Legendary Siblings

Legendary Siblings
10. Pedang Pusaka?



“Hah! Betulkah terjadi begitu?” ujar Congpiauthau itu dengan tertawa,“Wah, jika begitu Lui lotoa harus diberi selamat!”


Dengan tertawa bangga Lui-lotoa menjawab, “O, terima kasih Cong… Sim-heng, ini hanya kejadian secara kebetulan saja,”


Dasar manusia rendah, baru sedikit mendapat 'angin' lantas kepala besar, sebutan 'Congpiauthau' kepada pemimpinnya mendadak berganti jadi sebutan 'Sim-heng' (saudara Sim) saja.


Namun Sim-congpiauthau itu agaknya tidak menaruh perhatian atas perubahan sikap Lui-lotoa itu, dengan tertawa dia berkata pula,


“Terus terang senjata pusaka setajam itu aku pun belum pernah melihatnya. Kalau tidak keberatan, apakah boleh Lui-heng mendemonstrasikannya untuk menambah pengalamanku.”


“Haha, boleh saja,” Lui-lotoa bergelak tertawa. “Boleh saja Sim-heng mencobanya dan segera akan terbukti.”


“Coba pinjam pedangmu, Ci-heng,” kata Sim-congpiauthau kepada Ci-loji dan setelah menyingsing lengan baju, dengan tersenyum ia berkata, “Awas Lui-heng!”


Habis itu pedang pinjamannya terus menabas.


Agaknya Lui-lotoa sengaja berlagak menirukan lelaki miskin tadi, dengan tangan kiri memegang cawan arak dan tangan kanan memegang 'pedang pusaka' untuk menangkis secara acuh.


Maka terdengarlah suara 'trang, krek, trang, bluk', benar juga kutungan pedang telah jatuh ke lantai, tapi bukan pedang Sim-congpiauthau yang patah melainkan 'pedang pusaka' Lui-lotoa.


Suara-suara 'trang-krek-trang-bluk' yang terjadi dimulai dengan beradunya kedua pedang, lalu jatuhnya kutungan pedang, suara ketiga karena pecah berantakannya cawan arak Lui-lotoa dan suara gedebukan terakhir itu adalah karena Lui-lotoa jatuh terduduk saking kagetnya.


Keruan muka Lui-lotoa pucat pasi seperti mayat, bahkan kawan-kawannya juga melongo kesima seperti patung.


“Hm, masakah begini macamnya pedang pusaka?” dengus Sim-congpiauthau sambil melemparkan pedangnya kepada Ci-loji.


“Tapi.. tapi tadi jelas... jelas...” demikian dengan menyengir Lui-lotoa berusaha menerangkan.


“Yang jelas kau telah tertipu,” jengek pula Sim-congpiauthau.


Mendadak Lui-lotoa sadar, serentak ia melompat bangun dan mengumpat, “Maknya dirodok! Mana orang tadi? Kurang ajar...”


“Hus! Jangan sembrono!” cepat Sim-congpiauthau membentaknya.


Karena itu Lui-lotoa tidak jadi mengumpat lebih lanjut, jawabnya dengan sikap kikuk, “Ada.. ada pesan apa, Congpiauthau.”


Kini dia telah menyebut Congpiauthau lagi kepada pimpinannya, namun Sim-congpiauthau tetap anggap tidak tahu saja, ia bertanya dengan dingin, “Bagaimana macamnya orang tadi?”


“Seorang lelaki rudin, mungkin orang gelandangan, cuma perawakannya tinggi besar,” tutur Lui-lotoa.


Sim-congpiauthau termenung sejenak, mendadak air mukanya berubah dan bertanya pula, “Apakah kedua alis orang itu sangat tebal dan tulang pipinya menonjol, matanya setengah terpejam seperti orang selalu mengantuk saja.”


“Ha, betul. Congpiauthau kenal dia?”


Sim-congpiauthau memandang sekejap kepada Lui-lotoa, lalu memandang Ci-loji pula, tiba-tiba ia menengadah dan menghela napas panjang, lalu berkata, “Sungguh sayang, kalian sudah sekian lama ikut padaku, kalian ternyata bermata tapi tidak bisa melihat alias buta melek.”


Lui-lotoa hanya munduk-munduk saja, sekarang dia tidak berani membantah sepatah kata pun.


“Memangnya apakah kalian tahu siapa gerangan lelaki tadi?” tanya Sim-congpiauthau pula.


Semua terdiam dan saling pandang dengan bingung. Akhirnya mereka tanya berbareng, “Siapa dia?”


Dengan sekata demi sekata Sim-congpiauthau menjawab, “Dia tak lain tak bukan ialah si pedang sakti Yan Lam-thian, Yan-tayhiap! Yaitu orang yang khusus ingin kutemui di sini sekarang.”


***


Setelah meninggalkan kedai arak tadi dengan diikuti si pemuda muka pucat, lelaki rudin tadi terus menyusuri jalan batu satu-satunya itu.


Setiba di ujung jalan sana, si pemuda cepat menyusulnya dan menyapa dengan suara tertahan, “Yan-toaya, bukan?”


Lelaki itu memang betul Yan Lam-thian adanya. Tanpa menoleh ia menjawab, “Apakah kau ini suruhan Kang-jite?”


“Benar,” jawab pemuda pucat itu, “hamba Kang Khim, kacung pribadi Kang-jiya.”


“Mengapa baru sekarang kau tiba di sini?” mendadak Yan Lam-thian menoleh dan menegur dengan bengis.


Sorot matanya yang tajam bagai berkelebatnya kilat di malam gelap itu membuat pemuda yang bernama Kang Khim itu bergidik.


“Hamba.. hamba khawatir dikuntit musuh, terpaksa... terpaksa menempuh perjalanan waktu malam,” tutur Kang Khim dengan munduk-munduk. “Apalagi.. apalagi kepandaian hamba teramat rendah sehingga tidak mampu berjalan cepat.”


Sikap Yan Lam-thian berubah rada tenang, sorot matanya berubah guram pula, katanya, “Kongcu kalian mengirim berita padaku dan minta kutunggu dia di sini tanpa menjelaskan sebab musababnya. Tapi kuyakin pasti menyangkut satu urusan mahapenting dan gawat, sebenarnya apa persoalannya?”


“Entah sebab apa mendadak Kongcu memulangkan semua kawan hamba, hanya hamba seorang yang disuruh tinggal, kemudian hamba diperintahkan ke sini menemui Yan-toaya untuk memohon Yan-toaya memapak Kongcu kami di jalan lama itu, konon ada urusan penting akan dibicarakan berhadapan nanti. Melihat gelagatnya, agaknya Kongcu kami ingin.. ingin menghindari pencarian musuh dan sebagainya.”


“O, masakah benar begitu?” Yan Lam-thian tampak tergerak perasaannya. “Mengapa tidak dia katakan padaku sebelumnya? Ai, tindak-tanduk Kang-jite selalu ceroboh, padahal biarpun musuh tangguh bagaimana pun juga masakah kami bersaudara perlu takut padanya?!”


“Ucapan Yan-toaya memang tepat,” ujar Kang Khim.


“Sudah berapa lama Kongcu kalian berangkat dari rumah?” tanya Yan Lam-thian.


“Jika tiada halangan apa-apa, saat ini seyogianya sudah berada di tengah perjalanan kemari.”


“Ai, mengapa tidak lebih dini kau datang ke sini” ujar Yan Lam-thian dengan membanting kaki. “Apabila terjadi...”


Pada saat itulah tiba-tiba ada seorang berseru, “Yan-tayhiap.. Yan-tayhiap...” tertampaklah beberapa orang berlari datang, seorang paling depan tampak gesit dan tangkas, itulah dia Sim-congpiauthau yang kecil-kecil cabai rawit itu.


Yan Lam-thian berkerut kening, katanya dengan tak acuh, “Apakah kau ini Sim Gin-hong Congpiauthau (pemimpin umum) dari Wi-wan, Tin-wan dan Leng-wan-piaukiok?”


“Benar, itulah hamba adanya,” jawab Sim Gin-hong sambil memberi hormat. “Maaf, Yan-tayhiap, tadi para kawan kami ternyata buta semua dan tidak mengenali Yan-tayhiap...”


“Hahaha!” Yan Lam-thian tertawa, “Tadi kudengar mereka bicara tentang penyair Li Thay-pek dan ilmu pedang segala, aku menjadi geli dan dongkol pula. Karena itu aku sengaja mengakali beberapa peser duit mereka agar mereka kapok dan kelak tidak sembarangan membual.”


“Ya, ya, mereka itu memang pantas m*mpus,” berulang-ulang Sim Gin-hong mengiakan.


Mendadak Yan Lam-thian berhenti tertawa dan bertanya dengan sikap kereng, “Apakah kedatanganmu ingin menemui aku?”


“Benar, kedatangan Wanpwe (hamba yang lebih muda) khusus ingin menemui Yan-tayhiap,” jawab Sim Gin-hong.


.


.


.