Legendary Siblings

Legendary Siblings
75. Berebut Membunuh



Langkahnya mulai terasa berat, dia tidak mampu bergerak lagi, terpaksa ia merebahkan diri di bawah pohon dengan napas tersengal-sengal, dia berharap dalam keadaan demikian semoga Siau sian-li tidak muncul, begitu pula Buyung Kiu-moay jangan menyusulnya ke sini.


Semakin panas badannya dan serasa membesar, bahkan terasa gatal dan kering, ia bergumam, "Betapa baiknya jika di sini ada sebuah kolam, yang kuperlukan sekarang adalah air... ya, air..."


Mendadak seorang menanggapinya dengan mendengus, "Hm, yang kau perlukan sekarang bukan air melainkan peti mati!"


Segera Siau hi-ji merasa kuduknya nyes dingin, mata pedang telah dipalangkan di atas tengkuknya.


Keruan ia melengak kaget, tapi segera ia berucap dengan menyengir, "Hah, betapa pun memang perempuan lebih lihai, seorang lelaki kalau sudah diincar seorang perempuan, maka selama hidupnya jangan harap akan bisa lolos."


"Baru sekarang kau tahu, apa tidak terlambat?" jengek pula suara tadi.


"Engkau ini nona Buyung atau Siau sian-li?"


"Hm, memangnya kau mimpi akan ditolong lagi oleh budak kesembilan itu?" jengek orang itu.


Mendadak Siau hi-ji bergelak tertawa dan berseru, "Hahaha, bagus, bagus, kiranya kau! Dasar nasibku masih mujur!"


Sudah tentu Siau sian-li tidak tahu bahwa saat ini yang paling ditakuti Siau hi-ji bukanlah dia melainkan Buyung Kiu-moay. Dia malah menyindirnya, "Benar, nasibmu memang mujur, kau lari ke jurusan ini dan aku justru menantikan kau di sini."


Siau hi-ji mengerutkan kuduknya sedikit, tanyanya, "Pedangmu ini cukup tajam tidak?"


"Hm, kukira tidak terlalu tajam," kata Siau sianli. "Tapi kalau kepalamu sudah kupenggal, mungkin mulutmu masih dapat bicara."


"Sedemikian hebat caraku menganiaya kau, apakah dendammu cukup terlampias dengan memenggal kepalaku?" tanya Siau hi-ji dengan tertawa "Hehe, jika kujadi dirimu tentu takkan kulakukan tindakan semurah ini."


"Cara bagaimana akan kau terima hukumanmu, coba katakan saja, kujamin kaupasti akan puas dan tidak kecewa," kata Siau sian-li.


"Paling sedikit harus dipukuli dulu sepuas-puasnya," ujar Siau hi-ji.


"Memangnya kau kira aku tidak berani memukulmu," jengek si nona.


"Biarpun kau tega membunuh diriku, tapi jelas kau tidak sampai hati memukuli aku," ucap Siau hi-ji dengan tertawa.


Belum habis perkataannya, "plak, bluk", tiba-tiba tengkuknya kena ditonjok sekali dan punggungnya ditendang pula.


"Benar, aku tidak sampai hati memukulmu, tepat sekali..." begitulah Siau sian-li berteriak dengan geregetan, sambil bilang "benar", berbareng ia terus menghantam, katanya 'tidak sampai hati', kontan ia menendang pula.


Keruan Siau hi-ji terguling-guling di tanah, tapi mulutnya justru berteriak-teriak sambil tertawa, "Hahahaha! Sungguh enak... enak sekali..."


Dia memang benar-benar merasa enak dan nyaman, jadi bukan berolok-olok belaka, soalnya tubuhnya terasa panas seperti dibakar, terasa melembung seakan-akan meledak, terasa kering dan gatal pula.


Maka pukulan dan tendangan Siau sian-li itu baginya menjadi seperti memijat dan mengurutnya.


Dengan sendirinya Siau sian-li tidak tahu hal ihwal itu, dia tambah gusar dan mendamprat, "Bagus, kau bilang enak, biar kuhantam lebih keras." Berbareng itu punggung Siau hi-ji merasakan pukulan keras satu kali.


"Tidak cukup, masih terlalu enteng... lebih keras lagi!" seru Siau hi-ji.


Hampir meledak dada Siau sian-li oleh ucapan anak muda itu, tapi demi melihat air muka Siau hi-ji memang tidak mengunjuk rasa derita sedikit pun, ia menjadi heran dan sangsi.


Sudah tentu ia tidak tahu bahwa saat itu di dalam perut Siau hi-ji sedang bekerja khasiat belasan macam obat mujarab yang dimakannya tadi, biarpun tubuhnya dipalu sekarang juga takkan melukai dia.


Siau sian-li jadi teringat kejadian tempo hari ketika anak muda itu diajarnya hingga babak-belur, tapi mendadak dapat melancarkan serangan balasan padanya hingga dirinya tergeletak tak bisa berkutik.


Sungguh dia tidak habis paham mengapa anak muda itu sedemikian tahan pukul?


Selagi bimbang karena tidak tahu harus memukul lagi atau berhenti saja, tiba-tiba terdengar seorang berucap dengan nada dingin, "Apakah sudah cukup kau menghajarnya?"


Cepat Siau sian-li berpaling, dilihatnya Buyung Kiu-moay sudah berdiri di bawah pohon sana.


Kelihatan rambutnya awut-awutan, matanya merah dan tangannya rada gemetar.


Sama sekali Siau sian-li tidak tahu mengapa Buyung Kiu-moay bisa berubah menjadi begitu rupa, dengan suara keras ia pun menjawab, "Belum cukup kuhajar dia, kau mau apa?"


"Baiklah, pukul lagi!" ujar Buyung Kiu.


Siau sian-li jadi melengak malah, katanya dengan gusar, "Kalau sudah cukup kupukul dia, lalu kau mau apa?"


"Jika sudah cukup kau pukul dia, serahkan dia padaku."


"Di sini bukan lagi rumahmu, kalau kau merintangi aku lagi, aku pun..."


"Kau kira kudatang untuk menolong dia?"


Kembali Siau sian-li melenggong, "Tidak menolong dia? Memangnya kau datang untuk membunuh dia?"


"Benar, ingin kubunuh dia!" kata Buyung Kiu-moay, ia melompat ke samping Siau hi-ji, belati dilolos dan segera menikam.


Melihat kedua nona itu datang semua, hati Siau hi-ji menjadi tidak takut malah. Ia pikir, kalau toh harus mati, apa pula yang perlu ditakuti? Begitulah dengan mata terbelalak ia pandang belati orang.


Mendadak sinar perak berkelebat, "tring", pedang pendek yang dipegang Siau sian-li telah menangkis belati Buyung Kiu-moay.


"Tadi kau bilang hendak membunuh dia, mengapa sekarang kau malah menolong dia?" tanya Buyung Kiu-moay dengan gusar.


"Tadi kau pun hendak menolong dia, mengapa sekarang kau malah ingin membunuh dia?" Siau sian-li balas menjengek.


"Kau... kau tidak perlu urus!"


"Aku justru ingin urus!" teriak Siau sian-li.


Sekali bergerak, secepat kilat Buyung Kiu-moay melancarkan beberapa kali serangan belatinya sambil berkata, "Terserah, siapa pun yang berusaha merintangi aku, pokoknya aku harus membunuh dia sekarang!"


Secepat kilat Siau sian-li juga putar pedangnya menahan serangan Buyung Kiu-moay itu sambil berkata, "Tadi kau melarang aku membunuh dia, sekarang aku pun melarang kau membunuhnya!"


Mendadak Buyung Kiu melompat mundur, jengeknya, "Hm, baik juga, silakan kau membunuh dia, biar aku menyaksikannya dari sini."


Kembali Siau sian-li melengak, pedangnya sudah diangkatnya, tapi lantas diturunkan lagi, jengeknya, "Hm, kau ingin membunuh dia, aku justru tidak jadi membunuhnya."


"Apa artinya ini?" teriak Buyung Kiu dengan gusar.