di bawah cahaya bintang yang remang itu, sisa air setengah ember itu laksana sebuah cermin sejak tadi sudah memberitahukan kepada Siau hi-ji bahwa pendatang itu ialah Siau sian-li. Tapi lagak kaget Siau hi-ji itu sungguh persis sekali, ia melenggong sekian lama barulah berucap dengan tergagap, "Non... nona cilik dari... dari manakah?"


Belum habis ucapannya, kontan Siau sian-li menamparnya. Siau hi-ji berlagak hendak mengelak, tapi kelabakan dan tidak mampu menghindar sehingga terkena pukul dan jatuh terguling.


"Hm, setan cilik macam kau juga berani memanggil aku nona cilik?" damprat Siau sian-li Thio Cing.


Siau hi-ji memegang pipinya yang bengap dan merangkak bangun dengan setengah mewek, katanya dengan lagak memelas, "Iya... nona... nona besar, aku..."


Belum habis ucapannya, kembali pipi sebelah lain kena gampar pula, dengan suara bengis Siau sian-li menghardik, "Nona besar juga bukan panggilanku."


"Ya, ya, bib... bibi... aku kapok," ucap Siau hi-ji dengan gelagapan.


"Hm, mendingan begini," ujar Siau sian-li. Walaupun sikapnya tetap kaku, tapi nada bicaranya sudah jauh lebih lunak.


Sungguh ia tidak tahu mengapa dirinya bisa berubah menjadi lunak, entah sebab apa pula hatinya menjadi lemas demi nampak tampang anak muda macam Siau hi-ji ini.


Sambil berkedip-kedip mendadak Siau hi-ji berkata pula, "Eh, bibi, engkau jangan marah. Ada seorang pamanku, katanya manusia kalau marah, dagingnya akan berubah kecut, eh keliru, katanya kalau marah, orang akan cepat tua dan buruk rupa. Bibi sedemikian cantik, kalau benar berubah tua dan buruk kan sayang."