Legendary Siblings

Legendary Siblings
45. Adu Ilmu Silat II



"Tapi sepuluh jurus yang kau sebut tadi sudah lalu, dapatkah kau lihat asal-usul ilmu silatku? Kalau tidak hendaklah lekas berhenti dan dengarkan keteranganku," seru Siau hi-ji sambil berkelahi.


Mau tak mau gerak serangan si pemuda baju putih menjadi rada kendur, kesempatan itu segera digunakan oleh Siau hi-ji untuk melompat mundur, katanya sembari tertawa, "Coba katakan, dapatkah kau kenali aliran silatku?"


Terpaksa pemuda baju putih menghentikan serangannya, jengeknya, "Hm, dengan sendirinya sukar dikenali, pada hakikatnya ilmu silatmu tidak memakai aturan dan jelas bukan berasal dari sesuatu aliran."


"Bukannya tidak beraliran, sebaliknya terlalu banyak alirannya sehingga kau sendiri bingung," kata Siau hi-ji dengan tertawa. "Coba katakan, dapatkah kau kenali aliran silatku?"


"Terlalu banyak alirannya? Aliran mana?" tukas pemuda itu.


"Baiklah kuberitahu, ilmu silatku ini berasal dari ajaran lima orang, ilmu silat kelima orang ini pun entah meliputi berapa banyak alirannya, ilmu silat masing-masing juga sangat ruwet, hebat dan juga aneh..."


"Setiap aliran ilmu silat terkemuka di daerah Tionggoan boleh dikatakan kukenal seluruhnya, tapi tiada satu pun yang mirip dengan gaya ilmu silatmu, kukira kelima gurumu itu adalah sebangsa penjual obat kelilingan dan tukang ngamen di pasar?"


"Penjual obat dan pengamen? Hehe, kalau nama mereka kusebut, mustahil kau takkan berjingkat kaget. Mungkin waktu mereka mengasingkan diri kau sendiri masih men*tek, tentu saja kau tidak tahu mereka."


"Hm, beberapa jurus silat kembangan begitu mana dapat dibandingkan pula dengan ilmu silatku?" seru pemuda itu dengan gusar.


"Ilmu silatmu... Ehm, boleh juga," kata Siau hi-ji. "Tapi kalau melihat potonganmu yang lemah lembut, sungguh sukar dibayangkan bahwa kau mau belajar jurus serangan yang menyerupai orang gila itu."


"Hm, kau tahu apa?" jengek pemuda baju putih. "Ilmu silatku 108 jurus pukulan gila ini andaikan tidak dapat dikatakan nomor satu, sedikitnya juga terhitung nomor dua dari pada berbagai ilmu pukulan di dunia persilatan pada jaman ini."


"Hahaha, namanya 108 jurus pukulan gila, ternyata benar ilmu silat permainan orang gila," Siau hi-ji berkeplok dan tertawa. "Cuma sayang, orang cakap macam dirimu kenapa mesti belajar ilmu silat orang gila begini. Sungguh membikin tidak enak hati orang yang melihatnya."


"Tidak enak hati dilihat, kalau dimainkan lebih-lebih membikin tidak enak hati orang yang melihatnya," tukas pemuda itu.


"Tapi aku sendiri tidak merasakan sesuatu, aku pun tidak mau belajar.." baru saja sampai di sini sekonyong-konyong ia menubruk maju dan menghantam dua kali.


Sekali ini si pemuda baju putih sudah berpengalaman, sebelumnya dia sudah waspada, maka ketika serangan Siau hi-ji tiba, berbareng ia pun melancarkan serangan untuk membendung pukulan Siau hi-ji itu.


Siau hi-ji juga sudah kapok dan tidak berani lagi menghadapinya dengan keras lawan keras, segera ia bergerak memutar ke sana kemari sambil menonjok dan menghantam.


Namun daya tekanan "108 jurus pukulan gila" itu pun sangat mengejutkan, ilmu silat "gila" jenis ini sungguh jauh lebih lihai daripada ilmu silat Toh Sat, Im Kiu-yu dan lain-lain, Siau hi-ji benar-benar tidak enak menghadapinya.


Setelah melayani belasan jurus pula, mendadak Siau hi-ji berseru, "Berhenti dulu! Ilmu pukulanmu ini memang lumayan, aku ingin belajar."


Dengan enteng pemuda baju putih melompat mundur, dadanya berjumbul-jumbul, napasnya rada terengah-engah. Diam-diam ia pun mengakui lawannya bukan lawan empuk.


Siau hi-ji lantas berkata pula dengan tertawa, "Pantas orang bilang bahwa orang waras jangan sekali-kali berkelahi dengan orang gila, sebab pasti bukan tandingannya. Sekarang aku baru percaya ucapan itu memang tidak salah."


"Jadi sudah tahu kelihaianku sekarang?" tanya pemuda baju putih.


"Cuma sayang kau bukan orang gila, kalau tidak ilmu pukulan yang kau mainkan itu pasti terlebih lihai," kata Siau-hi-ji. "Tapi lama-lama jika terlalu sering memainkan ilmu pukulanmu ini, jangan-jangan kau akan menjadi gila sungguhan."


"Aku cuma mengatakan ingin belajar ilmu pukulanmu dan tidak menyatakan hendak mengangkat guru padamu," ujar Siau hi-ji. "Padahal guru juga boleh belajar ilmu pukulan pada muridnya, betul tidak?"


"Memangnya kau ingin berkelahi pula?" jengek pemuda itu dengan gusar.


"Tidak, jangan berkelahi lagi," kata Siau hi-ji dengan tertawa. "Sekali kau keluarkan tenaga lagi segera kau akan mati dengan tujuh lubang (hidung, mata, telinga, dan mulut \= tujuh lubang) keluar darah. Nah, aku beritahukan dengan maksud baik, janganlah kau tidak percaya lagi."


Saking gusarnya pemuda itu berbalik tertawa, katanya, "Kau setan cilik ini membual seperti setan, kau kira dapat menggertak diriku."


"Menggertak kau? Tidak, sama sekali aku tidak main gertak, tapi bicara sungguh-sungguh. Apakah kau tahu di dunia persilatan ada semacam ilmu gaib yang disebut 'pukulan angin berbisa tujuh langkah'. Artinya, barang siapa terkena pukulan ini, kecuali berdiri tak bergerak, bila bergerak, maka tidak lebih jauh dari tujuh langkah orangnya pasti akan roboh dan tamat riwayatnya."


"Omong kosong, di dunia ini mana ada ilmu pukulan begitu," jengek si pemuda baju putih.


Walaupun di mulut ia tidak percaya, tapi diam-diam ia pun merasa seram, kaki terasa lemas dan tidak berani bergerak lagi.


Sambil menatap orang dengan tajam, Siau hi-ji berkata lirih, "Ilmu pukulanku ini sudah ratusan tahun kehilangan turunan, dengan sendirinya kau tidak tahu, dan tentu juga tidak percaya. Namun tanpa sengaja kudapatkan ajaran orang sakti dan berhasil meyakinkan ilmu pukulan ini, maka...."


"Kau telah berhasil memukul aku satu kali, begitu bukan?" sambung pemuda itu dengan mendengus.


Walaupun ia sengaja berlagak tak mengacuhkan ucapan Siau hi-ji tadi, tapi dalam keadaan demikian, siapa pun pasti waswas dan tidak berani sembarangan melangkah.


Maklumlah nama ilmu pukulan "tujuh langkah" itu cukup menakutkan.


"Hah, sekali ini ucapanmu memang tepat," demikian Siau-hi-ji menanggapi, "cuma aku hanya memukul satu kali, bahkan memukul dengan perlahan. Asalkan kau mau mengangkat guru padaku, maka dapatlah aku tolong kamu."


"Jika kau kira dengan beberapa patah katamu ini dapat menggertak diriku, maka keliru besar dan salah alamat," jengek si pemuda baju putih.


"O, jadi kau tidak percaya?" Siau hi-ji menegas. "Baik, sekarang kau boleh meraba tulang igamu yang nomor tiga di sebelah kiri, coba apakah di situ terasa kemeng atau tidak? Itulah gejalanya kalau terkena pukulan berbisa 'tujuh langkah' yang kukatakan tadi."


"Hm..." kembali pemuda baju putih mendengus, tanpa kuasa tangannya terus meraba tulang iga yang disebut Siau hi-ji, tanpa terasa air mukanya lantas berubah juga.


Siau-hi-ji tampak menunduk memandang bayangan sendiri yang membayang di sebelah kaki, katanya, "Bagaimana, terasa sakit dan kemeng bukan?"


Walaupun jarinya rada gemetar, tapi di mulut pemuda itu tetap berteriak, "Sudah tentu sakit, setiap orang pasti mudah merasakan sakit di bagian ini."


"Tapi itu bukan rasa sakit biasa melainkan rasa sakit khusus, rasanya seperti tertusuk jarum, bagai terbakar, sakit bercampur panas, betul tidak?" sembari bicara sorot mata Siau hi-ji beralih ke muka lawannya, lalu menyambung pula dengan perlahan, "Sekarang coba raba lagi... bukan, bukan di situ. Ya, ke kiri sedikit, ya di situ..."


Begitulah tanpa terasa jari pemuda baju putih bergerak mengikuti komando Siau hi-ji, mendadak Siau hi-ji berseru, "Ya, betul di situ tempatnya, tekan jarimu sekuatnya!"


Benar juga, tanpa terasa jari pemuda baju putih menekan bagian tubuh sendiri dengan kuat. Tapi segera tubuhnya terasa kaku kesemutan, "bluk", ia terguling dan tak dapat bergerak lagi.


"Hahaha!" Siau hi-ji tertawa gembira, "betapa pun cerdikmu akhirnya kena kukerjai juga. Nah, apakah kau tahu cara bagaimana kau tertipu olehku?"