
“Tapi aku ... aku takut, kakak Hong, peganglah... peganglah tanganku, peganglah yang erat.... “
“Ya, ya ... tanganku terasa lemas juga. Tabahlah, sabar ... sabar ....”
Suara keluhan yang menahan rasa sakit itu berlangsung sekian lama, tiba-tiba dari dalam kereta tersiar suara tangis jabang bayi yang keras lantang.
Selang sejenak pula, terdengar seruan Kang Hong yang kegirangan, “Hei, anak kembar.. kembar dua...”
Lewat agak lama, dengan mandi keringat dan penuh rasa gembira Kang Hong menerobos keluar kereta. Tetapi ke mana tatapnya sampai, seketika ia melengak kaget.
Ternyata rombongan Hek-bian-kun yang lari sipat kuping tadi kini sudah berdiri pula di depan kereta, dengan sorot mata yang dingin mereka mengawasi Kang Hong tanpa berkedip.
Sebisanya Kang Hong bersikap tenang, tapi tidak urung air mukanya berubah pucat, tanpa terasa ia berucap, “Ka... kalian kembali lagi?!”
“Hehe, Kang-kongcu terkejut ya?” si jengger ayam menyeringai ejek.
“Apakah kalian ingin m*mpus?!” gertak Kang Hong.
“Hahahaha! Ingin m*mpus?....” Hek-bian-kun terbahak-bahak.
“Memangnya kalian belum kapok terhadap kelihaian ilmu Siu-giok-kok, Ih-hoa-kiong?” bentak Kang Hong pula.
“Hehe, orang she Kang, kukira kau tidak perlu berlagak pilon,” jengek Hek-bian-kun. “Kita tahu sama tahu, yang dikehendaki kedua Kiongcu dari Ih-hoa-kiong saat ini justru adalah jiwa kalian berdua dan bukanlah kami.”
Keringat meleleh melalui hidung Kang Hong yang mancung itu terus merembes ke mulutnya, namun bibirnya terasa kering, ia menjilat bibir, lalu berkata dengan tertawa, “Haha, kukira kalian sudah gila, masakah kedua Kiongcu Ih-hoa-kiong menginginkan jiwaku?... haha, apakah kau tahu siapa yang berada di dalam kereta ini?”
“Huh, siapa yang berada di dalam kereta? Memangnya kau sangka aku tidak tahu? Dia tidak lebih adalah budak pelarian dari Ih-hoa-kiong, memangnya kau ingin menggertak kami?” demikian jengek si jengger ayam.
Tergetar hati Kang Hong, walaupun ia berusaha tetap tertawa, namun lebih tepat dikatakan menyengir.
Hek-bian-kun terkekeh-kekeh, katanya, “Kang-kongcu terkejut lagi bukan? Mungkin kau ingin tanya dari mana kami tahu urusan ini? Hehe, inilah rahasia besar, betapa pun kau tak dapat menerka dan juga tidak pernah membayangkannya.”
Ya, memang betul inilah rahasia, rahasia besar.
Bahwasanya Kang Hong sengaja kabur meninggalkan rumahnya justru disebabkan ingin menghindari pengejaran kedua Kiongcu dari Ih-hoa-kiong.
Rahasia ini boleh dikatakan tidak diketahui oleh siapa pun kecuali dia sendiri dan istrinya, tapi sekarang orang-orang dari Cap-ji-she-shio ini justru mengetahui juga. Dari manakah mereka mendapat tahu? Sungguh Kang Hong tidak habis mengerti, tapi ia pun tidak mau memikirkannya lagi, wanita yang baru melahirkan itu sedang merintih, si jabang bayi sedang menangis, tapi di sekitar kereta ini berjajar kawanan bandit yang sudah biasa membunuh orang tanpa berkedip.
Secepat kilat Kang Hong menerjang maju, namun sinar golok lantas berkelebat, ia sudah diadang oleh si baju kuning, si dada ayam.
Sepasang golok menyerupai sayap ayam tipis laksana kertas, tapi buatan dari baja murni, tajamnya tidak kepalang, dalam sekejap saja tubuh Kang Hong sudah terkurung di tengah cahaya golok.
Kang Hong tidak gentar, sebaliknya malah menerjang, ia menyelinap kian kemari di tengah jaringan sinar golok lawan, secepat kilat ia samber pergelangan tangan si baju kuning, sekali tarik dan puntir, sebuah golok musuh sudah dirampasnya.
Menyusul sebelah kakinya menendang perut si baju kuning, sedangkan golok rampasan menebas ke belakang untuk menangkis serangan si jengger ayam, menyusul mana tubuhnya menerobos ke sana di bawah cakar ayam, sekaligus goloknya terus membacok Hek-bian-kun.
Beberapa gerak serangan itu dilakukannya dengan cepat, ganas, tepat dan berbahaya pula, senjata-senjata musuh hampir semuanya menyerempet lewat bajunya.
Meski Hek-bian-kun sempat mengelakkan bacokan Kang Hong, tidak urung ia pun kaget hingga berkeringat dingin, cepat ia balas menyerang sambil memperingatkan kawan-kawannya,
“Awas, bocah ini sudah nekat!”
Apabila seseorang sudah nekat, sepuluh orang pun repot menghadapinya. Hal ini cukup diketahui kawanan bandit itu.
Maka mereka tidak berani menghadapi Kang Hong secara berhadapan, mereka terus menggeser kian kemari untuk mengulur waktu.
Serangan Kang Hong semakin kalap, tapi selalu mengenai tempat kosong. Hek-bian-kun terus menerus tertawa mengejek. Si baju kuning meski sudah kehilangan sebuah goloknya, tapi golok yang masih ada itu terkadang juga melancarkan serangan maut.
Empat pasang taji ayam juga bekerja sama dengan rapat, serangannya gencar sukar diduga dan membuat Kang Hong mati kutu.
Belum lagi si baju merah, si jengger ayam, ia menyelinap kian kemari dan mematuk dengan paruh baja yang lihai.
Rambut Kang Hong sudah semrawut, suaranya serak, demi membela jiwa kekasihnya, si mahacakap ini kini tampaknya sudah menyerupai binatang gila.
Percuma dia bertempur mati-matian, singa yang sudah masuk perangkap, sekalipun mengadu jiwa juga sudah tiada gunanya.
Senja semakin remang, suasana semakin tegang. Pertarungan sengit ini sungguh menggetar sukma, juga mengerikan.
Kang Hong sudah mandi darah bercampur keringat, imbalannya adalah tertawa ejek yang menggila dari pihak musuh.
“Kakak Hong, hati-hatilah...” demikian terdengar rintihan dari dalam kereta. “Asalkan engkau sabar, mereka pasti bukan tandinganmu!”
Mendadak Hek-bian-kun melompat ke sana, sekaligus ia tarik tirai kereta. Untuk sejenak ia melengak, tapi segera ia tertawa menyeringai,
“Aha, besar juga rezeki anak keparat ini. Ternyata melahirkan kembar dua!”
Dengan kalap ia menerjang maju, tapi sekali sampuk ia tertolak mundur. Dengan nekat ia menubruk maju pula, kembali didesak mundur dan begitulah hingga terjadi beberapa kali dan tetap tidak berhasil tercapai maksudnya.
Mata Kang Hong sudah merah beringas.
Dalam pada itu sebelah kaki Hek-bian-kun sudah naik ke undakan kereta sambil cengar-cengir.
“B*ngsat!” teriak si wanita dengan suara serak sambil merangkul kencang kedua anak bayinya. “Kau... kau berani...”
“Hehehe!” Hek-bian-kun terkekeh-kekeh. “Manisku, jangan khawatir, takkan kuganggu kau. Hehe, nanti kalau kau sudah sehat, malahan aku ingin.. ingin... hahaha...”
“B*ngsat,” teriak Kang Hong murka. “Jika kau berani menyentuhnya ....”
Mendadak Hek-bian-kun mencolek pipi perempuan cantik yang baru melahirkan itu dan mendengus, “Hm, ini, sudah kusentuh dia, kau mau apa?”
Kang Hong menggerung kalap dan menerjang pula, tapi karena cemasnya, permainan goloknya menjadi kacau, serentak senjata musuh yang beraneka ragam itu menghujani tubuhnya, pundak, dada, punggung, seketika terluka dan mengucurkan darah.
“Hati-hati, kakak Hong!” Dengan suara gemetar si perempuan berpesan pula.
“Hehe, kakak Hong-mu segera akan berubah menjadi setan?” ejek Hek-bian-kun dengan tertawa.
Dengan berlumuran darah Kang Hong berteriak kalap, “Biarpun menjadi setan takkan kuampuni kalian!”
Suara teriakan kalap bercampur dengan suara gembira dan jeritan ngeri diseling pula tangisan bayi.
Suasana yang menyayat hati itu sekalipun manusia berhati baja juga pasti akan luluh. Darah sudah memenuhi muka dan tubuh Kang Hong, keadaannya sudah payah.
Mendadak perempuan dalam kereta berteriak histeris,“Biar kuadu jiwa denganmu!”
Mendadak ia meninggalkan bayinya terus menubruk ke arah Hek-bian-kun, sepuluh jarinya terus mencengkeram leher lawan.
Akan tetapi sekali tangkis segera perempuan itu ditolak balik ke dalam kereta.
Dengan terkekeh Hek-bian-kun berkata, “Hehehe, manisku, ke mana perginya kelihaianmu tadi? Hehehe, perempuan, perempuan yang harus dikasihani, sebab apakah kalian harus melahirkan anak...”
Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong perempuan itu telah merangkulnya dengan nekat, mulutnya terus menggigit tenggorokan lawan.
Keruan Hek-bian-kun mengerang kesakitan dan darah pun mengucur. Itulah darah yang jahat, darah berbau busuk, tapi darah yang berbau anyir itu membuat si perempuan merasa puas, puas karena berhasil membalas sakit hatinya.
Saking sakitnya Hek-bian-kun terus menonjok dengan kepalan dan kontan tubuh perempuan itu mencelat, menumbuk kereta dan jatuh terkapar tak sanggup bangun lagi.
Walaupun begitu bagaimana rasa darah musuhnya sudah berhasil dicicipinya.
“Kakak Hong,” dengan suara lemah ia berseru dengan terputus-putus, “Lekas larilah... lekas, jangan.. jangan menghiraukan kami. Asalkan aku sudah mati, kedua kakak beradik Kiongcu tentu takkan... takkan membuat susah padamu.”
“Tidak, engkau takkan mati, adindaku!” teriak Kang Hong.
Ia berusaha menerjang maju lagi, ia tidak ambil pusing akan beraneka macam senjata musuh yang menghujani tubuhnya itu.
Tubuhnya sudah terkoyak-koyak, darah daging berhamburan. Tapi dia masih terus berusaha menerjang maju.
Namun sebelum tiba di depan sang istri ia sudah jatuh terguling. Perempuan muda itu menjerit dan merangkak ke sini, Kang Hong juga berusaha merangkak ke sana.
Tiada sesuatu yang mereka harapkan lagi kecuali mati bersama menjadi satu.
Akhirnya tangan mereka saling bergenggam, keduanya tersenyum bahagia.
Akan tetapi mendadak sebelah kaki Hek-bian-kun lantas menginjak dengan kuat sehingga dua buah tangan terinjak hancur.
“Kau.. kau keji amat!” teriak perempuan itu dengan histeris.
“Hehehe, baru sekarang kau tahu kekejianku!” Hek-bian-kun menyeringai.
“Akan kuberikan se… segalanya padamu,” ucap Kang Hong dengan kalap, “yang kuharap hanya biarkanlah kami mati menjadi satu.”
“Huh, sudah terlambat baru sekarang kau berkata demikian,” ujar Hek-bian-kun dengan tertawa. “Hehe, kalian tentunya sangat gembira ketika tadi kalian menipu dan menempelengku. Sekarang akan kusaksikan kalian mati dengan perlahan, takkan kubiarkan kalian mati menjadi satu.”
“Sebab... sebab apa?” tanya si perempuan. “Kami tiada... tiada permusuhan apa pun dengan kalian.”
.
.
.