Legendary Siblings

Legendary Siblings
18. Menuju Sarang Penjahat



“Tapi mengapa Kun-lun-jit-kiam melakukan sergapan keji ini kepadaku, sungguh aku tidak mengerti?” bentak Yan Lam-thian.


“Kami sengaja menunggu di sini, sebenarnya yang ingin kami cegat adalah seorang pelarian yang hendak memasuki ‘Ok-jin-kok’,” tutur Tojin itu dengan tersenyum getir. “Sungguh kami tak pernah menduga bahwa Yan-tayhiap juga bisa mendatangi Ok-jin-kok ini.”


“O, apakah kalian menyangka diriku ini orang yang kalian incar itu?” tanya Yan Lam-thian.


“Ya, jika bukan begitu, masakah kami sampai mencari perkara kepada Yan-tayhiap?” kata si Tojin dengan menyesal.


Yan Lam-thian menarik kembali pedangnya, dan baru saja pedangnya diangkat, “trang”, serentak pedang ketiga Tojin itu jatuh ke tanah, tangan mereka serasa tak sanggup diangkat lagi.


“Siapakah orang yang hendak kalian cegat itu?” tanya Yan Lam-thian.


“Suma Yan,” jawab Kun-lun Tojin.


“Apakah Suma Yan yang berjuluk ‘Coan-jong-kiam’ (pedang penembus usus) itu?” tertarik juga Yan Lam-thian oleh nama itu.


“Benar, memang b*ngsat k*parat itulah,” kata Kun-lun Tojin dengan gemas.


“Dari mana kalian mengetahui ******* itu akan datang kemari?”


“Joan-tiong-pat-gi (delapan pendekar dari Joan-tiong) mengejarnya sepanjang jalan hingga di sini,” tutur Kun-lun Tojin. “Ketiga saudara inilah Nyo Peng, tertua dari Joan-tiong-pat-gi, Hay Tiang-po, pendekar ketiga dan Hay Kim-po, pendekar ketujuh.”


Nama Joan-tiong-pat-gi cukup tenar juga di dunia Kangouw, ketiga orang yang diperkenalkan itu memang gagah dan berwibawa.


Nyo Peng, tertua Joan-tiong-pat-gi itu lantas memberi hormat dan berkata, “Sudah cukup jauh kami memburu b*ngsat Suma itu, sampai di lembah sungai Hwang barulah kehilangan jejaknya. Kalau dia sempat memasuki Ok-jin-kok, sungguh Wanpwe merasa penasaran, sebab itulah kami mengundang keempat Totiang untuk membantu berjaga di sini, siapa tahu bertemu dengan Yan-tayhiap.”


“Pantas cara turun tangan kalian sangat keji,” ujar Yan Lam-thian. “Ya, terhadap kaum penjahat begitu memang perlu tindakan tegas, semakin keji semakin baik, tidak perlu kenal ampun.”


Cong-ek-cu, Tojin yang mengepalai keempat Kun-lun Tojin itu, bertanya, “Dan entah sebab apakah Yan-tayhiap juga datang ke sini?”


“Tempat tujuanku memang Ok-jin-kok!” jawab Yan Lam-thian.


Kun-lun-si-cu (keempat Cu (gelar Tojin) dari Kun-lun) dan Joan-tiong-pat-gi sama melengak, tanya mereka berbareng, “Jadi Yan-tayhiap sengaja hendak pergi ke Ok-jin-kok?”


“Ya,” jawab Yan Lam-thian dengan tertawa. “Tapi kepergianku ke sana bukanlah untuk menghindari pencarian musuh atau mengasingkan diri melainkan justru hendak mencari musuh yang sembunyi di sana.”


“Namun ... namun Ok-jin-kok adalah ....” Belum habis Cong-ek-cu bicara, dengan suara bengis Yan Lam-thian memotong, “Biarpun Ok-jin-kok itu adalah sarang harimau atau kubangan naga juga akan kuterjang!”


“Keperwiraan dan keluhuran budi Yan-tayhiap sudah cukup kami kenal,” ujar Cong-ek-cu. “Cuma ... cuma Ok-jin-kok adalah tempat berkumpulnya kaum penjahat, mungkin dalam sejarah belum pernah ada tempat yang dihuni oleh penjahat sebanyak itu, bahkan juga belum pernah terjadi seorang berani menghadapi penjahat sebanyak itu dengan sendirian. Maka sebaiknya Yan Lam-thian sudi menimbang kembali maksud tujuanmu.”


Sinar mata Yan Lam-thian menyala bagai obor dan memandang jauh ke lembah yang diselimuti kabut tebal itu, katanya dengan suara mantap, “Seorang lelaki sejati, asalkan dapat berbuat beberapa hal yang tak berani dilakukan orang lain, sekalipun mati juga takkan menyesal.”


Nyo Peng berkata pula, “Tapi setahu Cayhe, selama dua puluh tahun ini, di antara kesepuluh gembong iblis yang paling jahat di dunia Kangouw, sedikitnya ada empat orang yang telah memasuki Ok-jin-kok itu.”


“Mungkin lebih daripada empat orang,” ujar Hay Tiang-po. “Yang jelas sudah berada di sana adalah ‘Hiat-jiu’ (si tangan berdarah) Toh Sat, lalu ‘Siau-li-cong-to’ (di balik tertawa tersembunyi sembilu) Ha-ha-ji, ‘Put-lam-put-li’ (bukan lelaki bukan perempuan alias si banci) To Kiau-kiau serta ‘Put-sip-jin-thau’ (tidak makan kepala manusia) Li Toa-jui.”


“Li Toa-jui?” Yan Lam-thian menegas. “Apakah si iblis yang terkenal gemar makan manusia itu?”


“Ya,” jawab Hay Tiang-po. “Orang memoyoki dia tidak memakan kepala manusia untuk menggambarkan bahwa kecuali kepala manusia, semuanya dimakan olehnya. Dia malah bergelak tertawa mendengar nama poyokan itu, dia bilang sebenarnya kepala manusia juga dimakan olehnya.”


“B*ngsat sejahat itu, mana boleh dibiarkan hidup terus,” kata Yan Lam-thian dengan gusar.


“Konon Li Toa-jui ini rada memiliki sifat kejantanan, baik ilmu silatnya maupun ilmu sastranya boleh dikatakan cukup lumayan, selain gemar makan manusia, urusan lain-lain terhitung baik.”


“Hm, masakah makan manusia saja belum cukup jahat?” teriak Yan Lam-thian dengan gusar.


“Sungguh pun begitu, tapi Ketua Perserikatan Bu-lim di daerah tiga propinsi utara, yaitu Thi Bu-siang, Thi-tayhiap, entah sebab apa ternyata menaruh simpatik padanya,” tutur Hay Tiang-po, “dengan tulus hati Thi-tayhiap ingin menarik Li Toa-jui ke jalan yang baik, untuk itu beliau rela menjodohkan putri tunggal kesayangannya kepada orang she Li itu, maksudnya agar putrinya dapat mengawasi tindak-tanduk Li Toa-jui demi memperbaiki perbuatannya yang jahat itu.”


“Thi Bu-siang berjuluk ‘Ay-cay-ji-heng’ (sayang pada orang berbakat melebihi jiwa sendiri), ternyata memang tidak bernama kosong,” ujar Yan Lam-thian dengan gegetun.


“Tapi dasar jahat ya tetap jahat, betapa pun anj*ng tetap makan najis,” tutur Hay Tiang-po. “Siapa tahu, belum ada tiga hari dinikahkan, kegemaran Li Toa-jui sudah timbul kembali, pengantin perempuan telah disembelihnya dan dimakan mentah-mentah olehnya.”


“Sungguh b*ngsat k*parat!” teriak Yan Lam-thian saking murka.


“Karena itu juga Thi-tayhiap menjadi gusar, bersama belasan anak muridnya ia bersumpah akan mencabut nyawa Li Toa-jui. Namun orang she Li itu cukup cerdik, sebelumnya dia sudah kabur masuk ke Ok-jin-kok.”


Dengan menyesal Nyo Peng lantas menyambung, “Sudah tentu Thi-tayhiap sangat menyesalkan keputusannya yang salah memungut menantu Li Toa-jui, tapi ia pun tidak tega menyiarkan kematian putrinya yang mengerikan itu, dia hanya memberi keterangan bahwa putrinya meninggal karena sakit keras. Kalau saja hubungan kami dengan Thi-tayhiap tidak cukup erat, mungkin urusan ini takkan diketahui sejelas ini oleh orang lain.”


“Pantas orang Kangouw tidak banyak yang mengetahui kejadian ini,” kata Yan Lam-thian dengan gemas.” Tapi ... Thi Bu-siang terhitung juga ksatria yang tak gentar terhadap siapa pun juga, masakah dia tinggal diam saja menyaksikan ******* she Li itu hidup bebas tenteram di Ok-jin-kok?”


“Thi-tayhiap memang bermaksud memburunya ke Ok-jin-kok, namun anak muridnya sama menahannya dengan sangat, Thi-hujin (nyonya Thi) juga berlutut dan mohon sang suami agar jangan pergi ke sarang penjahat itu, mau-tak-mau Thi-tayhiap menjadi ragu untuk bertindak.”


“Baru kehilangan putri kesayangan, pantas kalau Thi-hujin tidak mau membiarkan sang suami menyerempet bahaya pula,” kata Yan Lam-thian sambil menghela napas. “Ai, seorang lelaki sejati tidak perlu harus beristri, rasanya tindakan demikian juga bukan sesuatu yang bodoh.”


“Kecuali keempat iblis tadi,” sambung Hay Tiang-po, “kabarnya Im Kiu-yu, itu iblis yang membanggakan Ginkangnya tiada bandingannya di dunia ini serta suka meracun orang secara diam-diam, katanya juga kabur ke Ok-jin-kok.”


“O, jadi ‘Poan-jin-poan-kui’ (setengah manusia setengah setan) Im Kiu-yu juga berada di sana?” Yan Lam-thian menegas dengan waswas.


“Konon dia berhasil mengerjai murid Siau-lim-pay dari kalangan preman, yaitu Li Tay-goan, tapi kabarnya dia juga sudah dibereskan oleh para tertua Siau-lim-si.”