
Sudah tentu Siau hi-ji terkejut, tapi orang itu pun tidak kurang kagetnya demi nampak Siau hi-ji serta mayat yang bergelimpangan di situ.
Seketika ia menyurut mundur dua-tiga tindak, lalu menegur bengis, "Siapa kau?"
"Kau sendiri siapa?" jawab Siau hi-ji.
"Aku saja kau tidak kenal, berani kau berkecimpung di dunia Kangouw?" teriak orang itu.
"Wah, tampaknya kau ini rada-rada terkenal ya?" ucap Siau hi-ji dengan tertawa.
"Aku inilah ketua umum dari gabungan tujuh belas Piaukiok di barat laut, si kepalan baja dan telapak besi menggetar Tiongciu, she Tio bernama Coan-hay, nama ini tentunya pernah kau dengar bukan?"
"Wah, panjang amat namamu, kedengarannya memang mentereng, tapi apakah kau tahu siapa diriku ini?" jawab Siau hi-ji dengan tersenyum.
Lelaki yang mengaku Tio Coan-hay itu mendengus, katanya, "Hm, kau ini terhitung barang apa?"
"Hm, supaya kau tahu," Siau hi-ji juga mendengus, "aku inilah si raja diraja, si agung dari semua pendekar pedang, yang dipertuan dari semua ular, menyapu bersih tiga gunung enam bukit tanpa tandingan di dunia ini, penggetar langit dan pengguncang bumi Giok ong-cu, pernahkah kau dengar namaku ini?"
Sekaligus ia menyebut nama dan julukannya yang dua kali lipat lebih panjang daripada nama dan julukan Tio Coan-hay tadi, keruan orang she Tio itu benar-benar dibuatnya melenggong.
"Ya, belum pernah kudengar tokoh Kangouw demikian ini!" ucap Tio Coan-hay kemudian.
"Meski kau tidak pernah dengar, boleh kau pulang dan tanya pada gurumu, tentu dia tahu," kata Siau hi-ji. "Tokoh angkatan tua di dunia Kangouw pasti tunduk bila melihat diriku."
"Huh, anak ingusan seperti kau juga berani sembarangan mengoceh?" damprat Tio Coan-hay dengan gusar.
"Hm, kau kira usiaku ini masih kecil, begitu?"
"Memangnya berapa umurmu? Anakku juga lebih tua daripadamu."
"Barangkali kau belum tahu bahwa ilmu silat yang sudah terlatih sempurna dan mencapai puncaknya dapat membikin orang tua kembali muda?"
Kembali Tio Coan-hay melengak, ia menatap Siau hi-ji dengan terkesima, tampaknya menjadi ragu-ragu, setengah percaya setengah sangsi.
Siau hi-ji berkata pula, "Orang yang kubunuh hari ini sudah cukup banyak, aku sudah malas turun tangan pula, mengingat kau juga seorang lelaki gagah bolehlah kuampunimu dan lekas kau pergi."
"Hanya kau saja ingin menggertak lari diriku?" bentak Tio Coan-hay dengan gusar.
"Supaya tidak menyesal, coba silakan lihat dulu tokoh-tokoh macam apakah yang mampus ini," kata Siau hi-ji.
Waktu Tio Coan-hay mengawasi mayat-mayat yang menggeletak itu, air mukanya berubah seketika, ia bergumam, "Kim leng sam-kiam... Hwe pian-hok... Niau thau-eng dan... dan..."
"Pek coa sin-kun dari Cap-ji-she-shio, kau tidak kenal dia?" sambung Siau hi-ji.
Tio Coan-hay merasa ngeri, katanya, "Masakah betul mereka... mereka mati di tanganmu?"
"Ah, soal kecil bagiku," kata Siau hi-ji acuh. "Boleh kau tanya kepandaianmu sendiri apakah lebih tinggi daripada orang-orang ini?"
"Tapi... tapi dengan susah payah baru akhirnya Cayhe sampai di sini, kalau... kalau Cianpwe suruh Cayhe pergi begini saja, sungguh terasa penasaran," kata Coan-hay setelah termangu sejenak.
Meskipun dia belum mau pergi, namun dalam hal bicara sudah berganti nada dan menyebut Siau hi-ji sebagai 'Cianpwe' (senior).
"Habis apa kehendakmu?" tanya Siau hi-ji dengan tersenyum.
"Asalkan Cianpwe memperlihatkan sejurus dua padaku, habis itu segera Cayhe akan angkat kaki tanpa syarat," kata Tio Coan-hay.
"Sungguh?" Tio Coan-hay menegas dengan sangsi.
"Kaum Cianpwe masakan omong kosong kepada kaum Wanpwe?" jawab Siau hi-ji.
Dengan langkah lebar Tio Coan-hay lantas mendekati Siau hi-ji, dengan melotot ia pandang ular-ular yang merayap di tubuh anak muda itu.
Diam-diam Siau hi-ji bergirang dan berharap semoga orang ini memang punya kemampuan.
Tak terduga pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara mendering beradunya senjata.
Umumnya kalau pedang atau golok beradu tentu waktunya berselang sejenak, habis itu baru berbunyi.
Tapi sekarang beradunya senjata itu sedemikian kerap dan nyaring, seakan-akan suara satu dan lain berbunyi sekaligus.
Dengan kaget Tio Coan-hay berpaling, katanya dengan keder, "Siapa lagi yang datang, cepat amat gerak pedangnya!"
Siau hi-ji berkedip-kedip, katanya, "Jangan khawatir, asalkan kau berdiri di sampingku, siapa pun takkan berani melukaimu."
Tio Coan-hay memandangnya sekejap, lalu memandang ular-ular yang menghiasi anggota badan anak muda itu, bentuk yang aneh ini membuatnya mau tak mau harus percaya bahwa orang yang dihadapinya ini memang tokoh kosen angkatan tua.
Setelah memandang lagi sekejap, akhirnya ia memberi soja (menghormat dengan kedua kepalan di depan dada) dan mengucap terima kasih.
Suara beradunya pedang tadi datangnya benar-benar cepat, tadi kedengaran masih berada di mulut gua, tapi kini sudah mendekat.
Terdengar seorang menjengek dengan suara dingin, "Swat hoa-to (golok bunga salju), kau benar-benar hendak mengadu jiwa dengan aku?"
Seorang lagi menjawab, "Sudah lama kudengar ilmu pedangmu teramat cepat dan tiada tandingan di daerah Kwan-gwa. Kini kau ternyata mengetahui juga tempat harta karun ini, terpaksa harus kutentukan mati hidup denganmu."
Suara ini lembut dan tajam, mirip suara perempuan.
"Apakah Swat hoa-to itu perempuan?" tanya Siau hi-ji.
Tio Coan-hay menghela napas gegetun, jawabnya, "Ya, dia adalah salah satu dari 'Sam-lo-sat' (tiga setan buas) yang terkenal dan pernah disegani orang Kangouw dahulu. Ilmu goloknya memang sangat lihai."
"Lalu siapa lagi yang seorang?"
"Dari ucapan Swat hoa-to tadi, mungkin orang ini adalah tokoh terkemuka dari Tiang-pek-pay, si pedang naga sakti Pang Thian-ih. Kecepatan ilmu pedang orang ini memang tiada bandingannya di daerah Kwan-gwa."
"Ai, mungkin usiaku sudah lanjut sehingga berbagai tokoh ternama dari angkatan muda tak kukenal lagi," ucap Siau hi-ji dengan lagak menyesal.
Alis Tio Coan-hay tampak berkerut, katanya, "Tempat harta karun ini sedemikian rahasia, mengapa sekaligus datang orang sebanyak ini? Sungguh aneh dan mengherankan."
Dalam pada itu kelihatan sinar golok dan cahaya pedang bergulung-gulung menggelinding tiba, di tengah sinar pedang yang kemilau itu ada dua sosok bayangan orang, yang satu kurus tinggi berbaju hitam, yang lain berpakaian putih mulus dan berperawakan ramping. Kedua orang bertempur dengan sengit.
Hati Tio Coan-hay ikut kebat-kebit menyaksikan pertarungan kedua orang itu. Sedangkan Siau hi-ji acuh tak acuh, katanya, "Meski ilmu silat kedua orang ini lumayan juga, tapi banyak juga ciri kelemahannya. Kalau melayani aku, mungkin mereka tidak sanggup bertahan sepuluh jurus."
Mendadak terdengar suara 'creng' yang panjang, sinar pedang dan cahaya golok sirna seketika, si baju hitam dan perempuan baju putih sudah berhenti bertempur dan melompat ke depan Siau hi-ji.
Kini terlihat jelas si perempuan baju putih, yaitu si Swat hoa-to, berusia setengah baya, tapi masih kelihatan sisa-sisa kecantikannya di masa muda, perawakannya juga masih ramping.
Kini ia pun dapat melihat Tio Coan-hay juga berada di situ, tiba-tiba ia berseru, "He, Coan-hay, kau pun datang ke sini."
Tio Coan-hay menyengir, jawabnya, "Sudah lama tak berjumpa, tampaknya engkau masih tetap cantik."