
Karena terkena obat bius yang dicampur di dalam arak, tubuh Siau hi-ji tak dapat bergerak, terpaksa dia menghela napas dan berkata sambil meringis, "Sungguh orang tidak boleh dinilai berdasarkan bentuknya, sapi gobl*k seperti kau ternyata juga mempunyai akal setan, sungguh mimpi pun tak pernah kuduga."
"Hah, orang Kangouw yang pernah terjebak oleh akal saudara sapi kita jumlahnya sukar dihitung, kau anak jadah ini juga bukan orang pertama, kenapa kau mesti menyesal dan gegetun?" ujar si kambing dengan terkekeh.
"Tapi dari mana kau kenal diriku?" tanya Siau hi-ji.
"Kau berada bersama putri Ong-say Thi Cian, dengan sendirinya kau ada hubungan erat dengan Cap toa ok-jin," tutur si sapi. "Makanya aku sengaja mengucap salah seorang di antara kesepuluh top penjahat itu dan kau terus percaya penuh dan masuk perangkap sendiri."
"Ini namanya salah pukul tapi kena dengan tepat, anggaplah kalian lagi mujur," kata Siau hi-ji. "Memangnya aku pun lagi heran Cap-ji-she-shio yang terkenal mahabusuk, mengapa bisa berubah sedemikian penurut. Hah, tak tahunya bagiku juga ada kalanya terjadi 'kapal terbalik di selokan'."
"Huh, memangnya kau anak jadah kecil ini menganggap dirimu paling pintar?" jengek si sapi sambil tertawa. "Terus terang kukatakan, untuk dapat berkecimpung di dunia Kangouw, kau masih terlalu jauh dan perlu belajar sepuluh tahun lagi."
"Kami Cap-ji-she-shio ini tokoh macam apa, kalau saja kami tidak sengaja hendak menipu kau, mana bisa kami bersikap begini padamu?" kata si kambing. "Hm, biarpun Li Toa-jui datang sendiri juga kami menganggapnya sebagai kentut belaka, apalagi cuma anak jadah kecil macam dirimu ini."
"Sekarang kalau kau mau mengaku di mana letak tempat penyimpanan harta karun itu bisa jadi kami akan mengampunimu," ucap si sapi dengan menyeringai. "Kau bukan anak bodoh, tentu tahu bagaimana akibatnya jika tetap bandel."
Dengan mata terbelalak Siau hi-ji mendengarkan ocehan mereka, setelah ocehan mereka agak kendur, mendadak ia bergelak tertawa dengan gaya sangat gembira.
Si kambing menjadi gusar, dampratnya, "Haram jadah kecil, memangnya kau kira kami tidak mampu membuat kau mengaku terus terang?"
"Haram jadah tua, memangnya kau kira aku benar-benar terjebak oleh perangkap kalian?" Siau hi-ji balas berolok-olok dengan tertawa.
"Hah, kau masih ada permainan apa, coba katakan," ucap si sapi.
Siau hi-ji menghela napas gegetun, jawabnya, "Ai, untuk berkata sih tidak sulit, yang kukhawatirkan adalah sebelum habis kubicara mungkin jiwa kalian sudah melayang."
"Apa betul?" kata si sapi tetap dengan tertawa.
Siau-hi-ji juga tertawa, jawabnya, "Tidak betul! Soalnya Loh-se-bak yang kalian makan itu tidak beracun, sedikit pun tiada racunnya."
Belum habis ucapannya, si sapi dan si kambing sama-sama tidak dapat tertawa lagi. Segera si kambing mencengkeram leher baju Siau hi-ji dan membentak, "Haram jadah kecil, apa katamu?"
"Kataku kalian jadah tua ini sangat pintar dan aku ini orang tol*l," jawab Siau hi-ji dengan tertawa. "Sebab besok juga aku akan berangkat dan mulai mencari harta karun, meski kalian tidak diperbolehkan ikut, aku tidak sampai hati meracuni kalian, makanya tidak kutaruh racun dalam Loh-se-bak yang kalian makan itu."
Semakin dia bilang tidak menaruh racun, semakin ketakutanlah si kambing, air mukanya bertambah pucat, dengan suara parau ia membentak pula, "Le.. lekas keluarkan obat penawarnya!"
"Ya, ya jangan khawatir, pasti akan kuserahkan obat penawarnya agar nanti kalian dapat membunuhku dengan bebas," ucap Siau hi-ji dengan tertawa.
"Hahaha, jangan lupa, selama kalian memerlukan diriku untuk menemukan harta karun, selama itu pula takkan meracuni aku. Sebaliknya aku tidak memerlukan kalian, memangnya aku tidak berani meracuni kalian? Haha, jangan lupa pula bahwa obat bius takkan membinasakan orang, sedangkan racun dapat membuat jiwa kalian melayang."
Tiba-tiba si sapi tertawa, ia menarik tangan si kambing dan berkata, "Benar, memang benar, kita ini tolol dan tidak tahu urusan. Kita dikatakan kena racunnya, maka kita benar-benar menganggap diri kita sudah keracunan."
"Ya, hendaklah kalian jangan mau percaya," tukas Siau hi-ji. "Tapi kalau saat ini kalian mau meraba tulang iga kelima di sisi kiri, yakni di bagian Ling-kin-hiat, kutanggung takkan terdapat sesuatu tanda penyakit apa pun, maka sebaiknya kalian tidak usah merabanya."
Celakanya, begitu tempat itu teraba, seketika wajah berubah menjadi pucat, kedua orang saling pandang memandang dengan melongo.
"O, tidak menjadi soal kalau di situ terasa kemeng," ucap Siau hi-ji dengan tertawa. "Kujamin dalam waktu sejam-dua jam kalian takkan mati, jika perlu kalian masih sempat membunuhku lebih dulu."
Meski dia suruh mereka membunuhnya, tapi biarpun nyali kedua orang itu ditambah satu kali lipat juga mereka tidak berani turun tangan.
Maklumlah, kalau Siau hi-ji mati, lalu siapa yang akan memberikan obat penawar? Akhirnya si kambing bertanya, "Kau... kau sesungguhnya mau apa?"
"Apabila kujadi kalian, saat ini aku akan tunduk dan menawarkan dulu obat bius yang diminum olehku, habis itu berusaha menjilat dan mengambil hatiku agar rasa dongkolku terlampiaskan, kemudian bersumpah berat bahwa kalian akan senantiasa tunduk kepada perintahku, sedikit pun tidak berani membangkang..."
"Tapi kalau sudah kutawarkan obat bius yang kau minum, lalu kau tidak menawarkan racun kami, lantas bagaimana?" ucap si sapi dengan napas tersengal.
"Ya, ya, benar juga, jika kau tidak menawarkan obat biusku, masakah aku mesti menawarkan racunmu?"
Si kambing dan si sapi saling pandang sekejap, habis itu mendadak mereka mendekati Siau hi-ji.
Namun dengan adem ayem anak muda itu berkata pula, "Racun di dunia ini terkadang tak dapat ditawar dengan obat, apalagi selain yang menaruh racun, orang lain sukar mengetahui sampai di mana kadar racunnya. Tapi kalau kalian tidak percaya, boleh juga silakan kalian mencobanya."
Serentak si sapi dan si kambing tidak jadi melangkah maju, suruh mereka mencoba dengan barang lain tentu jadi, tapi suruh mereka mencoba dengan jiwa mereka sendiri, betapa pun mereka harus pikir-pikir dulu.
Di dalam hati mereka serentak pula timbul pikiran yang sama, 'Biarpun kami bersumpah dan setelah minum obat penawar, memangnya kami tidak dapat membinasakan dia? Sumpah bagi kami adalah seperti omong kosong belaka.'
Maka mereka tidak bicara lagi, berbareng mereka berlutut dan mengucapkan sumpah yang paling keras, lalu dengan sangat hormat mereka mengeluarkan obat penawar dan dilolohkan ke mulut Siau hi-ji.
Selang tak lama, dapatlah Siau hi-ji berdiri, ia tepuk-tepuk debu di bajunya, lalu berkata dengan tertawa, "Obat bius dan obat penawar Cap ji-she-shio ternyata sama manjur."
"Hehe, obat penawar engkau orang tua tentu terlebih manjur," ucap si sapi dengan menyengir.
"Obat penawar apa?" tiba-tiba Siau hi-ji bertanya.
Seketika perut si sapi dan si kambing seakan-akan ditendang orang, serentak mereka berteriak, "He, kau... kau..."
"Jangan khawatir, hahaha, aku hanya menggoda kalian saja," ujar Siau hi-ji dengan tertawa sambil mengeluarkan sebuah botol kecil, lalu menambahkan, "Sebenarnya obat penawar berada di bajuku, mengapa kalian tadi tidak mau menggeledah badanku? Ai, manusia terkadang memang tidak boleh terlalu percaya kepada ucapan orang lain."
Sungguh gusar dan geregetan si sapi dan si kambing, kalau bisa mereka ingin mencekik mampus anak muda itu.
Tapi menyelamatkan jiwa sendiri lebih penting, tanpa pikir si sapi lantas mendahului menyerobot botol kecil yang dipegang Siau hi-ji itu dan sebagian besar isi botol itu dituang sekaligus ke dalam mulutnya.
"He, mengapa kau minum se... sebanyak itu?!" bentak si kambing cemas.
Dengan tertawa si sapi menjawab, "Tubuhku lebih gede, adalah pantas kalau mendapat bagian lebih banyak."