Legendary Siblings

Legendary Siblings
15. Selamat dari kematian



Tapi Yan Lam-thian tambah beringas, dengan tajam ia membentak pula, “Apakah betul ucapanmu ini?”


“Yang kukatakan ini apa adanya, percaya atau tidak terserah padamu,” jawab Kim-goan-sing.


“Yan-tayhiap, ‘Ok-jin-kok’ (lembah kaum penjahat) adalah tempat berkumpulnya kaum penjahat yang terdesak dan menghadapi jalan buntu, mereka sama mengungsi ke sana,” demikian tutur Sim Gin-hong dengan suara gemetar.


Penjahat yang berada di sana semuanya mahajahat dan kejam, tangan mereka rata-rata pernah berlumuran darah, semuanya adalah sampah masyarakat dunia persilatan, penjahat sebanyak itu berkumpul menjadi satu, sekalipun mereka dibenci dan banyak orang ingin membinasakan mereka, namun siapa yang berani mendekat ke sana?.


Malahan ‘Kun-lun-jit-kiam’ (tujuh pendekar Kun-lun), 'Siau-lim-su-sin-ceng’ (empat paderi sakti Siau-lim-si) dan Kang-lam-kiam-khek (pendekar pedang daerah Kang-lam) Hong Siau-uh, semuanya juga tidak berani ke sana.


“Demi kebenaran, demi persahabatan, biarpun terjun ke lautan api atau air mendidih juga aku tidak gentar,” teriak Yan Lam-thian.


“Tapi bisa jadi Ok-jin-kok hanya tipu muslihat Kim-goan-sing saja, dia sengaja menjebak engkau, karena dendamnya dia sengaja memancing engkau ke sana agar...” meski Gin-hong belum melanjutkan ucapannya yang terakhir 'agar mengantar nyawa', namun apa yang akan dikatakannya sudah cukup jelas bagi orang lain.


“Sekalipun Ok-jin-kok adalah gunung bergolok dan lautan api juga belum tentu dapat mencabut nyawaku,” teriak Yan Lam-thian sambil bergelak tertawa keras.


“Tapi... tapi...”


“Tekadku sudah bulat, tidak perlu lagi kau bicara,” bentak Yan Lam-thian sebelum lanjut ucapan Sim Gin-hong.


Terpaksa pemimpin perusahaan pengawalan itu tutup mulut dan menghela napas belaka.


“Bagus!” Kim-goan-sing juga memuji dengan gegetun. “Yan Lam-thian ternyata seorang ksatria sejati, sampai Ok-jin-kok juga berani diterobosnya. Meski kepergianmu ke sana jelas tiada harapan buat pulang kembali lagi, tapi engkau pasti akan dikagumi setiap insan persilatan di dunia ini.”


“Dan apalagi yang hendak kau katakan?” tanya Yan Lam-thian.


“Tidak ada lagi, ambillah biji mataku!” jawab Kim-goan-sing.


Di tengah suara jeritan ngeri, sepasang biji mata Kim-goan-sing si binatang kera dari kawanan Cap-ji-she-shio itu tahu-tahu sudah terkorek keluar, yang tertinggal hanya lubang mata yang berdarah.


Yan Lam-thian lemparkan tubuh Kim-goan-sing ke depan Sim Gin-hong dan berseru, “Kuserahkan orang ini padamu!” Habis berkata segera ia melayang pergi dengan cepat.


Lui Siau-hou masih menggeletak di tengah genangan darah menindihi anj*ng herder tadi, anjing dan manusianya sama kempas-kempis dan tak sanggup bergerak lagi.


Dengan pandangan haru Sim Gin-hong memandang sekejap pada Lui Siau-hou, lalu sorot matanya beralih kepada Kim-goan-sing, katanya dengan penuh benci, “Betapa pun cerdiknya kau kera ini, nyatanya kau pun dapat berbuat bodoh.”


Meski rasa sakitnya tadi membikin Kim-goan-sing setengah semaput, tapi sekarang ia sudah sadar kembali, seperti didorong oleh kekuatan gaib saja, kini ia dapat menahan penderitaannya dan mengeluarkan sebungkus obat untuk dibubuhkan pada lubang matanya sendiri. Bahkan mulutnya masih sanggup bicara walaupun dengan rada gemetar, “Kau bilang aku berbuat bodoh?”


“Ya, meski Yan-tayhiap tidak mencabut nyawamu tapi kau diserahkan padaku, memangnya aku dapat mengampuni jiwamu?” ujar Sim Gin-hong, “Biarpun lukamu diberi obat, lalu apa gunanya lagi?”


“Sudah tentu besar gunanya,” jawab Kim-goan-sing, “Aku takkan mati. Kau tidak mampu membunuh diriku.”


“Hahahaha!” Sim Gin-hong mengakak keras, “Siapalagi yang dapat menolongmu sekarang?”


“Aku sendiri,” jawab Kim-goan-sing.


Sejenak Sim Gin-hong melengak, tapi segera ia membentak, “Baik, ingin kulihat cara bagaimana kau menolong jiwamu sendiri...” di tengah bentakannya itu telapak tangannya terus menabok batok kepala Kim-goan-sing.


Mendadak Kim-goan-sing berseru, “Apakah kau tidak lagi ingin menemukan kembali harta benda kawalanmu yang hilang itu?”


“Nah, apa kataku? Memang sudah kuperhitungkan kau takkan berani membunuh diriku,” demikian Kim-goan-sing terkekek-kekek senang.


Beberapa kali Sim Gin-hong akan membinasakan musuh itu saking gemasnya karena ejekan itu, tapi akhirnya tak jadi, ia menghela napas dan menarik kembali tangannya dan berkata, “Baiklah kau yang menang. Sementara ini kau harus ikut padaku.”


Harta benda yang hilang di bawah pengawalannya itu memang menyangkut nasib hidup dan matinya Sam-wan-piaukiok, selamanya Sim Gin-hong tidak pernah mengingkari janji dan senantiasa bertugas dengan baik, kali ini ia pun tidak ingin mengingkari kewajiban atas kepercayaan para pemilik barang kepada Sam-wan-piaukiok itu.


Dengan terkekek-kekek Kim-goan-sing mengejek pula, “Nah, Sim Gin-hong, sekarang kau baru tahu bahwa aku tidak begitu mudah dibunuh oleh siapa pun juga, bukan?!”


***


Malam sudah larut, pelita di rumah-rumah kota kecil itu pun banyak yang sudah dipadamkan.


Di kedai minum 'Thay-pek-ki' yang tinggal beberapa tukang mabuk itu pun berturut-turut pergi dengan langkahnya yang sempoyongan. Ketika pelayan kedai itu kucek-kucek matanya yang sepat mengantuk dan hendak menutup pintu, tiba-tiba terdengar suara gemertaknya roda kereta, sebuah kereta besar tampak muncul dari ujung jalan sana.


Anehnya yang menarik kereta itu bukanlah kuda melainkan manusia, yaitu lelaki kekar yang siangnya baru menipu seribu tahil perak Lui-lotoa dan kawan-kawannya itu.


Setelah dekat, tertampaklah sekujur badan lelaki tegap itu berlumuran darah, wajahnya beringas penuh nafsu membunuh, kelihatan menyeramkan tapi juga kereng.


Setiba di depan pintu kedai, si pelayan rada keder melihat keadaan lelaki yang menakutkan itu. Yang aneh adalah kereta besar yang biasanya harus ditarik dua ekor kuda itu bagi lelaki itu kini hanya seperti benda enteng tanpa arti apa-apa.


Sesudah menyandarkan kereta itu, lelaki tegap itu, Yan Lam-thian, melangkah masuk kedai dengan memondong bayi yang tertidur nyenyak itu.


“Apakah... apakah Toaya ingin minum arak?” dengan tabahkan hati si pelayan bertanya dengan mengiring senyum.


Mendadak Yan Lam-thian membentak tertahan, “Siapa bilang aku ingin minum arak?”


Si pelayan melengak, tanyanya pula dengan gugup, “Bukan arak? Habis... Toaya ingin minum apa?”


“Tajin!” sahut Yan Lam-thian singkat.


Kembali si pelayan melengak, 'sungguh aneh, lelaki tegap begini bukannya minum arak, sebaliknya ingin minum tajin (kanji, air nasi)'. Tapi ketika ia melihat bayi di dalam pelukan lelaki itu, segera ia paham untuk apa lelaki itu menginginkan tajin.


Dengan tergegap-gegap ia pun menjawab, “Tapi.. tapi kami tidak... tidak menjual...”


“Persetan!” omel Yan Lam-thian sambil mendelik.


“Masakkan dulu dua mangkuk tajin yang kental, habis itu baru sediakan arak bagiku.”


Dalam keadaan ketakutan, mana si pelayan berani membantah lagi dan cepat berlari pergi mengerjakan apa yang dipesan.


**


Sehabis kenyang minum tajin, tidur bayi itu semakin nyenyak. Yan Lam-thian sendiri pun mulai minum arak, sinar matanya yang tajam sungguh menakutkan, sekejap saja si pelayan tak berani menatapnya.


Walau tak berani memandangnya, tapi diam-diam pelayan itu menghitung.. satu, dua, tiga, empat.. hanya sejenak saja Yan Lam-thian sudah menenggak habis tujuh belas mangkuk besar arak keras.


Keruan si pelayan melelet lidah dan hampir saja tak dapat mengkeret kembali.