
Bungkusan itu terletak di punggung kuda putih, Siau hi-ji sendiri menuntun kuda itu, sekaligus mereka lari hingga beberapa li jauhnya. Sungguh geli dan ingin tertawa jika Siau hi-ji ingat tampang belasan orang yang diakalinya itu.
Menjelang lohor, sinar matahari makin panas, Siau hi-ji belum begitu merasakannya, tapi kuda putih itu sudah rada payah.
Padang rumput yang luas itu tiada kelihatan bayangan orang maupun tempat berteduh. Tiba-tiba pikiran Siau hi-ji tergerak, ia membuka bungkusan besar itu, diambilnya sepotong tanduk kambing benggala (dapat digunakan sebagai obat), ia pandang benda berharga itu, lalu tertawa dan membuang jauh tanduk itu.
Begitulah sambil berjalan Siau hi-ji terus membuang, satu bungkus besar barang-barang yang sangat berharga itu telah dilemparkannya dengan tertawa riang tanpa sayang sedikit pun, sama saja seperti orang membuang sampah.
Sampai akhirnya sisa barang tinggal sedikit, tanpa pikir Siau hi-ji mengemasi bungkusan itu terus dilemparkan jauh ke tengah semak rumput. Habis itu ia berkeplok tangan dan tertawa puas.
Tiba-tiba di kejauhan terdengar suara nyaring orang memanggilnya, "Siau hi... Kang Hi... berhenti dulu, tunggu!"
Seekor kuda tampak berlari tiba secepat terbang, penunggangnya berbaju gemerlap, belasan kuncir tampak menari-nari tertiup angin, wajahnya merah menyerupai bunga Tho.
"Aha, hebat sekali kepandaian menunggang kudamu... sungguh indah!" seru Siau hi-ji memuji.
Setelah dekat, Tho-hoa sudah berdiri di punggung kuda, mendadak ia berjumpalitan di udara.
Siau hi-ji kaget, tapi Tho-hoa sudah berdiri di depannya. Sambil menggigit bibir, Tho-hoa membanting-banting kaki, matanya mengembang air, seperti habis menangis dan seakan-akan ingin menangis, dengan napas terengah ia mengomel, "Mengapa... kau pergi tanpa... pamit? Kau..."
"Aku telah menimbulkan onar, kalau tak kabur tentu membikin susah dirimu," ujar Siau hi-ji tertawa.
"Ken... kenapa engkau menipu orang lain?" kata Tho-hoa pula.
"Mereka menipu aku, kenapa aku tak boleh menipu mereka?" jawab Siau hi-ji.
Tho-hoa melengak, matanya yang jeli mengerling dan bertanya, "Mana barangnya?"
"Sudah kubuang semua," tutur Siau hi-ji.
"Kau buang?" Tho-hoa terkejut. "Ken... kenapa engkau berbuat begitu?"
"Habis tadinya barang-barang itu termuat di punggung kuda, aku sendiri malah harus berjalan kaki di bawah terik sinar matahari, bukankah aku menjadi orang tol*l? Makanya kupikir barang-barang itu harus kubuang saja."
Mata Thoa-hoa terbelalak lebar, katanya, "Ta... tapi barang-barang itu sangat berharga, engkau tidak merasa sayang?"
"Bukan soal bagiku, sudah tentu aku tidak sayang," jawab Siau hi-ji dengan tertawa. "Barang-barang berharga di dunia ini kan tidak cuma barang tadi, jika mau setiap saat aku bisa mendapatkannya."
"Kau... kau sungguh gila," omel Tho-hoa.
Siau hi-ji bergelak tertawa, selang sejenak barulah ia berkata pula, "Barang-barang yang kubuang itu tentu akan ditemukan orang, jika penemu itu orang baik-baik, tentu mereka akan kegirangan. Bila kubayangkan wajah mereka yang tertawa gembira itu, rasanya hatiku pun ikut gembira, hal ini sudah cukup bagiku daripada susah payah kubawa sendiri barang-barang itu dalam perjalanan."
"Bila penemu itu orang-orang busuk, maka mereka pasti akan berkelahi karena pembagian rezeki yang tidak rata, malahan kalau ada yang bermaksud mencaplok sendiri rezeki yang ditemukan, bisa jadi kawan sendiri akan dibunuhnya."
"Begini kau pun senang?" tanya Tho-hoa.
"Mengapa tidak senang? Haha, teramat senang!"
"Kau... kau sungguh telur busuk!" omel Tho-hoa dengan terbelalak.
"Selain itu, bila barang-barang itu ditemukan oleh manusia malas, pasti dia tidak mau bekerja apa-apa lagi dan sehari-harian hanya ingin mencari rezeki di tengah semak-semak rumput itu, dia mencari dan mencari terus sampai dia lupa daratan dan mati kelaparan." Siau hi-ji terkekek-kekek, lalu menyambung pula, "Coba lihat, aku cuma membuang sedikit barang begitu, tapi jelas akan mengubah betapa banyak kehidupan manusia, bukankah ini permainan yang paling menarik di dunia ini?"
Tho-hoa melongo seperti patung, sekian lamanya barulah dia menghela napas perlahan dan bergumam, "Kau sungguh iblis kecil."
"Baik, tadi kau memaki aku tol*l, memaki aku gila dan iblis kecil, jika begitu, mengapa kau menyusul ke sini?"
Tho-hoa menunduk, jawabnya dengan lirih, "Aku... aku cuma ingin tanya mengapa... mengapa kau pergi tanpa pamit."
"Apa pun juga aku toh harus berangkat, pamit dan tidak apa gunanya?" ujar Siau hi-ji. "Jika pamit dapat membuat kau melupakan diriku tentu tidak menjadi soal, cuma sayang kau kan tak dapat melupakan daku?" kata Siau hi-ji dengan tertawa.
Tho-hoa memandangnya dengan mata melotot, entah mengapa, air matanya lantas bercucuran.
"Apa yang kau tangiskan?" tanya Siau-hi-ji dengan tertawa. "Usiaku masih kecil, kan tidak dapat menjadi suamimu, apalagi kau sangat cantik, tidak perlu khawatir takkan mendapatkan suami."
"Kau... kau sangat..." Tho-hoa berteriak dengan suara serak, tapi ia tidak sanggup melanjutkan lagi, sukar baginya untuk memilih istilah yang cocok untuk melukiskan tindak-tanduk makhluk cilik yang binal ini.
Mendadak ia membanting kaki terus mencemplak ke atap kudanya, ia pukul pantat kuda sekeras-kerasnya terus dilarikan secepat terbang.
Siau hi-ji menggeleng-geleng kepala, katanya dengan gegetun, "O, perempuan... kiranya perempuan kebanyakan rada s'nting."
Dia membelai-belai bulu suri kuda putih dan bergumam pula, "Wahai, kudaku sayang, apabila kau pun cerdik seperti aku, maka jangan sekali-kali mendekati perempuan, lebih-lebih jangan mau ditunggangi perempuan, kalau tidak, bisa konyol dan sial kau, sebab bila marah, orang perempuan akan menjadikan kau sebagai sasaran pelampiasan marahnya... Ai, kukira pantat kuda itu pasti akan bengkak dipukul si Tho-hoa."
Ia lantas naik kudanya dan melanjutkan perjalanan ke depan. Tapi belum seberapa jauh, tiba-tiba seorang mengadang di tengah jalan.
Di bawah cahaya matahari terlihat jelas pakaian orang ini seputih salju, matanya bersinar, meski wajahnya tampak mengunjuk marah, sedikit pun tidak menakutkan, bahkan kelihatannya sangat menyenangkan.
Segera Siau hi-ji dapat mengenalinya, yaitu si pemuda yang angkuh itu. Dengan tertawa ia menyapa, "Eh, kiranya kau berada di sini. Apakah kau sedang berjemur di sini?"
"Menunggu kau!" dengus pemuda itu.